
Saat ini Hilman dan Ratu sudah sah menjadi Suami Istri secara Agama, dan Lukman begitu geram karena tidak bisa menghentikan pernikahan Hilman dan Ratu yang terjadi di depan mata kepalanya sendiri.
"Hilman, Kakak kecewa sama kamu. Bisa-bisanya kamu menikahi Anak dari musuh kita. Hilman, Ratu, kalian berdua harus ingat, jika pernikahan kalian tidak akan pernah membawa kebahagiaan," teriak Lukman, kemudian mengajak Anak buahnya ke luar dari Pesantren.
Ratu menangis ketika mendengar sumpah serapah yang di ucapkan oleh Lukman, tapi Hilman berusaha untuk menenangkannya.
"Ratu, pernikahan kita terjadi karena sudah ditakdirkan oleh Allah SWT, jadi Mas harap, Ratu jangan pernah mendengarkan perkataan Kak Lukman," ujar Hilman dengan membawa Ratu ke dalam pelukannya.
"Perkataan Hilman benar Ratu. Sekarang kalian berdua sudah menjadi Suami Istri. Apa pun yang terjadi ke depannya, Abi harap kalian bisa selalu saling percaya supaya bisa melewati semua ujian yang datang, karena sejatinya, dalam setiap rumah tangga pasti akan ada saja ujian."
"Ratu, Hilman, semoga kalian berdua menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah ya," ucap Umi Khadijah.
Semuanya bergantian mengucapkan selamat dan do'a kepada kedua mempelai, kemudian Hilman meminta ijin kepada Abi Umar selaku Pimpinan Pondok Pesantren untuk membawa Ratu pulang ke rumah mereka yang sebelumnya sudah Hilman persiapkan.
"Abi, Umi, Hilman meminta ijin kepada Umi dan Abi untuk membawa Ratu pulang ke rumah kami, karena kebetulan Hilman sudah lama menyiapkan rumah sederhana yang akan kami tinggali."
"Nak, sekarang Ratu sudah menjadi tanggung jawab Hilman di Dunia dan Akhirat, jadi kemana pun Hilman akan membawa Ratu, Hilman tidak perlu meminta ijin lagi kepada kami. Akan tetapi, kalian berdua harus ingat, apabila kalian berdua memiliki masalah, jangan sungkan untuk datang ke sini, karena Pondok Pesantren kami akan selalu terbuka untuk kalian," ucap Abi Umar.
"Makasih banyak Abi, Umi, semuanya," ucap Hilman dan Ratu secara bersamaan.
Setelah selesai membereskan pakaian, Ratu dan Hilman berpamitan kepada semuanya untuk membuka lembaran baru dalam kehidupan mereka.
......................
Saat di perjalanan pulang, Lukman terus berteriak untuk melampiaskan amarahnya, dan Lukman bersumpah akan menghancurkan hidup Ratu.
"Aku bersumpah akan menghancurkan hidup kamu Ratu. Buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya. Dulu Ibunya sudah menghancurkan hidup aku dan Ibuku, dan sekarang Anaknya sudah menghancurkan keluargaku," ujar Hilman dengan mengepalkan kedua tangannya.
Miranda bergegas ke luar dari dalam kamar untuk menghampiri Lukman, ketika mendengar suara mobil Lukman memasuki pekarangan rumah.
"Nak, kemana Hilman? Kenapa dia tidak ikut pulang sama kamu?" tanya Miranda.
Lukman tiba-tiba bersimpuh di bawah kaki Miranda, karena Lukman merasa sangat bersalah kepada Ibunya.
"Ma, maafin Lukman. Lukman telah gagal mencegah pernikahan Hilman dan Ratu," ucap Lukman.
__ADS_1
"A_apa? Tidak, tidak mungkin Hilman menikah dengan Anak perempuan ja*lang itu. Mama tidak rela, Mama tidak akan pernah rela," teriak Miranda.
Miranda yang begitu syok mendengar berita pernikahan Hilman dan Ratu akhirnya pingsan.
"Ma, bangun Ma. Mama kenapa?" tanya Lukman dengan memeluk tubuh Miranda, kemudian Lukman berteriak memanggil Anak buahnya untuk membantu membawa Miranda ke Rumah Sakit.
......................
Ratu dan Hilman saat ini sudah berada di depan rumah minimalis yang sebelumnya dibeli oleh Hilman hasil dari kerja kerasnya.
Tanpa sepengetahuan Lukman dan Miranda, dari sejak duduk di bangku SMA, Hilman sudah berjualan online pakaian dan barang-barang lainnya supaya bisa menghasilkan uang sendiri, karena Hilman ingin hidup mandiri tanpa bergantung kepada keluarganya.
"Selamat datang di rumah kita sayang. Maaf kalau Mas baru bisa memberikan rumah yang kecil ini untuk tempat tinggal kita," ucap Hilman dengan malu-malu, karena baru kali ini Hilman membawa seorang perempuan ke rumahnya.
Ratu tersenyum bahagia ketika melihat rumah minimalis yang terlihat bersih dan rapi di hadapannya.
"Terimakasih banyak ya Mas. Ini semua sudah lebih dari cukup, dan Ratu bahagia karena akhirnya kita bisa bersatu dalam ikatan suci pernikahan," ucap Ratu dengan tertunduk, karena Ratu masih merasa malu-malu juga.
Hilman tiba-tiba mengangkat tubuh Ratu, dan Ratu menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Hilman.
"Sekarang kita sudah menjadi Suami Istri. Apa pun yang terjadi, kita akan melewatinya bersama. Sebaiknya sekarang kita Shalat Isya berjamaah dulu," ujar Hilman dengan membantu membuka jilbab yang Ratu kenakan.
Hilman menatap lekat wajah cantik Ratu, kemudian Hilman mengecup sekilas keningnya sebelum pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Ketika Hilman ke luar dari dalam kamar mandi, Ratu sudah menggelar sajadah untuk mereka Shalat berjamaah.
Ratu begitu bahagia karena ini adalah pertama kalinya Hilman menjadi imam Shalatnya, dan akhirnya Ratu bisa menikah dengan sosok lelaki yang saleh.
Setelah selesai Shalat, Ratu mencium punggung tangan Hilman, kemudian Hilman mencium kening Ratu.
Ketika ciuman Hilman turun ke bibir Ratu, tiba-tiba handphone Hilman berbunyi, dan ternyata itu adalah telpon dari Lukman.
Baru juga Hilman mengangkat telpon nya, dan ingin mengucapkan salam, Lukman sudah berteriak memarahi Hilman.
📞"Dasar Anak durhaka, gara-gara kamu sekarang Mama masuk Rumah Sakit," teriak Lukman.
__ADS_1
📞"A_apa. Kakak tidak sedang berbohong kan?" tanya Hilman, karena Hilman mengira jika Lukman berbicara seperti itu hanya untuk mengganggu malam pertamanya.
📞"Hilman, aku memang bukan orang baik, tapi aku tidak akan menyumpahi Mama sakit. Apa kamu pikir aku membohongi kamu hanya untuk mengganggu malam pertama kamu dengan ja*lang yang baru kamu nikahi?"
📞"Cukup Kak. Sekarang Ratu adalah Istri Hilman, tidak sepantasnya Kakak berbicara seperti itu."
📞"Sudahlah Hilman, saat ini aku tidak mau berdebat sama kamu. Kalau memang kamu masih peduli sama Mama, sekarang juga kamu datang ke Rumah Sakit Pratama," ujar Lukman, kemudian menutup telponnya.
Hilman merasa bingung, karena Hilman tidak mungkin meninggalkan Ratu sendirian, tapi Hilman juga tidak mungkin membawa Ratu ke Rumah Sakit.
"Mas, apa boleh Ratu ikut Mas ke Rumah Sakit? Ratu ingin meminta maaf secara langsung kepada Mama Miranda atas kesalahan yang telah dilakukan oleh mendiang Mama Jingga."
"Sayang, tapi saat ini bukan waktu yang tepat. Mas tidak mau kalau Kak Lukman dan Mama menyakiti Ratu, tapi Mas juga bingung, karena Mas tidak mungkin meninggalkan Ratu sendirian di sini."
"Mas, kita tidak akan tau kalau kita tidak mencobanya. Apa pun yang terjadi, kita akan melewatinya bersama," ujar Ratu dengan menggenggam erat tangan Hilman.
Hilman akhirnya mengajak Ratu ke Rumah Sakit, meski pun saat ini perasaan keduanya tidak menentu, karena sudah pasti Miranda dan Lukman akan menentang keras pernikahan Ratu dan Hilman.
Ketika Hilman dan Ratu sampai di depan kamar perawatan Miranda, Lukman langsung berdiri di depan pintu untuk menghalangi Ratu dan Hilman masuk.
"Hilman, apa kamu ingin membuat Mama mati? Bisa-bisanya kamu membawa perempuan ja*lang ini menemui Mama. Sekarang juga kamu tinggalkan dia di sini, kalau tidak, aku tidak akan membiarkan kamu masuk," teriak Lukman.
Hilman memegang erat tangan Ratu, karena Hilman tidak akan pernah meninggalkan Ratu sendirian, apalagi sebelumnya Lukman dan Miranda sudah berniat untuk menculik Ratu.
"Apa pun yang terjadi, Hilman tidak akan pernah meninggalkan Ratu sendirian. Jika memang Kakak tidak memperbolehkan Ratu ikut masuk, Hilman juga tidak akan masuk."
"Mas, sebaiknya Mas Hilman masuk saja, Ratu akan menunggu Mas di sini."
"Tidak Ratu, meski pun Mama adalah Ibu yang telah melahirkan aku ke Dunia ini, tapi sekarang kamu sudah menjadi tanggung jawab Dunia dan Akhiratku, dan aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyentuh Istriku, termasuk Kak Lukman."
*
*
Bersambung
__ADS_1