MATI RASA

MATI RASA
Part 101 Maafkan Aku ...


__ADS_3

Alea sudah dalam keadaan steril saat ia masuk dengan baju khusus ke dalam ruangan Bian. Air matanya luruh seketika saat ia melihat Bian terbaring tak berdaya di atas ranjang pasien. Beberapa alat medis bahkan masih terpasang di bagian tubuh Bian.


Kepala Bian tertutup perban, begitupun dengan tangan juga kakinya, begitu juga anggota tubuh lainnya. Bian masih belum sadarkan diri pasca operasi.


Alea meraih tangan Bian, kemudian menggenggamnya pelan, karena Alea tidak ingin menyakiti Bian.


"Kenapa kau lakukan ini, Bi? Kenapa kau menyelamatkan aku dan mengabaikan keselamatanmu sendiri?" Alea menangis di samping Bian.


"Harusnya kau juga bisa ikut berlari denganku bukan? Bukannya malah membiarkan dirimu celaka dan membiarkan aku selamat. Apa kau memang sengaja? Sengaja agar aku bisa kembali mendekat padamu? Apa kau merasa belum cukup menyakiti aku, Bian?" Alea menelungkupkan wajahnya pada tangan Bian. Ia menangis di sana. Menangis sambil terus memegang tangan pria itu.


"Kenapa kau tak pernah berhenti menyakiti aku, Bian. Kenapa kau selalu saja membuat hatiku sakit? Bahkan di saat aku sudah bahagia bersama dia, kau masih saja membuatku menangis dan sakit hati." Alea menangis sambil menatap wajah pucat di depannya. Teringat kembali saat pria itu menarik tangannya kemudian memeluknya erat.


"Izinkan aku memelukmu sebentar saja, hanya sebentar. Aku sungguh-sungguh merindukanmu ...."


"Aku hanya ingin memelukmu sebentar saja, setelah ini, aku janji aku tidak akan mengganggumu lagi, Alea."


Kata-kata Bian sebelum kejadian kecelakaan itu kembali terngiang di telinga Alea. Membuat Alea semakin merasa sakit di hatinya. jantungnya serasa diremas-remas.


Alea yakin, ia sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Bian. Namun, saat melihat Bian mempertaruhkan nyawanya hanya untuk menyelamatkannya, membuat hati Alea merasakan kesakitan yang luar biasa, apalagi saat melihat keadaan Bian seperti ini. Rasanya Alea benar-benar tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.


Seandainya setelah sembuh Bian menjadi cacat karena kecelakaan ini, apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia lakukan untuk menebus kebaikan Bian? Haruskah ia kembali pada Bian? Lalu, bagaimana dengan Kenzo?


Alea semakin menangis saat memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi nantinya.


"Apa sekarang kau sudah puas, Bian? Apa sekarang kau puas? Menyakitiku lagi dan lagi?"


"Kenapa, Bian? Bahkan di saat aku sangat membencimu, aku masih tetap merasakan sakit di hatiku saat melihatmu seperti ini. Aku sungguh tidak rela melihatmu seperti ini." Alea menatap wajah Bian yang terlihat pucat. Ada beberapa luka lecet dan memar di sekitar wajahnya.


Alea membelai wajah Bian dengan berlinang air mata. Pria ini, adalah pria yang bertahun-tahun pernah dicintainya. Bohong! Kalau Alea tidak merasakan apapun saat berdekatan dengannya seperti ini.


" Aku lebih suka melihatmu menangis dan menyesali semua perbuatan yang pernah kau lakukan padaku dulu. Aku lebih suka melihatmu menangis saat kau melihatku dari jendela kamarmu. Aku lebih suka melihatmu menangis karena menyesal. Menyesali perbuatanmu. Menyesal, karena kau telah membunuh anakku, Bian. Anak kita ...." Alea menangis merasakan sakit di hatinya.

__ADS_1


Alea melingkarkan tangannya pada perut Bian, kemudian jarinya ia masukkan pada sela jari Bian yang terasa dingin. Alea menyatukan tangannya. Sementara kepalanya ia sandarkan di bahu Bian.


"Kau bilang, kau ingin memelukku bukan? Sekarang aku memelukmu, apa kau bisa merasakannya?" Alea masih terisak.


"Bangunlah! Kau harus bangun. Aku ingin kau melihat, kalau aku juga bisa bahagia tanpamu. Aku ingin kau juga merasakan kesakitan yang aku rasakan. Aku ingin kau tahu, bagaimana sakitnya saat orang yang kau cintai mencintai orang lain."


"Aku ingin kau merasakan sakit yang sama sepertiku, sama seperti saat kau membawa Amara ke rumah dan memilih perempuan itu. Aku ingin kau merasakannya, Bian! Bangunlah ... bangun! Aku mohon ...." Alea masih terus menangis. Air matanya kini sudah mengalir membasahi baju Bian. Alea memeluk Bian dan terus menangis. Meluapkan segala emosi dan isi hatinya selama bertahun-tahun.


"Aku membencimu, Bian. Aku Membencimu ... kenapa kau lakukan ini padaku?"


Alea bangkit, melepaskan pelukannya. Di tatapnya wajah Bian yang masih terdiam dengan mata terpejam. Pria ini bahkan tak tahu kalau saat ini dirinya sedang menangisinya. Menangis karena kesal. Kesal, karena pria ini dengan seenaknya menyelamatkannya dan membuat dirinya dilema.


Dilema karena ia tidak mungkin terus menerus berada di samping Bian, karena ada hati yang harus dijaga. Alea tidak akan mungkin mengorbankan perasaan Kenzo hanya untuk pria ini. Salahkan saja dia, siapa suruh dia menyelamatkan nyawanya?


Namun, rasa kesal itu tak dapat menutupi rasa sakit di hatinya saat melihat sendiri bagaimana Bian mempertaruhkan nyawanya hanya untuk melindunginya.


"Bian ... aku memang membencimu, tapi aku juga tidak pernah berharap melihatmu dalam keadaan seperti ini. Apalagi keadaanmu seperti ini di sebabkan olehku. Aku tidak bisa menerimanya, Bian. Bagaimana mungkin orang yang begitu aku benci justru menyelamatkan aku?"


"Maafkan aku ... Maaf!" Tangis Alea kembali luruh, Alea kembali memeluk Bian.


"Maafkan aku, kalau bukan karena aku, kau pasti masih baik-baik saja," bisik Alea di telinga Bian. Kemudian kembali menangis.


Terdengar suara pintu terbuka, seorang perawat masuk memberitahukan kalau dokter sebentar lagi akan datang untuk memeriksa kondisi pasien.


"Sebentar lagi saya keluar, Suster. Terima kasih." Alea bangkit, ia mengusap air matanya yang terus mengalir.


Alea mengusap telapak tangan Bian yang terasa dingin, membelai wajah pria itu. Alea mendekatkan wajahnya pada Bian, kemudian mendaratkan bibirnya pada sudut bibir Bian yang terluka.


"Maafkan aku, cepat bangun, agar aku bisa merawatmu sampai sembuh. Aku janji, aku akan terus di sampingmu hingga kau sembuh. Tapi setelah kau pulih, aku akan kembali padanya. Aku mencintainya sebesar aku mencintaimu dulu, bahkan mungkin jauh lebih besar. Aku tidak mau kehilangan dia seperti aku kehilanganmu dulu."


"Saat dulu kau lebih memilih perempuan itu daripada aku, duniaku rasanya hancur, Bian. Apalagi saat kau lebih mempercayai kata-kata perempuan itu, hingga kau terus menyiksaku dan akhirnya aku harus kehilangan anakku gara-gara kamu ...." Alea menghentikan ucapannya, air matanya kembali mengalir. Bayangan masa lalu itu kembali hadir, membuat dadanya terasa sesak.

__ADS_1


"Kalau bukan karena pria itu yang menyelamatkan aku, mungkin saat ini aku sudah tinggal nama. Seandainya pria itu tidak menemaniku saat aku terpuruk karena perbuatanmu, mungkin saat ini aku sudah menjadi gila dan berakhir di rumah sakit jiwa."


"Luka yang kau berikan padaku begitu dalam, Bian. Hingga membuatku mati rasa. Mati rasa, tapi sialnya aku tetap merasa kesakitan saat melihatmu seperti ini ...." Alea menghapus air matanya dengan kasar.


"Bangunlah! Aku berjanji akan terus merawatmu hingga kau sembuh. Aku tidak ingin berhutang budi padamu. Karena meski kau menyelamatkan aku, sakit di hatiku karena perbuatanmu tidak akan pernah hilang."


Alea kembali mendekatkan wajahnya pada Bian, air matanya menetes dan jatuh membasahi pipi Bian.


"Selamanya, kau akan tetap menjadi seseorang yang pernah sangat aku cintai, sekaligus seseorang yang paling aku benci, Bian Aditama."


Alea mendaratkan bibirnya cukup lama pada kening Bian, kemudian ia beranjak bangun. Alea menatap perawat yang saat ini masih berdiri di belakangnya.


"Terima kasih Suster."


Perawat itu mengangguk kemudian mengantarkan Alea keluar dari ruangan itu.


Kenzo menyambut Alea di depan pintu ruangan. Ia merentangkan tangannya saat melihat perempuan itu keluar dari ruangan Bian. Melihat Alea terlihat tidak baik-baik saja, Kenzo langsung menggendong Alea dan membawa ke ruang rawat inap Alea. Semenjak Bian di rawat, Alea memang masih menginap di rumah sakit.


Sementara Laras dan Aditama hanya menatap Alea dengan perasaan iba. Mereka berdua tak bisa berkata apa-apa. Hanya diam sampai Kenzo membawa Alea pergi meninggalkan tempat itu.


Setelah kepergian Alea, beberapa dokter bergegas masuk ke dalam ruangan. Laras dan Aditama dengan wajah cemas saling berpelukan. Laras bahkan sudah menangis di pelukan Aditama.


Mereka berdua seolah pasrah menerima takdir. Apapun yang akan terjadi pada Bian, mereka siap menerimanya. Mereka tidak akan menyalahkan siapapun. Apalagi menyalahkan Alea. Bian sendiri lah yang membuat keputusan untuk menolong perempuan itu dan mempertaruhkan nyawanya.


"Bian, semoga kamu baik-baik saja, Nak," lirih Laras di tengah isak tangisnya.


.


.


Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak ² 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2