Menantu Benalu 2

Menantu Benalu 2
Bab 100 ( Malaikat Tak Bersayap )


__ADS_3

Fajar memutuskan untuk menemui Raisya, karena Fajar ingin menanyakan keputusan yang Raisya ambil.


Fajar mengetuk pintu kamar Raisya. Setelah Raisya memperbolehkannya masuk, Fajar menghampiri Raisya yang saat ini sedang duduk di sofa.


Fajar yang melihat Raisya termenung langsung saja mengusap lembut kepala Raisya.


"Sayang, Ayah tau saat ini Raisya masih merasa bingung dengan keputusan yang akan Raisya ambil, tapi Ayah harap keputusan Raisya adalah yang terbaik untuk kehidupan dan kebahagiaan Raisya."


"Yah, apa Raisya salah jika mengharapkan hidup bahagia dengan Kak Dimas? Kak Dimas adalah cinta pertama Raisya, dan Raisya berharap Kak Dimas akan menjadi cinta terakhir Raisya, tapi Raisya takut jika keputusan Raisya akan menyakiti hati Kak Rayna."


"Ikuti kata hati kamu sayang, Ayah pasti akan selalu mendukung semua keputusan Raisya. Jika Dimas adalah kebahagiaan Raisya, Ayah juga akan mendukungnya. Raisya sudah tau kan kalau Rayna dan Dimas adalah saudara satu Ayah? jadi Rayna pasti akan mendukung hubungan kalian berdua. Meski pun Ayah kecewa sama Dimas, tapi Dimas melakukan semua itu karena belum mengetahui kalau dia dan Rayna adalah Adik Kakak."


"Makasih banyak ya Yah, Ayah selalu ada untuk Raisya, dan Raisya sangat beruntung karena memiliki Ayah yang selalu perhatian dan pengertian terhadap Anak-anaknya."


"Raisya tidak perlu mengucapkan terimakasih, karena sudah seharusnya Ayah melakukan semua itu untuk Anak-anak kesayangan Ayah."


"Raisya sangat bersyukur karena Tuhan telah mengirimkan Malaikat tak bersayap dalam kehidupan kami. Meski pun pada kenyataannya Kak Rasya dan Raisya bukanlah Anak kandung Ayah, tapi kami bisa merasakan cinta dan kasih sayang yang begitu besar melebihi yang diberikan oleh seorang Ayah kandung," ucap Raisya dengan memeluk tubuh Fajar.


"Ayah yang beruntung dan merasa bersyukur karena memiliki kalian berdua dalam hidup Ayah, karena kehadiran Rasya dan Raisya sudah melengkapi kekurangan yang Ayah miliki. Nanti untuk lebih memantapkan hati Raisya, sebaiknya Raisya melaksanakan Shalat Istikharah ya, minta petunjuk sama Allah tentang apa yang terbaik untuk hidup Raisya ke depannya," ucap Fajar dengan mengusap lembut punggung Raisya.


Mentari yang melihat interaksi Fajar dan Raisya dari depan pintu kamar Raisya sampai menitikkan airmata karena merasa terharu.


Alhamdulillah Ya Allah, karena Engkau telah mengirimkan Malaikat tak bersayap ke dalam kehidupan kami, ucap Mentari dalam hati.


"Bunda kenapa dari tadi gak masuk?" tanya Fajar yang merasakan kehadiran Mentari, padahal posisi Fajar saat ini sedang membelakangi pintu.


Mentari yang mendengar perkataan Fajar langsung saja melangkahkan kaki nya untuk masuk ke dalam kamar Raisya, dan Raisya merasa heran karena Fajar mengetahui keberadaan Mentari, padahal mereka berdua tidak melihat kalau Mentari sejak tadi berdiri di depan pintu kamar Raisya.


"Yah, kenapa Ayah bisa tau kalau Bunda ada di sini juga, padahal dari tadi kita kan menghadap ke arah jendela?" tanya Raisya.


"Sayang, meski pun kita tidak melihat orang yang kita cintai secara langsung, tapi Ayah dapat merasakan keberadaan Bunda, karena jantung Ayah akan berdetak kencang saat Bunda berada di sekitar Ayah," jawab Fajar dengan tersenyum.

__ADS_1


"Raisya kira Ayah punya indra keenam," ujar Raisya dengan terkekeh.


"Ayah adalah Malaikat Tak Bersayap untuk Bunda. Jadi, meski pun Ayah tidak melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri, tapi Ayah bisa melihat Bunda menggunakan mata hatinya," ujar Mentari.


"Dan Bunda adalah Bidadari cantik dan baik hati yang dikirimkan Tuhan untuk Ayah," ucap Fajar dengan memeluk tubuh Mentari, dan Fajar selalu merasa beruntung bisa memiliki Mentari, Rasya dan Raisya dalam kehidupannya.


......................


Keesokan paginya..


Semuanya telah berkumpul untuk sarapan bersama terlebih dahulu sebelum berangkat ke Bandung untuk menjemput Rayna, dan saat ini Raisya sudah bisa tersenyum lagi karena dia sudah mempunyai keputusan, apalagi semalam Raisya telah melaksanakan Shalat Istikharah.


"Sepertinya sekarang sedang ada yang bahagia nih?" goda Rasya kepada Raisya.


"Apaan sih Kak, Kakak kepo aja," ujar Raisya dengan tersenyum, dan Dimas selalu bahagia bisa melihat senyuman Raisya lagi.


Senyumanmu selalu menghangatkan hatiku Raisya, Kak Dimas sadar kalau Kak Dimas tidak pantas untuk Raisya, dan Kak Dimas akan menerima semua keputusan yang Raisya ambil, ucap Dimas dalam hati.


"I_iya bisa," jawab Dimas dengan tergagap.


Dimas sudah merasa deg degan dengan jawaban yang akan diberikan oleh Raisya, karena Dimas takut jika Raisya akan menolaknya, apalagi keduanya memiliki perbedaan usia yang terpaut jauh.


Raisya dan Dimas memutuskan untuk berbicara di Taman yang berada di belakang rumah, dan Dimas yang sudah duduk di samping Raisya terlihat gemetaran.


"Kak, apa Kakak sudah benar-benar yakin dengan perasaaan yang Kakak miliki untuk Raisya? Bukannya dari dulu Kak Dimas selalu menganggap Raisya sebagai Anak kecil yang tidak pantas untuk menjadi pendamping hidup Kak Dimas?"


"Kak Dimas tidak pernah merasa seyakin ini sebelumnya, dan Kakak minta maaf karena sudah terlambat menyadari semuanya."


Raisya mengucap Basmalah terlebih dahulu dalam hatinya sebelum menjawab pertanyaan cinta Dimas.


"Kak maaf, tapi Raisya tidak bisa_" ucap Raisya, sehingga seketika membuat tubuh Dimas terasa lemas.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Raisya, Kakak tau kalau Kakak tidak pantas untuk kamu. Kalau begitu Kakak berangkat ke Bandung duluan ya," ujar Dimas dengan tertunduk sedih.


Dimas berdiri dan berniat untuk melangkahkan kaki nya meninggalkan Raisya, tapi tiba-tiba Raisya menahan pergelangan tangan Dimas, kemudian Raisya melanjutkan perkataannya yang belum selesai.


"Maksud Raisya, Raisya tidak bisa menolak cinta Kak Dimas, karena dari dulu Raisya selalu bermimpi untuk bisa hidup bersama dengan Kak Dimas sampai maut yang memisahkan kita," ujar Raisya, sontak saja semua itu membuat Dimas terlonjak kaget.


"Raisya, Kak Dimas tidak sedang bermimpi kan sayang?" tanya Dimas dengan menangkup kedua pipi Raisya.


"Tidak Kak, karena Raisya juga mempunyai perasaan yang sama dengan Kak Dimas," ujar Raisya, dan Dimas langsung saja memeluk tubuh Raisya dengan erat.


"Terimakasih sayang, Kak Dimas pasti akan selalu berusaha untuk membahagiakan Raisya dalam seumur hidup Kak Dimas."


Fajar bahagia ketika melihat Raisya dan Dimas bahagia, tapi Fajar selalu mencoba mengingatkan Anak-anaknya supaya bisa menjaga batasan.


"Ekhem, kondisikan tangan kamu Dimas. Ingat, kalian berdua masih belum muhrim," ucap Fajar, sehingga Dimas langsung melepaskan pelukannya terhadap Raisya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Fajar kini duduk di antara Raisya dan Dimas, kemudian Fajar angkat suara.


"Dimas, tolong jaga Putri kesayangan Om, jangan pernah kamu menyakitinya, karena Om tidak rela jika sampai Raisya meneteskan airmata kesedihan dalam kehidupannya. Jaga dan lindungi dia dengan segenap jiwa dan raga kamu, Om percaya kamu adalah lelaki yang bertanggungjawab, dan sekarang Om akan menyerahkan tanggungjawab yang besar untuk kamu, yaitu dengan menyerahkan Raisya untuk kamu jaga dalam seumur hidup kamu," ucap Fajar dengan menitikkan airmata.


"Insyaallah Dimas akan selalu menjaga Amanah yang Om diberikan. Dimas akan selalu melindungi dan mencintai Raisya dengan segenap jiwa dan raga Dimas, sampai maut yang memisahkan kami."


"Ya sudah kalau begitu sekarang kita berangkat ke Bandung, nanti pulang dari sana, kita bicarakan lagi tentang rencana pernikahan kalian."


"Terimakasih banyak atas semuanya Om. Bagi Dimas dan Dita, Om adalah orangtua kami, dan Dimas sangat berterimakasih untuk semua itu," ujar Dimas, kemudian memeluk tubuh Fajar.


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2