
Marsha dengan percaya diri melangkah masuk ke dalam rumah Kenzo. Kejadian saat di ruangan Kenzo kemarin masih terekam dengan jelas. Amarahnya memuncak, Marsha tidak bisa lagi menerima penolakan dari Kenzo kali ini. Marsha sudah sangat bersabar selama ini. Kini, ia tidak akan mau mengalah lagi.
"Halo, Tante." sapa Marsha pada perempuan yang saat ini berada dihadapannya sambil menyunggingkan senyum manisnya.
"Marsha? Ini beneran kamu?" Rania, mamanya Kenzo sedikit terkejut dengan kedatangan Marsha.
"Iya, Tante, ini aku. Tante apa kabar?"
"Tante baik-baik aja, sayang. Kapan kamu pulang dari luar negeri?"
"Kemarin Tante. Maaf, karena aku baru sempat ke sini." Marsha tersenyum canggung.
Rania mempersilakan Marsha duduk, kemudian mereka berdua kembali berbincang. Seorang asisten rumah tangga datang menyuguhkan minuman dan camilan untuk mereka berdua.
"Bagaimana kabar orang tuamu di sana, Marsha?"
"Mami dan Papi baik-baik saja, Tante. Mereka berdua sangat sehat."
"Syukurlah ... Tante ikut senang mendengarnya." Rania menatap Marsha, mengusap lembut kepala gadis itu, dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Tante nggak nyangka, bisa ketemu kamu lagi. Sekarang kamu sudah dewasa dan terlihat cantik."
"Terima kasih, Tante." Marsha membalas senyuman Tante Rania.
"Sebenarnya, aku ke sini karena ingin menagih janji Tante Rania dan Om Chandra dulu." Marsha menatap Rania dengan penuh percaya diri. Sementara, Rania mengernyit heran.
"Maksud kamu apa?" Rania menatap Marsha dengan heran. Dalam hati, ia berpikir. Perasaan ia dan suaminya tidak pernah punya janji apapun dengan Marsha dan keluarganya.
"Tante pasti ingat bukan, kalau Tante dan Om Chandra pernah berjanji pada orang tuaku, kalau kalian akan menjodohkan Kenzo denganku saat dewasa nanti?" Marsha menatap Rania yang sedikit terkejut. Dulu ia dan suaminya memang pernah punya niat untuk menjodohkan Kenzo dengan Marsha. Tapi itu dulu, bertahun-tahun yang lalu.
"Maaf sayang, Tante memang pernah mengatakan pada orang tuamu kalau Tante ingin menjodohkan kalian. Tapi ...." Rania menghentikan ucapannya.
"Tapi apa Tante?"
"Saat ini, Kenzo sudah punya pilihan sendiri. Dia bahkan sudah merencanakan untuk menikah dalam waktu dekat ini."
"Apa?" Apa aku tidak salah dengar? Kenzo akan menikah dalam waktu dekat ini?" ucap Marsha terkejut. Ia tidak menyangka kalau hubungan Kenzo dan Alea ternyata sudah sangat serius. Mereka berdua bahkan akan segera menikah.
Marsha mengepalkan tangannya erat, merasa tidak terima dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Rania.
"Tapi Tante dan Om Chandra sudah berjanji pada kedua orang tuaku kalau Tante atau menikahkan aku dan Kenzo, apa Tante lupa? Atau Tante memang sengaja melupakannya?" Marsha menatap Rania dengan tatapan kesal.
"Maafkan Tante sayang, Tante pikir, kamu sudah punya kekasih di sana," ucap Rania dengan perasaan bersalah. Rania dan Chandra adalah rekan bisnis sekaligus sahabat dari kedua orang tua Marsha. Saat bisnis mereka mengalami kesusahan, kedua orang tuanya Marsha lah yang menolong mereka, hingga akhirnya mereka tidak jadi mengalami kebangkrutan.
__ADS_1
Pada suatu hari, Rania dan Chandra memang pernah mengusulkan menjodohkan anak-anak mereka jika sudah dewasa nanti. Tapi mereka hanya mengusulkan, bukan berjanji.
"Sayang, saat itu Om dan Tante hanya mengusulkan, bukan berjanji. Pada saat itu juga keluargamu tidak menanggapinya." Rania mencoba bicara baik-baik.
Kenzo dan Alea saling mencintai. Rania tidak mungkin memisah mereka berdua, apalagi Kenzo baru saja membuka hatinya. Selama ini Kenzo selalu menutup dirinya untuk perempuan manapun, tapi semenjak dia bertemu dengan Alea, Kenzo berubah. Anak lelakinya itu terlihat begitu bahagia saat bersama dengan Alea. Sebagai ibunya, Rania tidak akan mungkin begitu saja menghancurkan kebahagiaan Kenzo.
"Karena saat itu, kedua orang tuaku belum tahu kalau aku mencintai Kenzo ,Tante. Makanya mereka tidak menanggapinya dengan serius." Marsha menundukkan wajahnya, pura-pura bersedih.
"Kamu mencintai Kenzo? Sejak kapan?" Rania sedikit terkejut. Karena ia tidak menyangka kalau gadis di depannya ini begitu berterus terang tanpa basa-basi.
"Aku jatuh cinta pada Kenzo saat Kenzo dan aku sama-sama kuliah di sana, Tante. Tapi ...."
"Tapi kenapa, Marsha?" Rania mengernyit heran.
"Tidak mungkin kan, kalau Kenzo menolak gadis secantik kamu?" lanjut Rania, membuat raut wajah Marsha sedikit berubah.
Memang benar, tidak ada seorang pun yang berani menolak pesona Marsha, kecuali satu orang. Kenzo! Hanya dia yang satu-satunya pria yang menolaknya selama ini. Marsha sudah seringkali mengungkapkan cintanya pada Kenzo. Merayunya, tapi pria itu tetap saja menolaknya.
"Tante, aku ke sini untuk menagih janji Tante pada orang tuaku, aku ingin Tante meneruskan perjodohan ini, Tante." Marsha menatap Rania penuh permohonan.
"Aku mencintai Kenzo, Tante. Dari dulu aku sangat mencintainya. Jadi, aku mohon, tolong Tante lanjutkan lagi perjodohan ini." Marsha menatap Rania, kedua matanya berkaca-kaca.
Rania menghela nafas panjang. Menatap wajah cantik di depannya ini.
"Tante dan om Chandra memang pernah mengusulkan perjodohan
kalian berdua. Tapi itu dulu. Namun, karena tidak ada tanggapan dari kedua orang tuamu, akhirnya kami memutuskan untuk tidak melanjutkan masalah perjodohan ini. Kami juga sudah lama tidak membahas masalah ini," jelas Rania sambil menatap Marsha.
"Tapi Tante ...."
"Sayang, saat ini Kenzo sudah memiliki pilihannya sendiri. Sebentar lagi mereka akan bertunangan. Jadi tidak mungkin kan, kalau Tante memutuskan hubungan mereka. Apalagi, mereka berdua saling mencintai."
"Tapi Tante sudah berjanji akan menjodohkan aku dengan Kenzo!"
"Bukan berjanji, Marsha. Hanya mengusulkan. Tapi saat itu keluarga kamu enggan menanggapi, jadi Tante tidak bisa memaksa." Rania menatap Marsha dengan raut wajah menyesal.
"Tapi saat ini keluargaku sudah menyetujuinya, Tante. Mereka setuju kalau aku menikah dengan Kenzo." Marsha bersikeras. Kali ini ia tidak boleh gagal untuk mendapatkan Kenzo. Pria yang sangat dicintainya.
"Tapi sayang ...."
"Tante, aku tidak mau tahu, pokoknya Tante harus menikahkan aku dengan Kenzo!" Marsha tiba-tiba meninggikan suaranya, membuat Rania terkejut.
"Memangnya siapa yang mau menikah denganmu!" teriak Kenzo dengan nada kesal. Pria itu tiba-tiba saja sudah berdiri tak jauh dari mereka berdua. Di sampingnya, berdiri perempuan cantik yang menggandeng tangannya. Urusan Kenzo dengan Alea memang sudah selesai saat itu juga. Alea kembali mempercayai Kenzo setelah ia melihat rekaman cctv di ruangan Kenzo yang memperlihatkan kelakuan Marsha dengan jelas.
__ADS_1
"Ken, Alea ...." Rania tersenyum melihat kedatangan mereka berdua. Sementara Marsha menatap mereka berdua dengan kesal sambil menahan gejolak amarahnya yang siap meledak.
"Ken, orang tuamu sudah menjodohkan kita dari dulu, jadi kau harus menikah denganku." Marsha menatap Kenzo percaya diri sambil menyunggingkan senyumnya.
"Sejak kapan orang tuaku menjodohkan kita? Aku bahkan baru mendengarnya sekarang. Kau jangan mengada-ada Marsha!"
"Aku tidak mengada-ada, Ken, itu memang benar. Orang tuamu sendiri yang bilang akan menjodohkan kita berdua. Mereka bahkan sudah berjanji pada orang tuaku."
"Mama ...." Kenzo menatap Rania tak percaya.
"Mama bisa jelasin sama kamu, Ken, ini tidak seperti yang kau pikirkan." Rania menatap ke arah Kenzo dan Alea, kemudian pandangannya beralih pada Marsha.
"Marsha, Tante sudah bilang, kalau waktu itu Tante hanya mengusulkan bukan menjanjikan."
"Aku tidak peduli, Tante. Pokoknya Tante harus menikahkan aku dengan Kenzo, kalau tidak ...."
"Kalau tidak apa?" sergah Kenzo. Ia benar-benar kesal dengan tingkah laku Marsha yang tidak masuk akal.
"Aku akan menyuruh keluargaku untuk menghentikan suntikan dana pada perusahaan kalian yang ada di sana. Tentu kalian tidak mau bukan, kalau perusahaan itu tiba-tiba gulung tikar dalam waktu semalam?" Marsha tersenyum licik. Sementara Rania dan Kenzo tersentak kaget. Begitupun Alea yang secara tidak langsung mendengar semua pembicaraan mereka.
"Bagaimana? Apa Tante masih mau menghentikan perjodohan ini? Kalau iya, berarti Tante harus bersiap-siap untuk kehilangan semuanya," ancam Marsha.
"Biarkan saja kami kehilangan semuanya. Bagi kami, yang terpenting adalah kebahagiaan Kenzo, bukan yang lain." Chandra, papanya Kenzo tiba-tiba datang dengan senyum lebar di wajahnya.
"Papa ...." Kenzo menatap papanya tak percaya. Begitupun Rania. Sementara Marsha terlihat sangat kaget mendengar ucapan Chandra.
"Marsha, saya tidak menyangka, ternyata kamu begitu licik. Dulu, saya pikir, kamu adalah gadis yang baik. Makanya saya dan istri saya mengusulkan untuk menjodohkanmu dengan Kenzo.
Tapi saat itu, orang tuamu terlihat tidak setuju. Makanya kami tidak pernah membahasnya lagi. Tapi sekarang, kau tiba-tiba datang ke sini untuk menagih janji? Memangnya apa yang sudah saya janjikan sama kamu dan orang tuamu?" Chandra berkata dengan cukup tenang sambil menatap Marsha.
"Kau bahkan mengancam akan menghancurkan perusahaan saya dengan kekuasaan keluargamu, Apa kau pikir kami takut?"
"Silakan saja kau ambil dan hancurkan perusahaan kami yang ada di sana. Kami tidak takut. Tidak apa-apa, kalau memang kami harus kehilangan perusahaan. Bagi kami, kebahagiaan Kenzo dan Alea lebih penting. Lebih penting dari apapun!" tekan Chandra sambil menatap perempuan muda di depannya itu. Ia tidak menyangka, kalau Marsha akan berbuat sejauh itu. Mengancam akan menghancurkan perusahaan? Dia pikir dia siapa?
.
.
.
Yang suka ceritanya, jangan lupa like, koment dan Votenya ya kakak ² 🙏🙏🙏
__ADS_1