Menantu Benalu 2

Menantu Benalu 2
Bab 30 ( Mengungkapkan Rahasia )


__ADS_3

Mentari meminta supaya pernikahannya dengan Fajar dilaksanakan besok saja, yaitu bertepatan dengan Ulang Tahun Rasya dan Raisya, dan Fajar menyetujui usul Mentari.


"Yah, sebaiknya kita melangsungkan akad Nikahnya besok saja ya, supaya Pernikahan kita bertepatan dengan Ulang tahun si Kembar, Jadi setiap tahun kita bisa merayakan Anniversary kita sekaligus dengan Ulang tahun Rasya dan Raisya," ucap Mentari.


"Ayah ikut Bunda saja, dan sekarang Ayah akan menelpon Dimas dan Dita beserta Bi Sumi dan Pak Tarno supaya pulang ke Indonesia untuk menghadiri acara Pernikahan kita besok," ucap Fajar.


Fajar kini menelpon Dimas, dan di sana terdengar kehebohan karena Bi Sumi dan yang lainnya begitu bahagia mendengar Fajar yang akhirnya akan menikah juga.


"Gimana Yah, apa mereka bisa datang?" tanya Mentari.


"Insyaallah mereka akan datang, sekarang juga mereka langsung bersiap-siap."


"Sebaiknya besok kita menikah d KUA saja ya, Bunda malu karena selama ini tetangga sudah mengira jika kita adalah Suami istri," ujar Mentari.


"Iya sayang, tapi nanti kita syukurannya sekalian dengan acara Ulang Tahun si Kembar ya, kebetulan Ayah sudah nyiapin semuanya," ujar Fajar yang di jawab anggukan kepala serta senyuman oleh Mentari.


Apa sebaiknya sekarang aku jujur juga kepada Mentari jika sebenarnya aku adalah Adik dari perempuan yang telah Jingga rebut Suaminya, supaya nanti Dimas dan Dita tidak salah paham jika mengetahui yang sebenarnya, karena meskipun saat ini aku menutupi alasan kematian Kak Dewi kepada mereka, tapi suatu saat nanti mereka pasti akan mengetahuinya juga, dan aku tidak ingin menyembunyikan apa pun dari Mentari, ucap Fajar dalam hati.


"Bunda, sebenarnya masih ada sesuatu yang belum Bunda ketahui tentang kehidupan Ayah," ujar Fajar.


"Apa itu?" Tanya Mentari yang sudah merasa penasaran.


"Tadi Ayah berkata jika Ayah mulai jatuh cinta ketika pertama kali melihat fhoto Bunda kan? dan sebenarnya fhoto itu anak buah Ayah ambil pada saat mereka mengikuti Jingga."


"Memangnya kenapa Ayah sampai menyuruh seseorang untuk mengikuti Kak Jingga?" Tanya Mentari.

__ADS_1


"Sebenarnya Jingga adalah perempuan yang telah merebut Suami Kak Dewi, dan dulu Ayah sangat membencinya."


"Apa Suami Kak Dewi adalah Mas Bramantyo?" tanya Mentari.


"Benar, dan Kak Dewi sebenarnya meninggal dengan cara bunuh diri karena sudah tidak tahan dengan sikap Mas Bram yang berubah setelah mengenal Jingga," jelas Fajar.


"Kak Jingga memang keterlaluan sekali, tega-teganya dia merebut Suami oranglain sehingga menyebabkan seseorang meninggal. Atas nama Kak Jingga, kami sebagai keluarga besarnya meminta maaf ya Yah," ucap Mentari dengan tulus.


"Semua itu bukan salah Bunda, Bapak dan juga Ibu, tapi semua itu kesalahan Jingga sendiri yang terlalu berambisi untuk mendapatkan semua yang dia mau," ucap Fajar.


"Apa Dimas dan Dita akan merestui Pernikahan kita jika mengetahui kalau Bunda adalah Adik dari perempuan yang telah merebut Ayah mereka sehingga membuat Ibu Kandung mereka meninggal dunia?" Tanya Mentari.


"Mereka pasti akan mengerti, karena semua itu tidak ada sangkut pautnya dengan Bunda, malah Bunda sendiri sudah menjadi korban kekejaman Jingga. Untuk saat ini mereka belum mengetahui tentang kejadian yang sebenarnya, tapi suatu saat nanti, mereka berdua pasti akan mengetahuinya juga, dan ketika saat itu tiba, Ayah akan berusaha menjelaskan semuanya kepada Dimas dan Dita supaya mereka bisa ikhlas menerima semuanya."


"Bunda harap kita selalu jujur dan saling terbuka jika mempunyai masalah, karena Bunda tidak mau sampai kejadian yang Bunda alami dengan Bang Angga beserta keluarganya terulang kembali," ujar Mentari.


Ketika Mentari membuka pintu, Bu Rima dan Pak Hasan sampai terjatuh, karena ternyata mereka berdua menguping di depan pintu.


"Astagfirullah Bu, Pak, gak ada kerjaan banget sih pake menguping segala," ujar Mentari sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Ibu dan Bapaknya yang kepo.


"Ibu sih tadi ngajakin Bapak menguping," ujar Pak Hasan.


"Bapak kok nyalahin Ibu sih, jelas-jelas tadi Bapak kok yang ngajak Ibu buat menguping."


"Udah-udah, daripada Ibu dan Bapak berdebat, mendingan sekarang Ibu sama Bapak ngecek Karyawan di Toko aja," ujar Mentari, sehingga Bu Rima dan Pak Hasan terpaksa pergi ke warung mereka yang saat ini sudah Fajar buat menjadi toko kelontongan yang besar.

__ADS_1


Fajar sebenarnya sudah melarang Bu Rima dan Pak Hasan untuk bekerja, tapi mereka masih saja bersikeras ingin bekerja, sehingga Fajar mempekerjakan beberapa orang Karyawan untuk membantu mereka.


"Bapak dan Ibu lucu ya," ujar Fajar.


"Bukan lucu Yah, tapi nyebelin," ujar Mentari dengan cemberut.


"Tapi kalau Bapak dan Ibu tidak merencanakan semua itu, pasti sampai sekarang kita tidak akan pernah mengetahui isi hati kita masing-masing," ujar Fajar.


"Seandainya Ayah belum tau perasaan Bunda, sampai kapan Ayah akan menunggu?" Tanya Mentari.


"Seumur hidup Ayah, Ayah akan selalu menunggu Bunda," ujar Fajar dengan memegangi tangan Mentari.


Pada saat Fajar mendekatkan tubuhnya kepada Mentari, dan berniat untuk menciumnya, tiba-tiba Rasya dan Raisya bangun dari tidur mereka kemudian menghampiri Fajar dan Mentari.


Rasya sudah bisa berjalan, tapi dia tidak bisa melihat, sedangkan Raisya masih belum bisa berjalan sehingga dia merangkak untuk menghampiri Fajar.


"Anak Ayah ternyata sudah bangun, sini Ayah gendong," ujar Fajar dengan merentangkan kedua tangannya, sehingga Rasya dan Raisya berhambur memeluk lelaki yang sudah mereka anggap sebagai Ayah kandungnya sendiri.


Mentari menangis terharu setiap melihat pemandangan indah di depan matanya, karena Fajar begitu tulus menyayangi Rasya dan Raisya, padahal mereka bukan Anak kandungnya.


Sejak pertama kali Fajar mengetahui tentang Rasya dan Raisya yang terlahir spesial, Fajar terus berkonsultasi kepada Dokter spesialis Anak, dan setelah usia 3 tahun, Raisya akan mendapatkan terapi supaya bisa berjalan normal, sedangkan Rasya harus menunggu donor kornea mata supaya bisa melihat.


Semenjak si Kembar bayi, setiap subuh Fajar selalu menyalakan Murotal Al-qur'an supaya Rasya dan Raisya tumbuh menjadi Anak yang Saleh meskipun terlahir dengan kekurangan, dan itu membuat Rasya dan Raisya secara perlahan mengikuti bacaan Al-qur'an meskipun mereka belum terlalu lancar dalam berbicara.


"Sayang, Ayah udah gak sabar deh nunggu besok," ucap Fajar yang saat ini menggendong Raisya, dan Mentari saat ini sedang menyuapi kedua Anaknya.

__ADS_1


"Semoga semuanya berjalan lancar ya Yah, karena Bunda berharap ini akan menjadi pernikahan kita yang terakhir," ujar Mentari.


"Amin, semoga saja, karena untuk menunggu waktu itu tiba, Ayah sudah menunggunya selama bertahun-tahun," ucap Fajar dengan senyuman yang terus mengembang pada bibirnya.


__ADS_2