MATI RASA

MATI RASA
Part 51 Amarah Bian


__ADS_3

Alea menatap ombak yang bergulung saling berkejaran. Hamparan pasir pantai nampak berkilau terkena cahaya matahari siang itu. Alea merapikan rambut nya yang berterbangan dimainkan angin. Kedua netranya tak lepas dari sepasang muda- mudi yang bergandengan tangan, sambil berlarian di tepi pantai. Sesekali mereka tertawa, ada binar bahagia di kedua mata mereka yang saling menatap penuh cinta. Alea mengulas senyum, saat melihat kemesraan pasangan muda-mudi itu.


'Aku sangat iri pada mereka'


Alea tersenyum getir. Dulu, ia pun pernah membayangkan hal-hal yang romantis seperti yang ia lihat sekarang dengan Bian. Namun, nasib baik tak berpihak padanya. Jangankan bersikap romantis, senyum tulus saja, tak pernah Bian berikan padanya.


''Lupakan dia Al, karena saat kau mengingatnya, kau hanya akan merasa kesakitan," hibur Alea pada diri sendiri.


Alea menyeruput es kelapa muda di depannya, udara memang sangat panas, tapi semilir angin pantai perlahan mampu mengusir rasa panas dan gerah di tubuhnya.


Sudah seminggu lebih Alea berada di kota ini, dan sudah hampir seminggu pula, Alea selalu menyempatkan diri ke tempat ini. Biasanya, Alea akan ditemani Kenzo saat pergi ke pantai ini. Tapi karena saat ini Kenzo sedang sibuk, jadi Alea memutuskan untuk pergi sendiri saja. Semalam, pria itu menelepon, kalau dirinya harus pulang ke Jakarta malam itu juga.


Alea menghembuskan nafas panjang. Bayangan wajah Bian terlintas di kepalanya. Meski ia sangat membenci pria itu, tapi ia tak bisa membohongi hatinya, kalau nama Bian masih tetap bertahta di relung hatinya yang paling dalam.


'Aku harap, aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi. Cukup sudah, aku tidak mau menangis lagi karenamu.'


Alea memejamkan matanya, menghirup udara sebanyak-banyaknya, kemudian menghembuskannya perlahan.


"Semangat Al, kamu pasti bisa!" Alea berusaha menyemangati dirinya sendiri.


'Aku berharap, waktu bisa menyembuhkan lukaku, dan membuatku melupakan semua tentang dirimu ....'


*****


Bian melemparkan semua barang-barang milik Amara ke luar rumah.


"Pergi kau dari sini, perempuan jalang!" Bian berteriak marah.

__ADS_1


"Bian! Sayang, tolong maafkan aku, aku tidak mungkin pergi dari sini. Aku mencintaimu Bian!"


"Cinta? Cinta kamu bilang? Setelah apa yang kau lakukan dengan pria itu, kau bilang, kau mencintaiku?" Bian tertawa mengejek.


"Dasar perempuan brengsek! Selama ini, aku begitu mempercayaimu, karena aku sangat mencintaimu Amara, aku melakukan segala hal untukmu, aku selalu memberikan yang kau inginkan, apapun itu, aku selalu memberikannya untukmu! Tapi, apa yang kau lakukan padaku Amara? Kau malah mengkhianatiku!" Suara Bian menggelegar, menggema di seluruh ruangan.


"Bi--Bian, tunggu Bian, aku akan menjelaskan semuanya padamu. Aku tidak bersalah, itu bukan suaraku, itu pasti akal-akalan Alea, agar kau membenciku." Amara kembali mengejar Bian yang sudah masuk ke dalam rumah meninggalkan dirinya.


"Diam kau! Bahkan setelah semua bukti-bukti yang aku lihat, kau masih tetap menyalahkan Alea?" Bian menatap tajam ke arah Amara. Perempuan ini, perempuan yang selalu ia cintai sejak dulu, perempuan yang selalu ia percaya, tapi ternyata ....


"Mbok Sumi ...!" Bian berteriak kencang, membuat Mbok Sumi yang masih berada di dapur, tergopoh-gopoh menghampirinya.


"Iya Den," ucap Mbok Sumi takut-takut. Mbok Sumi tidak pernah melihat Bian semarah ini.


"Keluarkan semua barang-barang milik Amara yang yang tersisa di kamar, berikan padanya, dan suruh perempuan itu pergi dari rumah ini!" Bian menunjuk ke arah Amara.


"Cepat Mbok! Tunggu apalagi?"


"Ba--baik Den," ucap Mbok Sumi gugup, kemudian segera bergegas naik ke lantai atas, menuju kamar utama.


"Bian! Aku mohon jangan usir aku Bian, aku mohon ... aku mencintaimu Bian, aku tidak akan pergi dari sini," ucap Amara dengan berlinang air mata.


"Kalau kau tidak mau pergi, aku akan menyuruh satpam untuk menyeret mu keluar dari rumah ini!" Bian masih berteriak, rasanya, ia ingin sekali mencekik perempuan di depannya ini. Rasa cintanya terhadap perempuan ini seolah menguap entah kemana, setelah ia mengetahui siapa Amara sebenarnya. Selama ini, ia benar-benar bodoh, karena selalu mempercayai Amara.


"Bian, aku mohon ... tolong maafkan aku Bian, aku memang bersalah padamu, tapi aku mohon, tolong jangan usir aku dari rumah ini." Amara tiba-tiba berlutut di kaki Bian, kedua tangannya menyatu sambil terus memohon dan berlinang air mata.


"Jadi, sekarang kau mengakui, kalau kau bersalah? Sudah berapa lama kau membohongiku, perempuan jalang? Sudah berapa lama kau berhubungan dengan pria itu?" Bian dengan marah menatap Amara, kemudian menarik rambut perempuan itu, membuat Amara terpekik kaget sambil berteriak kesakitan.

__ADS_1


"Bi--Bian ... lepas Bian, sakit ...." Amara meringis, saat rasa perih menjalar di kepalanya.


"Sakit Bi, sakit ... tolong lepaskan rambutku." Amara memegangi tangan Bian yang masih menjambak rambutnya.


"Amara, gara-gara kau, aku selalu menyiksa Alea, gara-gara kau, aku bahkan memukuli Alea sampai habis-habisan." Bian semakin menarik rambut Amara, membuat Amara terus menjerit kesakitan.


"Bi--Bian ...." Amara semakin menangis, rasanya, semua rambut di kepalanya seolah akan terlepas karena tarikan tangan Bian.


"A--am--ampun Bi, sakit ...." Amara masih memohon.


"Den Bian ...." Mbok Sumi yang sedari tadi diam saja, memberanikan diri membuka suara.


Bian menatap Mbok Sumi dengan mata merah menyala, membuat Mbok Sumi langsung menunduk sambil menelan salivanya.


"Ma--maaf Den, semua barang Non Amara sudah siap saya bereskan."


Bian melepaskan cengkraman tangannya pada rambut Amara, kedua matanya menyorot tajam penuh kebencian.


"Segera angkat kaki dari rumah ini, atau aku sendiri yang akan menendang mu keluar dengan kakiku!"


.


.


Maaf ya kakak ², gara-gara sibuk di dunia nyata, aku jadi baru sempat update. Jangan marah ya 🙏🙏🙏


Yang suka sama ceritanya, jangan lupa like, koment, dan Votenya ya ...

__ADS_1


Jangan lupa juga, mampir di karyaku yang judulnya CINTA KARMILA ya, di jamin bikin baper deh!


__ADS_2