
Raisya tampak merenungi kata-kata Rayna.
"Iya juga sih, kalau di Singapura ada peluang diizinin, soalnya nanti Raisya bisa tinggal sama Kak Dita. Yang penting Raisya bisa menghindari Kak Dimas saja, siapa tau secara perlahan perasaan Raisya kepada Kak Dimas akan hilang kalau kita tinggal berjauhan."
"Bukannya dari dulu juga kalian tinggal berjauhan ya, tetep aja kan rasa cinta Raisya untuk Kak Dimas semakin besar," ujar Rayna.
Raisya tampak tertegun, karena dia tidak tau harus berbuat apa untuk menghapus perasaannya terhadap Dimas yang semakin hari semakin besar.
"Ya udah kalau gitu kita siap-siap sekarang aja Kak, aku jadi males kalau bahas dia, yang ada aku pengen deket terus sama dia dan lebih susah melupakannya," ujar Raisya dengan mengusap rambutnya secara kasar.
"Ya udah sekarang kita ganti bajunya ya My Princess," ujar Rayna kemudian mengganti baju juga.
......................
Saat ini Dimas terus saja merenung, dia masih memikirkan tentang sikap Raisya kepadanya yang tiba-tiba berubah.
"Apa benar ya kalau Raisya emang naksir sama aku? tapi kalau aku tanya langsung, Raisya pasti bakalan marah dan bilang kalau aku terlalu Percaya diri," gumam Dimas.
"Tapi aku penasaran sekali, selama ini aku memang sudah mengganggap Raisya sebagai My Princess, tapi perasaan itu hanya sebatas Kakak kepada Adiknya," sambung Dimas.
Karena acara akan segera dimulai, semua orang kini telah berkumpul di tempat acara yang masih dilaksanakan di kediaman Fajar.
Fajar dan Mentari selalu menjadi pusat perhatian, karena selalu nampak serasi dalam segala hal.
"Ini dia Raja dan Ratu kita sudah datang," ucap pembawa acara, dan acara pun di mulai dengan kata Basmalah.
__ADS_1
Serangkaian acara telah mereka lalui dengan lancar, sampai yang terakhir adalah acara santunan kepada Anak Yatim dan Fakir miskin.
Dimas menjadi pusat perhatian semua gadis, wajahnya yang tampan kini menjadi incaran kaum hawa yang berusaha ingin mengenalnya, begitu juga dengan Ratu yang saat ini datang bersama Stella, karena daritadi Ratu terus saja mendekati Dimas serta mengajak Dimas kenalan, sehingga membuat Dimas merasa risih, begitu juga dengan Raisya yang terlihat cemberut.
Mentari dan Fajar yang sudah menduga tentang perasaan Raisya terhadap Dimas tidak pernah mau ikut campur, karena itu menyangkut masalah hati, jadi baik Mentari atau pun Fajar menyerahkan masalah semuanya terhadap Anak-anak mereka.
Setelah semuanya selesai, para tamu undangan satu persatu pulang, dan yang tersisa hanya keluarga inti saja.
Dimas selalu takjub melihat keharmonisan keluarga Mentari dan Fajar, sampai akhirnya Dimas bercanda untuk meminta resep keharmonisan rumah tangga Mentari dan Fajar.
"Om sama Tante udah 17 tahun menikah masih saja lengket kayak perangko, apa sih rahasianya?" goda Dimas.
"Kamu juga nanti akan tau ketika sudah menikah dengan perempuan yang kamu cintai," jawab Fajar.
Dimas daritadi terus melirik ke arah Raisya dan Rayna, dia bingung tentang perasaannya terhadap Rayna yang sudah mulai tumbuh benih-benih cinta, begitu juga kepada Raisya, karena Dimas merasa tidak enak dengan perasaan Raisya jika sampai nanti dia menyatakan cintanya kepada Rayna.
Kasihan juga Raisya kalau sampai Kak Dimas naksir sama Kak Rayna, bagaimanapun juga Raisya sudah mempunyai perasaan kagum kepada sosok Kak Dimas dari kami masih kecil, dan dari rasa kagum itu berubah jadi rasa suka dan bahkan cinta setelah dia dewasa, batin Rasya.
Semua keluarga terdengar bercanda dan tertawa, sampai akhirnya tawa mereka terhenti karena perkataan Raisya.
"Ayah, Bunda, Raisya mau ijin untuk kuliah di luar negeri," ujar Raisya sehingga membuat semuanya merasa terkejut.
"Sayang, kenapa Raisya bisa mempunyai keinginan untuk kuliah di luar negeri, bukannya dari dulu Raisya tidak bisa jauh dari Ayah dan Bunda? belum lagi sekarang sudah ada Kak Dimas yang akan tinggal di sini dan akan selalu menjaga Raisya, padahal dari dulu Raisya ingin dekat sama Kak Dimas kan?" tanya Mentari yang merasa khawatir terhadap keinginan Raisya yang tiba-tiba.
"Raisya ingin mempunyai pengalaman Bunda."
__ADS_1
"Bukannya di Indonesia juga banyak Kampus yang bagus, kenapa harus jauh-jauh ke luar negeri sih Nak?" tanya Mentari yang tidak ingin jauh dari Anaknya.
Fajar yang melihat kegelisahan pada diri Mentari dan Raisya berusaha untuk menengahinya.
"My Princess, sebaiknya sekarang kita berbicara berdua dulu ya, Ayah ingin tau yang sebenarnya terjadi, jadi My Princess tidak boleh berbohong sama cinta pertama My Princess ini," ujar Fajar.
Bagi seorang Anak perempuan, sosok Ayah merupakan cinta pertamanya, begitu juga dengan Raisya, meskipun Fajar bukan Ayah kandungnya, tapi dari semenjak Raisya dan Rasya dilahirkan ke Dunia ini, bagi mereka Fajar adalah Ayah yang sebenarnya.
Seperti biasanya, jika Raisya mempunyai masalah, apa pun itu, Raisya selalu curhat kepada Fajar, sedangkan Rasya akan menceritakan semuanya kepada Mentari.
Fajar dan Raisya saat ini sudah berada di Taman yang berada di belakang rumah mereka, Raisya masih terlihat diam dan nampak enggan untuk membicarakan semua masalahnya terhadap Fajar, karena bagaimanapun juga Dimas adalah keponakan Fajar, tapi Fajar yang sudah bisa menebak jika Raisya berusaha untuk menghindari Dimas, akhirnya angkat suara.
"Sayang, apa Raisya memutuskan untuk kuliah di luar negeri karena berusaha untuk menghindari Kak Dimas?" tanya Fajar, sehingga membuat Raisya merasa terkejut karena Fajar selalu bisa menebaknya.
"Kenapa Ayah selalu tau apa yang Raisya rasakan, jadi Raisya kan gak bisa bohong sama Ayah."
"Buat apa Raisya bohong, Ayah sama Bunda kan selalu ngajarin Raisya jujur. Dari Raisya kecil juga Ayah selalu tau apa yang Raisya rasakan, karena kita sudah mempunyai ikatan batin."
Raisya langsung saja memeluk tubuh Fajar, dan menumpahkan tangisannya dalam pelukan Ayah tercinta.
"Menangislah Nak, dengan begitu perasaan Raisya akan sedikit lebih tenang," ucap Fajar dengan mengelus lembut kepala Raisya.
Setelah Raisya menumpahkan semuanya lewat tangisan, Raisya kini memulai menceritakan semuanya kepada Fajar.
"Yah, cinta Raisya bertepuk sebelah tangan, Raisya selama ini terlalu berharap banyak kepada Kak Dimas. Raisya kira Kak Dimas mempunyai perasaan yang sama terhadap Raisya, tapi sepertinya selama ini Kak Dimas hanya menganggap Raisya sebagai Adiknya saja," ujar Raisya dengan menahan sesak dalam dadanya.
__ADS_1
"Ayah tau bagaimana rasanya cinta bertepuk sebelah tangan, karena dulu perasaan Ayah terhadap Bunda juga begitu, Ayah sudah jatuh cinta kepada Bunda sebelum Bunda menikah dengan Ayah Angga, tapi Ayah tidak pernah berusaha untuk mengungkapkannya, dan hanya mencintainya dalam diam, sampai akhirnya takdir mengatakan lain, dan Bunda saat itu menikah dengan Ayah Angga."