
"Jadi benar, kalau Alea tidak ada di rumah ini?" Anita, Mama mertuanya, menatap Bian dengan penuh amarah.
"Jawab Bian! Apa benar yang dikatakan perempuan ini, kalau Alea sudah tidak tinggal di sini lagi?" Anita menatap Amara dengan tajam.
"Mama ...." Bian merasa gugup, dalam hati ia merutuki Amara yang asal bicara tanpa berpikir akibatnya.
"Jawab Bian!"
"A - aku ...."
"Alea memang sudah tidak tinggal di sini lagi Tante, dia pergi dengan pria ...,"
"Cukup! aku tidak sedang bertanya padamu!" Anita berteriak, membuat Amara langsung terdiam.
"Bian, Mama tanya sekali lagi, apa benar ...,"
"Iya Ma, Alea pergi dari rumah," potong Bian lirih, tapi masih terdengar di telinga Anita.
"Kau ...!"
Plakk!
Belum selesai Anita berucap, Rangga mendekati Bian dan langsung mendaratkan tangannya di pipi Bian dengan keras.
"Brengsek! Kau membiarkan Alea pergi, sementara kau malah bersenang-senang dengan perempuan ini di sini?" Rangga menarik kerah baju Bian kemudian kembali melayangkan tangannya pada pipi Bian.
Bian meringis, sambil memegangi pipinya. Tiba-tiba Bian teringat saat ia memukul Alea hingga sudut bibirnya berdarah.
"Kau pasti merasakan kesakitan seperti yang aku rasakan saat ini ya Al, saat aku memukulmu," batin Bian, ia bukan hanya merasakan sakit karena pukulan Rangga, tapi juga sakit di hatinya saat mengingat apa yang sudah ia lakukan pada Alea.
Rangga kembali ingin memukul Bian, tapi Papanya segera melerai.
__ADS_1
Rajasa Papanya Alea menatap tajam ke arah Bian.
"Apa yang sudah kau lakukan pada putriku? Apa karena dia, putriku meninggalkan rumah ini?" Raja menunjuk Amara dengan marah.
"Kau bilang, kau istrinya Bian?" Amara mengangguk takut, kesombongan yang tadi ia perlihatkan lenyap sudah, saat dia mengetahui siapa orang-orang yang sedang dihadapinya sekarang.
"Kalau benar dia adalah istrimu, lalu kau anggap apa Alea di rumah ini Bian?" Kali ini yang berbicara adalah Aditama, Papanya Bian.
"Papa benar-benar kecewa sama kamu Bian," ucap Aditama sambil menatap Bian penuh kecewa.
"Buka amplop itu sekarang, aku ingin melihat isi di dalamnya." Rajasa menatap Bian dengan tajam.
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu menatap Bian penuh kekecewaan. Laras dan Anita bahkan sudah menangis, yang satu menangisi anaknya dan yang satu lagi menangisi menantu kesayangannya. Sementara Aditama, dan Rangga menatap Bian dengan penuh amarah.
Vina yang sudah curiga saat melihat kemesraan Bian dan Amara saat di rumah sakit, mengepalkan tangannya.
Rasanya, ia ingin sekali menjambak rambut perempuan itu sampai puas.
Sedangkan Amara perempuan tidak tahu malu itu, saat ini justru merasa senang, karena akhirnya kedua orang tua Bian tahu kalau Bian sudah menikahinya.
Perlahan Bian membuka isi di dalam amplop tersebut.
Kedua bola mata Bian membeliak saat ia melihat isi di dalam amplop itu, sementara Amara yang saat ini ada di sebelahnya langsung merah padam menatap tak percaya. Di dalam amplop itu terlihat foto-foto mesranya dengan Andre, bukan hanya mesra, foto itu bahkan memperlihatkan Amara yang sedang memeluk Andre di atas ranjang tanpa busana, Amara ingat benar, foto itu di ambil oleh Andre saat mereka selesai bercinta di kamar hotel yang mereka sewa.
Amara menelan salivanya, saat melihat amarah di mata Bian, yang langsung menatapnya.
"Apa-apaan ini Amara?" Bian hampir saja menampar Amara sebelum akhirnya titah dari Rajasa terdengar di kepalanya.
"Keluarkan semua isinya!"
Bian kembali mengeluarkan isi dari amplop itu. Kedua matanya kembali melebar saat tahu apa yang di pegangnya sekarang.
__ADS_1
"Su- surat cerai?" Tangan Bian gemetar saat membaca berkas yang isinya adalah surat gugatan cerai dari Alea.
"Tidak mungkin, Alea tidak mungkin menggugat cerai, aku sangat tahu kalau Alea sangat mencintaiku." Tangan Bian gemetar, ia memperhatikan dengan seksama isi surat itu, ada tanda tangan Alea di sana.
Bian menggeleng pelan, masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Rajasa yang tidak sabar, langsung merebut surat itu.
"Surat gugatan cerai?" Rangga dan Aditama ikut terkejut saat Rajasa membaca surat itu dengan suara keras. Begitupun Anita dan Laras.
Bian kembali membuka isi amplop itu, ia menemukan sebuah flash drive di sana.
"Apa itu?" Rangga merebut flash drive di tangan Bian.
"Cepat ambil laptop mu!"
Bian bergegas mengambil laptop di ruang kerjanya. Ia menarik tangan Amara yang tiba-tiba ingin keluar dari rumah itu secara diam-diam.
" Urusan kita belum selesai Amara, kau harus menjelaskan siapa pria di dalam foto itu." Bian mencengkeram tangan Amara, kemudian membawa perempuan hamil itu kembali duduk.
Bian membuka laptopnya, memasang flash drive itu dan tak berapa lama kemudian, tampaklah beberapa rentetan kejadian yang membuat Bian menatap tak percaya.
Flash drive itu berisi rekaman cctv di rumahnya. Dalam rekaman itu terlihat kejadian-kejadian yang tidak pernah Bian bayangkan sebelumnya.
Bian berteriak frustasi saat kejadian terakhir yang menimpa Alea terekam di sana. Anita dan Laras menjerit histeris melihat perlakuan Bian di dalam video itu, begitupun Vina, sementara Rajasa, Aditama, dan Rangga sudah mengepalkan tangan mereka. Berbanding terbalik dengan mereka yang menatap Bian marah, Amara justru ketakutan sampai gemetaran. Apalagi saat Vina membuka amplop dan menemukan sebuah alat perekam suara di sana.
.
.
.
Yang suka ceritanya, jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak ² 🙏🙏🙏
__ADS_1
Bukan niatku menggantung cerita, tapi memang ceritanya harus segitu dulu, ntr di lanjut lagi, oke...😘😘😘
Terima kasih sudah membaca...