
"Suster, di mana istri saya?"
Kedua perawat itu saling berpandangan.
"Bukannya istri Bapak ada di kamar sebelah sana?" Perawat yang mengenali Bian sebagai istri Amara terlihat bingung.
"Istri saya suster, istri saya mana?" Bian berteriak panik.
"Maksud Bapak, pasien bernama Alea yang ada di kamar ini?"
"Iya benar, mana dia? kenapa dia tidak ada di sini?"
"Ibu Alea sudah tidak dirawat di sini lagi Pak, dia sudah di pindahkan ke rumah sakit lain."
"Apa?!"
Bian menatap kedua perawat itu dengan tatapan tak percaya.
"Apa maksudmu istri saya tidak dirawat di sini lagi? dan siapa yang kasih ijin pihak rumah sakit untuk memindahkan istri saya?!" Bian berteriak kesal memarahi kedua perawat itu.
"Ma-maafkan saya Pak, saya tidak tahu." Salah satu perawat itu menundukkan kepalanya tak berani menatap Bian yang terlihat marah. Bian menggeram marah, kemudian keluar dari ruangan itu. Ia meraih ponselnya dan dengan segera menelepon Mbok Sumi.
"Halo Mbok, cepat ke rumah sakit sekarang, Alea menghilang."
"Apa?!"
__ADS_1
"Cepetan kesini Mbok, temenin Amara di rumah sakit, aku mau cari Alea."
"Baik Den." Mbok Sumi mengulum senyum. Padahal dia baru saja pulang dari rumah sakit setelah Kenzo membawa pergi Alea.
"Den Bian sekarang pasti sedang kelimpungan mencari Non Alea. Maafkan saya Den, saya terpaksa mengkhianati Den Bian, karena saya sudah tidak kuat melihat Non Alea terus menderita karena kelakuan Den Bian," ucap Mbok Sumi dalam hati.
Bian dengan marah mendatangi ruangan Dokter yang memeriksa Alea.
"Dokter! kenapa Dokter memindahkan istri saya ke rumah sakit lain tanpa sepengetahuan saya?" Bian dengan tidak sopan langsung masuk ke dalam ruangan Dokter itu tanpa mengetuk pintu.
"Silahkan duduk," ucap Dokter Irfan dengan sopan. Tapi Bian tak menghiraukan. Ia justru mendekati Dokter itu dengan marah.
"Di mana istriku? siapa yang memberimu ijin memindahkan istriku dari rumah sakit ini?" Bian yang sudah di penuhi emosi langsung menarik kerah sang Dokter.
Dokter Irfan tersenyum, Dokter muda itu terlihat tenang, tidak terprovokasi oleh sikap Bian yang terlihat arogan.
"Apa maksudmu? kenapa istriku ingin pindah dari rumah sakit ini tanpa sepengetahuanku?!" Bian yang masih di kuasai emosi masih terus mencengkeram kerah baju Dokter Irfan.
"Saat ini istri Anda merasa tidak nyaman berada di dekat Anda, karena dia menganggap Anda lah penyebab dia mengalami keguguran. Anda lihat sendiri reaksi istri Anda kemarin bukan?" Bian dengan perlahan melepaskan cengkeramannya, kemudian ia terduduk lemas sambil mengusap wajahnya kasar.
"Kau pembunuh! kau telah membunuh darah dagingmu sendiri, kau telah membunuh anakku!" teriakan Alea kembali terngiang.
"Kau pembunuh!"
"Kau telah membunuh anakku!"
__ADS_1
Bian menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Rasanya dadanya terasa sesak, dan jantungnya serasa di remas-remas, sakit sekali rasanya.
"Saya tidak tahu kalau istri saya sedang hamil Dok ...." Bian kembali berkata sopan, emosinya mulai mereda.
"Saya tidak tahu kalau istri saya sedang hamil, kalau aku tahu, aku pasti tidak akan memukulinya dengan brutal."
"Jadi Anda yang telah melakukan tindak kekerasan terhadap istri Anda? Anda melakukan KDRT?" Bian mengangguk pelan, ia menangis di depan Dokter Irfan.
"Saya sangat menyesal, demi membela istri kedua saya, saya malah menyiksa istri pertama saya dan menyebabkan dia keguguran. Alea benar, saya adalah pembunuh, karena saya lah penyebab kematian calon anak saya ...." Bian benar-benar menangis sekarang.
Dokter Irfan menepuk bahu Bian,
"Anda harus bersyukur karena istri Anda mempunya sahabat yang baik, kalau saja pria itu tidak segera membawa istri Anda ke rumah sakit, mungkin Anda bukan hanya kehilangan calon anak Anda, tapi Anda juga akan kehilangan istri Anda ...."
"Apa maksud Dokter?" Bian terkesiap saat mendengar ucapan Dokter di depannya.
"Istri Anda mengalami pendarahan hebat, karena benturan yang cukup keras pada perutnya, dia hampir saja kehabisan darah kalau saja teman dari istri Anda itu tidak segera mendonorkan darahnya untuk menolong istri Anda ...."
Rasanya, jantung Bian terasa berhenti berdetak saat mendengar semua penjelasan dari Dokter itu.
.
.
Ayo kita mulai pembalasan pada Bian kakak² ... kita buat Bian menangis darah 😠😠😀😀
__ADS_1
Yang suka ceritanya, jangan lupa, like, koment, dan Votenya ya, biar authornya semangat terus nulisnya 🙏🙏🙏