MATI RASA

MATI RASA
Part 77 Aku Juga Mencintaimu


__ADS_3

"Ken ...."


"Ken ...."


"Kenzo!"


Alea memanggil, tapi Kenzo tetap bergeming. Pandangan matanya fokus menatap dirinya, tapi mulutnya terdiam tak bicara. Tiba-tiba layar ponsel itu bergerak dan berubah menjadi gelap. Kenzo masih terbengong sementara ponselnya terjatuh di atas ranjang.


"Ken!"


"Kenzo!"


Suara Alea masih terdengar di ujung sana. Sementara Kenzo belum sadar dari keterkejutannya.


"Kenzoo!" Alea berteriak keras di balik telepon, membuat Kenzo langsung tergagap, tapi saat ia melihat ke arah tangannya, ponselnya sudah tidak ada, dengan cepat ia meraih ponsel yang ternyata tergeletak di atas kasur.


"Ken!"


Suara Alea kembali terdengar.


"Iya, sayang ...." Kenzo dengan canggung menatap Alea.


"Kenapa kau diam saja? Kau bahkan menjatuhkan ponselmu. Apa kau tidak suka kalau aku bilang aku mencintaimu? Kau benar-benar keterlaluan, tidak romantis sama sekali, kau --"


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, aku hanya terkejut. Kau hampir saja membuatku kena serangan jantung."


"Serangan jantung? Ken! kamu jangan macam-macam."


"Iya, sayang, aku hampir saja kena serangan jantung saat kau bilang kalau kau mencintaiku."


"Ken!" Wajah Alea terlihat merona di balik layar ponselnya.


"Apa kau bisa mengulangi lagi apa yang baru saja kau ucapkan?" Kenzo menatap Alea yang tersenyum malu-malu.


"Tidak ada siaran ulang." Alea menatap Kenzo yang terlihat memelas.


"Sayang ...."


Alea tertawa saat melihat Kenzo langsung cemberut, mendengar ucapannya.


"Baiklah, aku akan segera menyusulmu sekarang juga."


"Ken!" Tiba-tiba Alea berteriak.


"Kenapa?"


"Ini sudah malam, sebaiknya besok saja kau ke sini menjemputku."


"Tidak. Aku maunya sekarang."


"Ken, kau tidak lihat sekarang jam berapa?"

__ADS_1


"Aku nggak peduli. Aku cuma pengen ketemu sama kamu."


"Tapi aku tidak bisa menemuimu kalau kau nekad datang jam segini," terang Alea.


"Kenapa? Apa kau berbohong padaku?" Kenzo terlihat kesal.


"Ken, lihat dulu ini jam berapa, kau tidak mungkin menemuiku jam segini di rumah."


Kenzo melihat jam di ponselnya.


"Jam dua pagi?"


"Hampir jam tiga, Ken. Kau tidak akan mungkin menemuiku jam segini bukan? Ini di rumahku, bukan apartemen." Alea menatap Kenzo yang terlihat kecewa.


"Kau bisa datang besok pagi, Ken," hibur Alea.


"Aku maunya sekarang."


Alea tertawa melihat Kenzo yang merajuk seperti anak kecil.


"Kau benar-benar menyebalkan!" Kenzo mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa kau tidak mengatakannya dari kemarin?" protes Kenzo.


"Maafkan aku, karena aku terlambat menyadarinya." Alea menatap dalam wajah Kenzo dari layar ponselnya.


Kenzo terdiam, netranya meneliti wajah cantik Alea di layar ponselnya.


Alea tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya dengan pasti.


"Aku mencintaimu, maafkan Aku karena aku terlambat menyadarinya."


"Ken, berjanjilah, kau akan terus bersamaku. Berjanjilah, kau akan terus di sampingku apapun yang terjadi. Apa kau mau?"


"Tentu saja aku mau. Sudah bertahun-tahun aku menunggumu, Al. Dari semenjak dulu, aku sudah jatuh cinta padamu. Tidak mungkin aku akan menyia-nyiakanmu, setelah aku tahu kalau kau juga punya perasaan yang sama denganku."


"Aku sangat mencintaimu Alea, sampai kapanpun aku akan terus mencintaimu. Aku akan terus ada di sampingmu dan menjagamu. Memberimu kebahagiaan yang tidak pernah kau dapatkan sebelumnya."


Nada suara Kenzo sangat pasti, ia menatap wajah Alea yang terlihat berkaca-kaca.


"Aku mencintaimu, Al, dengan segenap hatiku."


"Terima kasih, karena selalu ada di sampingku selama ini." Kenzo kembali berucap. Sementara Alea sudah menitikan air matanya.


"Aku juga mencintaimu, Ken ...."


****


Bian masih menangis, merenungi semua kesalahan-kesalahannya selama ini terhadap Alea.


'Seandainya, aku tidak terlambat menyadari kalau aku juga mencintaimu, mungkin saat ini aku masih bisa bersamamu Alea.'

__ADS_1


'Seandainya aku tidak buta, karena terlalu mencintai Amara, mungkin aku masih bisa bersamamu saat ini.'


Bian menelungkupkan wajahnya, rasa bersalah dan rasa sakit di hatinya bercampur aduk. Ditambah lagi, rasa penyesalan yang ia rasakan, karena selama ini sudah menyia-nyiakan Alea. Perempuan yang begitu mencintainya tapi tak pernah dihiraukannya.


"Aku sungguh sungguh menyesal Alea, aku ingin sekali memperbaiki semuanya, tolong beri aku kesempatan, agar kau tahu, betapa aku mencintaimu Alea ...." Bian berucap lirih di sela tangisnya.


Penyesalan memang selalu datang terlambat. Seandainya saat itu Bian tidak egois dan mau menerima Alea, mungkin saat ini ini dia sudah bahagia bersama Alea.


Rasa cintanya pada Amara saat itu, sudah membutakan matanya. Sehingga Bian tidak bisa melihat cinta dan ketulusan yang Alea berikan padanya.


Perjodohan yang dilakukan oleh orang tua Alea dan juga orang tuanya membuatnya marah dan membenci Alea. Karena ia mengira, Alea sudah memaksa orang tuanya untuk menikahkannya dengan Bian. Bian tahu, Alea sudah lama menyukainya. Karena itu, ia berfikir kalau Alea pasti sudah memaksa orang tuanya agar dia bisa menikah dengannya.


Semenjak itulah, Bian mulai membenci Alea. Padahal sebelumnya, ia tidak pernah membenci gadis cantik yang merupakan tetangganya itu.


Bian ingat, Alea adalah gadis kecil yang selalu mengejarnya, dan selalu memperhatikannya dari jauh. Karena usia mereka yang terpaut beberapa tahun, membuat Bian menganggap Alea hanya seorang gadis kecil yang sedang kasmaran.


Bian tidak pernah menanggapi semua yang dikatakan oleh Alea saat itu. Hingga pada suatu hari, ia mengetahui kalau kedua orang tuanya sudah sepakat untuk menjodohkannya dengan Alea.


Orang tua Alea bahkan rela memberikan perusahaan dan rumah untuknya agar ia mau menikah dengan Alea. Awalnya Bian menolak, tapi karena keluarga Alea sangat berpengaruh, membuat Bian mengurungkan niatnya untuk menolak perjodohan itu.


Dari awal pernikahan, Bian memang sudah merencanakan akan membuat Alea menderita, karena Bian merasa kalau Alea sudah menjadi penyebab putusnya hubungan Bian dengan Amara. Karena itu, Bian tidak pernah memberikan kesempatan pada Alea merasakan bahagia bahkan saat masih di awal pernikahannya.


Bian berjanji, akan membuat Alea menderita dan akhirnya menyerah untuk meninggalkannya. Bian bahkan menyusun rencana dengan Amara untuk menguasai semua harta Alea yang orang tuanya berikan kepadanya. Termasuk rumah dan perusahaan yang orang tua Alea berikan padanya sebagai jaminan pernikahannya dengan Alea.


Bian tidak pernah mengira, seiring berjalannya waktu, ternyata dia jatuh cinta pada Alea, dan parahnya, ia terlambat menyadarinya. Bian terlambat menyadari, kalau perempuan itu sudah mulai bertahta di hatinya. Bahkan mungkin, saat dirinya menyiksa Alea terus menerus pun, Bian sudah mulai jatuh cinta padanya. Hanya saja, ia tidak pernah menyadarinya karena ada Amara yang selalu ada di sampingnya dan terus menerus menghasutnya.


Mengingat Amara, Bian berdoa dalam hati, semoga Tuhan mengampuni semua dosa- dosanya.


'Seandainya aku bisa mengulang waktu, aku pasti akan lebih memilihmu dan mencintaimu dengan benar.'


Bian memejamkan matanya, mencoba untuk tidur dan melupakan bayangan-bayangan Alea di pelupuk mata. Tapi bukannya tertidur, ia justru semakin gelisah. Bian beranjak dari tempat tidur, mencari obat tidur di dalam laci nakas, kemudian melangkah menuju dapur untuk mengambil minum.


Saat Bian sedang menuangkan minuman pada gelas, seseorang memeluknya dengan erat dari belakang membuat Bian terlonjak kaget dan hampir saja menjatuhkan gelasnya.


"Sebentar saja, aku ingin memelukmu sebentar saja ...."


Suara itu begitu lembut dengan nada mengharap. Bian terdiam, bayangan masa lalunya bersama Alea justru kembali menari-nari di kepalanya. Bian sangat ingat saat Alea begitu memujanya, perempuan itu, bahkan rela mengorbankan segalanya untuk mendapatkan perhatiannya.


Sama seperti perempuan yang saat ini sedang memeluknya dan menyembunyikan wajahnya di belakang punggungnya.


Bian menghembuskan nafas panjang, tak bergeming, meski dadanya bergemuruh saat ia merasakan hangatnya pelukan perempuan itu.


'Tidak lagi, aku tidak akan lagi mengulangi kesalahan yang sama. Cukup hanya Alea saja, tidak akan ada Alea-Alea yang lainnya.'


.


.


.


Mencintai secara sepihak memang menyakitkan. Tergantung pada diri kita untuk terus lanjut mencintai orang yang tidak mencintai kita, atau berhenti agar kita bisa meraih kebahagiaan kita bersama yang lain.

__ADS_1


Yang suka ceritanya, jangan lupa like, koment, dan Votenya y kakak ² 🙏🙏🙏


__ADS_2