
"Brengsek kau Amara! Gara-gara kau, aku kehilangan anakku!"
"Kau sendiri yang telah membunuh anakmu Bian, kenapa kau malah menyalahkan aku?!" Tiba-tiba Amara berteriak kencang. Bian langsung mendekati Amara dengan penuh amarah saat mendengar ucapan Amara. Tangan Bian mencengkeram leher Amara kemudian mencekiknya, emosi Bian meledak seketika.
"Dasar perempuan brengsek! Kalau bukan karena kau yang terus memprovokasiku, dan terus menuduh Alea, aku juga tidak akan berbuat sekejam itu pada Alea. Selama ini aku buta, karena selalu percaya padamu!"
Bian mempererat cengkeramannya di leher Amara, hingga perempuan itu hampir saja kehilangan nafas.
"Bi-Bian ... le-le-paskan aku." Amara meronta sambil memegangi tangan Bian. Aditama langsung mendekati Bian.
"Lepaskan Bian! Kau bisa membunuhnya!" Aditama berteriak sambil berusaha melepaskan tangan Bian yang mencekik leher Amara. Bian bener-bener kalap, ia ingin sekali membunuh perempuan di depannya ini.
"Bian! Kau bisa membunuh perempuan ini! Lepaskan dia!" Aditama masih berusaha menarik tangan Bian dari leher Amara.
"Lepaskan Nak, Mama mohon ...." Mendengar suara Mamanya, Bian langsung melepaskan perempuan itu dan mendorongnya, sebelum akhirnya kembali menamparnya.
Bian benar-benar marah, sekaligus kecewa, karena perempuan yang selama ini ia pertahankan ternyata tak lebih hanya seorang pengkhianat.
Bukan hanya pengkhianat, tapi juga seorang perempuan jalang. Bian menatap jijik ke arah Amara yang saat ini sedang memegangi perutnya.
Kata-kata Amara di dalam rekaman itu membuat Bian serasa ingin muntah. Bagaimana bisa seorang perempuan bisa membiarkan beberapa pria menanam benih secara bersamaan di rahimnya? Bian tidak habis pikir, perempuan yang selama ini terlihat begitu baik di matanya, ternyata tak lebih hanya seorang perempuan yang menjijikkan!
Vina membantu Amara berdiri. Perempuan itu saat ini terlihat sangat menyedihkan. Tapi dalam hati Vina, ia malah mentertawakan perempuan ini, ia bahkan memaki habis-habisan perempuan di depannya ini.
"Kalau bukan karena dirimu, Alea pasti masih di sini sekarang, dasar pelakor!" Vina mencengkeram lengan Amara.
__ADS_1
"Aku bukan pelakor. Bian yang membawaku ke rumah ini karena dia mencintaiku dan ingin menikahiku!" Amara berteriak keras sambil meringis merasakan perih di bibirnya yang terluka.
"Kalau kau bukan pelakor, terus apa sebutan yang pantas untuk perusak rumah tangga orang sepertimu?"
"Aku dan Bian saling mencintai, bahkan jauh sebelum Bian menikah dengan Alea. Bukan aku yang perusak rumah tangga orang, tapi Alea lah yang hadir di antara kami!" Amara membela diri.
"Diam! Apapun alasannya, kalian berdua telah bersalah pada putriku, kalian harus bertanggung jawab karena selama ini kalian telah menyiksa putriku!" Suara Rajasa menggema di ruangan itu, membuat semua orang melihat ke arahnya.
"Bian, aku sangat kecewa sama kamu, aku pikir, kamu adalah laki-laki baik dan bertanggung jawab, tapi ternyata perkiraanku salah. Dasar pengecut! Berani-beraninya kau memukul putriku!" Rajasa mengamuk, ia kemudian menarik kerah baju Bian, kemudian memukul wajahnya berkali-kali. Tak sampai di situ, Rajasa pun melepaskan ikat pinggangnya, dan tanpa basa-basi langsung mencambuk Bian, persis seperti saat Bian mencambuk Alea yang terekam jelas dalam video itu.
"Bagaimana rasanya? Sakit bukan?" Rajasa masih memukul Bian, tapi Bian hanya diam tak melawan. Sementara Laras dan Anita sudah berteriak histeris.
"Seperti ini kau memperlakukan putriku bukan?" Rajasa mencambuk bagian pinggang Bian.
"Hentikan Pa!" Rangga memegangi tangan Papanya yang masih memegang ikat pinggang.
"Papa harus memberinya pelajaran karena sudah berani menyiksa putri Papa." Rajasa kembali ingin memukul Bian, kedua matanya berkaca-kaca saat mengingat adegan demi adegan yang memperlihatkan Alea di pukuli dengan penuh amarah oleh Bian.
"Lepasin Bian Pa!" Rangga kembali berteriak kemudian menarik pria paruh baya itu dan memeluknya. Anita ikut memeluk suaminya, Anita pun tak jauh beda dengan Rajasa, ia pun ikut merasa hancur saat mengetahui anak perempuannya ternyata selama ini hidup menderita bersama suaminya.
Aditama dan Laras membantu Bian untuk duduk. Seluruh badan Bian penuh memar dan berdarah di bagian bibirnya. Sebagai orang tua, ia tetap merasa iba melihat kondisi anaknya yang terlihat menyedihkan.
"Alea Ma, Alea pasti sangat kesakitan saat aku memukulinya. Dia bahkan sampai mengalami keguguran gara-gara aku, aku tidak sengaja membunuh anakku Ma, aku tidak tahu kalau Alea sedang hamil ...." Bian menangis sambil memeluk Laras. Kedua orang tua Bian dan kedua orang tua Alea saling berpandangan.
"Kau bahkan dengan tega membunuh darah dagingmu sendiri?!" Rajasa berteriak kaget. Padahal dari tadi ia sudah mendengar Bian menyebut kata anak, tapi mereka belum menyadarinya.
__ADS_1
"Jadi, maksud kamu Alea pernah hamil kemudian mengalami keguguran?" Anita yang sedari tadi menangis terlihat kaget.
"Kau benar-benar manusia biadab Bian!" Rajasa menunjuk-nunjuk jarinya ke arah Bian. Sementara Bian hanya menangis meratapi semua yang telah terjadi.
Hancur sudah semuanya ....
Hilang sudah semuanya ....
Yang tinggal hanya rasa sakit dan penyesalan tiada guna ....
Seandainya saja Amara tidak pernah berbohong tentang insiden di pagi hari waktu itu ....
Seandainya saja Amara tidak berbohong dengan pura-pura jatuh dari tangga ....
Mungkin dirinya tidak akan merasa sesakit ini. Gara-gara perempuan itu, ia kehilangan Alea, dan juga kehilangan calon anak mereka ....
"Alea sayang, kau benar, aku sangat menyesal karena tidak mempercayaimu, aku benar-benar menyesal ...."
.
.
Maaf baru bisa update ya kakak² tercinta ... jangan lupa like, koment, dan Votenya ya 🙏🙏🙏
Ayok, baca juga karya author yang judulnya CINTA KARMILA, di jamin baper abis!
__ADS_1