
Bian masuk ke dalam rumah dengan keadaan yang berantakan. Muka lesu, rambut acak-acakan, juga baju yang terlihat lusuh. Bian berjalan dengan lunglai, kemudian membaringkan tubuhnya di sofa.
Mbok Sumi yang melihat majikannya baru datang langsung mendekatinya sambil membawa gelas berisi minuman di tangannya. Bian menerima gelas berisi minuman yang di berikan Mbok Sumi, dan langsung meminumnya sampai tandas.
"Amara sudah pulang Mbok?"
"Belum Den, Non Amara belum pulang semenjak tadi pagi," jawab Mbok Sumi sambil menunduk.
Bian hanya menghela nafas panjang, padahal istrinya itu baru saja pulih, tapi malah keluyuran.
"Mbok, harus kemana lagi aku cari Alea Mbok? Hampir seluruh rumah sakit sudah aku masuki, tapi aku tidak menemukannya di manapun." Bian menatap Mbok Sumi dengan wajah sedih.
"Sabar Den, siapa tahu besok atau lusa, Non Alea kembali ke rumah ini." Mbok Sumi menatap iba ke arah Bian.
"Apa Alea juga tidak menelepon Mbok Sumi?" Mbok Sumi menggeleng pelan.
"Tidak Den," bohong Mbok Sumi, padahal baru beberapa menit yang lalu sebelum Bian datang, Alea menelepon dirinya.
"Bukankah Mbok Sumi sangat dekat dengan Alea Mbok?"
"Iya Den, saya memang dekat dengan Non Alea, tapi hanya sekedar dekat saja, layaknya majikan dan pembantu." Mbok Sumi menatap Bian yang terlihat lelah. Pria itu memejamkan matanya, menghirup udara, kemudian melepaskannya panjang-panjang.
"Saya siapkan makan malam ya Den," ucap Mbok Sumi yang langsung di angguki oleh Bian.
Mbok Sumi melangkah menuju dapur, sementara Bian langsung naik ke dalam kamarnya.
Bian keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan rambut basah. Netranya menatap Amara yang tiba-tiba saja sudah berada di depan kamar mandi.
__ADS_1
"Dari mana saja kamu Mara?"
"Aku habis ketemu teman sayang, aku keasyikan ngobrol, sampai lupa waktu. Maafkan aku ya, sayang ...." Amara memeluk tubuh Bian dengan manja.
"Kamu harusnya ingat, kalau kamu itu sedang hamil, kamu tidak boleh kelelahan, apalagi pulang larut malam seperti ini." Bian membelai rambut Amara yang masih memeluknya.
"Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi."
"Hmm ...."
*****
Alea memperhatikan Kenzo yang saat ini sedang berbicara dengan pengacaranya. Kenzo menyuruh pengacara pribadinya untuk mengurus perceraian Alea.
Tak berapa lama kemudian, pengacara muda itu pun berpamitan pada Kenzo dan Alea. Kenzo menarik nafas lega. Ia menatap Alea yang memejamkan matanya. Perempuan itu saat ini sedang berbaring. Terlihat banyak kesedihan di wajah pucat nya.
"Semua akan baik-baik saja, percayalah padaku." Kenzo mengulas senyumnya, saat Alea membuka matanya.
Alea tersenyum tipis menatap Kenzo.
"Aku hanya ingin segera pergi dari sini Ken, aku ingin menjauh darinya, dan tidak ingin bertemu lagi dengannya."
Meski sebenarnya aku masih sangat mencintainya. Mencintainya sekaligus membencinya ....
"Dengan semua bukti yang memberatkan Bian, aku yakin, gugatan cerai mu akan di kabulkan oleh pengadilan." Kenzo mengusap tangan Alea pelan, memberi kekuatan pada perempuan itu.
"Aku tahu ini berat untukmu Al, tapi aku yakin, kamu pasti kuat melaluinya. Aku akan selalu ada di sampingmu Al, sampai kapanpun."
__ADS_1
Alea memeluk Kenzo, menyembunyikan tangisnya di dada bidang pria itu.
"Terima kasih, terima kasih banyak ...." Tangis Alea makin terdengar, Alea berharap, ini adalah terakhir kalinya ia menangisi pria itu.
Selamat tinggal Bian ....
Alea mengeratkan pelukannya, ia menangis, benar-benar menangis, sampai suaranya terdengar begitu kencang. Alea berharap, dengan menangis, semua rasa sakit yang menyesakkan dadanya menghilang.
Bian Aditama ... cinta pertamanya dari semenjak SMA, bertahun-tahun Alea mencintainya diam-diam. Rumah Alea dan Bian berdekatan, sehingga setiap hari Alea bisa melihat wajah tampan Bian.
Setiap hari Alea mengagumi Bian, apapun yang menyangkut tentang Bian, Alea menyukainya. Seluruh dunianya hanya di penuhi oleh Bian, Bian, dan Bian!
Alea tahu, Bian sudah mempunyai kekasih. Tapi itu tidak berpengaruh buat Alea, karena buat Alea, 'Mencintai tidak harus memiliki.' Ia memang mencintai Bian, tapi ia tidak pernah berharap bisa memiliki Bian, bisa melihat Bian dari jauh saja, Alea sudah bahagia, apalagi memilikinya?
Sebegitu besarnya cinta Alea pada Bian, mencintai tapi tak berharap memiliki. Tak berharap, karena Alea tahu ada perempuan lain yang memiliki hati Bian. Karena itu, ia hanya bisa menyimpan cintanya dalam diam.
Tapi ... saat ia tahu kalau dirinya akan menikah dengan Bian, rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Bahkan sampai di hari pernikahannya, Alea masih belum percaya kalau ia menikah dengan orang yang sangat di cintainya.
Rasa cintanya yang tadinya tak berharap memiliki, akhirnya berubah menjadi ingin memiliki. Kebahagiaan yang ia rasakan karena bisa menikah dengan Bian, membuat dirinya lupa, kalau hati Bian masih milik seseorang.
Seseorang yang akhirnya Bian bawa ke dalam rumahnya, setelah sebulan pernikahannya dengan Bian.
.
.
Maaf ya kakak ² telat updatenya, baru sempat nulis setelah sibuk seharian 🙏🙏🙏
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, dan Votenya y 🙏🙏🙏