MATI RASA

MATI RASA
Part 39 Senyum Alea


__ADS_3

Bian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, telepon dari Mbok Sumi membuatnya khawatir. Kepalanya kini serasa mau pecah. Satu sisi memikirkan Alea yang entah ada di mana, satunya lagi memikirkan Amara.


Karena terkendala macet dan jarak yang lumayan jauh, satu jam kemudian Bian baru sampai ke rumah sakit di mana Amara di rawat. Bian bergegas menuju kamar yang di tempati Amara.


Di sana, ia melihat Amara yang terlihat menangis sambil memarahi Mbok Sumi.


"Sayang ...." Bian segera mendekati Amara kemudian memeluk perempuan itu.


"Kenapa lama sekali? kau bilang cuma sebentar, tapi sudah tiga jam kamu nggak datang-datang.".


"Maaf sayang, aku mencari Alea, dia pergi dari rumah sakit."


"Benarkah? bukannya itu bagus? jadi kita tidak perlu susah-susah mengusirnya dari rumah." Amara tersenyum senang. Sementara Mbok Sumi mengepalkan tangannya mendengar ucapan Amara.


Dasar nenek sihir!


"Sayang, kenapa kau bicara seperti itu?" Bian membelai rambut Amara.


"Kenapa kau malah marah? bukankah itu rencana kita sebelumnya? kau akan mengusir perempuan itu setelah kau benar-benar menguasai perusahaannya."


"Amara." Bian melirik ke arah Mbok Sumi.


"Mbok, tolong beliin makanan di luar, aku laper banget dari tadi belum makan." Bian mengeluarkan dompetnya, kemudian memberikan beberapa lembar uang merah pada Mbok Sumi.


"Den Bian mau makan apa?"


"Apa saja Mbok, yang biasa aku makan."

__ADS_1


"Baik Den, saya permisi."


"Beliin buat Amara juga Mbok."


"Baik Den." Mbok Sumi kemudian keluar dari kamar Amara.


"Sayang, kenapa kau bicara seperti itu di depan Mbok Sumi?"


"Memangnya kenapa? Dia kan cuma pembantu Bi, nggak bakalan berani dia macam-macam."


"Kau lupa, kalau dia sangat dekat dengan Alea?" Amara sedikit terkejut.


"Kau benar, aku hampir saja lupa." Amara menatap Bian.


"Biar aku yang mengurusnya nanti, kau tenang saja." Amara memandangi pria itu, kemudian memeluknya.


"Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu." Sekelebat bayangan Alea muncul di kepalanya. Wajah cantiknya, dan juga senyum di wajahnya.


"Bian, aku mencintaimu, sangat mencintaimu, tapi kenapa kau tak mau melihatku sedikit saja?"


Bian memejamkan matanya saat mengingat awal-awal pernikahannya dengan Alea. Perempuan itu selalu tersenyum padanya, memperhatikannya, dan mengucapkan kata-kata cinta hampir setiap hari padanya.


Dia adalah gadis yang ceria, sangat cantik dan sedikit agresif. Ia menyunggingkan senyumnya dari pertama kali Bian bangun tidur, sarapan, sampai Bian kembali pulang dari kantor, dia pun langsung menyambutnya dengan senyum ceria di wajahnya. Tapi, saat itu senyumnya tidak berarti di mata Bian. Bian selalu mengacuhkannya, tidak mempedulikannya sama sekali, bahkan Bian tidak pernah menganggap gadis itu ada, meski gadis itu setiap hari berkeliaran di dekatnya.


"Suatu saat, aku pasti akan membuatmu jatuh cinta padaku Bian."

__ADS_1


"Jangan bermimpi, karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu."


"Kita lihat saja, aku yakin, suatu saat kau pasti akan mencintai ku."


Bian tertawa keras.


"Kau terlalu percaya diri Alea, asal kau tahu saja, sampai kapanpun, orang yang aku cintai adalah Amara, bukan kamu." Bian berteriak dengan sombongnya.


Tapi Alea hanya tersenyum saat mendengarkan ucapannya. Dan semenjak saat itu, Bian tidak pernah lagi melihat senyum Alea. Karena setelah perdebatan mereka malam itu, esok harinya Bian membawa Amara ke rumahnya.


Semenjak Bian membawa Amara tinggal bersamanya, Bian tidak pernah lagi melihat senyum Alea, yang ia lihat hanya amarah dan kesedihan. Alea seringkali marah karena cemburu pada Amara, Alea seringkali menangis saat tiba-tiba dirinya dengan penuh emosi menamparnya ataupun memukulnya.


"Alea ...." Bian berucap dalam hati sambil meneteskan air mata di pelukan Amara.


Aku sendiri yang telah menghilangkan senyummu, tapi aku juga yang sangat merindukan senyummu saat ini.


"Aku Membencimu Bian!"


"Ayo kita bercerai, aku sudah tidak mencintaimu lagi."


"Kau pembunuh! Kau pembunuh Bian, kau membunuh Anakku!"


Bian memeluk Amara dengan erat, saat tiba-tiba bayangan Alea yang menatapnya dengan penuh kebencian terlintas di kepalanya.


"Alea ...."


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like koment dan Votenya ya kakak ²,... terima kasih sudah membaca..


__ADS_2