
Rasya memutuskan untuk mengantar Alea pulang, meski pun pada awalnya Alea menolak di antar oleh Rasya, karena Alea merasa tidak enak.
"Alea, cepat masuk mobil, aku akan mengantar kamu pulang," ujar Rasya.
"Tidak perlu Tuan, saya mau pesan taksi online saja, lagian dari sini ke rumah saya juga tidak terlalu jauh," ujar Alea.
"Aku tidak menerima penolakan, dan aku tidak mungkin membiarkan seorang perempuan pulang sendirian, apalagi sekarang sudah malam," ujar Rasya dengan menarik tangan Alea untuk masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan pulang, keduanya hanya diam tanpa mengeluarkan satu patah kata pun, karena saat ini keduanya larut dalam pikiran masing-masing, sampai akhirnya terdengar suara perut Alea yang berbunyi.
Kruyuk kruyuk
"Sepertinya aku mendengar suara Ayam dari dalam perut kamu," ujar Rasya dengan terkekeh.
Wajah Alea memerah karena malu, rasanya Alea ingin menggali lubang untuk dia bersembunyi.
"Sebaiknya sekarang kita turun," ujar Rasya dengan menghentikan mobilnya di depan sebuah Restoran.
"Memangnya Tuan mau apa mengajak saya turun?" tanya Alea yang masih merasa bingung.
"Kita mau tidur," celetuk Rasya asal.
"Kenapa tidurnya di Restoran?" tanya Alea lagi.
"Sepertinya gara-gara lapar, otak kamu tidak berfungsi dengan baik. Sudah tau ini Restoran, kenapa kamu masih nanya kita mau ngapain? Kamu sekarang temani aku makan, kamu juga pasti lapar kan?" ujar Rasya.
"Tapi uang saya pasti tidak cukup jika makan di Restoran mewah seperti ini," ujar Alea.
"Memangnya siapa yang bakalan nyuruh kamu bayar? Aku juga sebelumnya tidak pernah dibayarin makan sama perempuan. Sekarang kamu pesan semua yang kamu mau, anggap saja kita merayakan keberhasilan kita yang sudah berhasil mendapatkan proyek besar," ujar Rasya yang terlihat bersemangat melihat menu makanan.
"Baiklah kalau begitu saya tidak akan sungkan," ujar Alea kemudian memesan beberapa makanan.
Setelah makanan datang, Alea terlebih dahulu memisahkan sebagian dari makanannya sehingga membuat Rasya merasa heran.
"Kenapa makanannya kamu bagi dua?"
"Kalau makanan nya tidak habis kan sayang kalau dibuang, tapi kalau kita bagi dua dulu, nanti sisanya bisa dibawa pulang," jawab Alea, dan Rasya tertegun ketika mendengar jawaban Alea, karena baru kali ini Rasya bertemu dengan perempuan seperti Alea.
__ADS_1
"Alea, bukannya kamu berasal dari keluarga kaya? Tapi sepertinya kamu menjalani kehidupan yang sederhana."
"Mama saya meninggal dunia ketika melahirkan saya ke Dunia ini, dan saya hidup di kampung bersama dengan Nenek. Selama dua puluh tahun ini saya hidup kekurangan, karena uang yang dikirim Papa tidak pernah sampai ke tangan kami."
"Kenapa bisa seperti itu?"
"Ceritanya panjang, gak bakalan kelar dalam satu hari kalau saya menceritakannya. Yang penting saya bersyukur karena sekarang saya bisa kuliah dan memiliki pekerjaan yang bagus, jadi saya bisa berbagi dengan orang yang membutuhkan," jawab Alea dengan tersenyum.
Rasya merasa kagum dengan sosok Alea, karena selain cantik, Alea juga memiliki hati yang baik.
Setelah Alea dan Rasya selesai makan malam, Alea meminta tolong kepada pelayan Restoran supaya membungkus makanan yang sebelumnya sudah dia sisihkan, Alea juga membeli nasi untuk ia tambahkan ke dalam dus makanan, apalagi lauk yang tersisa masih cukup banyak.
"Mbak, ini uang untuk bayar nasinya," ujar Alea dengan memberikan uang lima puluh ribu kepada kasir.
"Mbak, sekalian saja nasinya satuin sama makanan yang barusan," ujar Rasya dengan memberikan kartu hitam miliknya.
"Tidak perlu Tuan, biar nasinya saya yang bayar. Saya tidak enak sudah ditraktir sama Tuan Rasya."
"Kamu tidak perlu merasa sungkan kepadaku. Apa kamu mau pesan makanan lagi untuk kamu bawa pulang?" tanya Rasya.
Rasya kembali melajukan mobilnya untuk mengantar Alea pulang, tapi tiba-tiba Alea meminta Rasya untuk menghentikan mobilnya.
"Tuan, bisa berhenti sebentar tidak?" tanya Alea, kemudian turun dengan membawa kantong kresek yang berisi kotak makanan.
Rasya terkejut karena ternyata Alea turun untuk memberikan makanan yang ia bawa kepada Tunawisma yang tengah duduk di pinggir jalan, padahal sebelumnya Rasya pikir Alea ingin membawanya pulang, bahkan Rasya melihat Alea memberikan uang kepada Tunawisma tersebut.
Setelah memberikan makanan dan uang, Alea kembali masuk ke dalam mobil dengan mengembangkan senyuman.
"Maaf ya Tuan Rasya harus menunggu lama" ucap Alea yang merasa bahagia karena sudah bisa berbagi dengan orang yang membutuhkan.
"Ternyata selain cantik, kamu juga memiliki hati yang baik," puji Rasya yang semakin merasa kagum dengan ketulusan hati Alea.
"Saya hanya membagi sesuatu yang saya miliki, karena saya tau bagaimana rasanya menahan lapar saat kita tidak memiliki uang dan makanan," jawab Alea dengan tersenyum sekaligus menitikkan airmata ketika mengingat masalalunya yang menyedihkan.
Entah kehidupan seperti apa yang sudah Alea lewati, ucap Rasya dalam hati yang merasa kasihan kepada Alea.
Tidak terasa, Alea dan Rasya akhirnya sampai di depan gerbang rumah Alea.
__ADS_1
"Terimakasih banyak Tuan Rasya sudah berkenan mengantar saya pulang. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Alea, kemudian mengucap salam ketika turun dari mobil.
Ketika Alea membuka pintu rumah, tiba-tiba Arumi dan Mamanya langsung menarik tubuh Alea, bahkan mereka menjambak rambut serta mendorong tubuh Alea hingga terjatuh di atas lantai.
Bruk
Tubuh Alea tersungkur di atas lantai, bahkan kedua kakinya sampai terluka karena terbentur lantai.
"Rasain kamu perempuan ja*lang. Kamu memang pantas mendapatkan semua itu. Apa kamu merasa hebat setelah merebut posisiku menjadi Sekretaris Rasya?" ujar Arumi dengan kembali menjambak rambut Alea.
"Kamu memang tidak tahu diri, sama seperti si ja*lang Puspa yang sudah menggoda Suami ku dengan tubuhnya," teriak Mama Bela dengan mencengkram dagu Alea.
Alea yang mendengar Mama Bela membawa nama Ibunya, merasa tidak terima.
"Cukup Tante, Tante boleh menghina saya, tapi Tante tidak berhak menghina mendiang Ibu. Bukannya Tante yang sebelumnya sudah merebut dan menjebak Papa supaya menikahi Tante?" teriak Alea supaya Papa Wisnu mendengarnya, dan melihat kelakuan Anak dan Istri yang selama ini selalu beliau bangga banggakan.
Plak
Tamparan keras mendarat pada pipi Alea, bahkan dari sudut bibir Alea terlihat mengeluarkan darah.
Beberapa saat kemudian, Papa Wisnu ke luar dari ruang kerja ketika mendengar keributan yang berasal dari ruang tamu, begitu juga dengan Rasya yang datang untuk mengantarkan handphone Alea yang tertinggal di dalam mobilnya.
"Apa yang sudah kalian lakukan kepada Alea?" tanya Papa Wisnu dan Rasya secara bersamaan.
Arumi dan Mama Bela terkejut ketika melihat Papa Wisnu dan Rasya sudah berdiri di hadapan mereka.
"Bagaimana ini Ma, kita sudah tertangkap basah," bisik Arumi yang merasa ketakutan, apalagi saat ini wajah Alea terlihat bengkak dengan beberapa luka pada tubuhnya, bahkan rambutnya terlihat acak-acakan.
"Alea, kamu baik-baik saja kan?" tanya Rasya dengan membantu Alea berdiri, kemudian Rasya memapah Alea untuk duduk di atas sofa yang berada di ruang tamu.
"Mama, Arumi, sekarang juga kalian jelaskan sama Papa, apa yang sudah kalian lakukan kepada Alea? Kenapa Alea bisa sampai seperti itu?" teriak Papa Wisnu.
*
*
Bersambung
__ADS_1