Menantu Benalu 2

Menantu Benalu 2
Bab 26 ( Benih-benih Cinta )


__ADS_3

Fajar bergegas pulang ke rumah Mentari karena dia sudah sangat merindukan Rasya dan Raisya, apalagi Mentari.


"Tuan, apakah Anda sudah mau pulang?" tanya Rendra pada saat melihat Fajar keluar dari ruangannya.


Fajar sengaja bekerja di Kantor cabang yang berdekatan dengan rumah Mentari, supaya dia bisa terus dekat dengan keluarga Mentari.


"Iya Ren, aku sudah merindukan Anak-anakku. Kamu tolong handle meeting sore ini, karena aku tidak akan kembali ke kantor," ujar Fajar.


"Baik Tuan, Saya pasti bisa menghandle semuanya, jadi Tuan tidak perlu khawatir."


"Terimakasih Ren, kamu memang selalu bisa diandalkan," ucap Fajar dengan tersenyum, kemudian berlalu meninggalkan Rendra.


"Sekarang Tuan Fajar sudah berubah, dia lebih banyak tersenyum dibandingkan dengan dahulu," gumam Rendra.


Fajar hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja untuk sampai di rumah Mentari.


"Assalamu'alaikum sayang," ucap Fajar, kemudian langsung mencium Raisya yang saat ini berada dalam gendongan Mentari.


"Wa'alaikumsalam Ayah," jawab Mentari.


Raisya yang melihat kedatangan Fajar pun langsung menangis meminta digendong oleh Fajar.


"Sayang kangen ya sama Ayah? sini Ayah gendong, Ayah juga kangen banget sama Raisya dan Kak Rasya," ucap Fajar dengan menggendong Raisya.


"Ayah tumben masih siang udah pulang?" tanya Mentari yang saat ini sudah terbiasa memanggil Fajar dengan sebutan Ayah.


"Iya Bunda, Ayah kangen sama kalian, makanya Ayah bergegas pulang," jawab Fajar.


Mentari sama sekali tidak pernah menanyakan Fajar bekerja dimana dan apa pekerjaannya, karena dia tidak mau dibilang kepo, karena Mentari sadar diri kalau dia bukan siapa-siapa Fajar.


Mentari terus memperhatikan Fajar yang tengah bermain dengan Raisya, ada perasaan hangat dalam hatinya melihat Fajar yang begitu tulus menyayangi keluarganya, bahkan saat ini Pak Hasan sudah bisa kembali berjalan setelah Fajar membawa beliau berobat ke Singapura.

__ADS_1


Perasaan apa ini Ya Allah, kenapa jantungku berdetak kencang pada saat melihat Mas Fajar. Sadar kamu Mentari, Mas Fajar tidak mungkin mempunyai perasaan cinta sama kamu, karena bagi Mas Fajar aku hanyalah Adiknya, ucap Mentari dalam hati.


Fajar yang melihat Mentari terus melamun pun langsung angkat suara.


"Bunda kenapa melamun terus?" tanya Fajar.


"Enggak Yah, Bunda gak kenapa-napa kok," jawab Mentari dengan tersenyum sehingga membuat hati Fajar meleleh.


Semoga kamu secepatnya bisa membuka hati untukku Mentari, aku sangat mencintai kamu, dan aku akan berusaha untuk membahagiakan kamu dan keluarga kita, ucap Fajar dalam hati.


Semakin hari perasaan itu semakin tumbuh di hati Mentari, tapi dia enggan untuk mengungkapkannya terhadap Fajar, karena dia sadar diri kalau status dia saat ini adalah Janda dengan dua Anak, sedangkan Fajar masih perjaka.


Pak Hasan dan Bu Rima yang terus memperhatikan sikap Mentari pun mulai mencurigainya, apalagi Mentari kerap melamun dan mencuri pandang terhadap Fajar.


"Pak, sepertinya Mentari sudah mulai membuka hatinya untuk Nak Fajar ya," ucap Bu Rima.


"Iya Bu, mungkin karena setiap hari mereka bertemu makanya cinta itu tumbuh dengan seiring waktu," jawab Pak Hasan.


"Apa kita buat rencana saja ya supaya mereka mengungkapkan perasaan masing-masing," ujar Bu Rima.


"Nanti saja Bu, tunggu Mentari sampai benar-benar menyadari perasaannya," ujar Pak Hasan.


......................


Semenjak diberikan modal usaha oleh Jingga, David mulai merintis usaha kecil-kecilan untuk masa depan Anaknya nanti.


Hari ini Ibunya David menelpon karena sudah lama David tidak pernah pulang, walaupun tiap bulan David mengirimkan uang untuk kebutuhan Ibunya sehari-hari serta untuk biaya sekolah Adiknya.


David akhirnya memutuskan untuk melihat keadaan Ibu serta Adiknya, tapi dia berasalan kepada Stella dan Jingga kalau dia ada urusan bisnis di luar kota.


Setelah menempuh dua jam perjalanan, akhirnya David sampai di Kota Sukabumi yaitu tanah kelahirannya.

__ADS_1


Semua tetangga David terdengar heboh pada saat melihat mobil mewah yang David kendarai, apalagi Ibunya sudah menggembar-gemborkan kalau David sudah menjadi pengusaha sukses di kota.


"Assalamu'alaikum Bu," ucap David pada saat melihat Ibunya yang terlihat menyapu halaman.


"Wa'alaikumsalam, Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya kamu pulang juga Nak," ujar Bu Salamah dengan memeluk Putra sulungnya.


"Ibu apa kabar? maaf kalau David sudah bertahun-tahun gak pernah nengokin Ibu dan Sarah," ujar David.


"Alhamdulillah kabar Ibu dan sarah baik Nak, kamu apa kabar? gak salah Ibu bilang sama tetangga kalau kamu sudah jadi pengusaha sukses di kota, buktinya kamu pulang bawa mobil bagus, dan pasti membuat iri satu kampung," cerocos Bu Salamah.


"Bu, kenapa sih dari dulu Ibu masih belum berubah, kita seharusnya tidak boleh sombong dengan semua yang kita punya karena itu hanyalah titipan, itu pesan yang selalu David ingat dari Almarhum Bapak."


"Yang gak boleh itu kita ngaku-ngaku kaya padahal kenyataannya kita miskin, kalau emang kita kaya gak apa-apa donk kita pamer dikit," ujar Bu Salamah.


Maaf Bu, karena sebenarnya David juga seperti itu, David selalu berpura-pura menjadi orang kaya, padahal kenyataannya yang semua David punya saat ini bukanlah hasil kerja keras David. Maafin David Pak, Bapak juga pasti kecewa sama David, ucap David dalam hati.


Sesaat kemudian Adik David pulang dari sekolah. Saat ini Sarah duduk di bangku kelas 2 SMA, dan dia begitu senang karena melihat David yang akhirnya pulang kampung.


"Aa, kapan pulang? kenapa gak ngasih tau Neng dulu kalau mau pulang, tau gitu aku tadi gak sekolah," cerocos Sarah.


"Makanya Aa gak ngasih tau kamu, soalnya Aa sudah tau kalau Aa bilang dulu kamu pasti bakalan bolos sekolah," ujar David dengan memeluk tubuh Sarah.


"Neng kangen banget sama Aa, kenapa Aa jarang sekali pulang? Oh iya kenapa Aa gak bawa calon istri? apa Aa masih belum bisa lupain Teh Euis yang sudah menolak cinta Aa karena kita dulu orang miskin?" tanya Sarah.


"Aa sebenarnya udah punya istri Neng, maaf ya Bu, pada saat David nikah, David gak minta restu dulu sama ibu, soalnya acaranya mendadak," ujar David yang merasa tidak enak kepada Ibunya.


Bu Salamah sebenarnya kecewa karena David tidak meminta restu terlebih dahulu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena David juga sudah terlanjur menikah.


"Ibu sebenarnya kecewa, tapi mau gimana lagi, kamu juga sudah menikah, padahal tadinya Ibu mau jodohin kamu sama Ajeng. Oh iya istri kamu kenapa gak dibawa, Ibu kan pengen ketemu," ujar Bu Salamah.


"Istri David sekarang lagi sakit Bu, nanti kapan-kapan David bawa ke sini."

__ADS_1


Maafin David Bu, lagi-lagi David harus berbohong. David belum siap bawa Stella ke sini, David takut kalau dia bakalan kecewa setelah mengetahui keadaan keluarga kita yang sebenarnya, batin David.


__ADS_2