MATI RASA

MATI RASA
Part 78 Penolakan Bian


__ADS_3

Bian melepaskan pelukan Lisa, kemudian meninggalkan perempuan itu sendirian di dapur.


"Jangan coba-coba mendekatiku, kalau kau tidak ingin hatimu terluka." Kata-kata Bian beberapa detik yang lalu langsung menghancurkan harapan Lisa. Perempuan cantik yang setiap hari mengasuh Devan itu tertunduk sambil menangis.


Lisa sadar, tidak akan mudah untuk mendapatkan hati pria itu, tapi hatinya bersikeras. Ia bahkan sudah menyiapkan hatinya untuk Bian. meskipun harus patah nantinya, tapi ia sudah siap.


'Aku akan terus berusaha untuk mendapatkan hatimu Bian, meskipun aku harus menunggumu sampai kau mau membuka hatimu untukku.'


Lisa kemudian kembali ke kamarnya. Beberapa saat yang lalu, Lisa tak sengaja melihat Bian keluar dari kamarnya menuju dapur. Lisa merasa tidak tahan saat melihat Bian di dekatnya, makanya ia memberanikan diri untuk memeluk Bian dari belakang.


Lisa berharap Bian sedikit melunak dengan apa yang sudah ia lakukan. Tapi ternyata, tidak semudah itu untuk menggoda Bian. Pria itu seolah sudah mengunci hatinya, sehingga apapun yang dilakukan, tidak berpengaruh sama sekali pada Bian.


Bian meminum obat tidurnya, kemudian mencoba memejamkan mata. Tingkah Lisa di dapur tadi membuatnya menghela nafas berat.


Bian tidak menampik, hasrat lelakinya langsung terbangun saat merasakan pelukan hangat dari Lisa. Sudah sekian lama, semenjak Bian berpisah dengan Amara, ia tidak pernah lagi menyentuh perempuan manapun.


Bian memang bajingan, tapi selama ini, ia hanya pernah menyentuh dua perempuan. Amara dan juga Alea, dan keduanya pun berstatus istri Bian. Meskipun, saat bersama Amara Bian melakukannya sebelum menikah, tapi tetap saja, perempuan yang pernah ia sentuh hanyalah Amara dan Alea.


Mengingat Alea, Bian jadi teringat saat pertama kali Bian menyentuhnya. Saat itu Bian menyentuh Alea dengan kasar, bukan hanya kasar, mungkin saja juga bisa di sebut dengan pemerkosaan, karena saat itu Bian benar-benar memaksa Alea untuk melayaninya.


Saat pertama kali menyentuh Alea, Bian tidak pernah menyangka kalau Alea ternyata masih perawan. Berbeda dengan saat pertama kalinya Bian menyentuh Amara. Perempuan itu jelas sudah terbuka segelnya.


Meski awalnya Bian merasa kecewa karena tidak menjadi yang pertama buat Amara, tapi karena rasa cintanya, akhirnya Bian pun mau menerima Amara apa adanya.


'Tidak lagi, aku tidak mau lagi menjadi seorang pria pecundang seperti dulu lagi. Cukup Alea saja yang menjadi korban.'


Karena pengaruh obat, Bian pun akhirnya tertidur pulas. Setiap malam, setiap Bian tidak bisa tidur karena memikirkan Alea, Bian pasti selalu mengkonsumsi obat tidur, agar ia bisa terlelap.


*****


Lisa melangkahkan kakinya mendekati Bian. Pria itu saat ini sedang merenung di taman belakang rumahnya. Bian menatap satu persatu isi di dalam kardus besar di depannya.


kardus itu berisi foto-foto Bian yang dibuang oleh Alea kemarin.


Entah kebetulan atau tidak, tadi pagi saat asisten rumah tangganya sedang bersih-bersih, dia melihat petugas kebersihan yang sedang mengangkut kardus-kardus besar dari rumah Alea.


Mbok Rasti adalah asisten rumah tangga Bian yang terkenal kepo. Jiwa kepo Mbok Rasti langsung meronta saat melihat dua orang petugas kebersihan itu mengangkat kardus-kardus besar ke dalam bak sampah.


Dengan tidak tahu malu, Mbok Rasti menghampiri petugas kebersihan itu, kemudian mencari tahu isi di dalam kardus yang membuatnya penasaran. Meski mendapat pelototan tajam dari dua orang petugas itu, Mbok Rasti tetap kepo, kemudian merobek kardus itu dan melihat isinya.


Seketika kedua matanya membelalak kaget saat melihat isi di dalam kardus itu adalah foto-foto bos mudanya. Mbok Rasti kemudian menghubungi Mang Diding si penjaga pintu gerbang agar membantunya menurunkan kardus itu dari bak sampah.


Awalnya dua orang petugas itu melarang Mbok Rasti untuk membawa kardus besar itu, tapi setelah Mbok Rasti memberikan sedikit uang pada mereka, akhirnya mereka pun mengizinkan Mbok Rasti mengambilnya.

__ADS_1


Mbok Rasti kemudian memberitahu Bian, dan akhirnya, di sinilah Bian sekarang. Di taman belakang sambil menatap satu persatu lembaran-lembaran foto dirinya dalam beberapa pose. Foto-foto itu jelas foto-foto lama dirinya, sebelum Bian menikah dengan Alea.


Saat baru menikah dengan Alea, Bian memang pernah melihat foto-foto dirinya terpajang penuh di dinding kamar Alea, dan foto-foto ini persis sama dengan foto-foto yang dilihat Bian di kamar Alea.


Mungkin, foto-foto ini memang foto-foto yang ada di dalam kamar Alea yang sengaja Alea buang. Mengingat itu, Bian merasa hatinya seperti diremas-remas.


Dengan membuang semua barang-barang ini, berarti Alea sudah benar-benar melupakannya. Alea benar-benar sudah tidak ingin mengingatnya lagi, makanya Alea membuang semua barang-barang kenangan ini ke tempat sampah.


Bian menghela nafas berat, dadanya terasa sesak. Kembali, ia harus menghadapi kenyataan kalau Alea benar-benar sudah melupakannya.


"Pak Bian ...." Suara Lisa membuyarkan lamunan Bian.


"Ada apa?" Bian menatap perempuan yang saat ini sedang tersenyum cantik padanya.


"Tidak apa-apa, hanya ingin menemani Bapak di sini."


"Aku membayar kamu untuk mengurus Devan, bukan untuk menemaniku, Lisa." Bian menatap tajam ke arah Lisa.


"Ma-- maaf Pak, aku tidak bermaksud ...."


"Di mana Devan? Kenapa kau meninggalkannya?"


"Den Devan sedang diajak Nyonya besar, Pak." Lisa menjawab dengan wajah tertunduk.


"Lalu mau apa kau ke sini?"


"Apa lagi yang ingin kau bicarakan, Lisa? Kita tidak punya urusan, dan kita tidak punya sesuatu yang harus dibicarakan." Bian berkata dengan tegas sambil menatap Lisa dengan tajam.


"Aku ingin membicarakan tentang perasaanku pada Bapak."


"Perasaanmu tidak ada hubungannya denganku, Lisa."


"Tentu saja ada." Lisa menatap Bian dengan sungguh-sungguh.


"Aku mencintai Bapak," ucap Lisa tanpa ragu.


Bian tertawa mendengar ucapan Lisa.


"Lisa, sebaiknya kau tahu tempatmu. Aku adalah majikanmu di rumah ini. Jadi seharusnya, kau sadar akan posisimu." Bian menatap Lisa, memindai wajah perempuan cantik di depannya itu.


Bian akui, Lisa memang perempuan yang sangat cantik. Untuk ukuran seorang perawat, Lisa memang sangat cantik dan menarik dibandingkan perawat yang lainnya.


Tapi, untuk menerima cinta Lisa, jelas Bian harus memikirkan berulang kali bahkan mungkin ribuan kali.

__ADS_1


Bian hanya tidak mau kembali mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu. Apalagi, saat ini hatinya hanya milik Alea. Meskipun Alea tidak lagi mencintainya, tapi Bian akan terus berharap, semoga suatu saat Alea bisa kembali padanya.


Meski tidak akan mudah, namun Bian akan terus mencoba untuk mendapatkan hati Alea kembali.


"Aku tahu, aku hanya seorang pengasuh anak Bapak, tapi aku mencintai Bapak. Aku benar-benar mencintai Bapak dengan segenap hatiku." Lisa menatap Bian, kedua matanya sudah mengembun.


"Aku juga tahu, tidak mudah bagi Bapak untuk melupakan mantan istri Bapak, tapi bukankah hidup terus berlanjut? Sampai kapan Bapak akan terus berharap pada mantan istri Bapak? Bukankah Bapak tahu, kalau mantan istri Bapak sudah tidak mencintai Bapak lagi?" Lisa masih menatap Bian yang langsung terlihat berubah raut wajahnya. Pria itu terlihat marah.


"Kamu jangan sok tahu, Lisa." Bian menatap Lisa dengan tajam.


"Kau bahkan tidak tahu apa-apa tentang diriku, Lisa. Jadi, sebaiknya kau tidak usah ikut campur urusan pribadiku."


"Aku bukannya mau ikut campur urusan pribadi Bapak, aku hanya kasihan sama Bapak, sampai kapan Bapak akan terus seperti ini, Pak? Kenapa Bapak harus terus mengharapkan orang yang jelas-jelas sudah tidak mencintai Bapak lagi?" Kedua mata Lisa sudah mulai mengeluarkan air mata.


"Dari mana kau tahu kalau dia sudah tidak mencintaiku lagi? Memangnya kau mengenalnya?"


"Aku memang tidak mengenalnya, tapi barang-barang itu adalah bukti, kalau dia sudah tidak mencintai Bapak lagi bukan?" Lisa menunjuk ke arah kardus berisikan foto-foto Bian.


Pandangan mata Bian langsung menggelap.


"Dia masih mencintaiku atau tidak, itu tidak ada hubungannya sama sekali denganmu, Lisa," ucap Bian geram.


"Tapi aku mencintai Bapak, kenapa Bapak tidak mau melihat ku sedikit saja?" Lisa menatap Bian, dengan air mata yang mengalir di pipinya.


"Aku benar-benar mencintai Bapak, tidak bisakah Bapak melihatku sedikit saja?" ulang Lisa.


"Aku tidak bisa mencintai perempuan lain selain dia. Karena hanya dialah satu-satunya perempuan yang aku cintai."


"Tapi aku sangat mencintai Bapak!" Lisa bersikeras dengan kedua mata yang bersimbah air mata.


"Tapi aku tidak bisa mencintaimu, Lisa. Maaf! karena aku benar- benar tidak bisa mencintai perempuan lain selain dia."


"Pak Bian ...." Lisa menatap Bian tak percaya, sebenarnya Lisa sudah menduga jawaban Bian seperti apa. Lisa juga sudah menyiapkan hatinya untuk terluka. Tapi, kenapa rasanya begitu sakit? lebih sakit dari yang sudah Lisa bayangkan.


Penolakan Bian, membuat hatinya seketika hancur berkeping-keping.


'Kenapa mencintai harus sesakit ini?'


"Kau masih muda dan cantik, Lisa. Masih banyak, pria baik yang bisa kau temui di luar sana. Tapi yang jelas bukan aku, karena aku tidak akan pernah bisa mencintai kamu!" Bian menatap Lisa sebentar, kemudian berlalu pergi meninggalkan Lisa yang menangis sendirian.


.


.

__ADS_1


.


jangan lupa like, koment dan Votenya ya kakak²... 🙏🙏🙏


__ADS_2