
Bu Rima dan Pak Hasan memutuskan untuk berkunjung ke rumah Mentari membawa Rayna supaya bisa bertemu dengan Mentari dan keluarganya.
Mentari saat ini sedang memasak untuk makan siang, sedangkan Fajar yang libur bekerja bertugas menemani Rasya dan Raisya yang sedang belajar.
Meskipun kedua Anak Mentari terlahir spesial, tapi mereka sudah mandiri di usianya yang sebentar lagi genap dua tahun.
"Assalamu'alaikum," ucap Bu Rima dan Pak Hasan yang baru sampai di rumah Mentari.
"Wa'alaikumsalam," jawab Fajar, Rasya dan Raisya.
"Nenek bawa ciapa?" tanya Raisya yang bicaranya masih belum fasih.
"Ini namanya Kak Rayna, Kak Rayna ini Kakak Rasya dan Raisya," ujar Bu Rima yang saat ini memperkenalkan Rayna kepada kedua Anak Mentari.
Rasya dan Raisya terlihat senang dengan kedatangan Rayna, begitu juga dengan Rayna yang langsung akrab dengan kedua Anak Mentari.
"Nak Fajar, Mentari nya dimana?" tanya Bu Rima.
"Bunda lagi masak Bu, kalau begitu Fajar titip Anak-anak dulu ya, Fajar mau bantu Mentari dulu," ucap Fajar kemudian melangkahkan kaki menuju dapur.
Fajar langsung saja melingkarkan tangannya pada pinggang Mentari pada saat melihat Mentari yang sedang sibuk memasak.
"Sayang, masakannya udah matang belum?" tanya Fajar.
"Bentar lagi Yah. Ayah kok malah nyamperin Bunda ke dapur, terus Anak-anak sama siapa?" tanya Mentari.
"Barusan Ibu dan Bapak datang membawa Rayna, jadi kesempatan Ayah buat deket-deket sama Bunda," jawab Fajar dengan cengengesan.
"Lho, kok Rayna bisa sama Ibu dan Bapak?" tanya Mentari heran.
"Ayah juga gak tau Bunda, nanti kita tanyain kalau Bunda udah beres masak," ucap Fajar dengan mencium tengkuk leher Mentari.
"Yah, jangan seperti ini, malu kalau Ibu dan Bapak lihat," ujar Mentari.
"Kenapa harus malu, kita kan udah Sah, bahkan sebentar lagi usia pernikahan kita satu tahun," ucap Fajar yang tidak mau melepaskan pelukannya.
"Memangnya belum puas ya semalam Ayah udah buat Bunda begadang?" tanya Mentari.
__ADS_1
"Kapan lagi Ayah ngajak Bunda begadang kan mungpung malam minggu," jawab Fajar.
"Gak nyadar ya tiap malam ngajak begadang terus," sindir Mentari dengan memutar malas bola matanya, sehingga Fajar terkekeh.
"Iya, nanti malam libur dulu deh," ucap Fajar dengan cemberut.
"Gak usah cemberut juga, kalau bibirnya seperti itu, Bunda jadi_,"
Cup
Mentari kini mencium bibir Fajar, sehingga Fajar mencubit pipinya karena tidak percaya dengan yang Mentari lakukan.
"Bunda tumben punya inisiatif?" tanya Fajar.
"Kasihan aja sama bibirnya, nanti kalau gak di cium bisa pegel kan," ujar Mentari dengan tertawa.
"Ya sudah kalau gitu apa yang bisa ayah bantu?" tanya Fajar.
"Ayah bantu makan aja, lagian semuanya udah beres kok, tinggal menatanya di meja makan saja," ujar Mentari kemudian memasukan hasil masakannya ke dalam mangkuk.
"Gak usah gombal," ujar Mentari dengan tersenyum malu.
Fajar dan Mentari akhirnya membawa makanan, lalu menatanya di meja makan.
"Bu, Pak, gimana kabarnya sehat?" tanya Mentari dengan mencium punggung tangan kedua orangtuanya.
"Alhamdulillah Nak, gimana kabar kamu sayang, kamu juga sehat kan? kelihatannya Mentari sekarang gemukan ya Pak, apa sekarang Mentari lagi hamil?" tanya Bu Rima, sehingga membuat Fajar tertunduk sedih.
Bu Rima dan Pak Hasan belum mengetahui jika Fajar mandul, dan akhirnya Mentari memutuskan untuk memberitahukan kabar buruk tersebut kepada Bu Rima dan Pak Hasan supaya mereka tidak berbicara seperti itu lagi.
"Bu, Pak, sebenarnya kemarin kami sudah mengambil hasil tes kesehatan Mas Fajar, dan Dokter menyatakan kalau Mas Fajar tidak bisa memiliki keturunan," ujar Mentari.
"Astagfirullah, maafin Ibu dan Bapak ya Nak karena sudah menyinggung perasaan Nak Fajar," ucap Bu Rima yang merasa tidak enak terhadap Fajar.
"Tidak apa-apa Bu, ini semua sudah takdir dari Allah SWT, dan Fajar sudah menerima semuanya dengan ikhlas. Fajar juga sudah memiliki Rasya dan Raisya yang melengkapi hidup Fajar, meskipun mereka berdua bukan darah daging Fajar, tapi Fajar sangat menyayangi mereka."
"Kalian yang sabar ya, dibalik semua cobaan pasti akan ada hikmah yang tersembunyi, dan Ibu pasti akan selalu mendo'akan kebahagiaan semuanya. Mempunyai keturunan atau pun tidak, itu semua memang sudah takdir dari Allah SWT, dan Nak Fajar harus ingat, jika di luar sana banyak juga orang yang tidak diberikan keturunan bukan hanya kalian saja," ujar Bu Rima.
__ADS_1
"Iya Bu, Fajar dan Mentari pasti akan selalu ikhlas dan sabar dalam menjalani semuanya," ucap Fajar.
"Oh iya Bu, kenapa Rayna sekarang tinggal sama Ibu?" tanya Mentari.
"Kemarin Stella mengantarkan Rayna ke rumah, Stella dan keluarganya untuk sementara akan tinggal di Sukabumi, dan karena keuangan mereka yang tidak memungkinkan apabila mengurus Rayna dan Ratu, akhirnya Stella menitipkan Rayna kepada kami. Stella merasa kasihan kepada Rayna karena Jingga tidak pernah memperdulikan Anak-anaknya, dan Jingga juga selalu marah-marah dan mengamuk," ujar Bu Rima.
"Astagfirullah, Kak Jingga benar-benar keterlaluan, tega sekali dia menelantarkan Anak kandungnya sendiri," ujar Mentari yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran Jingga.
"Iya Nak, makanya kami memutuskan untuk mengurus Rayna, jadi sekarang di rumah juga tidak terlalu sepi, karena setelah kalian pindah ke sini, Ibu dan Bapak selalu kesepian," ujar Bu Rima.
"Iya Bu, sebaiknya memang seperti itu, nanti Mentari pasti bantu membeli keperluan Rayna."
"Bunda, Ayah sudah lapar nih," ucap Fajar dengan tersenyum.
"Astagfirullah, maaf Yah, Bunda sampai lupa. Ya sudah kalau begitu sebaiknya kita makan siang dulu," ajak Mentari kepada kedua orangtuanya.
Rayna, Rasya dan Raisya juga ikut makan, dan mereka sudah terbiasa melakukannya sendiri.
"Sekarang Rasya dan Raisya udah tambah pinter ya," ucap Bu Rima.
"Rasya dan Raisya kan minggu depan umurnya dua tahun Nek," jawab Rasya yang memang sudah fasih dalam berbicara.
"Rasya mau kado apa dari Nenek?" tanya Bu Rima.
"Rasya mau Al-qur'an baru, biar Rasya tambah semangat belajar mengajinya," jawab Rasya.
"Alhamdulillah, semoga kelak Rasya bisa memberikan Mahkota emas untuk orangtua Rasya di akhirat nanti jika Rasya bisa menjadi seorang Hafidz Al-qur'an," ucap Bu Rima yang di Amini oleh semuanya.
"Kalau Raisya mau alat lukis Nek," ujar Raisya yang memang hobi melukis.
"Iya sayang, nanti Nenek belikan juga ya untuk Raisya dan Rayna.
Rayna tersenyum bahagia karena semuanya memperlakukan Rayna dengan baik, karena selama ini Jingga tidak pernah memperdulikan Rayna atau pun Ratu sehingga Rayna kurang kasih sayang, sedangkan Ratu mendapatkan kasih sayang dari Stella dan David.
Mentari yang melihat wajah Rayna pun merasa iba kepada Anak kecil yang tidak berdosa tersebut.
Kasihan Rayna, nasibnya sungguh malang, meskipun masih mempunyai Ibu, tapi Ibunya sendiri tidak mau mengurusnya. Kamu jangan bersedih ya sayang, Tante Mentari pasti akan selalu ada untuk Rayna, ucap Mentari dalam hati.
__ADS_1