
Bian menatap wajah perempuan cantik yang saat ini sedang merentangkan tangannya sambil tersenyum. Wajah tampannya menyunggingkan senyum manis saat ia melihat perempuan itu terlihat begitu bahagia. Bersinar seperti mentari yang saat ini menyinari wajah cantik perempuan itu.
"Alea sayang, aku merindukanmu ...." Bian berucap lirih sambil terus menatap perempuan itu dari tempatnya berdiri.
Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku pasti tidak akan pernah menyakitimu. Aku tidak akan membuang-buang waktuku hanya untuk membuatmu menderita.
Bian menghela nafas panjang, saat hatinya terasa sakit setiap kembali mengingat apa yang sudah ia lakukan pada Alea.
'Aku mencintaimu, meski terlambat, tapi aku janji aku hanya akan mencintaimu, sampai kapanpun! Karena aku tidak yakin, akan ada orang yang bisa menggantikanmu dalam hatiku.'
Bian masih menatap Alea dari jendela kamarnya, ia sengaja mengintip karena ia tidak mau Alea masuk ke dalam kamarnya saat melihat dirinya sedang berdiri di atas balkon dan memperhatikannya. Bian lebih suka mengintip karena hanya dengan cara itu Bian bisa leluasa memandang wajah cantik itu dengan puas.
Alea merentangkan tangannya dengan senyum cantik yang mengembang di bibir seksinya, sinar matahari pagi menerpa wajahnya membuat Bian tersenyum dari balik tirai.
'Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu, meski aku tidak bisa memilikimu, tetapi aku bahagia saat melihatmu bahagia.'
Bian kembali tersenyum, Alea terlihat sangat cantik di matanya. Seandainya dia lebih awal menyadarinya ....
Seandainya rasa cinta itu tidak datang terlambat, mungkin saat ini Alea masih bersamanya. Berada di sampingnya, dan mencintainya dengan tulus.
Bian masih menatap Alea, lamunannya buyar saat dering ponselnya terdengar. Bian bergegas mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas, kemudian langsung memencet tombol hijau untuk menjawab.
"Mereka berdua saat ini sudah sampai di markas, Bos."
"Tunggu aku, aku segera ke sana."
"Baik Bos."
Bian mengakhiri panggilan teleponnya. Rahangnya mengeras, menahan amarah.
'Berani-beraninya kalian ingin mencelakai Alea.'
Kemarin, orang-orang suruhannya melaporkan padanya kalau bukan hanya Lisa yang mengancam ingin mencelakai Alea, tetapi ada dua orang lagi yang juga ingin membuat Alea celaka.
Bian hanya tidak menyangka, kalau ternyata salah satu dari mereka adalah anak buahnya sendiri, dan lebih parahnya, pria itu adalah kakak dari Lisa. Perempuan menyebalkan yang sudah berani mengancam Alea.
__ADS_1
Bian kembali menatap keluar jendela. Ia memberanikan diri keluar dari kamar. Pria itu ingin sekali melihat Alea dengan jelas dari balkon kamarnya. Netranya menatap Alea tak berkedip.
Alea sedang meregangkan tangannya, sedikit melakukan pemanasan. Rencananya hari ini, ia akan lari pagi keliling komplek. Sekalian ingin membeli sesuatu di mini market di seberang jalan.
Saat Alea sedang mengangkat kedua tangannya ke atas, netranya tidak sengaja menangkap sosok Bian di sana.
Sejenak, pandangan mereka bertemu. Terlihat Bian mengulas senyum ke arahnya. Senyum yang dulu pernah dirindukannya, tapi tak pernah ia dapatkan. Alea tanpa sadar menatap pria itu cukup lama.
Rasanya, ia ingin sekali berdamai dengan dirinya dan memaafkan pria itu. Tetapi, kesakitan demi kesakitan yang ia rasakan dulu masih membekas dalam ingatannya dan memaksa dirinya untuk tidak lagi peduli pada pria itu.
Pria itu adalah masa lalu, memaafkan atau tidak, yang jelas, Alea sudah tidak peduli lagi. Karena sekarang, masa depannya adalah Kenzo. Pria yang selama bertahun-tahun mencintainya.
Sedangkan Bian, dia adalah masa lalu yang tidak ingin ia kenang. Masa lalu yang Alea anggap sebagai mimpi terburuk dalam hidupnya.
Bian masih tersenyum sambil melambaikan tangannya. Sejenak Alea terpaku, kemudian memejamkan mata sambil menghirup nafas dalam-dalam ketika bayangan masa lalu bersama pria masih jelas terekam.
'Saat dulu aku sangat mencintaimu, kau begitu membenciku. Kini, di saat aku sudah membencimu, kau justru ingin sekali bersamaku.'
Alea mencibir dalam hati. Teringat bagaimana dirinya begitu mati-matian mencintai pria itu, tapi apa yang ia dapatkan? Hanya luka dan kesakitan yang bahkan sampai sekarang masih menghantuinya.
Alea berbalik, melangkah ke dalam kamar, menutup tirai, tapi netranya masih sempat melirik sebelum tirai itu tertutup sempurna. Pria itu kini sedang mengusap kedua matanya.
Alea menutup tirai dengan cepat. Sementara di depan sana, Bian mengusap wajahnya kasar. Ia sudah menduganya. Alea pasti akan pergi saat ia menampakkan dirinya.
'Sebegitu bencinya dirimu padaku, Al, sampai kau tak mau melihat wajahku meskipun hanya sebentar?'
*****
Bian bergegas melangkah kakinya, saat Alea terlihat berlari kecil dengan pakaian olah raga. Di samping, kanan, kiri, depan, belakang, terlihat orang-orang yang terus memperhatikan Alea tanpa Alea sadari. Mereka adalah orang-orang suruhan Kenzo, Rajasa, juga orang-orang suruhan Bian sendiri. Mereka bertugas mengawasi Alea dan juga melindungi perempuan itu.
Meskipun Bian tahu kalau keluarga Alea juga ikut mengawasi Alea, tapi ancaman dari Lisa tidak bisa ia biarkan begitu saja. Apalagi saat ini Bian sudah mengetahui seluk beluk Lisa seperti apa.
Perempuan itu ternyata perempuan yang sangat nekad dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Di tambah lagi, Lisa adalah adiknya Reyhan. Si pembunuh bayaran. Bian sungguh tidak menyangka kalau salah satu anak buahnya ada yang berani melakukan pekerjaan lain selain bekerja padanya.
Selama ini Bian memang memakai jasa mereka hanya untuk melindunginya juga keluarganya. Bukan untuk membunuh orang. Kecuali dalam keadaan terpaksa untuk melindungi diri. Itu pun tidak sampai menghilangkan nyawa orang. Karena Bian bukanlah penjahat.
__ADS_1
Berbeda dengan keluarga Rajasa dan Kenzo. Mereka tidak akan segan-segan menghabisi musuh-musuhnya apalagi kalau musuh mereka sampai berani menyentuh keluarganya.
Bian berlari mengejar Alea. Hari ini, walaupun Alea akan memarahinya habis-habisan, Bian tidak peduli. Entah mengapa, Bian sangat ingin berdekatan dengan Alea hari ini. Jika biasanya, Bian pasti akan menahannya mati-matian rasa rindu yang ia rasakan. Tapi hari ini, Bian benar-benar ingin bersama perempuan itu, apapun yang terjadi.
"Alea!"
Alea tersentak kaget saat melihat Bian tiba-tiba sudah ada didekatnya.
"Ngapain kamu di sini?" Alea berkata dengan nada tak suka.
"Lari pagi lah, memangnya kamu saja yang boleh lari pagi?" Bian mengulas senyum melihat wajah kesal Alea.
"Biasanya juga kamu nggak pernah lari pagi, kenapa sekarang ikut-ikutan? Bilang saja kalau kau ingin mengikutiku."
Bian masih tersenyum menatap Alea, perempuan itu saat ini bahkan melotot ke arahnya. Bukannya kesal, Bian malah tersenyum lebar. Karena wajah cantik Alea justru terlihat sangat menggemaskan ketika sedang kesal. Kenapa dari dulu Bian tak menyadarinya?
Alea terus berlari dengan Bian yang terus mengikuti dari belakang. Alea sampai di pinggir jalan dan bermaksud ingin menyeberang saat tiba-tiba Bian menarik tangannya. Alea yang terkejut tidak sempat menghindar saat tubuhnya dengan cepat menabrak dada bidang Bian. Sedangkan Bian, pria itu langsung meraih tubuh Alea dan memeluknya dengan erat.
"Izinkan aku memelukmu sebentar saja. Hanya sebentar, aku sungguh-sungguh merindukanmu ...." Bian berucap lirih, tepat di telinga Alea.
Seketika tubuh Alea menegang, apalagi saat Bian berbisik dengan lembut. Perasaannya seolah dipaksa kembali ke masa lalu.
"Aku hanya ingin memelukmu sebentar saja, setelah ini, aku janji, aku tidak akan mengganggumu lagi," ucap Bian lagi.
Kedua matanya terpejam menikmati detak jantungnya yang menggila. Melihat Alea terdiam tak menolaknya, Bian tersenyum bahagia, kemudian memeluk perempuan itu dengan erat. Namun, setelah Bian membuka mata, wajahnya berubah panik saat ia melihat dari arah depan terlihat sebuah mobil yang melaju dengan kencang dan mengarah pada mereka. Mereka berdua saat itu berdiri tepat di pinggir jalan.
Dengan cepat Bian mendorong Alea hingga perempuan itu terjatuh menjauh dari pinggir jalan, tapi naas, mobil itu langsung menerjang tubuh Bian dan menyeretnya tanpa ampun.
Alea sungguh terkejut saat melihat tubuh Bian tergilas mobil besar itu, tubuh Bian bahkan terseret oleh mobil itu. Orang-orang berlarian melihat kejadian, sementara Alea menatap dengan linglung. Bibirnya bergetar.
"Bi-- Bian ...." Alea menatap pemandangan di depannya.
"Bian ....!"
.
__ADS_1
.
Yang suka ceritanya, jangan lupa like koment dan Votenya ya kakak ² 🙏🙏🙏