
"Brengsek kau, Bian! Berani-beraninya kau menelepon Alea!" Suara Kenzo meninggi, membuat semua orang terkejut, tak terkecuali Alea yang saat ini masih dalam pelukannya.
Kenzo langsung membanting ponsel Alea dengan keras, hingga ponsel itu hancur berkeping-keping. Padahal, Bian masih bersuara di ujung telepon. Amarahnya memuncak, saat ia tahu kalau Bian menelepon Alea.
Kenzo memeluk erat tubuh Alea yang masih menangis di pelukannya. Alea yang tadinya terus berontak akhirnya pasrah sambil terus menangis dipelukan Kenzo.
"Kenapa aku masih belum bisa mengendalikan diriku saat mendengar semua tentang dia, Ken? Aku benar-benar ingin melupakannya, Aku tidak ingin mengingat-ingat lagi semua tentang dirinya. aku benar-benar sangat membencinya." Alea kembali menangis dipelukan Kenzo, membuat Kenzo semakin mempererat pelukannya pada perempuan itu.
"Aku ingin melupakannya, sangat ingin melupakannya, tapi kenapa hati ini sangat sulit untuk menghilangkan semua tentang dirinya?" lanjut Alea pilu.
"Aku sangat membencinya, teramat sangat ingin membencinya, tapi kenapa aku masih belum bisa melupakan semua rasa cinta yang kumiliki untuknya? Jantungku bahkan masih berdebar, saat aku mendengar suaranya."
Kenzo mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan Alea. Perempuan ini, mati-matian ingin melupakan Bian, tapi ternyata usahanya tetap sia-sia.
Bian masih tetap bertahta dalam hatinya meskipun Alea sangat ingin melupakannya. Kenzo tidak menyalahkan Alea, karena kita memang tidak bisa menyalahkan atau pun memilih, kemana cinta kita akan berlabuh. Seperti dirinya yang terus saja mencintai Alea, meski Alea tidak mencintainya.
Tapi ia sudah berjanji dalam hati, ia akan terus berjuang, hingga suatu saat Alea bisa merasakan ketulusannya. Kenzo sungguh kasihan dengan Alea, ia hanya berharap, semoga suatu saat Alea masih bisa membuka hatinya untuk orang lain. Kalau pun bukan dirinya, semoga suatu saat Alea masih bisa merasakan jatuh cinta lagi.
Karena biasanya, seseorang yang pernah disakiti terlalu dalam oleh pasangannya, ia pasti akan sangat kesulitan untuk percaya lagi pada cinta yang baru, rasa sakit dan trauma di hatinya pasti akan terus menghantuinya. Sama seperti yang dirasakan oleh Alea saat ini.
"Kenapa pria brengsek itu harus meneleponnya? Sudah berbulan-bulan lamanya, mereka tidak pernah saling berkomunikasi, tapi kenapa tiba-tiba pria brengsek itu menelepon? Bukankah Alea juga tidak pernah mengangkat panggilan telepon darinya? Tapi kenapa sekarang Alea justru mengangkat telepon darinya dan berbicara dengannya?" batin Kenzo.
"Aku tidak sengaja mengangkat panggilan telepon darinya, aku tadi terburu-buru, aku pikir itu adalah telepon dari kamu." Seolah tahu apa yang ada dipikiran Kenzo, Alea langsung menjelaskan apa yang terjadi.
Kenzo menghela nafas lega, ia pikir, tadinya Alea lah yang telah sengaja mengangkat panggilan telepon dari Bian.
"Tenanglah! Saat bayangan itu kembali muncul dan menghantuimu, kau harus tenang, dan tidak boleh panik. Apa kau mengerti?" Kenzo menangkup wajah Alea yang bersimbah air mata.
"Kau harus bisa melawan, kau tidak boleh kalah, kau ingat apa kata dokter bukan?" Alea mengangguk pelan.
" Hari ini jadwal kamu ketemu Dokter Santi, aku akan mengantarmu ke rumah sakit." Alea kembali mengangguk.
Kenzo membawa Alea masuk ke dalam restoran. Para pegawai yang tadinya berkerumun sudah membubarkan diri. Kenzo membawa Alea masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
" Beristirahatlah! Aku tinggal dulu sebentar, nanti aku ke sini lagi." Alea hanya mengangguk pasrah saat Kenzo menyuruhnya tidur di atas ranjang, di ruangan pribadinya. Kenzo menutupi tubuh Alea dengan selimut.
"Ingat, tidak boleh berpikir macam-macam, apalagi sampai memikirkan pria brengsek itu." Kenzo membelai rambut Alea, sambil tersenyum lembut.
Kenzo meraih tangan Alea, kemudian meletakkannya ke dadanya.
"Lupakan semuanya, meski itu berat. Kau tidak bisa terus menerus menyiksa dirimu seperti ini. Lupakan semuanya, Alea, lupakan!" Kenzo menatap wajah Alea, kedua matanya kembali berkaca-kaca.
"Ken ... bisakah kau terus bersamaku?" Alea menatap wajah Kenzo dalam-dalam. Air matanya kembali tumpah.
"Terus bersamaku sampai aku benar-benar bisa melupakannya."
"Tentu saja, aku akan terus di sampingmu, sampai kau benar-benar bisa melupakannya." Kenzo menatap perempuan di depannya ini dengan yakin.
"Apa kau yakin?"
Kenzo mengangguk pelan.
"Aku akan terus menunggumu, sampai saatnya tiba. Saat di mana kau bisa menyelipkan namaku di hatimu, dan melupakan dia." Kenzo menatap Alea yang kembali menangis.
"Lupakan dia, dan cobalah untuk menerimaku di dalam hatimu Al, izinkan aku membantumu menghapus namanya dari hatimu." Kenzo menatap perempuan di depannya ini dengan sungguh-sungguh.
"Kamu juga berhak bahagia Al, kamu tidak mungkin terus menghabiskan waktumu hanya untuk memikirkan dia. Kamu tidak bisa menghabiskan waktumu dengan terus terpuruk karena pria itu. Kamu harus bangkit Al, lupakan dia, aku akan membantumu untuk melupakan dia."
"Bukalah hatimu untukku, Alea. Izinkan aku masuk ke dalamnya, agar aku bisa membantumu untuk menyingkirkan dia dari hatimu ...."
******
Bian berteriak marah, suara Kenzo di seberang sana langsung membangkitkan emosinya. Tadinya ia sangat khawatir saat mendengar suara Alea yang berteriak histeris. Tapi setelah itu, Bian di buat kaget saat suara seorang pria memakinya di ujung telepon, saat Bian ingin memakinya, panggilan teleponnya berhenti.
Bian meraung dengan kesal, ia kembali menghubungi nomor Alea, tapi tidak terhubung sama sekali. Beberapa kali Bian mencoba menelepon, tapi tetap saja tidak terhubung, hingga membuat amarahnya kian memuncak.
"Brengsek! kau, Kenzo ...!" Bian berteriak marah. Bian sangat yakin, kalau pria tadi adalah Kenzo.
__ADS_1
"Kenzo, sialan! Kembalikan istriku, Brengsek!" Bian mulai mengamuk dan menghancurkan semua barang-barang di sekitarnya. Ponselnya bahkan telah hancur berserakan.
Ia terus memaki dan berteriak seperti orang kesurupan. Laras dan suaminya langsung bergegas naik ke atas. Sama seperti yang terlihat kemarin. Bian berteriak sambil melempar semua barang yang ada di kamarnya. Bahkan kali ini lebih parah. Luka di tangan Bian pun kembali berdarah, karena ia berkali-kali memukul tembok tanpa sadar. Laras dan suaminya memeluk Bian dan mencoba menenangkannya. Meski Bian terus berontak, tapi mama dan papanya tak menyerah.
Laras menangis, begitupun suaminya. Mereka berdua benar-benar sangat sedih melihat keadaan putra mereka.
"Bian ... tenang sayang, tenanglah!" Laras memeluk Bian sambil menangis.
"Alea, Ma, Alea bersama pria itu ... pria brengsek itu telah membawa pergi Alea dariku." Bian akhirnya menangis di pelukan Laras dan papanya.
Rasa sakit di hatinya seketika muncul, saat mendengar teriakan Alea, dan juga teriakan Kenzo yang memakinya.
Bian sadar, kesalahannya tidak pernah bisa dimaafkan, karena ia sudah melukai Alea terlalu dalam. Tapi, jauh di sudut hatinya yang paling dalam, ia tetap ingin kembali bersama Alea, ia ingin kembali hidup bersama Alea dan menebus semua kesalahan yang telah dilakukannya.
"Alea ... maafkan aku. Maafkan aku," batin Bian sambil terus terisak dipelukan kedua orang tuanya.
.
.
Yang suka ceritanya, jangan lupa like, koment dan Votenya ya, kakakยฒ ๐๐๐
Penderitaan Bian belum selesai sampai di sini ya temanยฒ ...
Jangan bilang Alea lebay, karena tidak langsung menerima Kenzo, padahal Kenzo sangat mencintainya. Tapi tidak bisa melupakan Bian yang jelas-jelas sudah menyakitinya.
Di dunia nyata, orang seperti Alea itu sangat banyak, bahkan di antara mereka banyak yang sampai memutuskan melajang seumur hidup karena rasa trauma yang ditinggalkan pasangan yang menyakitinya.
Curhat ceritanya thorr ....๐คญ
Biar pembaca tahu, kalau cerita ini bukan hanya sekedar halu, tapi ada juga beberapa orang di antara kita yang pernah mengalami berada di posisi Alea.
Tapi ... kalian semua jangan meniru Alea ya, jangan banget pokoknya! Karena aku jamin, kalian tidak akan pernah bahagia kalau sampai menjadi Alea ...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca ๐๐๐