
Alea terbangun dari tidurnya, merasa kaget saat tiba-tiba ia dan Bian sudah saling berpelukan.
"Pagi sayang ...." Bian tersenyum manis kemudian mengecup sekilas bibir Alea.
"Bian!"
"Morning kiss sayang ...."
"Cepat keluar dari kamarku, aku tidak mau kalau istrimu menyalahkan aku karena kau tidur di sini."
"Kau juga istriku Alea, kalau kau lupa."
"Ya, aku memang istrimu, tapi istri tak di anggap!" teriak Alea kemudian langsung masuk ke dalam kamar mandi dengan membanting pintu.
"Benar-benar menyebalkan!"
Bian terdiam mendengar teriakan Alea. Alea benar, karena selama ini dirinya memang tidak pernah menganggapnya ada. Bian menghembuskan nafas panjang, kemudian keluar dari kamar Alea dan kembali ke kamarnya.
Bian menatap Amara yang masih tertidur pulas. Bertahun-tahun ia mencintai perempuan ini, ia bahkan tidak bisa berpaling ke perempuan lain karena ia terlalu mencintai Amara.
Bian mengusap lembut pipi Amara, kemudian tangannya beralih mengusap perut Amara yang masih terlihat rata, karena usia kandungannya baru menginjak tiga bulan.
Padahal Bian baru menikahinya Minggu kemarin, tapi Amara sudah hamil tiga bulan.
Bian kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Kata-kata Alea kembali terngiang.
"Aku memang istrimu, tapi istri yang tak di anggap!"
"Kenapa sekarang aku jadi terus memikirkannya?" Bian mengguyur tubuhnya di atas shower.
"Alea benar, dari dulu aku memang tidak pernah menganggapnya ada. Aku bahkan sangat membencinya karena aku menganggap dia sudah menjadi penghalang hubunganku dengan Amara."
Pikiran Bian mengembara, ia sangat ingat betul bagaimana sikapnya pada Alea selama ini.
"Pantas saja dia membenciku." Bian membatin sambil menggosok badannya dengan sabun.
Dulu ia memang sangat membenci Alea, ia bahkan sangat ingin menyingkirkan perempuan itu dari hidupnya, tapi ... entah mengapa sekarang ia begitu berat dan merasa kesal saat Alea meminta cerai darinya.
"Aku tidak mungkin benar- benar menyukainya kan?"
Bian keluar dari kamar mandi, ia melihat Amara masih tertidur pulas, padahal sekarang sudah hampir jam enam pagi.
Bian mendekati Amara, kemudian menepuk bahu perempuan itu dengan pelan.
"Sayang ... bangun. Sekarang sudah jam enam pagi, nanti kamu telat."
"Amara ... sayang, bangun."
Amara menggeliatkan badannya, ia mengerjapkan matanya.
"Kamu sudah mandi?"
"Sudah. Aku baru selesai mandi." Bian membelai wajah cantik di depannya.
"Ya sudah, aku mandi dulu. Kamu tungguin aku ya, jangan turun dulu." Bian mengangguk sambil tersenyum.
Bian membuka pintu lemari, kemudian mencari baju yang akan di pakainya ke kantor pagi ini.
Kalau dulu, sebelum ia membawa Amara ke kamar ini, sebelum dirinya bangun, Alea sudah menyiapkan air mandi untuknya, menyiapkan pakaian ganti, kemudian menyiapkan sarapan pagi untuknya. Alea juga tak lupa menyiapkan tas kerjanya.
Bian menghela nafas panjang.
"Kenapa aku jadi ingat dia terus sih ...." Bian menggerutu sambil memakai pakaiannya.
Alea sudah selesai mandi, dan segera bergegas keluar kamar kemudian mengunci pintu kamar. Alea masuk ke dalam ruang kerja Bian, kemudian seperti biasa, ia membereskan berkas-berkas yang berserak di meja, kemudian memasukkannya ke dalam tas kerja Bian.
__ADS_1
Sesampai di meja makan, Alea belum mendapati Bian dan perempuan itu di meja makan.
"Syukurlah, mereka belum turun." Alea meletakkan tas kerja Bian di atas kursi.
"Non Alea mau sarapan sekarang, atau nungguin Den Bian." ucap Mbok Sumi.
"Aku sarapan di tempat kerja saja Mbok, "
Alea membuka lemari, kemudian mengambil tempat makan, kemudian memberikannya pada Mbok Sumi.
"Tolong isiin ya Mbok, "
Alea meraih ponselnya di dalam saku, kemudian langsung memesan ojek online lewat aplikasi.
"Aku berangkat ya Mbok, bilang saja sama Bian kalau aku sedang lari pagi keliling komplek." Alea tersenyum kemudian menyalami Mbok Sumi dan mencium punggung tangannya.
"Hati-hati Non."
"Iya Mbok." Alea bergegas keluar rumah, di sana ada Mang Ujang yang sedang mengobrol dengan sosok laki-laki menggunakan berjaket hijau di depan pintu gerbang.
"Non Alea yang pesen Ojol?" Alea mengangguk. Kemudian naik ke atas motor.
"Aku jalan dulu ya Mang, kalau Bian nanya, bilang aja kalau aku lagi olahraga keliling komplek." ucap Alea
"Siap Non."
Mang Ujang memandangi kepergian majikannya itu sambil menggelengkan kepalanya.
"Kasihan banget kamu Non, masih muda tapi sudah mengalami pahitnya hidup berumah tangga."
Mang Ujang menutup pintu gerbang, kemudian kembali ke pos penjagaan.
Bian menuruni tangga bersama Amara yang bergelayut manja di lengannya. Mereka berdua langsung menuju meja makan. Mbok Sumi bergegas menyiapkan sarapan di atas meja makan.
"Alea belum keluar kamar Mbok?" Bian memperhatikan Mbok Sumi yang sedang menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga Amara.
Bian berdecak kesal.
"Perempuan itu, benar-benar ...."
"Sudahlah, tidak usah terlalu memaksa wanita itu untuk makan bareng kita Bi, terserah dia saja mau makan bareng kita apa nggak." ucap Amara dengan kesal sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Bilang sama dia, nanti malam dia harus makan malam bersama kita, tidak ada penolakan atau alasan apapun!" Bian menatap Mbok Sumi yang terlihat gugup.
"Ba-baik Den, nanti saya sampaikan sama Non Alea." Mbok Sumi menundukkan kepalanya kemudian meninggalkan kedua majikannya itu.
Alea baru saja melayani pelanggan, saat tiba-tiba saja Kenzo sudah ada di dekatnya.
"Kau mengagetkanku." Kenzo tersenyum manis.
"Aku ingin mengajakmu makan siang."
"Makan siang?"
"Iya, kau belum makan bukan?"
"Belum."
"Ya sudah, ayo." Kenzo menarik tangan Alea.
"Sebentar, itu ada pelanggan yang mau bayar." tolak Alea, ia sebenarnya tidak enak dengan bisik-bisik para pegawai yang menggosipkan dirinya dengan Kenzo, apalagi para pegawai perempuan, mereka tidak terima Alea begitu dekat dengan Bos tampannya.
"Para pegawaiku sudah tahu siapa kamu, jadi kamu jangan merasa nggak enak begitu." Alea menatap Kenzo, pria ini, ia benar-benar, selalu tahu apa yang di pikirkannya.
"Baiklah, kalau Bos memaksa, aku bisa apa." Alea mengangkat kedua bahunya, membuat Kenzo dengan gemas mengacak-acak rambutnya.
__ADS_1
"Ken!"
Kenzo tertawa melihat Alea yang terlihat kesal.
Para pegawai Kenzo kali ini tidak ada lagi yang berani mengusik Alea, apalagi membicarakan Alea di belakang mereka. Karena Kenzo sudah memberitahukan pada seluruh pegawainya siapa Alea sebenarnya.
"Alea ini adalah sahabat saya, dia juga sudah menikah, jadi saya harap kalian tidak berprasangka buruk apalagi sampai menyebarkan berita yang tidak benar antara Alea dengan saya. Karena bila itu sampai terjadi, saya tidak akan segan-segan memecat kalian." ucap Kenzo pada semua pegawainya saat Alea sudah pulang dari restoran semalam.
Kenzo dan Alea memilih makan siang di luar ruangan. Kenzo menyuruh Alea mengganti pakaian seragam restorannya, meski awalnya menolak, akhirnya Alea menuruti juga kemauan Kenzo.
"Memang kenapa kalau aku pakai seragam?" Alea memonyongkan bibirnya, karena kesal, membuat Kenzo tertawa.
"Aku hanya ingin mengajak sahabatku makan siang, bukannya pegawaiku."
"Baiklah, terserah Bos saja." Alea menatap Kenzo yang tersenyum padanya.
Kenzo memanggil salah satu pegawainya,
"Aku mau makan ini, ini, dan ini." Kenzo menunjuk semua makanan yang dia inginkan di dalam buku menu itu.
"Kamu apalagi Al?" Kenzo memandang Alea.
"Udah cukup Ken, itu saja."
"Baiklah."
Kenzo kemudian menyuruh pegawainya itu pergi.
"Minumnya jangan lupa. "
"Baik Bos."
Sambil menunggu makanannya datang, Alea dan Kenzo bercerita panjang lebar sambil sesekali mereka tertawa bersama. Kenzo bahkan tak segan-segan mengacak rambut Alea atau mencubit kedua pipinya saking gemas melihat tingkah Alea.
Sementara di sudut lain di dalam restoran, Bian yang saat itu sedang ada pertemuan dengan kliennya tak sengaja melihat Alea yang terlihat begitu bahagia dengan senyum dan tawa yg menghias di bibirnya.
Bian mengeraskan rahangnya, kedua tangannya bahkan sudah terkepal menahan amarah.
"Bian, bukankah dia itu istrimu?" Raka, asisten pribadinya berbisik di telinga Bian sambil menunjuk ke arah di mana Kenzo dan Alea berada.
"Hmm." Bian hanya menjawab dengan gumaman singkat.
"Apa kau mengenal pria itu? kelihatannya mereka mesra banget." Bian kembali melirik ke arah mereka berdua, dan benar saja, mereka berdua memang terlihat sangat mesra, dan mereka juga terlihat sangat serasi.
"Sial!" umpat Bian dalam hati, hampir saja ia keceplosan, namun segera menutup mulutnya, karena saat ini dihadapannya ada klien penting yang sedang ingin menjalin kerjasama dengannya.
"Saya permisi sebentar." ucap Bian akhirnya. Ia benar-benar sudah tidak tahan melihat istrinya sedang tertawa dengan pria lain. Bian menyunggingkan senyumnya pada rekan bisnisnya.
"Silahkan Pak Bian."
"Terima kasih."
Bian melirik ke arah Raka, yang di balas anggukan kepala oleh Raka, kemudian ia bergegas melangkah menuju tempat di mana Alea berada.
"Jadi ini, alasanmu bersikeras meminta cerai dariku?"
"Bian." Alea menatap Bian dengan sedikit kaget.
"Berani-beraninya kau menggoda istriku!"
Tiba-tiba Bian berteriak sambil menarik kerah baju Kenzo dan langsung melayangkan tinjunya di wajah Kenzo.
"Bian!"
.
__ADS_1
.
Yang suka ceritanya, jangan lupa like, koment, n Votenya ya 🙏🙏🙏