
Selama beberapa hari ini, Aira mencari informasi tentang Dimas dan Raisya, dan Aira baru mengetahui jika bayi yang dirawat di Rumah Sakit tempat dia bekerja adalah Anak kandung Dimas.
"Ternyata Ibu dari Anak Dimas bukanlah Raisya, tapi Istri Dimas sebelumnya sudah meninggal dunia. Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan Dimas," gumam Aira yang begitu terobsesi ingin memiliki Dimas.
Aira terkejut ketika mendapatkan panggilan telpon dari Kakak tirinya yang bernama Lukman, apalagi Lukman memiliki dendam pribadi dengan Dimas, makanya dari dulu Lukman selalu menyuruh Aira untuk berhenti mengejar Dimas.
📞"Aira, kemana saja kamu? Kenapa kamu tidak pernah pulang? Apa kamu tau kalau Ibu terus saja menanyakan kabar kamu?" ujar Lukman yang memberondong Aira dengan banyak pertanyaan.
Ibu kandung Aira meninggal dunia pada saat Aira berusia tiga tahun. Sampai akhirnya Ayah kandung Aira menikah lagi dengan Miranda yaitu Ibu kandungnya Lukman, dan Miranda lah yang sudah membesarkan Aira dengan penuh cinta dan kasih sayang, meski pun Aira bukan darah dagingnya.
Miranda merupakan salah satu korban mendiang Ayah kandung Dimas, dan Lukman adalah hasil dari hubungan terlarang Bram dan Miranda.
Saat Bram masih hidup, Bram tidak pernah mau mengakui Lukman sebagai Anak kandungnya, bahkan Bram dengan teganya selalu memanggil Lukman dengan panggilan Anak haram.
Sampai saat ini Miranda dan Lukman memiliki kebencian yang mendalam terhadap keluarga Bram dan Jingga, karena mereka berdua sudah menyebabkan hidup Miranda dan Lukman sengsara.
Ketika Lukman berusia sepuluh tahun, Jingga dan Bram menjual Miranda pada seorang Germo untuk dijadikan kupu-kupu malam.
Selama bertahun-tahun Miranda hidup menjadi wanita penghibur, dan Miranda tidak memiliki pilihan lain, karena Germo di tempat dia bekerja selalu mengancam akan menyakiti Lukman jika Miranda tidak bersedia melayani tamu.
Miranda dan Lukman, akhirnya lepas dari penderitaan, setelah bertemu dengan seorang Pengusaha kaya yang menebusnya dari Germo tempat Miranda bekerja, dan Pengusaha kaya tersebut tidak lain adalah Ayah kandung Aira.
Dari pernikahannya dengan Ayah kandung Aira, Miranda memiliki seorang Anak laki-laki yang diberi nama Hilman, tapi tidak lama setelah itu, Ayah Aira meninggal dunia.
📞"Aira, kamu dengar suara Kakak kan?" tanya Lukman, karena Aira masih belum menjawab pertanyaannya.
📞"Eh, iya Kak. Kapan-kapan Aira akan mengambil cuti untuk pulang."
📞"Aira, apa kamu pikir aku tidak tau apa yang sedang kamu lakukan? Sampai sekarang kamu masih belum bisa melupakan Dimas kan? Kamu tenang saja, Kakak akan berusaha membantu kamu melupakannya, karena sebentar lagi, Dimas akan selamanya meninggalkan Dunia ini, dan Kakak akan mengambil semua harta keluarga Dimas yang seharusnya menjadi milik Kakak."
📞"Kak, Aira mohon jangan sakiti Dimas. Kakak bisa mengambil semua warisan milik Aira, tapi Kakak tidak boleh menyakiti Dimas, karena Aira hanya ingin menikah dengan Dimas."
📞"Kamu jangan bodoh Aira, sampai kapan kamu akan terus mengejar lelaki yang tidak pernah mencintai kamu? Sepertinya permohonan kamu juga sudah terlambat, karena sebentar lagi Dimas dan keluarga kecilnya akan mengalami kecelakaan," ujar Lukman dengan tertawa, kemudian menutup panggilan telpon nya.
📞"Halo, Kak, Kak Lukman? Apa yang akan Kakak lakukan?" teriak Aira.
Tut tut tut
Aira hanya mendengar suara panggilan telpon yang terputus.
"Aku harus segera mencari Dimas, aku tidak akan pernah membiarkan sesuatu yang buruk terjadi kepada Dimas," gumam Aira dengan berlari menuju ruang bayi.
Aira terkejut ketika melihat inkubator yang sebelumnya dipakai untuk merawat Baby Al sudah kosong.
"Sus, kemana bayi Tuan Dimas?" tanya Aira yang terlihat panik.
__ADS_1
"Bayi Tuan Dimas sudah diperbolehkan pulang, mereka baru saja ke luar dari Rumah Sakit," jawab Perawat.
Aira berlari ke luar dari Rumah Sakit, karena Aira yakin jika Lukman sudah menyabotase mobil Dimas.
Ketika Aira melihat Dimas dan Raisya yang menggendong Baby Al masuk ke dalam mobil, Aira berteriak memanggil nama Dimas.
"Dimas, tunggu Dimas, jangan pergi," teriak Aira dengan nafas yang memburu.
"Kak, sepertinya ada yang memanggil nama Kak Dimas?" tanya Raisya.
"Iya, tuh Raisya lihat sendiri ke belakang," jawab Dimas.
"Dasar perawan tua kegatelan, sepertinya dia sangat terobsesi sama Kak Dimas, bahkan dia gak tau malu sampai berlari mengejar mobil kita," gerutu Raisya.
"Kita tidak usah mempedulikan dia, semoga saja kita tidak bertemu lagi dengan perempuan gila seperti Aira," ujar Dimas dengan mengelus lembut kepala Raisya.
Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, Raisya terus mengembangkan senyuman, karena akhirnya Raisya dan Dimas bisa membawa Baby Al pulang.
"Akhirnya Bunda dan Ayah bisa membawa Baby Al pulang. Semuanya pasti terkejut karena kita tidak memberikan kabar kepulangan kita. Raisya bahagia, karena kita bisa berkumpul saat acara tahlil Kak Raina nanti," ujar Raisya yang sengaja ingin memberi kejutan kepada keluarganya.
"Iya sayang, Kak Dimas bukan hanya bahagia, tapi sangat sangat bahagia."
Dimas mengerutkan dahinya ketika melihat sebuah mobil yang berusaha mengejar mobilnya.
"Sayang, sepertinya mobil di belakang berusaha mengejar mobil kita," ujar Dimas.
"Kak, sepertinya yang mengejar kita adalah Aira. Mau apa lagi perempuan gatal itu?"
Beberapa saat kemudian, Aira yang sudah berhasil mengemudikan mobilnya sejajar dengan mobil Dimas membuka kaca mobilnya.
"Dimas, hentikan mobilnya," teriak Aira, tapi Dimas tidak menggubris perkataan Aira dan tetap melajukan mobilnya, bahkan Dimas menambah kecepatan supaya Aira tidak bisa mengejarnya.
Ketika mobil Dimas melewati turunan, Dimas terkejut karena rem mobilnya tidak berfungsi.
"Kenapa rem nya tidak berfungsi," gumam Dimas yang terlihat panik.
Dimas menyuruh Raisya melompat dari dalam mobil, karena mobil yang mereka tumpangi akan menabrak pembatas jalan.
"Sayang, sekarang Raisya lompat, mobil kita akan menabrak pembatas jalan, dan kemungkinan besar akan masuk ke dalam jurang," teriak Dimas yang terlihat panik.
"Tidak, Raisya tidak mau meninggalkan Kak Dimas, kita harus lompat sama-sama," ujar Raisya dengan memegang erat tangan Dimas.
"Raisya, Kak Dimas sangat mencinta Raisya," ucap Dimas, kemudian mencium kening Raisya sebelum mendorongnya ke luar dari dalam mobil.
Raisya jatuh dari dalam mobil dengan memeluk tubuh Baby Al, dan sesaat kemudian terdengar benturan keras menabrak pembatas jalan.
__ADS_1
Brugh
Mobil yang Dimas kendarai menabrak pembatas jalan, dan Dimas langsung tidak sadarkan diri karena kepalanya terbentur keras.
"Kak Dimas," teriak Raisya.
Raisya akhirnya pingsan, karena tubuhnya mengalami luka yang cukup serius, ditambah lagi Raisya tidak kuat melihat Dimas yang mengalami kecelakaan di depan mata kepalanya sendiri.
Sebelum mobil yang Dimas tumpangi masuk ke dalam jurang, Aira berlari untuk menyelamatkan Dimas.
Aira dengan sekuat tenaga menarik tubuh Dimas yang tidak sadarkan diri ke luar dari dalam mobil, kemudian Aira bergegas memasukan Dimas ke dalam mobilnya.
Duar
Mobil Dimas terdengar meledak ketika jatuh ke dasar jurang, dan Aira menangis dengan memeluk tubuh Dimas.
"Untung saja aku bisa menyelamatkan kamu Dimas. Seandainya aku terlambat mengeluarkan kamu dari dalam mobil, mungkin kamu akan ikut terbakar. Aku harus segera membawa Dimas pergi jauh dari sini sebelum ada orang yang melihat kami, karena Kak Lukman pasti tidak akan melepaskannya."
Ketika Aira hendak melajukan mobilnya, Aira mendengar suara tangisan bayi dalam pelukan Raisya.
"Sebaiknya aku membawa Anak Dimas supaya Dimas tidak bisa lepas dariku lagi," gumam Aira dengan mengambil Baby Al dari pelukan Raisya, bahkan Aira juga mengambil cincin pernikahan yang dipakai oleh Raisya, karena Aira memiliki rencana supaya bisa memiliki Dimas.
......................
Raisya di selamatkan oleh warga sekitar yang datang ke tempat kejadian setelah mendengar suara ledakan, dan warga sekitar langsung menghubungi nomor terakhir yang ditelpon oleh Raisya, yaitu nomor Fajar.
Setelah mendapatkan kabar kecelakaan yang menimpa Raisya, Fajar dan Mentari langsung berangkat menuju Bandung.
Sudah satu hari Raisya dirawat di Rumah Sakit, tapi Raisya masih belum sadarkan diri.
"Yah, bagaimana ini, kenapa Raisya belum sadar juga?" ujar Mentari yang terus saja menangis.
"Kita jangan putus berdo'a Bunda. Raisya pasti baik-baik saja," ujar Fajar yang terus berusaha menenangkan Mentari.
Beberapa saat kemudian, Raisya akhirnya sadar, dan Raisya langsung berteriak menyebut nama Dimas.
"Kak Dimas."
"Alhamdulillah, akhirnya Raisya sadar juga," ucap Fajar dan Mentari secara bersamaan.
Raisya melihat sekeliling, dan Raisya langsung berteriak histeris ketika mengingat kecelakaan mobil yang keluarga kecilnya alami, apalagi Raisya tidak melihat keberadaan Dimas dan Baby Al.
"Ayah, Bunda, kemana Kak Dimas dan Anak kami?"
*
__ADS_1
*
Bersambung