
Alea menutup tubuh polosnya dengan selimut. Nafasnya naik turun, air matanya bercampur dengan keringat yang menetes di wajahnya. Tubuhnya serasa remuk dan terasa sakit, tapi sakitnya tak sebanding dengan sakit di hatinya yang terkoyak dan berdenyut bagai di tusuk ribuan jarum.
Alea memejamkan matanya, mencengkeram selimut di dadanya, menikmati rasa sakit yang menjalar memenuhi relung hatinya. Deru nafas Bian yang tersengal terdengar di telinganya. Pria itu mengatur nafasnya yang memburu akibat kegiatan yang baru saja ia selesaikan. Tubuhnya ambruk di sebelah tubuh Alea dengan posisi memeluk Alea dari belakang.
"Tubuhmu benar-benar nikmat Alea ...."
Alea berdecih dalam hati, merasa muak dengan apa yang Bian ucapkan. Ia memejamkan matanya tak mempedulikan Bian yang memeluknya dengan erat.
"Alea ...." Bian berbisik, tapi tak ada jawaban.
Bian pun akhirnya tertidur karena kelelahan.
Alea menggerakkan tubuhnya saat terdengar deru nafas Bian mulai teratur, ia dengan pelan menyingkirkan tangan Bian dari tubuhnya, kemudian beranjak dari tempat tidur.
Alea menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi ia mengguyur tubuhnya di bawah shower, membersihkan sisa-sisa percintaannya dengan Bian.
Alea menangis pilu, apalagi saat melihat begitu banyak tanda kissmark di beberapa bagian tubuhnya.
"Aku benar-benar membencimu Bian ...."
Alea bergegas keluar dari kamar mandi, saat ingin berganti baju, Alea harus menelan kecewa karena bajunya sudah dirobek Bian hingga tak berbentuk lagi.
Alea mengusap kasar wajahnya, kemudian ia beralih ke lemari pakaian. Di dalam lemari itu hanya terdapat baju-baju Bian yang berderet rapi. Alea memutuskan mengambil satu kemeja berwarna hitam yang sedikit tebal. Karena Alea tidak memakai dalaman, otomatis Alea harus mencari baju yang sedikit tebal agar tidak ketahuan kalau dirinya tidak memakai dalaman.
"Bian brengsek!" Alea memaki dalam hati, sambil menatap Bian yang tertidur pulas. Kemudian ia segera memakai kemeja itu.
Alea bergegas keluar dari apartemen, meninggal Bian yang tertidur pulas karena kelelahan.
Alea berjalan perlahan menyusuri sepanjang koridor, ia meraih ponselnya dan menelepon Kenzo untuk segera menjemputnya. Alea merasa tidak percaya diri dengan keadaannya sekarang. Ia berjalan dengan sepatu hak tinggi dengan memakai kemeja Bian yang hanya menutupi setengah pahanya. Alea nampak terlihat seksi hingga membuat pandangan semua orang yang melewatinya tertuju ke arahnya.
"Sialan! semua ini gara-gara Bian."
Alea melangkah dengan pasti, tak mempedulikan tatapan aneh semua orang yang melihatnya. Agak berhati-hati ia berjalan, karena ia tidak mau kemejanya itu tiba-tiba tersingkap karena ia tidak memakai dalaman.
" Kamu di mana?"
"Di depan lift."
__ADS_1
"Tetap di situ, jangan kemana-mana."
Kenzo mendesah frustasi, kemudian segera berlari ke mobilnya dan langsung tancap gas menuju alamat yang ditunjukkan Alea. Beruntung Kenzo sedang berada tidak jauh dari tempat itu, kalau tidak ....
"Ken, tolong aku!" Isi pesan Alea
Kenzo benar-benar khawatir pada Alea gara-gara isi pesan itu. Sesampainya di depan gedung apartemen, Kenzo buru-buru masuk lobi dan memencet lift, menekan angka yang di tuju.
Saat Kenzo membuka pintu lift, terlihat Alea yang sedang berdiri dengan canggung, saat beberapa pasang mata laki-laki menatapnya penuh damba, bahkan ada yang terang-terangan menggodanya. Jangan lupakan pakaian Alea yang terlihat seksi, kemeja hitam yang hanya menutupi setengah paha atasnya, sehingga paha mulus serta kaki jenjangnya terekspose. Alea juga tanpa sengaja membiarkan kancing bagian atasnya terbuka hingga belahan dadanya sedikit mengintip dari bajunya.
Kenzo menelan salivanya, "perempuan ini benar-benar ...."
Kenzo membuka jaketnya, kemudian mendekati Alea.
"Apa kau ingin menggoda semua orang di sini dengan berpakaian seperti ini?" ucap Kenzo kesal, kemudian memasangkan jaketnya pada pinggang Alea agar tubuh bagian atasnya tidak terlihat.
"Suamiku memperkosaku lagi, dia merobek semua bajuku, dan kau tahu, aku bahkan tak bisa menyelamatkan dalamanku." Alea menjawab dengan asal membuat Kenzo melongo di depannya.
"Ayo kita pulang." Kenzo menarik tangan Alea, kemudian ia melirik kancing kemeja Alea yang terbuka di bagian atasnya. Kenzo bahkan melihat bagian dada yang tertutup dalaman itu naik turun seiring langkah kaki Alea, membuatnya lagi-lagi harus menelan salivanya.
"Pasang kancing kemejamu Al, bagaimana pun, aku juga manusia normal." tekan Kenzo.
"Pantas saja semua laki-laki yang melihatku tadi seolah ingin menelanku hidup-hidup." kesal Alea dalam hati sambil melirik ke arah Kenzo.
Sesampainya di parkiran, Alea segera masuk ke dalam mobil Kenzo.
"Dasar Bian sialan!" umpat Alea sesaat setelah dirinya duduk di dalam mobil. Alea melepaskan jaket Kenzo dan dengan buru-buru dan menutupi pahanya yang terekspos jelas dengan jaket itu. Kenzo yang baru saja membuka pintu mobil, terpaku sejenak saat melihat kemeja Alea yang tersingkap sampai ke pangkal pahanya sebelum akhirnya Alea menutupinya dengan jaket yang ia pinjamkan.
"Antar kemana?" ucap Kenzo saat ia sudah duduk di belakang kemudi sambil menenangkan jantungnya yang berdebar kencang.
"Antarkan aku ke apartemen saja, aku sedang tidak ingin pulang ke rumah." Kenzo mengangguk kemudian langsung melajukan mobilnya.
"Apartemen kamu di sini?" Kenzo menatap Alea tak percaya.
"Kenapa emang? kau pikir aku tidak sanggup membelinya?"
"Untuk seseorang yang pekerjaannya cuma pegawai restoran, kau pikir aku percaya kau bisa membeli satu unit apartemen di sini?"
__ADS_1
Alea tersenyum kuda.
"Ini hadiah dari Mama dan Papa sebagai kado ulang tahunku."
"Sudah aku duga." cibir Kenzo.
"Ayo turun."
"Sebaiknya kau pulang saja, tidak usah mengantarkan aku sampai ke dalam."
"Kau yakin?" Alea mengangguk pasti.
"Kau ingin semua orang melihatmu dan menatapmu penuh minat dengan pakaian yang kau pakai saat ini?" Kenzo menatap Alea dengan tatapan tajam. Ia sungguh kesal dan merasa tak rela jika tubuh Alea menjadi pusat perhatian laki-laki lain.
Alea melihat ke arah dirinya, kemudian langsung kembali menutup tubuh bagian bawahnya dengan jaket Kenzo yang masih ia pegang.
"Ini gara - gara pria brengsek itu!" ucap Alea geram.
"Pria brengsek itu adalah suamimu, kalau kau lupa." Kenzo menarik pinggang Alea saat ia melihat beberapa pasang mata lelaki menatap Alea tak berkedip.
"Aku sudah berulangkali meminta cerai darinya, tapi tidak pernah berhasil. Yang ada, ujung-ujungnya aku di perkosa lagi sama dia."
"Mana ada seorang suami memperkosa istrinya, kau jangan ngawur, sepaling nggak, kamu juga pasti ikut menikmatinya bukan?" Kenzo menarik turunkan alisnya menggoda Alea.
"Apa maksudmu?" kesal Alea, mereka saat ini sedang berada di dalam lift.
"Kau sangat mencintainya bukan?"
Pintu lift terbuka, Alea berjalan tanpa menjawab pertanyaan Kenzo. Sesampainya di depan pintu apartemen, Alea menyuruh Kenzo untuk pulang.
"Kau belum menjawab pertanyaanku Al, "
"Kamu pikir, aku harus terus bertahan setelah apa yang dia lakukan padaku? aku tidak tahu apa yang kurasakan saat ini, yang jelas, aku ingin sekali terlepas darinya. Tak peduli aku mencintainya atau tidak, aku hanya ingin segera terlepas darinya. Aku sungguh tidak tahan Ken, luka di hatiku ini sudah terlalu dalam." Alea menangis, membuat Kenzo langsung membenamkan Alea ke dalam pelukannya.
"Maaf, aku tidak bermaksud ...."
Alea memeluk Kenzo sambil menangis seperti biasanya.
__ADS_1
Kenzo menarik nafas panjang,
"Sepertinya aku harus segera mengakhiri penderitaanmu Al ...."