Menantu Benalu 2

Menantu Benalu 2
Bab 131 ( Tidak bereaksi )


__ADS_3

Aira sudah beberapa kali mengajak Dimas untuk memeriksakan penyakit impoten nya kepada beberapa Dokter, tapi sampai saat ini penyakit Dimas masih belum sembuh juga, padahal semua Dokter yang memeriksa kondisi kesehatan Dimas, tidak menemukan keanehan apa pun dan menyatakan jika tubuh Dimas baik-baik saja.


"Mas, apa selama ini kamu sudah berusaha membohongiku? Mas Aksa sebenarnya tidak impoten kan? Tapi Mas merasa jijik terhadapku, makanya Mas tidak mau menyentuhku?" tanya Aira dengan menangis.


"Aira, aku tidak mungkin seperti itu. Aku tidak mungkin merasa jijik terhadap Istriku sendiri. Aku juga tidak tau kenapa tubuhku sama sekali tidak bereaksi terhadap dirimu. Kalau kamu masih tidak percaya, kamu bisa membuktikannya," ujar Dimas dengan membuka pakaian yang ia kenakan.


Aira menelan ludahnya secara kasar ketika melihat tubuh Dimas yang sudah setengah telanjang, kemudian secara perlahan Aira mendekati tubuh Dimas yang sudah terbaring di atas ranjang.


Aira mencium serta menggerayangi tubuh Dimas. Meski pun rasanya Dimas ingin sekali menolaknya, tapi semua itu tidak mungkin Dimas lakukan, karena Dimas pikir jika Aira adalah Istrinya.


Entah kenapa aku merasa tidak rela ketika Aira menyentuh tubuhku, tapi bagaimanapun juga dia adalah Istriku, biarkan dia membuktikan sendiri jika tubuhku sama sekali tidak bisa bereaksi terhadapnya, ucap Dimas dalam hati yang akhirnya hanya bisa pasrah dengan perlakuan Aira terhadapnya.


Setelah cukup lama Aira mencoba memancing hasrat Dimas, Aira begitu geram karena Dimas tidak menunjukan reaksi apa pun, begitu juga dengan bagian inti tubuhnya.


Aira yang sudah tidak tau harus melakukan apa lagi untuk memancing hasrat Dimas, akhirnya memutuskan untuk menghentikan aksinya kemudian duduk di samping Dimas dengan wajah yang frustasi.


"Aira, sekarang kamu sudah membuktikan sendiri jika aku tidak pernah membohongi kamu. Aku tau kamu pasti kecewa, dan aku ikhlas kalau memang kamu ingin meminta cerai, karena aku tidak bisa memenuhi kebutuhan biologis kamu_"


Perkataan Dimas langsung terhenti karena Aira menempelkan telunjuknya pada bibir Dimas.


"Jangan pernah bicara tentang perceraian, karena sampai kapan pun Mas Aksa hanya milik aku, dan hanya Mas Aksa satu-satunya lelaki yang aku cintai di Dunia ini. Mulai sekarang aku tidak keberatan apabila Mas Aksa tidak bisa menyentuhku, yang penting Mas Aksa selalu ada di samping ku, karena aku tidak akan pernah bisa hidup tanpa Mas Aksa," ujar Aira dengan memeluk tubuh Dimas.


Aku sudah susah payah merebut kamu dari Raisya, tidak mungkin aku melepaskan mu begitu saja. Meski pun aku tidak bisa memiliki kamu seutuhnya, tapi tidak ada satu pun yang boleh memiliki kamu karena selamanya Dimas hanya milik Aira, ucap Aira dalam hati.


......................


Sudah dua bulan ini Dimas bekerja di Perusahaan milik Teman Aira. Meski pun Dimas bekerja di bagian marketing, tapi Teman Aira tidak menyangka jika Dimas memiliki kemampuan yang begitu hebat dalam menjual produk produk perusahaan, bahkan Dimas berhasil menjual produk melebihi target penjualan.


"Aksa, ini bonus untuk kamu, karena selama dua bulan bekerja di sini, kamu sudah berhasil menjual produk melebihi target," ujar Atasan Dimas yang bernama Ridwan dengan memberikan amplop coklat yang berisi uang sebanyak sepuluh juta rupiah.


"Terimakasih banyak Tuan, saya pasti akan berusaha lebih baik lagi," ucap Dimas yang merasa bahagia karena bisa mendapatkan uang tambahan untuk keperluan Arka.

__ADS_1


"Sama-sama Aksa. Semoga bulan depan kamu bisa melebihi target lagi, supaya aku memiliki alasan untuk mengangkat kamu menjadi Manager," ujar Ridwan.


Tadinya Ridwan akan langsung mengangkat Dimas menjadi salah satu Manager di kantornya ketika Dimas pertama kali masuk ke dalam Perusahaan Ridwan, karena dulu Ridwan pernah memiliki hutang budi kepada Aira. Akan tetapi, Dimas menolaknya dan lebih memilih bekerja dari nol sebagai Karyawan marketing dengan alasan jika Dimas tidak mau memancing kecemburuan Karyawan lain yang sudah bekerja lebih lama dibandingkan dengan dirinya.


"Sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas kebaikan Tuan Ridwan, tapi saya masih belum bisa menerima jabatan sebagai Manager, karena saya masih ingin membuktikan kemampuan saya supaya tidak terjadi kecemburuan sosial di antara Karyawan lain yang lebih senior," ucap Dimas sehingga membuat Ridwan merasa kagum.


"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan kamu. Kalau memang ada masalah, kamu jangan sungkan untuk mengatakannya kepada saya," ujar Ridwan, dan Dimas tersenyum serta menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


......................


Fajar memanggil Rasya dan Alea ke dalam ruang kerjanya, karena Fajar ingin menyampaikan keputusan yang telah dirinya dan Papa Wisnu sepakati.


"Rasya, Alea, Tadi Ayah sudah berbicara dengan Tuan Wisnu, dan kami sudah sepakat akan menikahkan kalian besok," ujar Fajar.


"Apa?"


Teriak Alea dan Rasya secara bersamaan, karena keduanya tidak menyangka jika mereka akan menikah secepat itu.


"Tidak."


Ucap Alea dan Rasya secara bersamaan.


"Lalu kapan kalian ingin melangsungkan pernikahan?" tanya Fajar lagi.


"Setuju,"


Ucap Alea dan Rasya secara bersamaan lagi, sehingga membuat Fajar merasa bingung.


"Ayah tidak mengerti maksud kalian. Kalian setuju atau tidak?"


"Kami setuju,"

__ADS_1


Jawab Alea dan Rasya secara bersamaan lagi, sehingga membuat Fajar bisa bernafas lega.


"Hmmmm, Ayah pikir kalian masih belum siap untuk menikah, tapi sepertinya kalian sudah ngebet, bahkan dari tadi kalian jawabnya barengan terus," goda Fajar, sontak saja perkataan Fajar membuat Alea dan Rasya tersipu malu dan terlihat salah tingkah.


Rasya dan Alea ke luar dari ruang kerja Fajar, kemudian Rasya mengajak Alea untuk pergi ke suatu tempat.


"Mas, apa kita masih ada meeting? Kenapa Mas mengajak saya ke luar?" tanya Alea yang merasa heran, karena saat ini mereka sudah tidak memiliki jadwal meeting.


"Besok kita akan menikah, jadi aku ingin membawa kamu k suatu tempat," jawab Rasya.


"Mas, jika tujuan Mas ingin membawa Alea belanja, sebaiknya itu tidak perlu, apalagi sekarang masih jam kerja."


"Siapa juga yang ingin mengajak kamu belanja? Kita tidak perlu mempersiapkan apa pun, karena barusan Bunda mengirimkan pesan kalau semuanya sudah siap."


"Kalau bukan pergi belanja, kita mau pergi ke mana?" tanya Alea yang merasa penasaran.


"Sebelum kita menikah, kita harus meminta ijin dulu kepada dua orang yang sangat penting dalam hidup kita. Sebaiknya sekarang kamu tidur saja, nanti kalau sudah sampai aku bakalan bangunin kamu," ujar Rasya sehingga membuat Alea semakin merasa penasaran.


Alea yang memang sudah mengantuk akhirnya tertidur, dan setelah satu jam perjalanan, Rasya membangunkan Alea.


"Alea, kita sudah sampai," ucap Rasya.


Secara perlahan Alea mulai membuka matanya, dan Alea begitu terkejut ketika melihat sebuah tempat yang saat ini berada di hadapannya.


"Mas Rasya, ini?" tanya Alea dengan menangis.


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2