
Hilman bergegas menghubungi Ratu untuk mengajaknya ketemuan, karena Hilman tidak mau kalau Ratu sampai diculik oleh keluarganya, apalagi kalau Ratu sampai mereka jual dan dijadikan kupu-kupu malam.
"Sebaiknya aku segera menikahi Ratu, supaya Mama dan Kak Lukman tidak berani menyakitinya," gumam Hilman, kemudian diam-diam ke luar dari rumahnya untuk menemui Ratu.
Lukman yang melihat Hilman pergi, diam-diam mengikuti Hilman, karena Anak buahnya sempat melaporkan jika Ratu memiliki kekasih yang bernama Hilman, dan Lukman curiga jika Hilman kekasih Ratu adalah Adiknya, apalagi setelah melihat reaksi Hilman yang begitu terkejut ketika Lukman dan Miranda membicarakan tentang Anak kedua Jingga yang bernama Ratu.
"Kalau benar Hilman adalah pacarnya Ratu. Aku tidak akan pernah membiarkan Adikku menikahi Anak dari ja*lang yang sudah menghancurkan hidup Ibu," gumam Lukman dengan mengepalkan kedua tangannya.
Setelah menempuh satu jam perjalanan, Hilman menghentikan mobilnya di depan Pesantren tempat dia menuntut ilmu, dan Hilman bergegas masuk ke dalam pondok, karena Hilman tau kalau Lukman dan Anak buahnya diam-diam sudah mengikuti nya.
Tadinya Hilman ingin mengajak Ratu untuk membicarakan semuanya di luar Pesantren, tapi saat ini tempat yang paling aman hanya di dalam Pesantren, karena Lukman tidak mungkin masuk ke dalam Pesantren untuk membuat keributan.
Ratu terlihat berjalan menghampiri Hilman dengan ditemani dua orang temannya, kemudian Ratu duduk di bangku yang berada cukup jauh dari tempat Hilman, karena saat ini keduanya masih belum menjadi muhrim.
"Assalamu'alaikum Mas Hilman, ada apa malam-malam begini mengajak Ratu bertemu?"
"Wa'alaikumsalam. Ratu, ada sesuatu yang ingin Mas bicarakan. Apa bisa kita bicara berdua saja?"
"Mohon maaf Mas, tapi kita masih belum menjadi Muhrim, dan Ratu tidak ingin terjadi fitnah apabila kita hanya bicara berdua saja," jawab Ratu dengan terus menundukkan kepalanya.
"Mas mengerti, tapi saat ini Mas tidak mungkin mengatakan semuanya di depan oranglain."
"Ratu, sebaiknya kami menunggu di sebelah sana," ujar kedua Teman Ratu, kemudian menjauh dari tempat duduk Ratu dan Hilman.
Setelah kedua Teman Ratu menjauh, Hilman kembali angkat suara.
"Ratu, apa Ratu sudah siap untuk menikah?" tanya Hilman.
Ratu terkejut mendengar pertanyaan Hilman, karena Ratu pikir, selama ini Hilman belum memiliki niat untuk menikahinya.
"Sebelum Ratu menjawab pertanyaan Mas Hilman, Ratu ingin mengetahui alasan Mas Hilman yang tiba-tiba bertanya seperti itu."
Hilman menghela nafas panjang. Pada awalnya, Hilman ingin menyembunyikan niat jahat Kakak dan Ibunya, tapi Hilman tidak mau menutupi apa pun dari Ratu.
"Ratu, apa mendiang Ibu kamu bernama Jingga?" tanya Hilman.
"Iya benar. Dari mana Mas Hilman tau?"
Hilman beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum menceritakan semuanya kepada Ratu. Sampai akhirnya secara perlahan Hilman menceritakan tentang masalalu yang terjadi di antara Jingga dan Miranda.
"Kenapa Mama tega sekali melakukan semua itu? Kenapa Mama selalu menghancurkan hidup oranglain," gumam Ratu dengan menangis, karena Ratu harus kembali kecewa dengan perbuatan mendiang Jingga.
__ADS_1
"Ratu, aku tau kalau ini semua berat untuk kita, tapi kamu tidak boleh menyalahkan perbuatan seseorang yang telah meninggal dunia, apalagi itu adalah Ibu kandung kamu sendiri. Sebaiknya kita terus berdo'a semoga Tuhan mengampuni semua dosa mendiang Tante Jingga."
"Atas nama mendiang Mama, Ratu minta maaf yang sebesar-besarnya. Ratu sangat malu terhadap keluarga Mas Hilman. Sebaiknya kita akhiri saja hubungan ini Mas, karena Ratu tidak mau menjadi duri dalam keluarga Mas Hilman."
Hilman terkejut karena Ratu meminta putus, tapi Hilman tidak bisa mengakhiri hubungannya dengan Ratu begitu saja.
"Tidak Ratu, aku tidak mau putus. Bagaimana aku bisa melindungi kamu dari Ibu dan Kak Lukman kalau kita sampai putus?"
"Mas Hilman terlalu baik untuk Ratu, dan Ratu tidak pantas mendapatkan cinta Mas Hilman. Sebaiknya Mas Hilman lupakan Ratu, dan Ratu akan berusaha melindungi diri sendiri."
"Tidak Ratu, aku benar-benar mencintai kamu. Aku ingin kamu menjadi Istri dan Ibu dari Anak-anakku, dan malam ini juga, aku akan menikahi kamu."
Ratu hanya diam tanpa bisa mengatakan sepatah kata pun, di satu sisi Ratu ingin sekali menikah dengan Hilman, tapi di sisi lain, Ratu tidak mau hubungan Hilman dan keluarganya menjadi rusak gara-gara dirinya.
"Mas, Ratu tidak bisa menikah dengan Mas Hilman, karena Ratu tidak ingin membuat hubungan Mas dan keluarga menjadi hancur. Ratu juga tidak ingin menikah tanpa restu dari keluarga Mas Hilman.
"Aku akan tetap menikahi kamu meski pun tanpa restu dari mereka, supaya mereka sadar jika mereka tidak bisa terus-terusan berbuat seenaknya. Aku mohon, kamu bersedia ya menikah denganku. Selama ini hanya kamu yang mengerti aku, dan aku tidak mau kehilangan perempuan yang aku cintai."
Ratu masih terlihat berpikir, sampai akhirnya salah satu Ustadzah yang mengajar di Pondok Pesantren tersebut menghampiri Ratu dan Hilman.
"Assalamu'alaikum. Ratu, Hilman, kenapa malam-malam begini kalian mengibrol berduaan?"
"Maaf Ustadzah, saya sudah lancang mengajak Ratu untuk bertemu," ucap Hilman.
Beberapa saat kemudian, kedua Teman Ratu bergegas menghampiri Ratu, supaya Ustadzah tidak salah paham.
"Maaf Umi, sebenarnya kami yang mengantar Ratu bertemu dengan Mas Hilman, tapi dari tadi kami bersembunyi di balik pohon, karena Mas Hilman memiliki sesuatu yang penting untuk dibicarakan dengan Ratu," ujar kedua Teman Ratu.
"Hilma, Aisyah, tidak seharusnya kalian mengantar Ratu bertemu dengan lelaki yang bukan muhrim nya. Umi kecewa sama kalian, padahal kalian sudah lama tinggal di Pondok Pesantren ini, seharusnya kalian berdua menjelaskan peraturan Pesantren dan memberikan contoh yang baik kepada Ratu, karena Ratu masih belum lama mondok di sini."
Ratu meminta maaf kepada Ustadzah Khadijah, karena Ratu yang memaksa Hilma dan Aisyah.
"Umi, Ratu minta maaf. Hilma dan Aisyah tidak salah, karena Ratu yang bersikeras memaksa mereka mengantar Ratu, supaya tidak terjadi fitnah jika Ratu dan Mas Hilman hanya bertemu berdua saja."
"Ratu, saat ini juga, kamu dan Hilman harus menikah, karena ini sudah menjadi aturan Pesantren," ujar Umi Khadijah, dan Ratu terkejut mendengarnya.
Ratu melihat ke arah Hilman yang terlihat salah tingkah, karena Hilman sudah mengetahui aturan tersebut.
Apa Mas Hilman sengaja mengajak aku bicara berdua supaya kami dinikahkan? Sepertinya Mas Hilman sudah tau tentang peraturan Pesantren, dia kan sudah cukup lama mondok di sini, ucap Ratu dalam hati.
"Ustadzah, sebenarnya tujuan saya mengajak Ratu bertemu karena saya memang ingin menikahi Ratu, tapi Ratu menolak menikah dengan saya," ujar Hilman.
__ADS_1
"Ratu, kenapa kamu menolak menikah dengan lelaki sebaik Hilman?" tanya Umi Khadijah.
"Ratu merasa tidak pantas untuk Mas Hilman, Umi."
"Ratu, di mata Tuhan manusia itu sama, yang membedakan hanyalah keimanannya. Ratu juga perempuan saleha. Menurut Umi, Ratu pantas mendapatkan lelaki saleh sebaik Hilman. Kalau begitu sekarang kita harus menemui Abi supaya menikahkan kalian."
Ratu tidak mengira jika malam ini akan menjadi hari pernikahan dirinya dan Hilman, bahkan Ratu tidak sempat menelpon Stella dan Neneknya untuk meminta restu.
Ketika Hilman sudah menjabat tangan Abi Umar yang akan menjadi Wali nikah Ratu. Terdengar suara teriakan seseorang yang tidak lain adalah Lukman.
"Sekarang juga hentikan pernikahan ini, karena selamanya Hilman tidak akan menikahi Anak dari seorang ja*lang yang sudah menghancurkan hidup Ibu kandungnya sendiri."
Ratu langsung menitikkan airmata mendengar perkataan Lukman, hatinya terasa sakit mendengar hinaan yang Lukman lontarkan.
"Cukup Kak. Semua ini sudah menjadi keputusan Hilman. Setuju atau tidak, Hilman akan tetap menikahi Ratu, karena Ratu sama sekali tidak bersalah atas perbuatan yang telah mendiang Ibunya lakukan di masalalu."
Abi Umar mencoba menjadi penengah antara Lukman dan Hilman, dan Lukman menceritakan tentang perbuatan mendiang Jingga yang sudah menjual Miranda untuk dijadikan kupu-kupu malam.
Ratu merasa malu karena saat ini semua orang telah mengetahui kejahatan Jingga.
"Begitu ceritanya Ustadz, dan saya tidak rela jika Adik saya menikah dengan Anak dari perempuan yang telah menghancurkan hidup Ibu saya," ujar Lukman.
"Saya mengerti tentang perasaan Nak Lukman, tapi saya harap Nak Lukman dan Ibu Miranda bisa memaafkan kesalahan mendiang Ibunya Ratu, dan dalam masalah ini, Ratu tidak ada sangkut pautnya dengan kesalahan yang telah mendiang Ibunya lakukan," ujar Abi Umar.
"Maaf Ustadz, tapi kami hanya manusia biasa, dan sampai kapan pun kami tidak akan pernah memaafkan Jingga, sekali pun Anaknya bersujud di bawah kaki kami," teriak Lukman, kemudian menyuruh Anak buahnya membawa Hilman.
"Astagfirullah, istighfar Nak Lukman, kita tidak boleh memiliki penyakit hati seperti itu, karena kebencian hanya akan menyakiti diri kita sendiri. Biarkan Hilman memilih sendiri jalan hidupnya," ujar Abi Umar.
"Abi, Hilman ingin melindungi Ratu, karena Kak Lukman dan Mama ingin menculik dan menjual Ratu untuk dijadikan wanita penghibur."
Abi Umar terus mengucapkan istighfar, karena perbuatan Lukman dan Miranda sudah benar-benar keterlaluan.
"Maaf Nak Lukman, kalau seperti itu ceritanya, saya akan tetap menikahkan Hilman dan Ratu," ujar Abi Umar.
Lukman hendak mendekati Hilman yang sudah kembali menjabat tangan Abi Umar untuk mengucap ijab kabul, tapi sekelompok santri mencoba menghalangi Lukman, sampai akhirnya terdengar suara para saksi yang mengucapkan Sah pada pernikahan Hilman dan Ratu.
*
*
Bersambung
__ADS_1