Menantu Benalu 2

Menantu Benalu 2
Bab 36 ( Roda kehidupan yang berputar )


__ADS_3

Fajar langsung tertunduk sedih pada saat mendengar penjelasan dari Dokter bahwa dirinya dinyatakan mandul.


"Yah, Bunda tau kalau Ayah pasti sedih dengan kenyataan ini, begitu juga dengan Bunda. Akan tetapi, Ayah harus ingat, tidak semua yang kita mau bisa kita dapatkan, karena Allah SWT lebih mengetahui apa yang kita butuhkan daripada yang kita inginkan," ucap Mentari dengan memeluk tubuh Fajar.


"Bunda tidak akan kecewa kan karena tidak dapat memiliki keturunan dari Ayah?" tanya Fajar yang merasa ketakutan jika Mentari sampai meninggalkannya.


"Ayah percaya kan sama Bunda? apa pun yang terjadi kita akan menghadapinya bersama, dan Bunda akan selalu berada di samping Ayah sampai maut memisahkan kita," ucap Mentari dengan mencium punggung tangan Fajar.


"Terimakasih ya Bunda, karena Bunda selalu berada di samping Ayah serta menguatkan Ayah. Meskipun Ayah kecewa karena kita tidak dapat memiliki keturunan, tapi Ayah bersyukur karena sudah memiliki Rasya dan Raisya dalam hidup kita."


"Ya sudah kalau begitu sekarang kita pulang, kasihan Anak-anak sudah menunggu. Ayah jangan terlalu banyak pikiran ya. Terimakasih banyak ya Dok, kalau begitu kami permisi dulu. Assalamu'alaikum," ucap Mentari, kemudian menggandeng Fajar untuk keluar dari ruangan Dokter.


Dokter tersenyum melihat keharmonisan Mentari dan Fajar, beliau begitu kagum melihat Mentari yang mendukung Fajar pada saat Fajar terpuruk, dan ini adalah cobaan pertama dalam rumah tangga Fajar dan Mentari, tapi mereka berusaha untuk menghadapi semuanya dengan ikhlas.


......................


Setelah jam kerja selesai, Angga memutuskan untuk langsung pulang, karena langit sudah terlihat gelap, apalagi saat ini dia mengendarai sepeda motor karena mobil dan semua aset yang dia punya sudah habis dijual untuk menutupi hutang perusahaan.


Baru juga setengah perjalanan yang Angga tempuh, hujan sudah turun, dan dengan terpaksa Angga memutuskan untuk berteduh di depan sebuah ruko yang telah tutup.


"Padahal baru juga setengah perjalanan, tapi hujan sudah turun, mana aku gak punya jas hujan," gumam Angga yang saat ini terlihat kedinginan.


Mentari dan Fajar yang kebetulan melewati jalan tersebut merasa prihatin melihat keadaan Angga sekarang ini, sehingga Fajar memutuskan untuk menepikan mobilnya.


"Pak Angga mau pulang bareng?" Tanya Fajar.


"Tidak Tuan terimakasih, saya mau nunggu hujan reda saja," jawab Angga dengan tersenyum.

__ADS_1


"Kalau begitu kami duluan ya Pak Angga," ujar Fajar dengan kembali melajukan mobilnya.


Angga merasa malu melihat kehidupannya yang sekarang berbanding terbalik dengan Mentari. Apalagi dulu Angga pernah tidak mengakui Mentari sebagai istrinya pada saat melihat Mentari dan Fajar berjualan, bahkan saat itu Angga juga ikut menghina Mentari dan Fajar karena berpakaian seperti pedagang kaki lima.


"Maafin Abang Mentari, dulu Abang pernah menghina kamu dan Fajar, tapi kalian masih berbaik hati memberikan pekerjaan kepada Abang. Mungkin semua yang terjadi dalam kehidupan Abang saat ini adalah hukuman untuk Abang karena telah menghina kamu dan Fajar serta menelantarkan Anak kita," gumam Angga dengan meneteskan airmata penyesalan.


Semenjak pertemuannya kembali dengan Angga setelah dua tahun lamanya tidak berjumpa, Mentari tidak mengeluarkan sepatah kata pun, apalagi berniat untuk menyapa Angga sehingga membuat Fajar menjadi heran.


"Bunda, kenapa daritadi Bunda hanya diam saja tanpa mau menyapa Angga?" Tanya Fajar.


"Yah, saat ini Bunda adalah istri Ayah, jadi tidak pantas jika seorang istri menyapa lelaki lain yang bukan muhrimnya, apalagi jika lelaki tersebut adalah mantan Suaminya sendiri, karena saat ini ada hati yang harus Bunda jaga," jawab Mentari dengan tersenyum.


"Terimakasih ya sayang, karena Bunda sudah menjaga perasaan Ayah," ucap Fajar dengan mencium tangan Mentari.


"Seharusnya Bunda yang selalu mengucapkan terimakasih kepada Ayah, karena Ayah telah memberikan kebahagiaan kepada Bunda dan Anak-anak, bahkan Ayah juga selalu menghormati Ibu dan Bapak serta menyayangi mereka."


"Ayah tidak perlu meminta maaf kepada Bunda, Bunda sangat mengerti perasaan Ayah, karena tidak mudah melupakan perbuatan seseorang yang telah berbuat dzolim terhadap keluarga kita, tapi Ayah harus ingat, meskipun kita tidak membalas perbuatan mereka, tapi Allah SWT yang sudah pasti akan membalasnya."


"Terimakasih sayang, karena Bunda selalu mengingatkan Ayah tentang kebaikan. Kalau Bunda sendiri, apa Bunda masih merasa kesal terhadap Angga?"


"Bohong jika Bunda tidak merasa kesal kepada Bang Angga, tapi Bunda mencoba untuk ikhlas, karena Bang Angga juga sekarang sudah mendapatkan hukuman yang setimpal dari Allah SWT. Ayah lihat sendiri kan kehidupannya sekarang, meskipun Bunda tidak membalas perbuatannya, tapi roda kehidupan berputar."


Fajar benar-benar mengagumi sikap Mentari yang berhati mulia, sehingga dia tiada hentinya mengucap syukur karena telah dianugerahi seorang istri yang cantik dan juga Saleha.


......................


Pada saat Angga sampai di rumah Jingga, Jingga terlihat sedang marah-marah sehingga membuat Mommy Sandra, Stella dan juga kedua Anak Jingga terlihat ketakutan.

__ADS_1


"Kamu kenapa seperti ini Jingga?" Tanya Angga yang melihat Jingga membanting barang-barang sehingga berserakan di lantai.


"Stella, bawa Rayna dan Ratu masuk ke kamar," ujar Angga.


"Aku benci dengan Mentari, dia telah merebut semuanya dariku," teriak Jingga dengan histeris.


"Kamu seharusnya sadar Jingga, saat ini kamu telah menuai karma atas perbuatanmu dulu kepada mereka, dan seharusnya kamu juga bersyukur karena mereka tidak memasukan kamu ke dalam penjara atas penggelapan uang serta pencemaran nama baik," ujar Angga.


Mommy Sandra yang masih belum mengerti pembicaraan Angga dan Jingga akhirnya mencoba untuk bertanya.


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi Angga, Kenapa Jingga sampai mengamuk?" Tanya Mommy Sandra.


"Jingga marah karena ternyata pemilik Angkasa grup yang sebenarnya adalah Fajar," jawab Angga.


"Maksud kamu Fajar selingkuhannya si Menantu Benalu?" Tanya Mommy Sandra.


"Mom, berapa kali Angga harus mengingatkan supaya Mommy tidak memanggil Mentari dengan sebutan Menantu Benalu lagi, dan Fajar juga bukan selingkuhannya Mentari karena sekarang mereka berdua sudah menikah," ujar Angga.


"Mommy udah enakan manggil dia Menantu Benalu, meskipun dia udah gak jadi Menantu Mommy lagi," dan sekarang lebih parah lagi, karena Jingga adalah Menantu Durhaka, lanjut Mommy Sandra dalam hati.


"Ya sudah kalau begitu Angga ke kamar dulu, Angga pusing dengerin Mommy ngomong. Tapi harus Mommy tau kalau sekarang Angga adalah Anak buah Fajar, dan Fajar menjadikan Angga sebagai Manager keuangan di Angkasa Grup," ujar Angga.


Jingga yang mendengar perkataan Angga, langsung angkat suara.


"Mereka memang bodoh karena tidak memecatmu juga Angga, dan sekarang kita punya kesempatan untuk menghancurkan mereka," ujar Jingga.


"Jangan gila kamu Jingga, aku tidak akan melakukan hal serendah itu, jadi kamu jangan berusaha untuk menghasutku, karena aku tidak akan pernah termakan oleh hasutanmu lagi. Dulu aku sudah melakukan kesalahan, dan sekarang aku ingin berubah menjadi lebih baik lagi serta tidak mengulangi kesalahan yang sama," ujar Angga kemudian berlalu menuju kamarnya meninggalkan Jingga yang semakin geram mendengar perkataan Angga.

__ADS_1


__ADS_2