
Fajar dan Mentari meminta Raisya supaya berhenti bekerja saja, karena mereka tidak mau jika Raisya sampai kecapean.
"Sayang, sebaiknya Raisya berhenti bekerja saja ya. Bunda tidak mau kalau Raisya sampai kecapean."
"Iya Nak, Ayah setuju dengan usul Bunda, pekerjaan Ayah juga tidak terlalu banyak, apalagi ada Zain yang selalu menghandle semua pekerjaan Ayah."
"Ayah sama Bunda tidak perlu khawatir, Raisya pasti akan menjaga bayi yang berada dalam kandungan Raisya dengan baik, karena ini adalah buah cinta Raisya dengan Kak Dimas," ucap Raisya dengan menitikkan airmata ketika mengingat sosok Dimas.
Mentari yang tidak ingin Raisya larut dalam kesedihan karena terus mengingat Dimas, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Yah, dalam urusan pekerjaan, Asisten Zain sepertinya sama cekatannya dengan Asisten Rendra ya?" tanya Mentari.
"Mereka memang Adik Kakak yang bisa di andalkan. Oh iya, kemarin Rendra telpon untuk meminta ijin kepada Ayah supaya merestui hubungannya dengan Dita. Katanya bulan depan Rendra akan menikahi Dita, jadi Rendra meminta kita untuk datang ke Singapura menghadiri pernikahan nya."
"Alhamdulillah, akhirnya Rendra memutuskan untuk menikahi Dita juga. Semoga Rendra bisa membahagiakan Dita dan Anaknya, jangan sampai Dita mengalami kegagalan dalam rumah tangga lagi," ucap Mentari yang di Amini oleh Fajar dan Raisya.
"Sayang, apa Raisya sudah merasa lebih baik? Bagaimana kalau Ayah sama Bunda mengantar Raisya periksa ke Dokter Kandungan?" tanya Fajar yang terlihat antusias menyambut Cucu pertamanya.
"Ide bagus Yah, jadi kita bisa meminta vitamin supaya Cucu kita tumbuh dengan sehat," ujar Mentari yang sama antusias nya dengan Fajar.
Mentari sedih ketika mengingat masalalunya saat hamil Rasya dan Raisya, karena saat itu Mentari tidak memiliki uang untuk memeriksakan kehamilannya, makanya dulu Rasya dan Raisya sampai terlahir cacat, dan Mentari tidak ingin jika Raisya mengalami nasib yang sama dengannya.
Raisya sebenarnya masih belum siap untuk memeriksakan kandungannya, karena Raisya pasti akan semakin teringat kepada Dimas, tapi dia tidak ingin mengecewakan Fajar dan Mentari. Sampai akhirnya, Raisya memutuskan menyetujui usul dari kedua orangtuanya tersebut, meski pun dalam hati kecilnya, Raisya sangat berharap jika Dimas ikut mengantarnya juga.
Kak Dimas, kapan Kakak dan Baby Al akan kembali? Raisya kangen sama kalian. Kak Dimas juga pasti akan merasa bahagia jika mengetahui Raisya hamil, Raisya janji akan menjaga Anak kita dengan baik, ucap Raisya dalam hati dengan mengelus perutnya yang masih datar.
Mentari dan Fajar membantu Raisya untuk berjalan, dan semua Karyawan terdengar berbisik-bisik membicarakan Raisya.
Fajar yang tidak mau ada kesalahpahaman lagi tentang hubungannya dengan Raisya, memutuskan untuk memberitahu semuanya tentang identitas Raisya yang sebenarnya.
"Mohon perhatian semuanya, ada yang ingin saya sampaikan tentang identitas Raisya yang sebenarnya," ucap Fajar.
__ADS_1
Semua Karyawan langsung berkumpul untuk mendengarkan perkataan Fajar, apalagi mereka merasa penasaran karena wajah Raisya begitu mirip dengan Mentari.
"Selama ini saya tau kalau kalian sudah salah paham mengenai hubungan saya dengan Raisya. Sebenarnya Raisya adalah Putri saya sekaligus kembaran Rasya, jadi saya minta supaya kalian tidak membicarakan sesuatu yang buruk mengenai Putri kesayangan saya," tegas Fajar.
Semuanya begitu terkejut ketika mengetahui identitas Raisya yang sebenarnya, dan beberapa Karyawan yang sebelumnya sudah menggosipkan Raisya langsung meminta maaf atas kekeliruan mereka.
......................
Di tempat lain, Dokter sudah mengijinkan Ratu pulang, karena saat ini kondisi Ratu sudah semakin membaik.
"Sayang, kenapa Ratu melamun terus? Seharusnya Ratu senang, karena sekarang kita sudah bisa pulang," ujar Hilman dengan memeluk tubuh Ratu.
"Mas, bagaimana kalau Ratu tidak bisa memberikan keturunan?" Ratu balik bertanya kepada Hilman, karena Ratu takut jika Hilman tidak bisa menerima kekurangannya.
"Anak adalah rezeki dari Tuhan. Jika memang belum saatnya kita diberikan rezeki tersebut, kita harus terus berdo'a dan berusaha."
"Bagaimana jika selamanya Tuhan tidak memberikan keturunan kepada kita? Apa Mas akan mencari perempuan lain yang bisa memberikan keturunan?"
"Sayang, kenapa Ratu bertanya seperti itu? Mas tidak mungkin melakukan semua itu, karena selamanya hanya Ratu yang Mas cintai, dan Mas tidak mungkin membagi hati untuk perempuan lain. Mas minta maaf ya, semua ini terjadi karena Mas tidak bisa menjaga dan melindungi Ratu dengan baik," ucap Hilman yang selalu merasa bersalah.
"Apa pun yang terjadi, kita akan melewatinya bersama, dan Mas yakin jika sudah waktunya, Tuhan pasti akan memberikan kita keturunan. Bagaimana kalau kita mengadopsi bayi? Kata orang, mengadopsi bayi itu bisa memancing kehamilan," ujar Hilman.
"Kalau Ratu bagaimana Mas saja."
"Ya sudah, kalau begitu setelah nanti Ratu benar-benar sembuh, kita akan mengambil bayi dari Panti Asuhan," ujar Hilman yang terlihat begitu antusias.
Sepertinya Mas Hilman ingin sekali memiliki Anak. Semoga saja aku masih bisa hamil, karena aku tidak akan sanggup apabila harus dimadu, ucap Ratu dalam hati.
Ketika Ratu dan Hilman sampai rumah, Stella dan Mommy Sandra ternyata sudah tiba lebih dulu di rumah Hilman.
"Mama, Nenek, kenapa gak ngasih kabar dulu?" tanya Ratu dengan memeluk Stella dan Mommy Sandra.
__ADS_1
"Kami sengaja memberikan kejutan untuk Ratu. Kami juga sudah menyiapkan makanan kesukaan Ratu. Sebaiknya sekarang kita makan," ujar Stella dengan menggandeng Ratu menuju meja makan.
Syukurlah Ratu terlihat bahagia dengan kedatangan keluarganya. Semoga saja dengan adanya Mama Stella dan Nenek Sandra, Ratu tidak akan terus-terusan larut dalam kesedihan, ucap Hilman dalam hati.
......................
Beberapa Karyawan yang sebelumnya termakan hasutan Arumi, langsung menghampiri Arumi untuk membuat perhitungan.
"Arumi, apa kamu berniat mencelakai kami? Bagaimana bisa kamu memfitnah Anak Big Bos, untung saja Nona Raisya masih mau memaafkan kami, kalau sampai kami dipecat, kami pasti akan membuat perhitungan dengan kamu," ujar salah satu Karyawan.
"Kenapa kalian menyalahkan aku? Apa kalian pikir aku tau masalah ini? Seandainya dari awal aku tau jika Raisya adalah Anak Tuan Fajar, aku juga tidak akan mungkin berani berurusan sama dia. Gara-gara masalah ini, sekarang jabatanku diturunkan menjadi staf biasa. Kalian puas?" teriak Arumi.
Semuanya sama sekali tidak bersimpati terhadap Arumi, bahkan mereka langsung menertawakan nasib Arumi.
"Bagus deh, masih untung kamu tidak dipecat," ujar salah satu Karyawan.
"Iya benar, kalau aku jadi Nona Raisya, aku pasti akan langsung memecat orang tidak tau malu seperti Arumi," ujar Karyawan lainnya sehingga membuat Arumi semakin geram.
"Pergi kalian, jangan ganggu aku lagi. Awas saja kalau kalian berani macam-macam sama aku, aku akan mengadukan kalian sama Papa supaya memecat kalian," ancam Arumi.
"Heh Arumi, kamu gak usah belagu, sekarang posisi kamu sudah sama dengan kami," ujar salah satu Karyawan dengan mendorong tubuh Arumi.
Zain yang kebetulan lewat, akhirnya angkat suara ketika mendengar Arumi yang terus menyombongkan jabatan Papanya.
"Arumi, sepertinya kamu belum tau kalau Papa kamu sudah tidak memiliki saham Angkasa Grup lagi, karena semua saham sudah atas nama Tuan Fajar, Tuan Rasya dan mendiang Tuan Dimas, dan sekarang bagian Tuan Dimas akan di alihkan atas nama Nona Raisya. Sebaiknya kamu bekerja dengan baik, karena sekarang jabatan Papa kamu hanya Direktur bagian pemasaran yang tidak memiliki wewenang memecat Karyawan," jelas Zain.
Arumi begitu syok mendengar perkataan Zain, karena Arumi bagaikan sudah terjatuh lalu tertimpa tangga pula.
"Tidaaaaaak," teriak Arumi, dan sesaat kemudian Arumi pingsan.
*
__ADS_1
*
Bersambung