MATI RASA

MATI RASA
Part 102 Kepergian Bian


__ADS_3

Setelah kepergian Alea, beberapa dokter bergegas masuk ke dalam ruangan ICU. Sementara Laras dan Aditama dengan wajah cemas saling berpelukan. Laras bahkan sudah menangis di pelukan Aditama.


"Semoga kamu baik-baik saja, Nak," lirih Laras di tengah isak tangisnya.


"Pa, anak kita, Pa."


"Sabar, Ma, semoga saja Bian kuat. Papa tidak menyangka kalau hidupnya akan berakhir seperti ini." Aditama ikut menangis.


"Kenapa dia harus nekad menolong Alea tanpa mempedulikan nyawanya sendiri? Bukankah ia juga bisa lari bersama Alea?" Laras kembali menangis.


"Melihat keadaan Alea seperti itu, Mama jadi makin nggak tega, Pa. Bagaimanapun, Bian adalah orang pernah dicintai Alea, Mama yakin, Alea pasti sama hancurnya dengan kita." Laras menangis pilu.


"Mama benar, Alea sudah banyak melewati masa-masa sulit yang di sebabkan oleh Bian. Perempuan itu sudah sangat menderita gara-gara perbuatan Bian. Mungkin, ini adalah balasan buat Bian karena dia pernah membuat Alea menderita," ucap Aditama bijaksana.


Tidak ada orang tua yang begitu baik dan pengertian seperti mereka berdua. Bahkan dalam keadaan darurat seperti ini pun, mereka tidak berpikir untuk menyalahkan Alea. Padahal mereka tahu jelas, kalau penyebab kecelakaan itu adalah Alea. Kalau bukan karena menyelamatkan Alea, Bian pasti masih baik-baik saja.


Namun, Bagi mereka apa yang menimpa Bian adalah kecelakaan. Kecelakaan yang ternyata disebabkan oleh Lisa, mantan pengasuh Devan. Mereka sudah tahu kalau Lisa lah yang telah merencanakan melenyapkan Alea.


Perempuan itu ingin menyingkirkan Alea karena Bian menolaknya. Penolakan Bian membuat Lisa meradang, hingga kemudian nekad mencari tahu tentang Alea.


Bian yang dengan tegas menolaknya dan lebih memilih Alea dibandingkan dirinya, membuat Lisa nekad menyewa orang untuk melenyapkan Alea.


Namun, takdir ternyata berkata lain. Karena saat Lisa ingin menyingkirkan Alea, Bian justru berada di tempat yang sama untuk menyelamatkannya.


Tak berapa lama kemudian, seorang perawat menyuruh Aditama dan Laras masuk ke dalam ruang ICU. Dengan langkah gemetar Aditama dan Laras beriringan mengikuti langkah perawat itu.


Dalam hati, mereka berdua sudah siap dengan segala kemungkinan. Meski berat, mereka ikhlas seandainya itu memang sudah menjadi takdir yang telah di gariskan oleh Tuhan untuk Bian.


******


Esok harinya, Alea dan Kenzo berjalan beriringan menuju bangsal tempat Bian di rawat.


Saat Alea meminta izin pada perawat untuk masuk ke dalam ruangan itu, perawat itu menjelaskan kalau ruangan itu sudah kosong.

__ADS_1


"Maaf, Nona, pasien yang di dalam sudah tidak ada. Semalam keadaan pasien kritis, dan nyawanya tidak bisa di selamatkan."


"Apa?"


Alea dan Kenzo menatap perawat itu tak percaya.


"Nggak mungkin, Sus, Suster pasti bohong." Alea menatap perawat yang terlihat cukup cantik itu dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Tidak mungkin, Suster pasti bohong! Bian tidak mungkin meninggal. Kemarin aku lihat dia baik-baik saja. Kondisinya juga stabil, tidak mungkin Bian tiba-tiba kritis kemudian meninggal. Suster pasti bohong kan?"


Kenzo memeluk Alea, mencoba menenangkan perempuan itu. Kenzo sendiri merasa tidak percaya kalau Bian sudah meninggal.


"Suster, apa benar pasien yang di ruangan ini telah meninggal?" Kenzo dengan gemetar mengulang kembali pertanyaan Alea.


"Benar, Mas, saya nggak bohong. Dari semalam saya jaga di sini, saya sendiri yang menghubungi keluarganya, dan mengabarkan pada mereka kalau pasien sudah meninggal dunia." Suster cantik itu bersikeras dengan pendapatnya.


"Semalam yang menunggu di depan ruangan ini, sepasang suami istri paruh baya. Karena hanya mereka berdua yang ada di sini, saya berinisiatif meminta nomor keluarga mereka yang lain dan langsung menghubungi mereka setelah dokter menyatakan kalau pasien sudah meninggal, " jelas perawat itu panjang lebar.


Alea dan Kenzo masih tidak percaya.


Alea menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Tidak! Tidak mungkin, Bian ... Biaann!" Tubuh Alea limbung, beruntung Kenzo masih memeluk perempuan itu.


"Tidak, Bian tidak mungkin meninggal. Bian tidak mungkin meninggal! Kalian pasti salah. Bian tidak mungkin meninggal!" Alea terus berteriak.


Kenzo meraih tubuh Alea yang terus meronta, kemudian menggendong tubuh Alea keluar dari ruangan itu.


"Bian! Biann ...!"


"Ken! Bian, Ken ... Bian tidak mungkin meninggal kan, Ken ... Ken!" Alea terus berteriak, dan meronta.


Kenzo memeluk perempuan itu dengan erat. Ia masih belum percaya dengan apa yang terjadi. Pandangannya berkeliling, tak menunggu lama beberapa orang pria mendekat padanya.

__ADS_1


"Cepat selidiki apa yang terjadi!"


"Baik, Bos!"


Orang-orang suruhan Kenzo langsung berpencar meninggalkan rumah sakit.


Sementara Alea masih menangis dalam pelukan Kenzo, dan akhirnya limbung tak sadarkan diri. Kenzo dengan cepat mengangkat tubuh Alea. Ia benar-benar masih belum percaya dengan apa yang terjadi.


Kenzo membawa Alea ke ruang rawat inap yang Alea tempati dari kemarin. Kenzo memang menyuruh Alea tetap tinggal di ruangan itu agar perempuan ini tidak bolak-balik dari rumah ke rumah sakit hanya untuk melihat Bian. Kenzo memberikan kebebasan pada Alea untuk menemui Bian kapanpun, karena Kenzo mempercayai Alea. Kenzo yakin, hati Alea saat ini hanyalah miliknya.


'Semalaman aku dan Alea ada di sini, tapi kenapa tidak ada satupun yang memberitahukan kabar tentang kematian Bian?'


Kenzo masih terus berpikir sambil menatap wajah Alea yang masih belum sadarkan diri. Seorang dokter baru saja keluar dari ruangan itu setelah memeriksa Alea.


Kenzo meraih ponselnya, kemudian langsung menelepon Rajasa Papanya Alea. Kenzo memberitahukan kabar tentang Bian dan keadaan Alea saat ini.


Ternyata, calon mertuanya itu juga baru mengetahui kabar tentang Bian darinya.


"Papa tidak tahu kalau Bian kritis dan tidak bisa diselamatkan. Kalau Papa tahu, dari semalam Papa dan Mama pasti langsung ke rumah sakit," jelas Rajasa di seberang sana.


Pria paruh baya itu benar-benar terkejut.


"Kamu jagain Alea, Ken, Papa dan Mama langsung ke rumah Bian sekarang. Papa ingin memastikan kabar itu benar apa tidak."


"Baik, Pa."


Bian menutup panggilan teleponnya. Netranya menatap Alea yang masih belum sadarkan diri.


Belum sempat Kenzo duduk di samping Alea, teleponnya berdering.


"Bos, kabar itu ternyata benar."


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like, koment dan juga Votenya ya kakak² 🙏🙏


__ADS_2