
Pak Parjo kini melangkahkan kaki ke dalam pos satpam untuk menelpon Mentari. Dan setelah Mentari memperbolehkan Mommy Sandra masuk, Pak Parjo pun membuka pagarnya.
"Bukannya daritadi bukain pagarnya, pake laporan dulu segala, gini-gini saya Omah nya si Kembar," ujar Mommy Sandra yang langsung nyelonong masuk ke dalam rumah.
"Dasar manusia gak ada akhlak, main nyelonong masuk saja, bukannya ngucapin Salam dulu," gerutu Pak Parjo.
Mentari saat ini sudah berada di depan rumahnya untuk menyambut kedatangan Mommy Sandra, tapi pada saat datang Mommy Sandra tidak mengucapkan Salam, sehingga Mentari yang terlebih dahulu mengucapkan salam kepada Mommy Sandra.
"Assalamu'alaikum Bu, gimana kabarnya?" ucap Mentari dengan mencium punggung tangan Mommy Sandra.
"Wa'alaikumsalam. Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja walau pun kamu sudah menghancurkan keluargaku," ucap Mommy Sandra yang masih belum menyadari tentang kesalahannya selama ini.
"Silahkan duduk Bu, Mentari buatkan minum dulu," ucap Mentari, kemudian melangkahkan kaki menuju dapur karena Mentari tidak pernah mau berdebat dengan siapa pun.
Benar dugaanku, si Menantu Benalu masih saja bersikap baik kepadaku, jadi dia pasti akan mengabulkan permintaanku, ucap Mommy Sandra dalam hati yang sudah yakin jika Mentari bakalan mengijinkan Anaknya untuk mendonorkan ginjal untuk Ratu.
"Silahkan diminum Bu," ucap Mentari, dan tanpa tahu malunya Mommy Sandra langsung saja menenggak habis Es jeruk yang dibuat oleh Mentari.
"Ibu mau ketemu sama Rasya dan Raisya ya? maaf Bu saat ini mereka sedang tidur siang, tapi kalau Ibu mau lihat mereka, mari kita ke kamarnya," ucap Mentari.
"Maksud kedatanganku ke sini bukan untuk bertemu dengan Anak-anakmu, tapi aku ke sini karena ingin meminta supaya kamu mengijinkan salah satu Anakmu yang cacat itu untuk mendonorkan ginjalnya kepada Ratu, Cucu kesayanganku," ujar Mommy Sandra dengan Entengnya.
Mentari bagai tersambar petir mendengar perkataan Mommy Sandra.
"Apa maksud Anda berkata seperti itu?" tanya Mentari yang merasa geram dengan permintaan Mommy Sandra.
__ADS_1
"Kamu tadi sudah dengar sendiri kan kalau saat ini Ratu terkena penyakit gagal ginjal, dan aku hanya meminta Anak kamu untuk mendonorkan ginjalnya untuk Ratu," jawab Mommy Sandra.
"Apa saya tidak salah dengar, kenapa harus Anak saya yang mendonorkan ginjalnya, kenapa tidak Anda saja, atau orangtua Ratu," ujar Mentari.
"Tapi Usia Anakmu dan Ratu kan tidak jauh berbeda, jadi ginjal mereka pasti cocok karena mereka masih satu Ayah dengan Ratu," ujar mommy Sandra.
"Saya baru tau kalau ada manusia sejahat Anda. Apakah Anda tidak punya hati sehingga meminta ginjal Anak saya?" ujar Mentari dengan terus mengucap istighfar dalam hati, karena tidak mau sampai berbuat kasar kepada Mommy Sandra.
"Kedua Anakmu kan cacat, jadi mereka tidak akan ada gunanya juga," ujar Mommy Sandra dengan senyum yang mengejek.
"Saya benar-benar tidak menyangka jika Anda setega itu kepada Cucu Anda sendiri. Mereka memang cacat, tapi Anda lebih parah dari mereka, karena Anda cacat hati. Saya bisa menerima jika dulu Anda selalu menghina dan menyakiti saya, tapi sampai kapan pun saya tidak akan membiarkan Anda menyentuh Anak-anak saya," ujar Mentari.
"Ternyata setelah kamu menjadi orang kaya, kamu berubah menjadi sombong ya," sindir Mommy Sandra.
"Seorang Ibu bisa berbuat apa pun demi Anaknya, begitu juga dengan saya. Maaf Nyonya Sandra yang terhormat, Anda juga seorang Ibu, bagaimana perasaan Anda jika ada orang yang meminta supaya Anak Anda mendonorkan ginjalnya, apa Anda akan rela?" tanya Mentari.
"Begitu juga dengan saya, saya adalah seorang Ibu yang sangat menyayangi Anak-anak saya, jadi sampai kapan pun saya tidak akan pernah membiarkan oranglain menyakiti kedua Anak saya," tegas Mentari.
"Kamu Seharusnya sadar, Anak-anak kamu itu cacat, jadi gak usah dibangga-banggakan," sindir Mommy Sandra.
"Bukankah mereka Cucu Anda juga? Saya masih bisa terima jika Anda tidak mengakui mereka, tapi saya tidak rela jika Anda terus saja menghina Rasya dan Raisya. Sebaiknya sekarang juga Anda keluar dari rumah saya sebelum kesabaran saya habis," ujar Mentari yang sudah merasa geram kepada Mommy Sandra.
"Jadi kamu berani ngusir saya Menantu Benalu? kalau bukan karena Ratu, saya juga tidak sudi menginjakan kaki di rumah kamu," ujar Mommy Sandra.
"Mungkin bagi Anda saya adalah Benalu, terus kenapa Anda masih meminta bantuan kepada Benalu, bukannya Benalu itu hanya menyusahkan saja," sindir mentari.
__ADS_1
"Kamu akan menyesal karena telah mengusir saya," ujar Mommy Sandra.
"Saya bahkan akan membuat Anda lebih menyesal lagi karena sudah berniat mengusik Anak-anak saya. Camkan baik-baik Nyonya Sandra yang terhormat, saya tidak akan pernah tinggal diam saja kalau Anda berani mengganggu Anak-anak saya, karena saya akan melindungi mereka dengan segenap jiwa dan raga saya," jelas Mentari.
Mommy Sandra akhirnya pergi dari rumah Mentari dengan perasaan dongkol karena gagal mendapatkan yang dia mau.
Ternyata sekarang si Menantu Benalu sudah berani melawanku. Lihat saja Mentari, aku pasti akan melakukan segala cara untuk mendapatkan ginjal salah satu Anakmu, batin Mommy Sandra yang sudah dibutakan oleh rasa sayangnya terhadap Ratu, karena dia masih mengira jika Ratu adalah Anak Angga.
................
Fajar yang baru pulang bekerja merasa heran karena tidak melihat Mentari dan Anak-anaknya yang selalu menyambut kepulangannya di depan rumah.
"Lho, kemana Bunda dan Anak-anak? kenapa rumah terlihat sepi?" gumam Fajar kemudian mengucapkan Salam, tapi tidak ada yang menjawab, sehingga Fajar terus melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumahnya.
Fajar melihat Rasya dan Raisya sedang bermain di ruang keluarga, dan Fajar melihat Mentari yang saat ini terlihat melamun dengan duduk di samping kedua Anaknya.
Fajar langsung saja memeluk tubuh Mentari dari belakang.
"Bunda kenapa? daritadi Ayah ngucapin Salam, tapi gak Bunda jawab. Apa Bunda sedang sakit?" tanya Fajar.
"Bunda baik-baik saja Yah," jawab mentari.
Fajar kini membalikan tubuh Mentari untuk menghadap ke arahnya.
"Bunda lihat mata Ayah, dari awal kita sudah berkomitmen kalau ada masalah kita harus saling terbuka, dan Ayah tau kalau saat ini Bunda sedang tidak baik-baik saja," ucap Fajar, sehingga mentari berhambur memeluk Fajar, kemudian menangis dalam pelukan Suaminya.
__ADS_1
Fajar membiarkan Mentari menumpahkan semuanya lewat tangisan, dan dia terus mengelus kepala Mentari yang saat ini masih menangis.
"Menangislah supaya semua beban yang Bunda rasakan bisa sedikit berkurang, tapi nanti setelah Bunda selesai menangis, Bunda harus menceritakan semuanya kepada Ayah dan jangan sampai ada yang ditutup tutupi lagi. Bunda harus ingat kalau Bunda punya Ayah yang akan selalu ada buat semua orang yang Ayah sayangi," ucap Fajar, dengan mengeratkan pelukannya terhadap Mentari.