
Aira merasa sangat bahagia karena akhirnya bisa memiliki Dimas, tapi Aira tidak bisa terus tinggal Indonesia, karena Aira takut jika Lukman atau keluarga Dimas akan mengetahui jika Dimas masih hidup.
Aku harus membawa Dimas pergi jauh dari Keluarganya. Aku tidak mau siapa pun mengetahui kalau Dimas masih hidup, apalagi Kak Lukman pasti akan terus berusaha mencelakai Dimas, ucap Aira dalam hati.
"Aira, kenapa saat aku sadar, aku menyebut nama Raisya. Siapa Raisya?" tanya Dimas.
Aira terlihat gelagapan, karena Aira tidak tau harus berkata apa.
"Raisya sebenarnya nama panggilan kesayangan Mas Aksa untuk Aira," ujar Aira dengan memaksakan diri untuk tersenyum.
"Maaf Aira, kalau aku sudah melupakan mu," ucap Dimas yang merasa bersalah karena telah melupakan momen momen penting dalam hidupnya.
"Tidak apa-apa Mas, yang penting Mas Aksa bisa segera sembuh, supaya kita bisa kembali berkumpul dengan Arka," ujar Aira dengan memeluk Dimas, tapi Dimas merasa tidak nyaman saat dipeluk oleh Aira.
"Maaf Aira, jangan seperti ini, tanganku masih sakit," ujar Dimas, kemudian mendorong pelan tubuh Aira, dan Aira merasa kesal dengan penolakan Dimas.
"Oh iya, apa Arka itu nama Anak kita?" tanya Dimas.
"Iya, namanya Arkana Mahendra," jawab Aira yang sudah menyiapkan nama supaya Dimas tidak merasa curiga.
Dimas masih berusaha untuk mengingat kembali memorinya yang hilang, tapi Dimas tidak bisa mengingat apa pun selain bayang-bayang perempuan yang tidak jelas wajahnya.
"Sayang, sebaiknya Mas Aksa istirahat lagi. Dokter juga sudah bilang Mas Aksa jangan terlalu memaksakan diri mengingat semuanya," ujar Aira dengan membantu Dimas untuk berbaring, dan beberapa saat kemudian, Dimas kembali tertidur karena pengaruh obat yang disuntikan oleh Dokter.
Dimas bermimpi melihat seorang perempuan yang terus memanggil namanya, tapi wajah perempuan tersebut terlihat samar.
"Raisya, Raisya, jangan lepaskan tangan Kakak, Raisya," ucap Dimas yang mengigau memanggil nama Raisya, sontak saja Aira merasa geram mendengarnya.
Padahal ingatan Dimas sudah hilang, tapi saat tertidur, Dimas masih saja memanggil nama Raisya. Lihat saja nanti Dimas, kamu pasti akan bertekuk lutut di hadapanku, ucap Aira dalam hati dengan tersenyum licik.
......................
Di kediaman Mentari dan Fajar, saat ini sedang mengadakan acara tahlil empat puluh hari mendiang Rayna, juga acara tahlil tujuh hari Dimas dan Baby Al.
Raisya awalnya duduk tenang di samping Mentari, karena Raisya pikir acara tahlil tersebut hanya acara tahlil empat puluh hari mendiang Rayna saja. Sampai akhirnya Raisya tiba-tiba berteriak ketika Ustadz yang memimpin do'a menyebut nama Dimas dan Baby Al.
"Siapa yang mengijinkan kalian mengadakan acara tahlil untuk Kak Dimas dan Baby Al? Mereka belum meninggal, kenapa kalian tega sekali melakukan semua itu?"
__ADS_1
Mentari dan Fajar mencoba menenangkan Raisya, apalagi saat ini semua orang terdengar membicarakan Raisya.
"Kasihan ya Raisya, baru juga nikah satu bulan sudah jadi Janda," bisik salah satu tetangga Mentari kepada tetangga yang lainnya.
"Iya, sepertinya sekarang Raisya stres."
"Kalian semua jahat, Suami dan Anakku masih hidup, mereka tidak akan pernah meninggalkanku," teriak Raisya kemudian terus menangis dengan memanggil nama Dimas.
"Nak, Raisya jangan seperti ini, Raisya harus ikhlas. Semua ini adalah takdir Tuhan," ucap Mentari.
Mentari dan Fajar memutuskan untuk membawa Raisya ke dalam kamar, supaya suasana tahlil kembali tenang.
Rasya mewakili keluarganya untuk meminta maaf atas keributan yang terjadi, kemudian Rasya meminta Pak Ustad untuk melanjutkan acara Tahlil.
"Atas nama Keluarga saya, saya mohon maaf kepada semuanya atas keributan yang terjadi. Silahkan Pak Ustad lanjutkan kembali pembacaan do'a nya."
Setelah berada di dalam kamar, Raisya kembali diam seperti patung, dan hanya airmata yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Yah, apa Ayah sudah menemukan Psikiater yang bagus untuk mengobati Raisya?" tanya Mentari.
"Sudah Bunda. Sebaiknya besok kita bawa Raisya ke Psikiater. Semoga saja kondisi psikologis Raisya kembali membaik," ucap Fajar yang di Amini oleh Mentari.
......................
Lukman berencana akan segera merebut Angkasa grup dengan mengajak kerjasama antar kedua perusahaan.
"Lukman, apa kamu sudah punya rencana untuk merebut Angkasa Grup?" tanya Miranda.
"Saat ini Angkasa Grup dipimpin oleh Anaknya Fajar yang bernama Rasya, tapi Rasya masih kuliah, jadi Fajar sesekali membantunya. Lukman sudah mengirimkan proposal kerjasama, dan secara perlahan, Lukman akan mengambil alih Angkasa Grup."
"Kamu memang hebat, Mama bangga sama kamu. Oh iya, bukannya Dimas masih memiliki Adik yang bernama Dita? Mama juga dengar, sebelum Dimas meninggal dunia, Dimas sempat menikah dengan Anak perempuan Fajar?" tanya Miranda lagi.
"Dita bukan ancaman bagi kita, karena Dita sudah diberikan perusahaan cabang milik Angkasa Grup yang berada di Singapura. Jadi, Dita tidak memiliki saham Angkasa Grup yang di jakarta. Ma, Lukman berencana akan mendekati Raisya, kalau perlu Lukman akan menikahi Raisya, dengan begitu, Angkasa Grup akan menjadi milik kita sepenuhnya," ujar Lukman dengan tertawa bahagia.
Beberapa saat kemudian, Anak Miranda yang bernama Hilman, datang menghampiri Miranda dan Lukman, karena Hilman sudah tidak tahan dengan sikap Ibu dan Kakaknya.
"Ma, Kak, sampai kapan kalian akan berbuat jahat? Apa kalian tidak takut dosa?" tanya Hilman.
__ADS_1
"Kamu memang Anak bodoh Hilman, Mama menyesal telah melahirkan kamu. Seharusnya kamu contoh Kakak kamu yang selalu membuat Mama merasa bangga. Sebaiknya kamu bantu Kakak kamu mengurus perusahaan, jangan terus bergaul di Pondok Pesantren."
"Ma, maaf jika Hilman belum bisa berbakti terhadap Mama, tapi sampai kapan pun Hilman akan tetap mencari ilmu untuk bekal di Akhirat nanti, karena Hilman tidak ingin melihat kalian terus-terusan terperosok ke dalam lembah dosa. Tidak sepantasnya kalian mengadakan pesta untuk merayakan kematian seseorang. Kapan Mama dan Kakak akan menghentikan dendam ini?"
Brak
Miranda menggebrak meja ketika mendengar perkataan Hilman, karena Miranda tidak terima dengan perkataan Anak Bungsunya yang selalu membuatnya naik darah.
"Kamu ini hanya Anak kecil, kamu tidak tau apa yang dulu sudah kami alami, karena kamu tidak pernah merasakannya. Aku tidak akan pernah berhenti membalas dendam pada keluarga Bram dan Jingga, karena mereka telah menghancurkan hidupku," teriak Miranda.
"Ma, bukannya Om Bram dan Tante Jingga sudah meninggal dunia?"
"Mereka memang sudah meninggal dunia, tapi keturunannya masih hidup, dan aku akan membalas dendam sampai ke akar-akarnya. Lukman, apa kamu sudah mendapatkan kabar tentang Anak-anaknya Jingga?" tanya Miranda.
"Anak pertama Jingga yang bernama Rayna sudah meninggal dunia karena tabrakan beruntun yang disebabkan oleh Anak buah Lukman, tapi saat itu bayinya selamat. Apa Mama tau siapa Ayah dari Anak yang dilahirkan oleh Rayna?"
"Memangnya siapa?"
"Mendiang Dimas. Karena sebelumnya Dimas dan Rayna tidak mengetahui jika mereka berdua adalah saudara satu Ayah, jadi mereka sempat menikah secara Agama."
"Apa bayi yang meninggal bersama Dimas adalah Anak haram itu?"
"Benar Ma. Kita sudah berhasil menyingkirkan garis keturunan Dimas dan Rayna."
"Lalu bagaimana dengan Anak kedua Jingga? Mama ingin kamu menculiknya, nanti kita bisa menjual dia ke Klub malam supaya dia menjadi wanita penghibur, seperti yang dulu telah Jingga lakukan kepada Mama."
"Baik, Lukman akan segera menculik Anak kedua Jingga. Lukman sudah menemukan informasi keberadaan Anak kedua Jingga saat ini, dan dia tinggal di Pondok Pesantren yang sama dengan Hilman, namanya adalah Ratu Anastasya."
Degg
Jantung Hilman berdetak kencang ketika mendengar nama Ratu, karena Ratu adalah Kekasihnya.
Apa mungkin Ratu yang dimaksud Kak Lukman adalah Ratu Kekasihku? Aku harus segera bertemu dengan Ratu, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti nya, termasuk keluargaku sendiri, ucap Hilman dalam hati.
*
*
__ADS_1
Bersambung