
Mentari dan Fajar akhirnya sampai di Rumah Sakit, dan langsung saja mereka menuju kamar perawatan Jingga untuk menemui Bu Rima.
Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan Salam, mereka berdua pun masuk dan melihat Bu Rima yang sedang menangis.
"Bu, Ibu baik-baik saja kan? kita harus kuat, karena itu adalah takdir yang Kak Jingga pilih," ucap Mentari dengan memeluk tubuh Bu Rima.
"Iya Nak, seandainya saja tadi Ibu tidak meninggalkan Jingga untuk pergi ke Mushala mungkin saat ini Jingga masih hidup."
"Jangan pernah menyalahkan diri sendiri Bu, karena Mentari yakin jika Kak Jingga sudah merencanakan semuanya, jika tidak sekarang, mungkin dia akan melakukannya nanti. Ibu jangan berlarut-larut dalam kesedihan ya, sebaiknya kita berdo'a untuk Kak Jingga, dan kita juga harus segera menguburkan jenazahnya."
Setelah selesai mengurus administrasi kepulangan Jenazah Jingga, akhirnya Jenazah Jingga pun langsung dibawa ke rumah duka.
Bu Rima masih menangisi kepergian Jingga karena bagaimanapun juga Jingga adalah Putrinya, sedangkan Stella merasa bahagia karena orang yang telah membunuh Suaminya akhirnya meninggal juga.
Maafkan aku Jingga karena sudah merasa bahagia melihat kematianmu, mungkin aku kejam, tapi semasa hidup kamu, kamu lebih kejam dariku, bahkan mungkin kamu adalah orang terkejam yang pernah aku kenal, ucap Stella dalam hati.
......................
Keesokan harinya, Mentari, Fajar, Bu Rima dan Pak Hasan mengantar Jingga ke tempat peristirahatan terakhirnya, sedangkan Stella beralasan tidak ada yang menjaga Anak-anak makanya dia tidak ikut, padahal ada beberapa karyawan yang sengaja Mentari suruh untuk menjaga Anaknya karena toko diliburkan untuk beberapa hari. Mentari mengerti kenapa Stella tidak mau ikut ke pemakaman Jingga, karena Stella pasti masih belum bisa memaafkan semua kesalahan yang telah Jingga perbuat.
Tidak banyak orang yang mengantar Jingga ke pemakaman, karena hampir semua tetangga tidak menyukai Jingga semasa hidupnya.
Setelah pemakaman selesai, semua orang kini telah pulang, Mentari langsung saja menyuruh Karyawan di toko untuk membantu mempersiapkan acara tahlil Jingga.
Fajar yang melihat Mentari sibuk pun langsung menghampirinya.
"Sayang, Bunda jangan terlalu cape ya, Ayah tidak mau kalau Bunda sampai sakit," ucap Fajar dengan memeluk tubuh Mentari.
__ADS_1
"Gak apa-apa kok Yah, sebentar lagi juga selesai, kasihan Ibu juga masih syok atas kematian Kak Jingga yang mendadak."
"Untung saja Rasya dan Raisya tidak rewel, apalagi sekarang mereka sudah bisa bermain dengan Rayna dan Ratu," ujar Fajar.
"Ya sudah kalau begitu sekarang kita ke kamar saja," ajak Mentari kepada Fajar.
"Ini kan masih siang, mau ngapain kita ke kamar?" tanya Fajar dengan cengengesan.
"Mau ngapa-ngapain," jawab Mentari yang merasa kesal karena Fajar terus saja menggodanya, sampai akhirnya Mentari masuk duluan ke dalam kamar untuk beristirahat.
"Bunda, kok Ayah ditinggalin sih?" tanya Fajar, kemudian ikut merebahkan tubuhnya di samping Mentari.
"Bunda jangan marah ya, Ayah kan cuma bercanda," ujar Fajar dengan memeluk tubuh mentari.
"Pantesan aja gak ngomong, ternyata udah tidur," gumam Fajar, kemudian ikut menyusul Mentari ke alam mimpi.
"Kak Jingga, syukurlah, ternyata Kakak baik-baik saja, Mentari kira Kak Jingga sudah meninggal dunia."
"Kakak memang sudah meninggal dunia Mentari. Maafin Kakak ya De, karena selama Kakak hidup, Kakak selalu membuat hidup kamu Menderita. Mentari harus tau kalau jauh di dalam lubuk hati Kak Jingga, Kakak sangat menyayangi Mentari. Kakak titip Anak-anak ya, Kakak yakin kalau Mentari akan menjaga mereka dengan baik, tolong sampaikan maaf Kakak kepada Semuanya," ujar Jingga.
Sesaat kemudian datang makhluk dengan tubuh tinggi besar menyeret Jingga yang sedang berpelukan dengan Mentari sehingga Jingga menjerit kesakitan karena rambutnya ditarik oleh makhluk tersebut, Mentari mencoba untuk menolong Jingga, tapi Jingga semakin jauh, dan Mentari hanya mendengar suara Jingga yang menjerit kepanasan.
"Kak Jingga, tunggu Kak, jangan tinggalin Mentari," teriak Mentari yang terdengar mengigau.
"Sayang, bangun Bunda, Bunda mimpi buruk ya?" ujar Fajar dengan menggoyang-goyangkan tubuh Mentari.
Tubuh Mentari saat ini gemetar hebat dan sudah dipenuhi dengan keringat, sampai akhirnya Fajar membisikan Ayat Kursi pada telinga Mentari.
__ADS_1
"Alhamdullillah, akhirnya Bunda bangun juga," ucap Fajar pada saat melihat Mentari yang terbangun dan langsung memeluk tubuhnya dengan erat karena merasa ketakutan.
"Bunda minum dulu ya supaya Bunda merasa lebih tenang," ujar Fajar dengan memberikan segelas air kepada Mentari.
"Makasih Yah, maaf Bunda sudah membuat Ayah merasa khawatir," ucap Mentari dengan berderai airmata saat kembali mengingat mimpi buruknya.
Kenapa semua itu terlihat begitu nyata? apa Kak Jingga saat ini sedang menerima siksa kubur? semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa Kak Jingga, ucap Mentari dalam hati.
"Bunda mimpi buruk ya?" tanya Fajar dengan mengelus lembut kepala Mentari.
"Bunda mimpi bertemu Kak Jingga, Kak Jingga datang untuk meminta maaf, bahkan Kak Jingga meminta supaya Mentari menyampaikan permohonan maafnya kepada semua orang. Namun, pada saat kami berpelukan, datang sosok makhluk tinggi besar dengan wajah yang mengerikan menarik rambut Kak Jingga serta menyeret tubuhnya. Mentari ingin mencoba menolongnya, tapi kaki Mentari tidak dapat digerakkan, sampai akhirnya dari kejauhan Bunda mendengar Kak Jingga berteriak minta tolong karena karena kepanasan."
"Itu hanya mimpi saja Bunda, jadi Bunda jangan terlalu banyak pikiran ya, mimpi itu hanya bunga tidur, mungkin Bunda tadi lupa baca do'a sebelum tidur," ujar Fajar dengan memeluk tubuh Mentari.
"Tapi mimpi itu seperti nyata Yah, apa mungkin Kak Jingga mengalami siksa kubur karena telah berbuat jahat selama hidupnya, dan juga telah mengakhiri hidupnya?" tanya Mentari.
"Wallahu alam, kita tidak tau karena semua itu adalah rahasia ilahi, mungkin itu semua harus kita jadikan pelajaran supaya tidak melakukan kesalahan yang sama dengan yang telah Jingga perbuat semasa hidupnya," jawab Fajar.
"Atas nama Kak Jingga, Bunda minta maaf ya, jika selama hidupnya dia telah melakukan kesalahan kepada keluarga Ayah."
"Sudahlah sayang, Bunda jangan terlalu banyak pikiran, Ayah sudah mengikhlaskan semuanya," tapi Ayah takut jika suatu saat nanti Dimas dan Dita tau kejadian yang sebenarnya penyebab Ibu mereka meninggal, Dimas akan melakukan balas dendam kepada Anak-anak Jingga, lanjut Fajar dalam hati.
"Makasih ya Yah, Ayah memang Suami idaman, Ayah idaman, dan juga Menantu idaman," puji Mentari dengan terkekeh.
"Muji sih muji, tapi gak perlu sambil tertawa juga kali, jadi kelihatan kalau mujinya tidak ikhlas," sindir Fajar.
"Lalu bagaimana cara memberikan pujian yang ikhlas, apa harus seperti ini?" tanya Mentari kemudian mencium bibir Fajar, dan semakin lama ciuman itu semakin dalam, dan akhirnya terjadilah sesuatu yang sudah dinantikan oleh Fajar, yaitu buka puasa..🤭
__ADS_1