Menantu Benalu 2

Menantu Benalu 2
Bab 29 ( Mentari untuk Fajar )


__ADS_3

Fajar masih tetap setia menunggu Mentari sampai dia membuka hati untuknya, padahal kenyataan yang sebenarnya Mentari sudah jatuh hati terhadap sosok Fajar yang begitu menyayangi kedua Anak dan juga orangtuanya.


Aku akan tetap menunggu kamu sampai kapan pun, karena bagiku kamu adalah cinta pertama dan terakhir untukku Mentari, batin Fajar.


Besok usia Rasya dan Raisya tepat 1 tahun, dan Fajar berniat untuk mengadakan syukuran ulang tahun si Kembar.


"Ayah, sebaiknya kita mengadakan acara syukuran kecil-kecilan saja ya, cukup kita sekeluarga, tidak perlu mengundang oranglain," ujar Mentari.


"Tidak Bunda, Ayah maunya Rasya dan Raisya merayakan ulang tahun mereka secara besar-besaran, apalagi ini ulang tahun pertama mereka lho," ujar Fajar.


Mentari terlihat melamun, karena dia selalu merasa tidak enak terhadap perlakuan istimewa yang Fajar berikan, padahal mereka tidak terikat dalam suatu hubungan.


Apa hanya perasaanku saja ya kalau Mas Fajar terlalu berlebihan memperlakukan keluargaku? Bahkan Bang Angga saja tidak pernah menjenguk Anaknya, jangankan memberikan uang untuk kebutuhan si Kembar, untuk sekedar menanyakan kabarnya saja Bang Angga tidak pernah, batin Mentari.


Angga sebenarnya malu untuk menanyakan kabar kedua Anaknya, karena uang yang Angga tabung untuk diberikan kepada Rasya dan Raisya habis terpakai untuk menutupi hutang perusahaan.


Semenjak bercerai dengan Mentari, hidup Angga menjadi berantakan, karena Jingga hanya istri di atas kertas untuknya, dan pada kenyataannya baik Jingga atau pun Angga tidak saling mencintai, bahkan mereka jarang bertegur sapa dan sibuk dengan urusan masing-masing.


Bu Rima dan Pak Hasan berniat untuk memberitahukan kepada Mentari tentang perasaan Fajar yang sebenarnya, karena mereka merasa sudah terlalu lama menunggu, apalagi Rasya dan Raisya selalu ingin dekat dengan Fajar, sehingga Bu Rima dan Pak Hasan merencanakan sesuatu untuk menyatukan Mentari dan Fajar.


"Mentari, ada yang ingin Ibu dan Bapak bicarakan," ujar Bu Rima.


Mentari akhirnya ikut Bu Rima dan Pak Hasan ke dalam kamar mereka.


"Ada apa Bu? Sepertinya ada hal penting yang ingin Bapak dan Ibu sampaikan?" Tanya Mentari.


"Iya Mentari, kami berdua sudah tidak tahan untuk mengatakan semuanya kepada kamu," ujar Bu Rima.


"Maksud Ibu apa?" Tanya Mentari heran.


"Kamu itu terlalu polos Nak, apa kamu tidak menyadari tentang perasaan Nak Fajar selama ini?" tanya Pak Hasan.

__ADS_1


"Memangnya kenapa dengan Mas Fajar?" Tanya Mentari.


"Ibu mau tanya, bagaimana perasaan Mentari kepada Nak Fajar? apakah Mentari mempunyai perasaan cinta kepadanya?"


Mentari hanya diam karena terlalu malu untuk mengakui semuanya.


"Kenapa kamu diam Nak? Apa kamu sudah jatuh cinta terhadap Nak Fajar?" Tanya Pak Hasan yang kembali mendesak Mentari.


"Mas Fajar tidak mungkin mencintai Mentari, karena status Mentari saat ini adalah seorang Janda beranak dua. Jadi, seandainya Mentari sudah jatuh cinta kepadanya, mungkin perasaan Mentari hanya bertepuk sebelah tangan," jawab Mentari.


"Sepertinya kita harus segera meluruskan kesalahpahaman ini Bu," ujar Pak Hasan.


"Iya Pak, padahal Ibu yakin kalau dari dulu Nak Fajar sudah jatuh cinta kepada Mentari, cuma dia juga malu untuk mengutarakannya," jawab Bu Rima sehingga membuat Mentari membulatkan matanya karena terkejut.


"Ibu dan Bapak jangan memberikan harapan palsu terhadap Mentari, karena Mas Fajar tidak mungkin mencintai Mentari, Mas Fajar hanya menganggap Mentari sebagai Adiknya saja, dan Mas Fajar terlalu sempurna untuk Mentari miliki."


Fajar sebenarnya dari awal sudah berada di dalam kamar Bu Rima dan Pak Hasan, dan dia bersembunyi di dalam lemari, karena Bu Rima dan Pak Hasan sebelumnya sudah merencanakan semuanya supaya Fajar bisa mendengar semua perkataan Mentari yang sebenarnya.


"Tapi menurut Ayah, Bunda adalah perempuan yang paling sempurna di Dunia ini," ucap Fajar sehingga membuat Mentari terkejut.


"Mas Fajar," ucap Mentari, kemudian Mentari langsung menutup wajahnya karena malu.


"Kenapa wajah cantik Bunda harus ditutupi?" Tanya Fajar.


"Kenapa Ibu sama Bapak bikin Mentari malu?" Ujar Mentari dengan menangis.


"Kalau kami tidak mempunyai inisiatif, kapan kalian berdua akan bersatu," ujar Bu Rima.


"Bapak dan Ibu hanya membantu supaya kalian bisa jujur dengan perasaan masing-masing," ujar Pak Hasan.


Fajar merasa sangat bahagia, karena penantiannya selama ini tidak sia-sia, karena ternyata Mentari mempunyai perasaan yang sama dengannya.

__ADS_1


"Terimakasih ya Pak, Bu, kalau Ibu dan Bapak tidak membantu kami, mungkin Fajar tidak akan pernah mengetahui isi hati Mentari yang sebenarnya, dan Fajar masih akan tetap menunggu sampai lumutan," ujar Fajar dengan terkekeh, sehingga membuat Bu Rima dan Pak Hasan tertawa bahagia, lain hal nya dengan Mentari yang masih menutup wajahnya karena malu.


"Pak, sebaiknya kita keluar dulu, supaya gak ada yang malu," ajak Bu Rima.


Bu Rima dan Pak Hasan akhirnya keluar meninggalkan Mentari dan Fajar supaya mereka berdua bisa leluasa untuk berbicara, dan Fajar pun secara perlahan mendekati Mentari.


"Hey, kenapa Bunda masih saja menangis," ujar Fajar dengan memegangi tangan Mentari yang masih menutupi wajahnya.


Mentari sebenarnya menangis bahagia karena selama ini ternyata Fajar mempunyai perasaan yang sama.


Fajar yang masih melihat Mentari diam mematung pun langsung saja membawa Mentari ke dalam pelukannya.


Secara perlahan Mentari menurunkan tangannya, kemudian memeluk erat tubuh Fajar.


"Sudah lama Ayah menunggu hari ini, tidak pernah terpikirkan jika Bunda ternyata memiliki perasaan yang sama. Terimakasih sayang, Ayah harap Bunda akan selalu mendampingi Ayah dalam suka dan duka," ucap Fajar, sehingga membuat Mentari semakin terharu.


Entah sejak kapan rasa cinta itu tumbuh di hati Mentari, tapi Fajar selalu meyakini jika Mentari tercipta untuk Fajar.


"Sejak kapan Ayah punya perasaan cinta terhadap Bunda?" Tanya Mentari dengan mendongakkan wajahnya melihat lekat wajah tampan yang selalu mendampinginya pada saat dia berada dalam kesusahan.


"Sebenarnya perasaan itu tumbuh jauh sebelum kita bertemu, karena dulu Ayah pernah melihat foto Bunda," ucap Fajar.


"Kok bisa? Berarti waktu itu Bunda masih menjadi Istri Bang Angga?" Tanya Mentari.


"Jauh sebelum Bunda menikah dengan Angga, perasaan itu sudah tumbuh di hati Ayah," jawab Fajar dengan tersenyum.


"Jadi, perempuan bernama Mentari yang selama ini selalu Ayah ceritakan adalah Bunda?"


"Iya sayang, makanya Ayah selalu ingin menjaga Bunda serta melindungi Bunda dari orang-orang yang berusaha untuk menyakiti Bunda, meskipun Ayah tau jika waktu itu cinta Ayah hanya bertepuk sebelah tangan."


"Sebegitu besarnya rasa cinta itu, sampai Ayah rela melihat Bunda hidup dengan lelaki lain," ucap Mentari.

__ADS_1


"Cinta Ayah pada Bunda adalah cinta tak bersyarat, jadi Ayah harap Bunda mau mendampingi Ayah sampai maut yang memisahkan kita, dan kalau perlu sekarang juga kita akan menikah," ucap Fajar.


__ADS_2