
Fajar dan Rasya mengurus administrasi kepulangan jenazah Rayna, sedangkan Dimas dan Raisya dipanggil oleh Dokter Anak yang menangani bayi Rayna.
"Dok, bagaimana kondisi kesehatan bayi kami?" tanya Raisya.
Dokter sebenarnya merasa heran karena Raisya mengakui bayi yang dilahirkan oleh Rayna sebagai Anaknya.
"Kondisi bayi dalam keadaan sehat, tapi karena lahir prematur, bayi masih harus berada di dalam inkubator sampai bobot tubuh bayi bertambah," jelas Dokter.
"Kalau begitu lakukan yang terbaik untuk bayi kami," ujar Dimas.
Dimas dan Raisya memutuskan tinggal di Rumah Sakit karena bayi Rayna masih belum diperbolehkan pulang, sedangkan yang lainnya berencana untuk membawa jenazah Rayna ke kediaman Fajar dan Mentari.
Fajar tidak tenang karena harus meninggalkan Raisya dan Dimas hanya berduaan saja. Sampai akhirnya Fajar memberikan usul untuk menikahkan keduanya secara Agama dulu.
"Bunda, sebenarnya Ayah tidak tenang jika kita meninggalkan Raisya dan Dimas berduaan, bagaimanapun juga keduanya masih belum menjadi muhrim."
"Tapi mau bagaimana lagi Yah, saat ini situasinya tidak memungkinkan jika Bunda tinggal di Rumah Sakit untuk menemani mereka, Rasya juga besok ada ujian, sedangkan Mama Sandra sedang menemani Stella pergi ke luar kota," ujar Mentari.
"Ayah tau jika ini bukan waktu yang tepat, bagaimana kalau kita menikahkan Dimas dan Raisya secara Agama dulu? Meski pun Ayah tidak bisa menjadi Wali nikah untuk Raisya, tapi Rasya bisa menjadi Wali nikah nya," usul Fajar.
Setelah Mentari melakukan diskusi bersama Rasya dan kedua orangtuanya, semuanya memutuskan untuk menyetujui usul Fajar.
"Kalau begitu sekarang Rasya akan mencari Penghulu yang berada di sekitar Rumah Sakit, nanti Rasya akan memberi kabar kalau sudah menemukannya," ujar Rasya kemudian melangkahkan kaki nya ke luar dari Rumah Sakit setelah mencium punggung tangan kedua orangtua serta Kakek dan Neneknya.
Beberapa saat kemudian, Dimas dan Raisya menghampiri keluarganya setelah selesai konsultasi dengan Dokter Anak.
"Dimas, Raisya, kami sudah memutuskan, saat ini juga kalian berdua harus menikah. Apalagi kita tidak tau sampai kapan kalian harus menunggu bayi Rayna bisa di ijinkan pulang," ujar Fajar.
Raisya dan Dimas begitu terkejut mendengar perkataan Fajar, apalagi saat ini keduanya masih berduka atas meninggalnya Rayna.
"Tapi Yah, saat ini kita semua masih berduka cita, bahkan jenazah Kak Rayna saja masih belum dikebumikan."
"Kami tau jika saat ini bukan waktu yang tepat, tapi kami tidak punya pilihan lain."
"Om, Dimas pasti akan menjaga Raisya, Dimas juga tidak akan mungkin melakukan sesuatu yang kurang ajar kepada Raisya, apalagi sampai melewati batas."
"Ayah melakukan itu bukan berarti tidak percaya kepada kalian berdua. Akan tetapi, bagaimanapun juga kalian berdua masih belum muhrim. Jadi, supaya kami merasa lebih tenang untuk meninggalkan kalian, sebaiknya kami menikahkan kalian, meski pun hanya bisa menikah secara Agama dulu."
Di satu sisi Dimas dan Raisya masih merasa sedih dengan kepergian Rayna, tapi di sisi lain, mereka bahagia karena akhirnya bisa bersatu dalam ikatan suci pernikahan.
"Dimas bagaimana Raisya saja. Kalau memang Raisya masih belum siap menikah dengan Dimas, Raisya bisa ikut pulang bersama kalian, biar Dimas sendiri saja yang menjaga Anak Dimas," ujar Dimas yang tidak mau Raisya merasa terpaksa jika pernikahan mereka harus dilakukan secara dadakan.
Raisya terlihat berpikir, karena dari dulu Raisya selalu memimpikan jika Dimas bisa menjadi Suaminya.
"Raisya sudah siap menikah dengan Kak Dimas, bagaimanapun juga sebelumnya kita sudah berencana untuk menikah. Meski pun saat ini bukan waktu yang tepat, tapi perkataan Ayah benar, kita masih belum menjadi muhrim, jadi sebaiknya kita menikah dari pada nanti timbul fitnah," ucap Raisya dengan mantap.
__ADS_1
Hati Dimas berbunga-bunga mendengar keputusan Raisya, dan semua itu masih seperti mimpi untuk Dimas.
"Apa Raisya sudah yakin? Jika kita menikah sekarang, kita tidak bisa mengadakan pesta pernikahan, dan Kak Dimas takut Raisya menyesal, apalagi usia kita terpaut jauh," ujar Dimas yang merasa minder menikah dengan perempuan yang memiliki usia jauh lebih muda darinya.
"Apa perbedaan usia bisa menghalangi seseorang untuk saling mencintai? Menurut Raisya, perbedaan usia bukanlah hal yang penting, asalkan kita berdua saling mencintai, dan Raisya tidak menginginkan pesta pernikahan," ucap Raisya dengan tertunduk malu.
"Nanti kita masih bisa melakukan resepsi pernikahan kalau Anak Dimas sudah diijinkan pulang. Kalau begitu, sekarang kita harus bergegas ke rumah Penghulu, barusan Rasya sudah memberi kabar kalau Rasya sudah berhasil menemukan rumah Penghulu yang berada tidak jauh dari Rumah Sakit," ujar Fajar.
......................
Dimas dan Raisya saat ini sudah berada di depan Penghulu, dan Rasya yang akan menjadi Wali nikah untuk Raisya.
Setelah semuanya siap, Dimas menjabat tangan Rasya untuk mengucap kabul pernikahan.
Dimas mengucap ijab kabul pernikahan dengan lantang, setelah itu para Saksi mengucapkan Sah pada pernikahan keduanya.
Mentari dan yang lainnya menitikkan airmata bahagia ketika melihat Raisya dan Dimas yang sudah resmi menjadi Suami Istri.
Raisya mencium punggung tangan Dimas yang telah resmi menjadi Suaminya, dan Raisya tidak menyangka ketika Dimas tiba-tiba memasukan cincin pernikahan pada jari manis tangan kanannya.
"Kapan Kak Dimas mempersiapkan semua ini?" tanya Raisya.
"Kak Dimas tadinya mempersiapkan ini untuk melamar Raisya, tapi ternyata sekarang kita sudah sah menjadi Suami Istri. Terimakasih ya, karena Raisya sudah bersedia menjadi Istri Kak Dimas."
Dimas meminta Raisya supaya memasukan cincin pernikahan juga pada jari manis tangan kanannya. Setelah itu Dimas mencium kening Raisya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Udah jangan lama-lama Dimas, apa kamu tidak malu sama kami?" celetuk Fajar, dan Dimas yang merasa malu terlihat salah tingkah.
"Sudah Yah, jangan godain mereka, sekarang mereka sudah sah menjadi Suami Istri, jadi kita tidak perlu mencemaskan mereka lagi," ujar Mentari.
"Dimas, kami titip Raisya ya, semoga pernikahan kalian selalu diberikan kebahagiaan," ucap Fajar.
"Bunda percaya kalau Dimas akan selalu menjaga Raisya dengan baik. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Saling mencintai hingga maut yang memisahkan," ucap Mentari yang di Amini oleh semuanya.
Semuanya bergantian mengucapkan selamat dan do'a kepada Dimas dan Raisya sebelum pulang membawa jenazah Rayna ke rumah duka.
Raisya menangis dalam pelukan Dimas ketika melihat mobil Ambulance pergi membawa jenazah Rayna, karena Raisya ingin sekali mengantar Rayna menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
Selamat jalan Kak Rayna, semoga Kak Rayna bisa beristirahat dengan tenang, dan selalu bahagia di alam sana. Maaf Raisya tidak bisa mengantar Kakak sampai tempat peristirahatan terakhir, tapi Raisya berjanji akan selalu menjaga dan menyayangi Anak Kak Rayna seperti Anak kandung Raisya sendiri, ucap Raisya dalam hati.
Dimas mengajak Raisya makan sebelum mereka kembali masuk ke Rumah Sakit.
"Sayang, sebaiknya kita makan dulu. Raisya mau makan apa?" tanya Dimas.
"Raisya lagi gak nafsu makan Kak, kalau Kak Dimas lapar, makan saja sendiri, Raisya mau menunggu Baby Al di luar ruang bayi."
__ADS_1
Untuk sementara, Raisya memanggil nama Bayi Rayna dengan sebutan Baby Al, karena Raisya dan Dimas masih belum memiliki nama yang cocok.
"Sayang, tadi pagi Raisya cuma makan sedikit, Kakak gak mau ya kalau Raisya sampai sakit," ujar Dimas, kemudian menarik tangan Raisya menuju sebuah warung bakso yang tidak jauh dari Rumah Sakit.
Dimas memesan dua mangkok bakso, dan Dimas tau betul jika Raisya hanya suka makan bakso memakai toge dan sayur.
"Sekarang Raisya makan baksonya mumpung masih panas," ujar Dimas dengan menyuapi Raisya.
Raisya terharu karena Dimas masih mengingat semua makanan yang Raisya suka.
"Makasih ya Kak, biar Raisya makan sendiri, Kak Dimas juga harus makan," ujar Raisya dengan mengambil mangkuk bakso dari depan Dimas.
Meski pun keduanya tidak memiliki selera makan, tapi mereka harus kuat demi Baby Al.
"Raisya harus makan banyak, kita harus kuat demi Baby Al. Oh iya, Raisya sudah memikirkan nama kepanjangan buat Baby Al belum?" tanya Dimas.
"Aliando apa Al-Ghazali ya Kak?"
"Kok namanya seperti nama artis?" tanya Dimas.
"Mereka berdua adalah artis tampan idola Raisya," jawab Raisya dengan mata berbinar sehingga membuat Dimas merasa cemburu.
"Ingat, sekarang Raisya sudah punya Suami," gerutu Dimas.
"Sepertinya Ayah Baby Al cemburu ya?" goda Raisya.
"Tentu saja, Suami mana yang tidak cemburu mendengar Istrinya memuji lelaki lain."
"Kak Dimas tidak perlu cemburu seperti itu, Raisya hanya mengangumi mereka tapi tidak akan pernah bisa memilikinya," ujar Raisya dengan terkekeh.
Dimas membulatkan matanya ketika mendengar perkataan Raisya.
"Kenapa tertawa? Apa Raisya pikir itu lucu?"
"Yang lucu itu Kak Dimas. Raisya baru tau kalau wajah Kak Dimas lagi cemburu itu sangat menggemaskan," bisik Raisya pada telinga Dimas.
Cup
Raisya tiba-tiba mencium pipi Dimas sehingga membuat Dimas merasa terkejut dengan terus memegangi pipinya.
*
*
Bersambung
__ADS_1