
Raisya mendengarkan cerita Zain dengan seksama, dan Raisya menghela nafas panjang ketika mengetahui jika Zain diam diam mencintai perempuan tersebut.
"Asisten Zain tidak boleh menyerah, kita tidak tau perempuan tersebut suka atau tidak jika Asisten Zain tidak pernah mengungkapkan perasaan yang Asisten Zain miliki. Siapa tau perempuan tersebut memiliki perasaan yang sama."
"Itu semua tidak mungkin, karena perempuan tersebut sudah memiliki seseorang yang spesial dalam hatinya."
"Selagi ada kesempatan, apa salahnya kita mencoba, apalagi semua itu masih belum pasti. Dulu juga aku hanya bisa menyimpan perasaan untuk Kak Dimas di dalam hati, dan mencintai dalam diam itu rasanya menyakitkan, apalagi ketika orang yang kita cintai telah dimiliki oleh orang lain, tapi ternyata, dengan seiring waktu, akhirnya Kak Dimas menyadari jika Kak Dimas memiliki perasaan yang sama denganku. Meski pun sekarang aku tidak tau keberadaan Kak Dimas, tapi kami memiliki buah hati yang akan selalu menyatukan cinta kami," ucap Raisya dengan tersenyum serta mengelus perutnya.
Zain tidak menyangka jika dulu Raisya mengalami hal yang sama seperti yang dia rasakan saat ini.
Ternyata Raisya pernah merasakan apa yang aku rasakan. Meski pun aku tidak bisa memilikinya, tapi aku merasa sangat bahagia, karena sekarang aku bisa selalu dekat dengannya. Cinta tidak harus saling memiliki. Akan tetapi, mulai sekarang, aku akan selalu menjaga Raisya dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku harus berusaha menjaga Raisya dari Lukman, karena aku yakin jika Lukman memiliki niat buruk terhadap Raisya, ucap Zain dalam hati.
"Nona, terimakasih atas sarannya. Meski pun saya tidak bisa memiliki perempuan yang saya cintai, tapi saya merasa sangat bahagia bisa selalu dekat dengannya. Bukannya cinta itu tidak harus saling memiliki? Asalkan orang yang kita cintai bahagia, kita harus ikut bahagia walau pun hati kita terluka," ujar Zain dengan tersenyum.
Raisya kagum mendengar perkataan Zain, karena Zain terlihat tulus mencintai perempuan tersebut, dan tidak egois untuk memilikinya.
"Aku kagum karena Asisten Zain tulus mencintai perempuan tersebut. Dia pasti perempuan paling beruntung di Dunia ini karena bisa dicintai oleh Asisten Zain," ucap Raisya dengan tersenyum juga.
Apa kamu masih akan berkata seperti itu jika mengetahui bahwa perempuan yang aku cintai adalah kamu, Raisya? batin Zain.
......................
Di tempat lain, semakin hari Dimas semakin merasakan rindu terhadap sosok seorang perempuan yang selalu masuk ke dalam mimpinya, tapi wajah perempuan tersebut hanya terlihat samar, dan yang Dimas selalu ingat hanya suaranya yang terus memanggil Dimas untuk pulang.
"Raisya," teriak Dimas ketika terbangun dari tidurnya.
"Mas Aksa kenapa? Apa Mas Aksa mimpi buruk lagi?" tanya Aira yang sebenarnya merasa kesal karena hampir setiap malam Dimas memanggil nama Raisya dalam tidurnya.
"Aku tidak kenapa-napa. Mungkin aku hanya kecapean saja," jawab Dimas, kemudian melangkahkan kaki nya ke kamar mandi.
"Raisya, Raisya, Raisya. Kenapa dia selalu menjadi penghalang dalam hubunganku dengan Dimas? Aku menyesal karena dulu tidak menghabisinya. Untung saja sampai sekarang Dimas masih meminum obat yang aku berikan supaya ingatannya tidak kembali lagi, tapi sampai kapan semua itu akan bertahan?" gumam Aira dengan mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
Aira semakin geram ketika mendengar tangisan Arka, dan Aira rasanya ingin sekali membungkam mulut bayi tidak berdosa tersebut.
"Rasanya aku ingin sekali membungkam mulut kamu supaya berhenti menangis. Kamu lihat saja nanti, setelah aku berhasil mendapatkan Papa kamu seutuhnya, kamu akan aku buang ke Panti Asuhan, dan kami akan memiliki bayi sendiri," ujar Aira dengan tersenyum licik.
Dimas yang sekilas mendengar perkataan Aira, langsung angkat suara untuk menanyakan maksud dari perkataan Aira.
"Apa maksud kamu berbicara tentang Panti Asuhan Aira?"
Degg
Jantung Aira rasanya berhenti berdetak ketika mendengar suara Dimas yang tiba-tiba berada di belakangnya.
"A_aku hanya kasihan dengan nasib Anak-anak di Panti Asuhan karena tidak memiliki orangtua yang lengkap seperti Arka," jawab Aira dengan tergagap.
"Iya, kamu benar, Arka masih memiliki orangtua, dan kita harus selalu menjaga serta merawatnya dengan penuh cinta dan kasih sayang," ucap Dimas dengan menggendong Arka dan menciumi wajah bayi tampan yang semakin hari semakin mirip dengan Dimas.
......................
"Sayang, apa tidak ada lagi yang ingin Alea bawa?" tanya Rasya dengan memeluk tubuh Alea, karena Rasya ingin selalu menempel dengan Istrinya tersebut.
"Sepertinya semua yang ingin kita bawa sudah selesai dimasukin Mas," jawab Alea yang masih merasa gugup ketika berada di dekat Rasya.
"Kalau begitu, sebaiknya sekarang kita tidur supaya besok tidak kesiangan," ujar Rasya dengan membaringkan tubuhnya.
"Ta_tapi kita benar benar hanya tidur saja kan?" tanya Alea yang masih takut jika Rasya akan meminta hak nya.
"Memangnya kamu mau kita ngapain dulu sebelum tidur?" goda Rasya dengan menaik turunkan alisnya.
"A_aku juga sudah ngantuk Mas, sebaiknya sekarang kita tidur," ujar Alea dengan membaringkan tubuhnya di samping Rasya.
"Sayang, Mas tidak mungkin meminta hak sebagai Suami, karena Mas tau kalau Istri Mas yang cantik ini masih kesakitan," ucap Rasya dengan memeluk tubuh Alea, dan Alea merasa malu karena sudah berpikir yang tidak-tidak.
__ADS_1
Keesokan paginya..
Rasya dan Alea sudah bersiap untuk berangkat ke Bali. Kemudian keduanya turun untuk bergabung dengan yang lainnya yang sudah menunggu di meja makan.
"Akhirnya pasangan pengantin baru turun juga. Bagaimana jamu pemberian Nenek, manjur kan?" tanya Bu Rima dengan tertawa kecil.
"Ibu senang sekali godain Anak-anak. Kasihan Rasya dan Alea jadi malu mendengar pertanyaan Ibu," ujar Mentari.
"Rasya, Alea, kalian hanya perlu mengecek perusahaan satu kali saja, karena itu hanya kedok untuk menutupi kalian yang pergi berbulan madu," ujar Fajar.
"Terimakasih banyak atas pengertiannya Yah, kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk perusahaan. Hitung-hitung sambil menyelam minum air," ucap Rasya.
Alea dan Rasya sebenarnya merasa kasihan dengan Raisya, karena sejak mereka menikah, Raisya selalu terlihat murung.
"Raisya, kamu baik-baik saja kan?" tanya Alea dengan memeluk tubuh Raisya.
"Aku baik-baik saja kok. Apa pun yang terjadi, aku harus kuat demi bayi yang ada dalam kandunganku. Semoga saat pulang nanti, Kakak ipar juga bisa segera hamil, supaya nanti Anak ku memiliki Teman," ujar Raisya dengan memaksakan diri untuk tersenyum.
"Kakak pasti akan berusaha supaya Alea bisa segera hamil," ujar Rasya, dan wajah Alea memerah karena malu.
"Benarkan kata Ayah, kalau kulkas dua pintu akan berubah menjadi bucin jika sudah bertemu dengan pawangnya," sindir Fajar, dan semuanya menertawakan sikap Rasya yang akhirnya berubah setelah menikah.
Rasya yang semakin merasa malu karena terus digoda oleh para orangtua, memutuskan untuk segera mengajak Alea pergi.
"Sayang, sebaiknya kita pergi sekarang, supaya kita tidak terus menjadi bahan olokan para orangtua."
Setelah Alea dan Rasya berpamitan kepada semua keluarga, keduanya berangkat menuju Bandara untuk pergi berbulan madu.
*
*
__ADS_1
Bersambung