Menantu Benalu 2

Menantu Benalu 2
Bab 66 ( Karma Jingga )


__ADS_3

Mentari dan Fajar masih menunggu Dokter keluar dari ruang tindakan, dan beberapa saat kemudian, Dokter akhirnya terlihat keluar.


"Dok, bagaimana keadaan Kak Jingga?" tanya Mentari.


Dokter akhirnya angkat suara setelah beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar.


"Keadaan Pasien saat ini masih kritis, belum lagi Pasien menderita patah tulang pada kedua kakinya, dan untuk benturan pada kepalanya entah apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi yang pasti untuk saat ini kami harus segera melakukan amputasi pada kedua kakinya," jelas Dokter.


"Innalillahi, kenapa bisa separah itu. Dok lakukan yang terbaik untuk Kakak saya," ujar Mentari.


"Kalau begitu Nyonya bisa segera mengurus administrasi, dan saya akan segera melakukan tindakan," ujar Dokter kemudian berlalu meninggalkan Mentari yang saat ini menangis dalam pelukan Fajar.


"Bunda yang sabar ya, meskipun Ayah tidak suka dengan kelakuan Jingga, tapi Ayah juga tidak mengharapkan jika dia akan mengalami semua ini," ucap Fajar dengan mengelus punggung Mentari.


"Semoga saja Kak Jingga bisa menerima semuanya Yah, karena Bunda takut jika Kak Jingga akan semakin terpukul dan tidak bisa menerima takdir yang terjadi kepadanya."


"Kita hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk Jingga, kalau begitu sekarang kita urus dulu administrasinya," ujar Fajar.


Setelah selesai mengurus semua administrasi, Dokter akhirnya melakukan tindakan kepada Jingga dengan mengamputasi kedua kakinya sampai lutut.


Mentari dan Fajar masih setia menunggu Jingga di depan ruang operasi sampai akhirnya Operasi selesai dan Jingga dipindahkan ke ruang perawatan.


Setelah Jingga dipindahkan ke ruang perawatan, Bu Rima menelpon Mentari supaya Mentari dan Fajar bertukar dengan Bu Rima yang akan menunggui Jingga.


"Bu, maaf ya Mentari tidak bisa membantu Ibu mengurus Kak Jingga, tapi Mentari sudah menelpon karyawan di toko, dan menyuruh salah satunya untuk membantu Ibu di sini."


"Iya gak apa-apa Nak, kasihan Rasya dan Raisya kalau kalian berdua tinggal terus, lagian kalian juga harus mengecek keadaan kaki Raisya kan. Kalau begitu Ibu sekarang ke ruangan Jingga ya," ujar Bu Rima.


Mentari saat ini masih melamun memikirkan keadaan Jingga yang sudah cacat, karena Mentari takut jika Jingga tidak bisa menerima semuanya, dan mungkin Jingga akan semakin membenci keluarga Mentari.


Fajar saat ini sedang mengajak main Rasya dan Raisya, sampai akhirnya kedua Anaknya tertidur setelah Fajar membacakan dongeng, karena kebetulan kamar perawatan tersebut memiliki dua kasur yang pernah dipakai untuk perawatan Ratu.

__ADS_1


Fajar yang melihat Mentari terus melamun pun akhirnya menghampiri Mentari.


"Sayang, Bunda kenapa melamun terus?" tanya Fajar.


Mentari langsung saja menyandarkan kepalanya pada bahu Fajar.


"Yah, entah kenapa Bunda saat ini merasa takut. Bunda takut kalau Kak Jingga akan semakin membenci keluarga kita, Bunda takut kalau_," ucapan Mentari terhenti karena Fajar menempelkan telunjuknya pada bibir Mentari.


"Jangan pernah takut pada sesuatu yang belum pasti, kita harus selalu yakin kalau Allah SWT tidak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan Umat-Nya. Bunda sendiri kan yang selalu berbicara seperti itu kepada Ayah?"


Mentari memikirkan perkataan Fajar yang ada benarnya juga.


"Makasih banyak ya Yah, Ayah sudah mengingatkan Bunda."


"Bunda jangan pernah merasa takut ya, apa pun yang terjadi, kita akan selalu menghadapinya bersama," ucap Fajar, kemudian mencium kening Mentari.


"Sekarang sebaiknya kita istirahat, mungpung Anak-anak lagi tidur juga," sambung Fajar, kemudian merebahkan tubuhnya dan Mentari di atas sofa yang cukup besar, Fajar kemudian memeluk istri tercintanya sampai akhirnya mereka berdua masuk ke dalam alam mimpi.


Bu Rima saat ini sudah berada di dalam kamar perawatan Jingga dengan dibantu oleh Karyawan toko nya yang bernama Rani.


Bu Rima terus saja menangis melihat keadaan Jingga yang sudah tidak mempunyai kedua kaki. Meskipun Bu Rima selalu kecewa dengan semua yang telah Jingga perbuat, tapi Bu Rima tetap menyayangi Jingga, karena bagaimanapun juga Jingga adalah Anak kandungnya.


Secara perlahan Jingga mulai membuka matanya.


"Kenapa semuanya gelap? dimana aku? tolong nyalakan lampunya," teriak Jingga.


"Kamu tenang dulu Nak, Ibu akan segera memanggil Dokter," ujar Bu Rima yang langsung menekan tombol untuk memanggil Dokter.


"Silahkan duduk Bu, biar kami periksa dulu keadaan Pasien," ujar Dokter kepada Bu Rima.


"Bu Rima akhirnya duduk di sofa bersama Rani.

__ADS_1


"Dok, kenapa semuanya gelap? kenapa saya tidak bisa melihat apa pun?" tanya Jingga dengan menangis histeris.


"Ibu sabar dulu ya, kami akan memeriksa keadaan Ibu terlebih dahulu," ujar Dokter, kemudian memeriksa mata Jingga dan juga seluruh tubuhnya.


"Maaf Bu, sepertinya benturan pada kepala Anda menyebabkan mata Anda tidak bisa melihat lagi," ujar Dokter.


"Tidak, tidak mungkin, semua ini tidak mungkin terjadi kepadaku," teriak Jingga, kemudian memaksa untuk turun dari ranjangnya. Jingga langsung saja terjatuh dari ranjang karena saat ini dia sudah tidak mempunyai kaki.


Jingga semakin berteriak histeris pada saat meraba kakinya yang juga sudah tidak ada lagi.


"Kemana kaki saya Dok? kenapa sekarang saya juga tidak mempunyai kaki?" tanya Jingga yang merasa syok saat mengetahui keadaannya saat ini.


Dokter dan Perawat kini membantu Jingga untuk duduk di atas ranjang.


"Maaf Bu, kami terpaksa melakukan amputasi terhadap kaki Ibu, karena kaki Ibu mengalami patah tulang yang sudah tidak bisa disembuhkan lagi," jawab Dokter.


Saat ini Jingga sudah sembuh dari gangguan mental yang dia alami, tapi sekarang Jingga mendapatkan hukuman yang lebih besar atas semua kejahatan yang telah ia perbuat selama ini.


"Tidak mungkin, aku tidak mungkin jadi cacat seperti kedua Anak Si Mentari," teriak Jingga.


"Istighfar kamu Nak, kamu harus bisa menerima semua takdir yang telah Allah berikan, dan mungkin saja semua ini adalah teguran dari Allah, karena selama hidup kamu selalu berbuat jahat bahkan kepada Adik kandung kamu sendiri. Kamu juga sudah menghina Rasya dan Raisya yang terlahir dengan keadaan lumpuh dan buta, tapi asal kamu tau, kalau sekarang kedua Anak Mentari sudah normal karena Rasya sudah mendapatkan donor mata dari Angga dan karena perbuatan kamu yang ingin mencelakai Raisya, sekarang Raisya juga sidah bisa berjalan," ujar Bu Rima.


Jingga hanya bisa menangis meratapi nasibnya.


"Kenapa kalian tidak membiarkan aku mati saja? percuma aku hidup jika aku harus menjadi orang cacat, aku tidak mau, lebih baik aku mati saja," teriak Jingga dengan menangis histeris.


Plak


Bu Rima saat ini menampar pipi Jingga.


"Dengar Jingga, kamu harus tau, bahwa kematian bukanlah akhir dari kehidupan, tapi kematian adalah awal dari kehidupan abadi yang akan kita jalani di akhirat nanti. Kita akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang telah kita perbuat selama hidup. Harusnya kamu bersyukur, karena Allah SWT sayang sama kamu, sehingga kamu masih diberikan kesempatan untuk bertaubat sebelum kamu meninggal," ujar Bu Rima yang sudah merasa kesal dengan semua perkataan Jingga.

__ADS_1


__ADS_2