
Ketika Dimas hendak mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Aira, Dimas tiba-tiba memegangi kepalanya yang terasa sakit, karena sekilas Dimas melihat bayangan dirinya saat bersama dengan Raisya.
"Raisya, Raisya," gumam Dimas dengan terus memegang kepalanya.
Aira mencoba sabar ketika mendengar Dimas terus menyebut nama Raisya, apalagi sebelumnya Aira pernah mengatakan kalau Raisya adalah nama panggilan kesayangan Dimas untuknya.
"Mas, Raisya ada di sini, Raisya tidak akan pernah meninggalkan Mas Aksa. Mas jangan mencoba mengingat semuanya lagi, aku tidak mau Mas sampai kenapa-napa," ujar Aira dengan memeluk tubuh Dimas, tapi Dimas langsung mendorongnya sehingga membuat Aira terjatuh di atas lantai.
"Awww sakit," pekik Aira.
Teriakan Aira menyadarkan Dimas, kemudian Dimas bergegas menghampiri Aira.
"Maaf Aira, aku tidak bermaksud menyakiti kamu," ujar Dimas dengan membantu Aira berdiri.
Aira tiba-tiba membuka pakaiannya, kemudian bergelayut manja pada Dimas, tapi anehnya tubuh Dimas tidak merespon sama sekali.
"Mas Aksa kenapa? Apa Mas tidak ingin menyentuhku?" tanya Aira dengan suara manjanya.
"Maaf Aira, tapi aku tidak bisa melakukannya, karena punyaku sama sekali tidak bereaksi," ujar Dimas yang merasa bersalah, karena Dimas tidak bisa melakukan kewajibannya sebagai seorang Suami.
Aira terkejut karena Dimas tiba-tiba menjadi impoten, padahal Aira sudah lama menunggu momen tersebut supaya Dimas tidak bisa meninggalkannya jika suatu saat nanti ingatan Dimas kembali.
"Ke_kenapa bisa seperti itu? Kenapa Mas Aksa tiba-tiba menjadi impoten?" tanya Aira dengan menutup mulutnya.
"Maaf Aira, aku tidak bisa melakukan kewajibanku sebagai seorang Suami."
"Mas Aksa jangan merasa bersalah, nanti kita akan mencoba mengobatinya, apalagi sebelumnya Mas tidak impoten. Jadi, semua ini pasti hanya bersifat sementara saja," ujar Aira yang mencoba bersabar, padahal di dalam hatinya Aira terus mengumpat.
Sial, sial, sial. Kalau seperti ini ceritanya, aku tidak akan bisa meminta tanggung jawab kepada Dimas jika nanti ingatannya kembali.
......................
Lukman dan Viona sudah resmi menjadi Suami Istri. Keduanya begitu bahagia, meski pun mereka harus merahasiakan pernikahannya.
"Sayang, sebaiknya kamu berhenti berkerja saja. Aku tidak mau kalau kamu sampai kecapean," ujar Lukman dengan memeluk tubuh Viona.
"Mas, untuk saat ini aku tidak mungkin berhenti bekerja, karena kondisi perusahaan dalam keadaan sibuk, apalagi kita akan menjalin kerjasama dengan Angkasa Grup. Nanti aku akan berhenti bekerja kalau usia kandunganku sudah memasuki taksiran persalinan saja."
"Ya sudah bagaimana kamu saja, tapi kamu harus menjaga diri dengan baik, jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk dengan Anak kita," ujar Lukman dengan kembali menggerayangi tubuh Viona, apalagi saat ini keduanya masih dalam keadaan polos.
__ADS_1
Sama hal nya dengan pasangan Lukman dan Viona, pasangan Hilman dan Ratu juga sedang menikmati indahnya menjadi pasangan Pengantin baru, bahkan Hilman selalu merasa tidak rela apabila berpisah dari Ratu, meski pun hanya sebentar saja.
"Sayang, hari ini Mas harus pergi belanja ke pusat grosir. Alhamdulillah Mas mendapatkan pesanan barang yang cukup banyak. Tidak apa-apa kan kalau Ratu tidak ikut? Soalnya Mas harus bawa orang buat bantu mengangkut barang, apalagi Mas perginya bawa mobil bak," ujar Hilman yang sebenarnya merasa berat meninggalkan Ratu.
"Tidak apa-apa Mas, Ratu juga masih gak enak badan, jadi Ratu mau istirahat saja."
"Sebenarnya Mas tidak rela meninggalkan Istri Mas yang cantik ini," ujar Hilman dengan memeluk tubuh Ratu.
"Mas harus lebih semangat kerjanya, Mas juga kerja kan untuk masa depan kita," ujar Ratu dengan mencium pipi Hilman.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang Ratu minum dulu obatnya," ujar Hilman dengan memberikan air putih dan obat penurun panas yang sebelumnya dia beli, kemudian Hilman membantu Ratu untuk berbaring.
Hilman mengucapkan salam dan mencium kening Ratu sebelum berangkat, tapi entah kenapa Hilman merasa tidak tenang juga merasa gelisah ketika melangkahkan kakinya ke luar dari dalam rumah.
Kenapa aku sepertinya memiliki sebuah firasat buruk? Ya Allah, semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk kepada Hamba dan keluarga, ucap Himan dalam hati.
Dua orang Anak buah Lukman yang sebelumnya disuruh untuk mengerjai Ratu, bersiap untuk melancarkan aksinya ketika melihat mobil Hilman melaju meninggalkan pekarangan rumahnya.
Ratu begitu terkejut ketika melihat dua orang laki-laki yang memakai penutup wajah, masuk ke dalam kamarnya.
"Siapa kalian? Mau apa kalian ke sini?" tanya Ratu dengan bergegas turun dari atas kasurnya.
Ratu mencoba berteriak meminta tolong, Ratu juga berusaha untuk ke luar dari dalam kamarnya.
"Kamu tidak usah berteriak, percuma kamu berteriak karena tidak akan ada orang yang mendengarnya. Apa kamu sadar jika rumah kamu ini berada jauh dengan rumah yang lain?"
Ratu semakin merasa takut ketika dua lelaki tersebut terus berusaha mendekatinya, dan Ratu hanya bisa melemparkan barang-barang yang ada di sekitarnya untuk melindungi diri.
"Saya mohon kalian jangan mendekat. Saya adalah perempuan yang sudah memiliki Suami," teriak Ratu, tapi semakin Ratu melawan, kedua Anak buah Lukman semakin bersemangat untuk mengerjai Ratu.
......................
Hari ini Raisya sudah bersiap untuk bekerja di Angkasa Grup, dan Raisya terlihat bersemangat pada hari pertamanya bekerja.
Ketika Raisya dan Fajar melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam perusahaan, Raisya tidak sengaja bertabrakan dengan seorang lelaki yang tidak lain adalah Lukman.
Lukman dan Viona datang ke Angkasa Grup untuk menandatangani kontrak kerjasama, tapi ada salah satu berkas yang ketinggalan di dalam mobil, sehingga Lukman berniat untuk kembali mengambilnya, sedangkan Viona, Lukman suruh menunggu di lobi saja.
"Maaf Nona, saya tidak sengaja," ucap Lukman yang masih belum menyadari jika perempuan yang bertabrakan dengannya adalah Raisya, karena saat ini wajah Raisya dalam keadaan tertunduk dengan kedua tangannya yang dipegangi oleh Lukman.
__ADS_1
"Tidak apa-apa," ucap Raisya singkat, kemudian melepas pegangan tangan Lukman.
Lukman begitu terpesona ketika melihat kecantikan Raisya dari jarak dekat, dan Viona yang melihatnya merasakan sesak dalam dadanya ketika melihat tatapan kagum Lukman terhadap Raisya.
"Sayang, Raisya tidak kenapa-kenapa kan?" tanya Fajar.
"Tidak apa-apa Yah."
Fajar merasa heran ketika melihat Lukman berada di Perusahaannya.
"Maaf, kalau tidak salah Anda Nak Lukman kan? Ada keperluan apa Anda di sini?" tanya Fajar.
"Saya Direktur PT Jaya Grup, dan kedatangan saya ke sini untuk menandatangani kontrak kerjasama dengan Perusahaan Angkasa Grup," jawab Lukman dengan tersenyum.
"Jadi Perusahaan Anda yang akan melakukan kerjasama dengan perusahaan kami?" tanya Fajar lagi.
"Iya Om, eh Tuan," ujar Lukman.
"Tidak apa-apa, Nak Lukman bisa memanggil saya dengan sebutan Om," ujar Fajar.
"Yah, sebaiknya kita segera masuk," ujar Raisya yang merasa risih karena Lukman terus menatapnya.
"Nak Lukman, kalau begitu kami tunggu di ruang meeting," ucap Fajar, kemudian menggandeng Raisya menuju ruangannya.
Fajar tadinya ingin menempatkan Raisya dalam satu ruang kerja dengannya supaya Fajar bisa mengawasi Raisya, tapi Raisya menolaknya dan lebih memilih untuk bergabung dengan staf Administrasi lainnya.
"Sayang, kalau ada apa-apa Raisya jangan sungkan untuk memberitahu Ayah ya," ucap Fajar, dan Raisya hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Oh iya, sebaiknya sekarang Raisya ikut Ayah ke ruang meeting, karena nanti Raisya akan menjadi Sekretaris pribadi Ayah," bisik Fajar, karena Raisya meminta kepada Fajar supaya merahasiakan identitasnya.
Fajar awalnya tidak menyetujui usul Raisya, tapi Raisya terus memohon dengan alasan supaya oranglain tidak merasa sungkan terhadapnya.
Ketika Fajar menyimpan tas ke dalam ruang kerjanya, Sekretaris lama Fajar yang bernama Arumi langsung menegur Raisya.
"Kamu Anak baru ya? Sepertinya kamu sudah akrab dengan Big Bos. Apa kamu sugar baby nya?"
*
*
__ADS_1
Bersambung