
Alea sama sekali tidak menyangka jika Rasya akan mengajaknya untuk berziarah ke makam Ibu dan Neneknya sebelum keduanya melangsungkan pernikahan, karena Rasya pikir Alea pasti merindukan dua orang yang paling penting dalam kehidupannya.
"Alea, kamu pasti merindukan mendiang Ibu dan Nenek kan?" tanya Rasya.
"Iya Mas, Alea sangat merindukan mereka. Apalagi semenjak pindak ke Jakarta, Alea belum pernah ziarah lagi. Terimakasih banyak ya, karena Mas Rasya selalu mengerti Alea," ucap Alea yang semakin merasa kagum sekaligus terharu dengan semua perhatian Rasya terhadap dirinya.
"Sudah seharusnya aku berusaha membahagiakan kamu," ucap Rasya dengan tersenyum, dan hati Alea terasa hangat ketika melihat senyuman Rasya.
Setelah Rasya dan Alea membeli bunga dan air, keduanya masuk ke dalam Tempat Pemakaman Umum.
"Assalamu'alaikum Bu, Nek," ucap Alea dan Rasya secara bersamaan.
"Bu, Nek, maaf Alea baru bisa ziarah lagi. Sekarang Alea datang bersama Mas Rasya. Mas Rasya adalah calon Suami Alea, dan besok kami berdua akan melangsungkan pernikahan. Alea mohon do'a dan restu dari Ibu dan Nenek ya, semoga pernikahan kami selalu diberikan kebahagiaan," ucap Alea yang di Amini oleh Rasya.
"Bu, Nek, insyaallah Rasya akan selalu menjaga dan melindungi Alea dengan segenap jiwa dan raga Rasya. Rasya akan menyayangi Alea sampai maut memisahkan kami. Semoga Ibu dan Nenek selalu bahagia dan tenang di alam sana," ucap Rasya yang di Amini oleh Alea.
Setelah Rasya dan Alea selesai membaca surat Yasin, keduanya memutuskan untuk pulang, karena saat ini hari sudah semakin sore, kemudian Rasya melajukan mobilnya menuju Jakarta.
Setelah menempuh setengah perjalanan, perut keduanya terdengar berbunyi.
"Alea, sebaiknya sekarang kita makan dulu, sepertinya cacing cacing di dalam perut kita sudah demo," ujar Rasya dengan terkekeh.
"Alea bagaimana Mas saja," ujar Alea dengan tersenyum, karena Alea masih merasa sungkan terhadap Rasya.
Rasya menepikan mobilnya ketika melihat sebuah Restoran, kemudian Rasya mengajak Alea turun.
"Alea, kamu pesan saja semua yang kamu mau," ujar Rasya dengan memberikan buku menu kepada Alea.
"Mas Rasya ingin makan apa? Alea juga belum tau makanan kesukaan Mas Rasya?" tanya Alea yang ingin mengetahui apa yang disukai dan tidak disukai oleh calon Suaminya.
"Kalau masalah makanan aku gak pilih-pilih, tapi aku paling suka ayam bakar," jawab Rasya.
"Kalau begitu kita pesan ayam bakar saja, kebetulan aku juga suka ayam bakar," ujar Alea, kemudian memanggil pelayan.
"Mbak, kami pesan Ayam bakarnya dua, minumnya es jeruk. Mas minumnya apa?"
"Aku es jeruk juga," jawab Rasya.
Sambil menunggu makanan datang, Rasya dan Alea berbincang untuk saling mengenal.
Keduanya tidak mengira jika mereka memiliki hobi dan makanan favorit yang sama, bahkan secara perlahan Rasya dan Alea terlihat asyik berbincang.
"Alhamdulillah, perut Mas udah kenyang," ucap Rasya dengan memegangi perutnya.
__ADS_1
Rasya terkejut, karena tiba-tiba Alea mengulurkan tangannya mendekati wajah Rasya, dan jantung Rasya berdetak kencang ketika berada pada jarak yang cukup dekat dengan calon Istrinya tersebut.
"Alea, kamu mau ngapain?" tanya Rasya yang terlihat salah tingkah.
"Alea mau bersihin ini," jawab Alea dengan mengelap sudut bibir Rasya yang belepotan menggunakan tisu.
"Te_terimakasih," ucap Rasya dengan tergagap, dan Alea hanya menjawabnya dengan senyuman.
Kenapa jantungku berdetak kencang ketika berada di dekat Alea. Apa aku sudah mulai jatuh cinta terhadap Alea? Ucap Rasya dalam hati.
Setelah keduanya selesai makan, Rasya kembali melajukan mobilnya menuju kediaman keluarga Angkasa.
......................
Pada saat Rasya dan Alea masuk ke dalam rumah, keduanya terkejut ketika melihat rumah yang sudah di dekorasi dengan begitu indah.
"Rasya, Alea, kalian berdua kemana saja Nak? Kenapa sudah Maghrib begini baru pulang?" tanya Mentari dengan bergantian memeluk tubuh Alea dan Rasya.
"Rasya tadi mengajak Alea ziarah dulu ke makam Ibu dan Neneknya Alea. Maaf Rasya lupa memberikan kabar kepada Bunda," jawab Rasya.
"Tidak apa-apa Nak. Alhamdulillah kalau kalian berdua sudah meminta ijin kepada Ibu dan Neneknya Alea. Sayang, Alea suka tidak dengan dekorasi pelaminannya?" tanya Mentari.
"Bunda, ini cantik sekali. Maaf kalau kami sudah merepotkan Bunda, dan terimakasih banyak karena Bunda telah mempersiapkan semuanya," ucap Alea dengan tersenyum bahagia.
"Bunda, semua ini sudah lebih dari cukup," ucap Alea dengan memeluk tubuh Mentari.
Mentari memperkenalkan Alea kepada Pak Hasan dan Bu Rima sehingga membuat Alea semakin merasa bahagia.
"Ternyata Cucu kami memang pintar memilih calon Istri. Sayang, kalau ada apa-apa, Alea tidak perlu sungkan ya kepada Kakek dan Nenek. Kami bahagia karena akhirnya Rasya bisa menemukan pendamping hidup yang tepat, dan kalian berdua terlihat begitu serasi," ucap Bu Rima.
"Makasih banyak Nek, Kek," ucap Alea.
"Sebaiknya sekarang kalian berdua bersih-bersih, setelah itu kita makan malam bersama," ucap Mentari.
"Bunda, Alea masih kenyang, karena tadi kami sudah makan saat di perjalanan pulang."
"Ya sudah, kalau begitu Alea istirahat saja, kasihan kalian berdua pasti capek," ujar Mentari.
"Kalau begitu Alea duluan," ujar Alea dengan melangkahkan kakinya menuju kamar.
Mentari merasa heran ketika melihat Rasya yang mengikuti Alea, karena arah menuju kamar Rasya berlawanan dengan kamar Alea.
"Rasya, kamu mau kemana?" tanya Mentari sehingga menyadarkan Rasya.
__ADS_1
"Ehh, Rasya mau ke kamar, Bunda," jawab Rasya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Nak, arah ke kamar Rasya bukan ke sana," ujar Mentari, dan Rasya terlihat salah tingkah karena merasa malu.
"Sepertinya sudah ada yang tidak sabar ingin segera berduaan," goda Fajar dengan menghampiri Mentari setelah selesai mandi.
"Sabar dulu Rasya, tinggal beberapa jam lagi," goda Pak Hasan.
"Bapak sama Anak senang sekali godain Cucu kesayangan Nenek. Oh iya Rasya, Nenek sudah membuatkan ini untuk Rasya. Jangan lupa diminum ya," ujar Bu Rima dengan memberikan sebotol jamu kuat kepada Rasya.
"Ibu juga sama saja," ujar Mentari dengan terkekeh.
Rasya terlihat salah tingkah karena merasa malu, dan Rasya memutuskan untuk segera ke kamarnya.
"Makasih banyak Nek. Semuanya, Rasya duluan," ujar Rasya dengan berlari ke dalam kamar.
Mentari dan yang lainnya tertawa melihat tingkah Rasya yang masih malu-malu, apalagi pipi Rasya terlihat memerah seperti kepiting rebus.
"Tidak terasa sekarang kedua Anak kita akan segera menikah," ucap Fajar dengan memeluk tubuh Mentari.
"Pak, sebaiknya kita ke kamar saja, takutnya ganggu pasangan bucin," ujar Bu Rima dengan menarik tangan Pak Hasan meninggalkan Mentari dan Fajar.
......................
Keesokan paginya, Penghulu, Saksi, dan semua keluarga sudah berkumpul di tempat ijab kabul akan diselenggarakan, dan beberapa saat kemudian, Mentari dan Raisya datang dengan menggandeng Alea yang terlihat sangat cantik setelah di dandani.
Mata Rasya sampai tidak berkedip ketika melihat wajah cantik calon Istrinya, bahkan Rasya memuji kecantikan Alea di dalam hatinya.
Subhanallah, calon Istriku cantik sekali, ucap Rasya dalam hati.
"Ekhem, sabar Nak, setelah ijab kabul, kamu bisa melakukan apa pun kepada Alea," goda Fajar.
Keduanya saat ini telah berada di depan Penghulu, dan Papa Wisnu terus menitikkan airmata ketika melihat wajah Alea yang begitu mirip dengan wajah mendiang Ibunya.
Setelah Penghulu mengucap Basmalah untuk memulai acara, Rasya akhirnya mengucap lantang ijab kabul pernikahan dengan satu helaan nafas.
"Sah sah sah," terdengar suara Saksi bersahutan mengesahkan pernikahan Rasya dan Alea, kemudian semuanya mengucap Hamdalah dan tersenyum bahagia karena akhirnya Alea dan Rasya telah resmi menjadi sepasang Suami Istri, meski pun untuk saat ini semuanya masih harus merahasiakan pernikahan Rasya dan Alea.
*
*
Bersambung
__ADS_1