
Mentari dan Fajar merasa bingung ketika mendengar pertanyaan Raisya, karena mereka tidak tau harus bagaimana menjawab pertanyaan Raisya, karena Raisya pasti akan syok apabila mengetahui jika Dimas dan Baby Al tidak ditemukan di lokasi kejadian, apalagi mobil Dimas hangus terbakar ketika meledak di dasar jurang, dan Polisi memiliki dugaan jika kemungkinan besar Dimas dan Baby Al ikut terbakar juga di dalam mobil.
"Sebaiknya sekarang Raisya istirahat dulu supaya cepat sembuh," ujar Mentari dengan memeluk tubuh Raisya supaya merasa lebih tenang.
"Tidak Bunda, Raisya ingin bertemu dengan Suami dan Anak Raisya. Mereka dirawat dimana?" tanya Raisya dengan menangis.
Raisya terus memaksa Fajar dan Mentari mengatakan keberadaan Dimas dan Baby Al.
"Nak sebenarnya Polisi dan Warga sekitar hanya menemukan Raisya di dekat lokasi kejadian," jawab Fajar.
"Tidak, tidak mungkin. Sebelum mobil yang kami tumpangi menabrak pembatas jalan, Kak Dimas mendorong tubuh Raisya ke luar dari dalam mobil, dan saat Raisya terjatuh, Raisya terus memeluk erat Baby Al. Raisya ingat betul kalau Baby Al masih berada dalam pelukan Raisya sebelum Raisya pingsan."
"Tapi semuanya tidak menemukan siapa pun di lokasi kejadian kecuali Raisya, karena setelah menabrak pembatas jalan, mobil Dimas masuk ke dalam jurang kemudian meledak," ujar Fajar yang mau tidak mau harus mengatakan kejadian yang sebenarnya supaya Raisya bisa mengikhlaskan kepergian Dimas dan Baby Al.
Degg
Jantung Raisya rasanya berhenti berdetak, Raisya bagai tersambar petir di siang bolong ketika mendengar perkataan Fajar, karena Raisya tidak bisa menerima kenyataan pahit yang menimpa keluarga kecilnya.
"Tidak, tidak mungkin Kak Dimas dan Baby Al meninggalkan Raisya. Raisya yakin mereka masih hidup," teriak Raisya dengan menangis histeris.
"Nak, kami juga berharap seperti itu, tapi Polisi memiliki dugaan kalau Dimas dan Baby Al terjebak di dalam mobil, dan mereka ikut terbakar," ujar Fajar dengan menitikkan airmata.
"Cukup Yah, sampai kapan pun Raisya tidak akan percaya kalau Kak Dimas dan Anak kami sudah pergi. Raisya akan terus mencari mereka sampai ketemu. Raisya tidak ikhlas, Raisya tidak ikhlas."
Mentari dan Fajar ikut menangis melihat Raisya yang begitu rapuh, dan beberapa saat kemudian Dokter masuk ke dalam kamar perawatan Raisya setelah Fajar menekan tombol untuk memanggil Dokter.
Dokter terpaksa menyuntikan obat penenang pada Raisya, karena Raisya terus saja berteriak histeris, bahkan Raisya berusaha untuk melepas infusan dan turun dari ranjang pesakitannya.
"Sepertinya pasien sangat terpukul dengan kejadian yang menimpanya. Saya sarankan supaya nanti Pasien dibawa konsultasi dengan Psikiater, karena kondisi psikologis Pasien sudah terganggu."
"Terimakasih banyak Dok, kami pasti akan membawa Putri kami menemui Psikiater," ucap Fajar.
......................
Satu minggu kemudian..
__ADS_1
Raisya sudah diperbolehkan ke luar dari Rumah Sakit, karena kondisi fisik nya sudah mulai membaik, tapi tidak dengan psikis nya, karena kondisi Raisya saat ini seperti mayat hidup.
Tatapan mata Raisya terlihat kosong, Raisya terus melamun, bahkan tidak mau berbicara dengan siapa pun juga.
Semua keluarga merasa sedih dengan nasib malang yang menimpa keluarga kecil Raisya, mereka tidak pernah menyangka jika Dimas dan Baby Al akan pergi secepat itu, padahal Raisya dan Dimas baru satu bulan menikah.
Semenjak Polisi mengeluarkan surat pernyataan jika Dimas dan Baby Al meninggal dunia di dalam mobil yang terbakar, Raisya telah kehilangan separuh jiwanya, dan Raisya sudah tidak memiliki semangat hidup lagi.
Semua ini pasti hanya mimpi buruk. Aku yakin Kak Dimas dan Baby Al masih hidup, apalagi Kak Dimas sudah berjanji akan selalu menjagaku. Aku akan terus mencari mereka supaya kami bisa bersama kembali, ucap Raisya dalam hati dengan menitikkan airmata ketika melihat fhoto dirinya, Dimas dan Baby Al yang di ambil sebelum kecelakaan terjadi, tapi Raisya masih menolak untuk percaya jika Anak dan Suaminya sudah meninggal dunia.
......................
Di tempat lain, Dimas masih belum sadarkan diri setelah menjalani operasi pada beberapa bagian tubuhnya, tapi luka yang paling parah pada bagian kepala, karena benturan keras pada kepala Dimas menyebabkan gegar otak, bahkan kemungkinan besar Dimas akan mengalami hilang ingatan.
"Semoga semuanya sesuai dengan rencanaku, karena jika Dimas kehilangan ingatannya, Dimas akan menjadi milik ku selamanya," gumam Aira dengan tersenyum licik, karena Aira sudah berencana untuk mengaku sebagai Istri Dimas, apabila Dimas mengalami amnesia.
"Sus, apa yang terjadi dengan Suami saya?" tanya Aira kepada salah satu Suster, karena Aira melihat Dokter bergegas masuk ke dalam ruang ICU.
"Kami belum tau Nyonya, semoga saja ada perkembangan baik dengan kondisi Pasien," jawab Suster.
"Dok, bagaimana kondisi Suami saya?"
"Suami Anda telah berhasil melewati masa kritisnya, dan Pasien sudah bisa dipindahkan ke kamar perawatan. Semoga saja Pasien bisa segera sadar," jawab Dokter sehingga membuat Aira bernafas lega.
Setelah Dimas dipindahkan ke kamar perawatan, Aira terus berada di samping Dimas dengan menggenggam erat tangannya.
Beberapa saat kemudian, secara perlahan Dimas mulai membuka matanya, dan Dimas langsung berteriak menyebut nama Raisya.
"Raisya."
Aira merasa terkejut ketika mendengar Dimas menyebut nama Raisya.
"Dimana aku? Siapa kamu?" tanya Dimas.
Syukurlah, sepertinya Dimas benar-benar hilang ingatan, ucap Aira dalam hati.
__ADS_1
"Sayang, apa kamu lupa sama Istri sendiri? Aku Aira istri kamu."
"Lalu siapa namaku?" tanya Dimas yang bahkan tidak mengingat namanya.
Sebaiknya aku mengganti nama Dimas supaya Dimas tidak mengingat masalalunya, ucap Aira dalam hati.
"Siapa namaku? Kenapa aku tidak mengingatnya?" teriak Dimas dengan memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Aira menekan tombol untuk memanggil Dokter, dan beberapa saat kemudian, Dokter datang lalu memeriksa kondisi Dimas secara seksama.
"Dok, kenapa saya tidak bisa mengingat apa pun? Bahkan saya tidak mengingat nama saya sendiri?" tanya Dimas.
"Sebelumnya Anda telah melakukan operasi karena kepala Anda mengalami cidera yang sangat parah, dan sepertinya cidera tersebut sudah menyebabkan Anda mengalami amnesia," jawab Dokter.
"Apa saya masih bisa sembuh?" tanya Dimas.
"Semoga saja suatu saat nanti ingatan Anda masih bisa kembali, tapi saya sarankan jangan memaksa untuk mengingat semuanya, karena itu akan membuat saraf motorik Anda terganggu dan hanya akan memperparah kondisi kesehatan Anda. Kalau begitu saya permisi dulu, kalau ada apa-apa, Anda bisa memanggil saya," ujar Dokter.
Setelah Dokter ke luar dari dalam kamar perawatan Dimas, Dimas kembali melayangkan pertanyaan kepada Aira.
"Aku ingin tau siapa namaku?"
"Na_nama Mas adalah Aksa, kepanjangannya Aksara Mahendra," jawab Aira yang sudah merasa ketakutan.
"Apa benar kamu Istriku?"
"Benar, Mas lihat sendiri cincin pernikahan yang kita pakai. Kita sudah satu tahun menikah, bahkan sudah memiliki Anak laki-laki yang berusia satu bulan lebih," jawab Aira yang berusaha bersikap setenang mungkin.
Dimas terlihat berpikir, karena Dimas tidak merasakan perasaan apa pun saat melihat Aira.
Apa benar kalau Aira adalah Istriku? Tapi kenapa aku tidak merasakan apa pun kepadanya? Batin Dimas kini bertanya-tanya.
*
*
__ADS_1
Bersambung