Menantu Benalu 2

Menantu Benalu 2
Bab 60 ( Dunia tidak selebar daun kelor )


__ADS_3

Fajar memutuskan untuk langsung pulang ke kediaman orangtua Mentari, karena mood nya saat ini telah hancur setelah bertemu dengan perempuan tidak tahu malu seperti Eliza.


"Seandainya aku tau kalau ada Eliza di kantor, aku tidak akan mau datang ke kantor kalau hanya membuat mood ku hancur saja," gumam Fajar.


Sesampainya di halaman rumah Bu Rima, Fajar melihat Mentari yang sedang merawat tanaman. Fajar langsung saja memeluk tubuh Mentari dari belakang.


"Assalamu'alaikum, kenapa Ayah sudah pulang lagi?" tanya Mentari yang tau jika yang memeluknya adalah Fajar.


"Wa'alaikumsalam, kok Bunda tau kalau yang meluk Bunda itu Ayah?" tanya Fajar yang terlihat enggan melepaskan pelukannya.


"Kan Ayah sendiri yang bilang, kalau kita pasti akan mempunyai indra keenam terhadap pasangan, dan sepertinya Bunda juga tau saat ini Ayah sedang tidak baik-baik saja," ujar Mentari yang sebenarnya sudah sangat memahami Fajar.


"Bagus deh kalau Bunda sudah tau, jadi tidak ada yang perlu Ayah ceritakan lagi, karena itu hanya akan membuat Ayah merasa kesal."


"Apa yang bisa Bunda lakuin buat Ayah?"


"Biarkan terus seperti ini ya, jangan bilang kalau Bunda malu dilihat oranglain," jawab Fajar yang semakin mengeratkan pelukannya.


Bu Rima saat ini akan pergi ke Rumah Sakit, karena sebelumnya Stella menelpon Bu Rima dan meminta tolong untuk menjaga Ratu, dikarenakan Stella ingin mengantarkan David menuju peristirahatan terakhirnya ke Sukabumi, dan Stella tidak mungkin membawa Ratu karena saat ini kondisi Ratu masih dalam masa pemulihan pasca operasi.


"Nak Fajar sudah pulang?" tanya Bu Rima yang melihat Fajar enggan melepaskan pelukannya kepada Mentari.


"Yah lepasin dulu, malu sama Ibu," bisik Mentari.


"Kenapa harus malu, Ibu juga pasti mengerti," ucap Fajar, dan Bu Rima hanya tersenyum melihatnya.


"Ibu mau kemana?" tanya Fajar.


"Ibu mau ke Rumah Sakit buat jagain Ratu, soalnya tadi Stella telpon, katanya dia mau pergi ke Sukabumi untuk mengantarkan David menuju peristirahatan terakhirnya, dan dia bingung mau minta tolong sama siapa lagi kalau bukan sama Ibu."


"Ibu di antar sama Pak Supri kan? kalau gak ada Pak Supri biar Fajar saja yang antar."

__ADS_1


"Pak Supri nya ada kok di depan lagi ngopi, kalian lanjutin saja aktifitas kalian berdua, Ibu pergi dulu ya takut ganggu, Assalamu'alaikum." ucap Bu Rima dengan melangkahkan kaki menuju tempat Pak Supri.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati Bu." ucap Fajar.


"Ibu pengertian banget ya sayang," sambung Fajar dengan cengengesan.


"Ayah gak malu gitu?"


"Ngapain malu, kita kan pasangan halal. Oh iya kemana Anak-anak, kok rumah kelihatannya sepi?" tanya Fajar.


"Bapak sama Anak-anak lagi pada tidur siang," jawab Mentari, dan Fajar langsung saja mengangkat tubuh Mentari lalu membawanya masuk ke dalam rumah.


"Ayah mau ngapain?" tanya mentari yang terlihat panik.


"Gak usah panik gitu, sebaiknya kita lanjutin di kamar, mungpung semuanya lagi tidur," jawab Fajar dengan tersenyum, dan Mentari akhirnya menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada bidang Fajar.


................


Setelah Bu Rima sampai di Rumah Sakit, Bu Rima langsung menuju kamar perawatan Ratu, di sana Bu Rima melihat Stella dan Angga yang sudah siap-siap untuk pergi ke Sukabumi.


"Seharusnya Ibu yang berterimakasih kepada Stella karena sudah mau merawat Ratu, padahal Ratu bukan Anak kandung Stella."


"Ratu sudah Stella anggap sebagai Anak kandung Stella sendiri, apalagi Ratu adalah amanah dari Mas David. Kalau begitu Stella berangkat dulu ya Bu."


Stella dan Angga akhirnya berangkat setelah mengucapkan salam kepada Bu Rima.


Bu Rima kini mendekati ranjang pesakitan Ratu, dan saat ini Ratu masih tertidur dengan lelap karena pengaruh obat yang diminumnya.


"Kasihan sekali kamu Nak, masih kecil sudah mengalami penyakit yang parah serta harus kehilangan kedua orangtua kamu. Meskipun Jingga masih hidup, tapi dia saat ini berada di Rumah Sakit Jiwa, dan yang lebih parahnya lagi, Ibu kamu sendiri yang menjadi penyebab kematian Ayah kamu," gumam Bu Rima dengan mengelus rambut Ratu.


................

__ADS_1


Stella memutuskan untuk ikut dengan mobil Ambulance yang membawa jenazah David, sedangkan Angga mengikutinya dari belakang.


Setelah menempuh tiga jam perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di rumah duka.


Ketika mobil jenazah sampai di kediaman Bu Salamah, Jenazah David disambut oleh isak tangis keluarga dan tetangganya. Bu Salamah yang melihat Stella keluar dari mobil ambulance bersama dengan jenazah David pun, langsung berhambur memeluk tubuh Stella.


"Maafin Aa ya Nak, jika semasa hidupnya Anak Ibu sudah menyakiti kamu," ujar Bu Salamah yang saat ini menangis dengan berpelukan dengan Stella.


"Stella sudah ikhlas Bu, mungkin semua itu sudah takdir Stella, dan Mas David telah menebus kesalahannya dengan mengorbankan nyawanya demi Stella.


"Makasih banyak ya Nak, kamu memang perempuan baik. Oh iya, gimana kabar Ratu? apa operasinya berjalan dengan lancar?" tanya Bu Salamah.


"Alhamdulillah Bu, operasinya berjalan dengan lancar."


"Lalu siapa yang sekarang menjaga Ratu di Rumah Sakit?" tanya Bu Salamah.


"Ibu tenang saja, Ratu dijaga oleh Nenek dari Ibunya yang pasti akan menjaganya dengan baik," jawab Stella.


"Syukurlah kalau begitu Nak, nanti Ibu akan sering mengunjungi Ratu karena hanya dia satu-satunya peninggalan David."


"Iya Bu, semoga saja Ratu segera pulih, Stella juga akan sering membawanya kemari."


Beberapa saat kemudian, setelah Jenazah David selesai disolatkan, Stella dan yang lainnya membawa David menuju tempat peristirahatan terakhirnya.


Selamat tinggal Mas, semoga kamu bisa beristirahat dengan tenang, karena aku akan selalu menjaga Ratu dan juga menyayanginya seperti Anak kandungku sendiri, ucap Stella dalam hati.


Setelah acara pemakaman selesai, Stella dan Angga memutuskan untuk langsung pulang ke Bogor, karena besok Angga harus masuk kerja, dan Stella juga harus menjaga Ratu.


"Bu, maaf ya karena Stella tidak bisa ikut acara tahlil."


"Tidak apa-apa Nak, kasihan Ratu kalau kamu tinggal terlalu lama. Stella jaga kesehatan ya, semoga suatu saat nanti Stella bisa mendapatkan pengganti yang lebih baik segala-galanya dibandingkan dengan David."

__ADS_1


"Terimakasih atas do'anya Bu, tapi selamanya Mas David akan selalu ada di dalam hati Stella dan tak akan pernah tergantikan oleh siapa pun," ujar Stella dengan memeluk tubuh Bu Salamah.


"Lanjutkan hidupmu Nak, jangan pernah melihat lagi ke belakang, lupakan semua yang telah terjadi, Dunia ini tidak sebesar daun kelor, Ibu yakin kamu bisa bangkit dan menemukan belahan jiwa kamu yang lain, jangan terus-terusan terpuruk dalam kesedihan," ujar Bu Salamah dengan mengurai pelukannya, kemudian menghapus airmata yang masih terus mengalir di pipi Stella.


__ADS_2