Menantu Benalu 2

Menantu Benalu 2
Bab 125 ( Lamaran Rasya )


__ADS_3

Alea memutuskan untuk meminta tolong kepada Rasya supaya mengantarnya mencari tempat kos khusus putri.


"Tuan Rasya, saya hanya bisa mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, karena lagi-lagi Tuan Rasya sudah berkenan menolong saya. Apa saya boleh minta tolong lagi?" tanya Alea dengan tertunduk malu.


"Sudah berapa kali aku bilang, kamu tidak perlu sungkan seperti itu terhadapku. Memangnya kamu ingin aku melakukan apa?" tanya Rasya.


"Apa bisa Tuan membantu saya mencari tempat kos khusus Putri?" tanya Alea.


"Besok aku akan mencarikan kamu tempat tinggal, tapi untuk malam ini sebaiknya kamu ikut ke rumahku, supaya aku bisa mengobati luka kamu," jawab Rasya.


"Tapi Tuan, saya tidak mau terus-terusan merepotkan Tuan."


"Aku adalah Calon Suami kamu, sudah seharusnya aku melalukan semua yang aku bisa untuk membantu kamu."


Deg deg deg


Jantung Alea berdetak kencang ketika mendengar perkataan Rasya yang lagi-lagi mengaku sebagai calon Suaminya.


"Tuan jangan bercanda, semua itu tidak lucu."


"Apa kamu pikir aku sedang bercanda? Aku serius Alea, aku ingin menikahi kamu," ujar Rasya yang terlihat bersungguh-sungguh dengan perkataannya.


"Ha ha ha, Tuan benar-benar cocok menjadi seorang Aktor, karena akting Tuan sangat bagus, bahkan saya hampir saja percaya," ujar Alea dengan terkekeh.


Rasya menghela nafas panjang, karena Alea masih tidak percaya jika dirinya bersungguh-sungguh ingin menjalin hubungan dengan Alea.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang pasti sebentar lagi aku akan menikahi kamu," tegas Rasya, dan Alea hanya diam tanpa mau mengeluarkan satu patah kata pun, karena saat ini otak Alea tidak bisa berpikir.


Setelah sampai di kediaman Fajar dan Mentari, Rasya mengajak Alea masuk, tapi Alea hanya berdiri di depan pintu karena merasa malu ketika melihat penampilannya yang acak-acakan.


"Alea, kamu tidak perlu merasa malu dengan keluargaku. Kamu juga sudah mengenal kedua orang tua dan Adik ku kan? Mereka pasti akan menerima kamu dengan tangan terbuka," ujar Rasya dengan menuntun Alea untuk masuk ke dalam rumah.


Keduanya mengucap salam ketika melihat Mentari dan Fajar yang tengah mengobrol sambil menonton televisi di ruang keluarga.


"Astagfirullah, Alea, kamu kenapa sayang?" teriak Mentari ketika melihat beberapa luka pada tubuh Alea, apalagi penampilan Alea terlihat berantakan.


Raisya yang mendengar teriakan Mentari, merasa terkejut, lalu bergegas menghampiri Mentari dan yang lainnya.


"Apa yang sudah Kakak lakukan sama Alea?" tanya Raisya yang mengira jika Alea seperti itu karena ulah Rasya.


"Raisya tega sekali menuduh Kakak melakukan semua itu. Kakak tidak mungkin menyakiti perempuan, apalagi Kakak terlahir dari rahim seorang perempuan."

__ADS_1


"Sudah sudah, sebaiknya sekarang semuanya duduk dulu, biar Rasya dan Alea menjelaskan semuanya," ujar Fajar, kemudian meminta Asisten rumah tangganya untuk mengambilkan kotak P3K.


Fajar meminta Rasya untuk menceritakan kronologi kejadian yang menimpa Alea, dan secara perlahan, Rasya dan Alea bergantian menceritakan semua yang terjadi kepada Alea saat berada di kediaman Papa Wisnu.


"Arumi sama Mamanya benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya mereka menganiaya Alea. Sekarang Alea tidak perlu takut lagi kepada mereka, karena kami pasti akan melindungi Alea," ujar Mentari dengan memeluk tubuh Alea.


Mentari mengoleskan obat pada luka Alea, dan Mentari merasa kasihan dengan nasib malang yang menimpa Alea.


"Semuanya, terimakasih banyak karena sudah peduli dengan Alea," ucap Alea dengan menitikkan airmata.


"Nak, Alea tidak perlu merasa sungkan terhadap kami. Kita adalah keluarga, sudah seharusnya kami ada untuk Alea," ujar Mentari.


"Perkataan Bunda benar, kamu sudah aku anggap sebagai saudara perempuanku. Ayah, Bunda, Alea boleh kan tinggal di sini?" tanya Raisya dengan memeluk tubuh Alea.


"Tentu saja boleh, pasti rumah ini akan semakin ramai jika Alea tinggal di sini," jawab Fajar dan Mentari secara bersamaan.


Alea yang tidak ingin merepotkan Mentari dan keluarga memutuskan untuk menolak permintaan Raisya, apalagi di sana ada Rasya, dan pasti orang-orang akan membicarakan Alea karena tinggal satu atap dengan keluarga yang bukan kerabatnya, bahkan oranglain mungkin akan mengecapnya sebagai perempuan tidak baik.


"Sekali lagi Alea ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas kebaikan semuanya, tapi Alea tidak bisa tinggal di sini, dan besok Alea akan mencari tempat kos khusus Putri."


"Nak, tidak baik seorang gadis tinggal di luar sendirian, Bunda takut ada orang yang berniat mencelakai Alea."


"Tapi Bunda, apa nanti kata orang lain jika Alea tinggal di sini? Apalagi di sini ada Tuan Fajar, dan Tuan Rasya, dan kami bukan muhrim."


"Alea, sebelumnya aku sudah bilang kalau aku akan menikahi kamu, dan kita akan segera menjadi muhrim," celetuk Rasya sehingga membuat semuanya merasa terkejut.


"Apa?" teriak Mentari, Raisya dan Fajar secara bersamaan.


"Kenapa semuanya sampai berteriak? Untung saja Rasya sudah menutup kuping."


"Nak, apa kami tidak salah dengar?" tanya Fajar mencoba memastikan.


"Kenapa Kak Rasya tiba-tiba ingin menikahi Alea? Kakak tidak mungkin sudah berbuat macam-macam terhadap Alea kan?" tanya Raisya dengan memicingkan matanya.


"Kenapa kalian melihat Rasya seperti itu?" tanya Rasya yang terlihat salah tingkah ketika semua anggota keluarga melihat ke arahnya.


Mentari memang menyukai Alea, Mentari juga merasa kasihan dengan nasib Alea, tapi Mentari tidak ingin memaksakan kehendaknya, apalagi Alea belum tentu suka terhadap Rasya.


"Nak, pernikahan itu bukan sebuah perkara yang mudah. Apa Rasya sudah benar-benar yakin dengan keputusan yang Rasya ambil?" tanya Mentari.


"Rasya sudah sangat yakin Bunda, karena Rasya ingin selalu menjaga dan melindungi Alea."

__ADS_1


Mentari menghela nafas panjang, kemudian Mentari mengajukan pertanyaan kepada Alea.


"Nak, apa Alea bersedia untuk menikah dengan Rasya?"


Alea beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum menjawab pertanyaan Mentari, karena Alea merasa tidak pantas bersanding dengan Rasya.


"Sebenarnya Alea merasa tidak pantas untuk Tuan Rasya, apalagi kami berdua belum saling mengenal. Alea takut jika Tuan Rasya menikahi Alea karena hanya merasa kasihan. Bagaimana jika suatu saat nanti Tuan Rasya menyesali keputusannya?"


"Kita bisa saling mengenal setelah menikah, karena aku tidak mau pacaran sebelum menikah, sebab itu akan menimbulkan fitnah dan dosa. Jika memang kamu bersedia menikah denganku, tapi kamu merasa keberatan orang lain mengetahui pernikahan kita, untuk sementara waktu kita bisa merahasiakan pernikahan kita dulu sampai kamu benar-benar bisa menerimaku," ujar Rasya yang terlihat bersungguh-sungguh.


"Nak, sekarang keputusan ada di tangan Alea, dan kami sangat berharap jika Alea bersedia menerima lamaran Rasya. Kami juga tidak akan melarang Alea untuk bekerja, dan Alea masih bisa bekerja sambil melanjutkan kuliah," ujar Mentari.


"Apa boleh Alea meminta waktu? Alea ingin melakukan Shalat istikharah dulu untuk meyakinkan keputusan yang akan Alea ambil."


Semuanya menyetujui permintaan Alea, karena bagaimanapun juga itu adalah keputusan yang sangat penting untuk kehidupan Alea.


"Tentu saja, kami justru sangat mendukung Alea jika ingin melaksanakan Shalat Istikharah dulu," ujar Mentari.


"Aku juga melaksanakan Shalat Istikharah dulu sebelum menerima lamaran Kak Dimas," ujar Raisya dengan tersenyum ketika membayangkan kebersamaannya dengan Dimas.


Kasihan Raisya, pasti Raisya masih berharap jika Tuan Dimas dan Baby Al masih hidup. Semoga Raisya selalu diberikan kebahagiaan, ucap Alea dalam hati, dan Alea terkejut karena tiba-tiba Alea mendengar Rasya mengucapkan Amin.


"Ke_kenapa Tuan Rasya tiba-tiba mengucapkan Amin?" tanya Alea dengan tergagap.


"Alea pasti belum tau ya kalau dari kecil Rasya memiliki kelebihan bisa membaca pikiran dan mendengar isi hati seseorang," ujar Mentari.


Alea semakin merasa terkejut ketika mengetahui kebenaran tentang Rasya, apalagi sebelumnya Alea sudah memuji serta membicarakan Rasya dalam hatinya.


"Kamu tidak perlu merasa malu, aku memang ganteng, jadi kamu tidak perlu diam-diam memujiku," ujar Rasya dengan terkekeh sehingga membuat Alea merasa malu dan bersembunyi di belakang tubuh Mentari.


"Rasya, jangan godain Alea terus, kasihan Alea pasti malu," ujar Mentari dengan tersenyum bahagia ketika melihat Rasya tertawa, karena sebelumnya Rasya jarang sekali tersenyum apalagi sampai tertawa.


"Iya Kakak jail banget sih. Sana cepetan mandi, badan Kakak bau banget, Raisya jadi pengen muntah," ujar Raisya dengan melemparkan bantal pada Rasya.


Alea hanya tersenyum ketika melihat kembali kehangatan keluarga Mentari, dan Alea mengucap syukur karena sudah dipertemukan dengan Mentari dan Keluarga.


Terimakasih Tuhan, Engkau telah mengirimkan orang-orang baik ke dalam kehidupanku, karena terkadang oranglain seperti keluarga sendiri, sedangkan keluarga sendiri seperti oranglain, ucap Alea dalam hati dengan menitikkan airmata bahagia.


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2