
Alea menatap tajam penuh kebencian ke arah Bian yang sedang menggendong tubuh Amara yang setengah telanjang sambil berciuman di atas tangga menuju kamar.
Darahnya seolah mendidih, seluruh urat nadinya menonjol, sementara kedua tangannya mengepal erat penuh amarah.
"Kau benar-benar lelaki brengsek Bian!" Alea mengatur nafasnya yang naik turun karena emosi yang sudah naik sampai ke ubun-ubun.
Mbok Sumi mendekati Alea dengan perasaan iba,
"Non Alea ... "
"Mbok ... " Alea memeluk Mbok Sumi.
"Rasanya aku sudah tidak kuat lagi Mbok ... "
"Sabar Non, tidak usah menangis lagi."
"Aku tidak menangis Mbok, aku hanya merasa muak dengan pasangan kumpul kebo itu."
Mbok Sumi tersenyum,
"Sebaiknya Non Alea istirahat, dan memikirkan sesuatu yang membuat Non senang. Non Alea sudah makan belum?"
"Sudah Mbok ... "
"Saya temenin sampai Non Alea tidur ya, nanti kalau Non Alea sudah tidur, saya pindah ke kamar saya Non."
"Baiklah, tapi aku mau mandi dulu ya Mbok." Mbok Sumi mengangguk.
Alea masuk ke dalam kamarnya, kemudian menuju kamar mandi. Bayangan dua orang yang sedang bermesraan tadi terlintas jelas dikedua matanya.
Alea memegangi dadanya yang terasa nyeri, "Kau memang benar-benar bajingan Bian, tega-teganya kau terus menyakitiku dan membuat diriku semakin hancur ... "
Alea hampir saja meneteskan air matanya, tapi sekuat tenaga ia menepisnya, Alea sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau ia tidak akan pernah menangis lagi untuk lelaki itu.
Alea keluar dari kamar mandi dan mendapati Mbok Sumi sudah berada dalam kamarnya dengan segelas susu dan camilan.
Mbok Sumi membantu mengeringkan rambut Alea, setelah selesai mengeringkan rambut Alea, Mbok Sumi mengajak Alea nonton film drama Korea kesukaannya.
"Mbok juga suka nonton film Drakor?" Mbok Sumi tersenyum malu-malu.
"Iya Non, saya suka sekali." jawab Mbok Sumi malu-malu membuat Alea tertawa.
"Ya sudah, ayo kita nonton Mbok." seru Alea semangat.
Alea dan Mbok Sumi akhirnya menghabiskan malam itu dengan menonton film. Mereka berdua tertawa dan bercanda hingga sampai akhirnya mereka berdua kelelahan dan tertidur.
__ADS_1
Alea bahkan sampai lupa kalau dirinya saat ini sedang bersedih karena tingkah suaminya.
*****
Pagi ini seperti biasanya Alea memasak sarapan untuk Bian. Selesai memasak, Alea menyempatkan diri untuk berolahraga keliling komplek, kemudian kembali ke taman dan sarapan di sana seperti biasanya.
Sebisa mungkin Alea tidak ingin bertemu apalagi bertatap muka dengan Bian ataupun Amara.
Malam itu Alea berniat pergi ke dapur, ia terbangun dari tidurnya karena merasa haus. Dengan kedua mata yang masih mengantuk, Alea berjalan ke arah dapur dan membuka pintu kulkas. Mengambil air dingin di dalam kulkas dan kembali menutupnya.
Alea berjalan menuju meja makan dan duduk di sana. Mungkin karena efek mengantuk, Alea tidak menyadari kalau sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikannya tanpa berkedip.
Alea membuka tutup botol minuman dingin itu kemudian menuangnya ke dalam gelas dan meminumnya. Air dingin itu langsung membasahi tenggorokan Alea yang kering karena kehausan.
Alea menyemburkan minumannya karena kaget saat melihat Bian ternyata ada di depannya sambil memperhatikannya.
"Kau mengagetkanku saja!" seru Alea kesal.
Sementara Bian hanya terdiam menatap dalam pada istrinya. Sudah hampir sebulan Bian tidak melihat Alea. Mereka berdua satu rumah tapi tak pernah bertemu. Bian menatap Alea yang terlihat berbeda dari biasanya.
Alea terlihat sangat cantik, meski ia baru saja bangun tidur.
"Aku lapar pengen makan, tapi aku lihat di sini tidak ada makanan yang bisa aku makan." Bian menatap Alea yang terlihat cuek.
"Kenapa kau tidak menyuruh pacarmu saja untuk memasak?" Alea bermaksud ingin segera pergi dari dapur karena ia malas bertatap muka dengan Bian.
"Amara tidak menginap, dia sedang ada kerjaan di luar kota. Lagipula, Amara kan tidak bisa memasak."
"Al, tolong bikinin makanan, aku benar-benar lapar." Bian mengusap-usap perutnya.
Alea beranjak menuju kulkas, mengambil bahan untuk membuat nasi goreng. Bian tersenyum melihat Alea menuruti perintahnya.
Dengan cekatan tangan Alea langsung meracik semua bahan dan lima belas menit kemudian, dua porsi nasi goreng tersaji di meja makan.
Karena Bian memintanya untuk menemaninya makan, akhirnya Alea pun menambahkan satu porsi nasi goreng untuk dirinya sendiri.
Bian memakan nasi goreng itu dengan lahap. Seperti biasanya, makanan Alea memang selalu pas di lidahnya, sangat enak!
Selama makan, tidak ada satupun dari mereka yang bersuara, mereka makan dalam diam. Hanya saja, Bian sesekali menatap ke wajah istrinya.
Alea merapikan meja makan dan membawa piring bekas makanan itu ke tempat cucian piring.
"Biar Mbok Sumi saja yang mencucinya besok." pikir Alea dalam hati.
Kemudian ia bermaksud kembali ke kamar. Tapi tiba-tiba saja Bian menarik tangannya hingga tubuh mereka saling bertabrakan.
__ADS_1
Alea menatap kedua bola mata Bian yang menatapnya tak berkedip.
"Lepas Bian!" Alea berusaha melepaskan tangannya yang di genggam oleh Bian dengan erat.
"Katakan padaku, apa sekarang kau sedang sengaja menghindariku?" Bian menatap tajam ke arah perempuan yang sudah hampir setahun ini menjadi istrinya.
Alea menatap Bian dengan kesal.
"Memangnya kenapa kalau aku sengaja menghindar darimu?"
Bian menatap Alea dengan tajam.
"Sejak kapan kau mulai punya keberanian untuk membantahku Alea ... apa kau tidak takut kalau aku akan mengusirmu dari sini sekarang juga?" Bian makin mempererat genggaman tangannya pada Alea.
"Katakan padaku, kenapa kau menghindariku selama sebulan ini Alea?!" Alea meringis saat merasakan sakit di pergelangan tangannya karena cekalan tangan Bian.
Alea menatap wajah tampan di depannya. Entah apa yang membuatnya jatuh hati pada pria ini. Tapi dalam hatinya ia mengejek dirinya sendiri. Betapa bodohnya dia karena selama ini begitu mencintai pria ini.
Alea ingat bagaimana terkadang ia bahkan sampai berlutut dan memohon pada pria ini agar tidak meninggalkannya.
Alea rela menahan kesakitan asal masih bersama pria ini, bisa melihatnya setiap hari saja Alea sudah sangat bahagia.
Alea tersenyum mencibir yang ia tunjukkan untuk dirinya sendiri.
"Selama ini kau benar-benar bodoh Alea, mencintai seseorang yang tidak pantas untuk kau cintai." batin Alea
"Lepaskan aku Bian!"
"Katakan padaku, kenapa kau menghindariku Alea?" Bian melihat kedua mata Alea yang menyorot tajam ke arahnya. Tatapan mata itu persis sama seperti tatapan saat Alea melihatnya bercumbu dengan Amara malam itu. Malam sebulan yang lalu.
Bian seolah membeku melihat Alea menatapnya dengan tatapan penuh amarah dan kebencian. Tapi detik berikutnya, cekalan tangannya pada Alea perlahan terlepas saat mendengar jawaban dari Alea.
"Kau ingin tahu kenapa aku menghindarimu?!" Alea menatap tajam ke arah Bian, giginya bergemeletuk menahan amarah yang hampir saja meledak.
"Karena aku muak melihatmu Bian Aditama!"
"Aku membencimu! teramat sangat membencimu!" Alea berteriak hingga suaranya terdengar menggema di ruangan itu. Alea masih menatap Bian yang terlihat terkejut mendengar ucapannya.
"Bian ... ayo kita bercerai!"
.
.
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa like n koment ya 🙏🙏🙏 dan Votenya juga 😊😊
__ADS_1