
Ratu yang merasa kesepian karena tidak kunjung memiliki buah hati, memberikan usul kepada Hilman supaya mereka bisa secepatnya mengadopsi Anak dari Panti Asuhan.
"Mas, lebih baik secepatnya saja kita mengadopsi bayi. Siapa tau dengan begitu kita bisa segera memiliki Anak juga, rasanya rumah sepi sekali jika kita hanya tinggal berdua," ujar Ratu, apalagi sekarang Ratu dan Hilman sudah memiliki rumah yang lebih besar dibandingkan rumah sebelumnya.
"Ya sudah, kalau begitu besok kita ke Panti Asuhan untuk mengadopsi bayi. Oh iya, Ratu ingin mengadopsi bayi laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan saja Mas, dari dulu Ratu ingin sekali memiliki Anak pertama berjenis kelamin perempuan, supaya nanti Anak kita bisa membantu merawat Adiknya," jawab Ratu dengan mata yang berbinar ketika membayangkan jika dirinya dan Hilman memiliki Anak perempuan.
"Semoga saja jalan kita untuk mengadopsi Anak dipermudah oleh Allah SWT," ucap Hilman yang di Amini oleh Ratu.
Pada saat rumah tangga Hilman dan Ratu berjalan dengan harmonis meski pun belum dikaruniai buah hati, lain hal nya dengan rumah tangga Lukman dan Viona, karena saat ini Lukman terus berambisi untuk mendapatkan Raisya dan harta peninggalan Dimas, sehingga membuat Viona merasa cemburu.
"Mas, apa aku dan bayi kita tidak berarti sama sekali untuk kamu?"
"Sayang, kenapa Vio berkata seperti itu?" tanya Hilman dengan mengelus lembut rambut Viona.
"Mas, kenapa kamu terus saja memikirkan cara untuk mendapatkan perempuan yang jelas-jelas tengah hamil Anak lelaki lain? Apa Mas pikir aku tidak memiliki hati?" teriak Viona yang sudah merasa muak dengan obsesi Lukman.
"Sayang, Viona dan bayi kita adalah harta yang paling berharga untuk Mas, tapi Mas tidak bisa melepas Raisya begitu saja, karena hanya Raisya satu-satunya alat yang bisa Mas pakai untuk mengambil semua harta Dimas," ujar Lukman dengan menangkup kedua pipi Viona.
"Sekarang Mas sudah berubah. Aku tidak mengenal Mas Lukman yang sekarang. Mas tidak perlu berbohong lagi, Mas katakan saja yang sejujurnya jika Mas sudah mulai jatuh cinta sama Raisya, bukan hanya sekedar ingin mendapatkan hartanya saja," ujar Viona dengan menangis.
Lukman terlihat berpikir, karena tidak dapat Lukman pungkiri jika hati kecilnya sudah mulai jatuh hati pada sosok Raisya, tapi Lukman tidak mau menyakiti perempuan yang sangat dicintainya yaitu Viona.
"Sudahlah Viona, kamu jangan terlalu banyak berpikir. Saat ini kamu sedang hamil, dan aku tidak mau Anak kita sampai kenapa-napa. Sebaiknya, mulai sekarang kamu berhenti bekerja saja," ujar Lukman, kemudian mencium kening Viona sebelum berangkat kerja.
Setelah kepergian Lukman, Viona yang sudah tidak kuat membendung air matanya, akhirnya menangis juga, karena bagaimanapun juga Viona hanyalah perempuan biasa yang tidak ingin cintanya terbagi dengan perempuan lain.
Miranda yang mendengar tangisan Viona, menghampiri Viona ke dalam kamar.
"Sayang, kenapa Viona menangis? Apa Lukman sudah menyakiti Vio?" tanya Miranda.
"Ma, apa salah jika Viona tidak ingin Mas Lukman jatuh cinta terhadap perempuan lain? Viona tidak rela jika Mas Lukman sampai menikahi Raisya."
__ADS_1
Miranda menghela nafas panjang, karena dari awal semuanya sudah sepakat jika Viona harus bisa menerima apabila suatu saat nanti Lukman menikahi Raisya.
"Nak, dari awal kita semua sudah sepakat jika Lukman akan menikahi Raisya demi mendapatkan harta peninggalan Dimas. Bukannya Viona juga sudah setuju?" tanya Miranda.
Viona terlihat berpikir, karena dulu dirinya memang menyetujui usul Miranda dan Lukman.
"Dulu Viona memang setuju, tapi sekarang Viona berubah pikiran. Vio tidak mau melihat Mas Lukman bersanding dengan perempuan lain, sedangkan pernikahan Mas Lukman dengan Vio harus kita sembunyikan."
"Cukup Vio, kamu tidak boleh egois. Lukman melakukan itu demi kamu juga. Nanti setelah Lukman berhasil mendapatkan semua harta Dimas, kamu juga yang akan menikmatinya," ujar Miranda dengan nada tinggi.
"Mama bilang Vio egois? Lalu bagaimana dengan Mama? Mama bahkan menghalalkan segala cara untuk memisahkan Ratu dan Hilman. Apa Mama lupa dengan yang Mama lakukan terhadap Vio? Bagaimana kalau bayi dalam perut Vio sampai kenapa-napa karena Mama menyuruh Vio meminum jus mangga yang sebelumnya sudah Mama campur dengan obat pencahar?" ujar Viona yang tidak mau kalah.
"Vio sayang, Mama tidak bermaksud seperti itu Nak. Mama memang bersalah karena waktu itu sudah membuat Vio celaka, dan Mama sangat berterimakasih karena Vio sudah mau menyelamatkan Mama supaya tidak meminum jus mangga tersebut. Nanti Mama akan memikirkan cara supaya Lukman bisa mendapatkan Angkasa Grup tanpa harus menikahi Raisya," ucap Miranda dengan memeluk tubuh Viona, karena Miranda takut jika Viona sampai mengadu kepada Lukman atas perbuatannya yang hampir mencelakai janin dalam perut Viona.
......................
Rasya dan Alea memutuskan untuk jalan-jalan ke Pantai sekalian mencari makan. Dan keduanya terus mengembangkan senyuman dengan bergandengan tangan.
"Ya sudah, kalau begitu kita makan di sana saja," ujar Rasya.
Pada saat Rasya memesan makanan, Arumi menyuruh Satria untuk menghampiri Alea, supaya nanti Rasya merasa cemburu terhadap Alea dan Satria.
Satria sebenarnya merasa ragu, tapi Arumi terus mendesaknya, bahkan Arumi sampai mendorong tubuh Satria.
"A_alea," ucap Satria dengan lirih.
"Satria. Kamu Satria Teman SMA ku dulu kan?" tanya Alea.
"Iya, aku Satria. Aku kira kamu sudah lupa denganku," ujar Satria.
"Aku tidak mungkin lupa sama Teman-temanku, hanya saja aku tidak menyangka jika kita bisa bertemu di sini," ujar Alea dengan tersenyum sehingga membuat jantung Satria berdetak kencang.
Dari kejauhan, Rasya terbakar api cemburu ketika melihat Alea mengobrol dengan lelaki lain, dan Rasya bergegas menghampiri Alea dan Satria.
__ADS_1
"Sayang, siapa dia?" tanya Rasya, kemudian memeluk tubuh Alea dengan posesif.
"Mas, kenalin, ini Satria Teman SMA ku. Satria, kenalin juga, ini Mas Rasya Su_"
ucapan Raisya terhenti karena Arumi tiba-tiba muncul di sana.
Arumi bergegas menghampiri Satria dan yang lainnya, karena dia tidak ingin Satria mengetahui jika Alea dan Rasya sudah menikah.
"Tuan Rasya, Alea, kalian ada di sini juga?" ujar Arumi.
"Arumi, sedang apa kamu di sini? Apa kamu sengaja mengikuti kami?" ujar Rasya dengan menatap tidak suka kepada Arumi.
"Tuan Rasya gak usah kepedean, karena saya datang ke sini untuk bertemu dengan Kekasih saya. Ya kan sayang?" ujar Arumi dengan memeluk tubuh Satria, sehingga membuat Satria menjadi gelagapan.
Arumi memberikan kode kepada Satria dengan mengedipkan matanya. Arumi juga menginjak kaki Satria supaya Satria mengerti tentang rencananya.
"I_iya, Arumi adalah kekasih ku," ujar Satria dengan tergagap.
"Sayang, apa kamu sudah kenal sama Alea? Dari tadi sepertinya kamu menatap Alea terus? Jangan bilang kamu suka sama dia?" ujar Arumi yang sengaja ingin memperkeruh suasana.
"Kebetulan Alea adalah Teman SMA ku, makanya tadi aku menyapa nya, dan ternyata Alea masih mengenaliku," jawab Satria dengan tersenyum bahagia.
"Kamu harus hati-hati, jangan sampai kamu tertipu juga dengan wajah polosnya," sindir Arumi.
Rasya yang tidak terima dengan perkataan Arumi, langsung saja angkat suara.
"Jangan samakan semua orang seperti kamu, karena seharusnya kamu mengaca dulu sebelum berbicara. Justru yang harus dicurigai di sini adalah kamu. Di Dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan, dan aku yakin semuanya sudah kamu rencanakan,' ujar Rasya dengan penuh penekanan.
*
*
Bersambung
__ADS_1