
Setelah kepergian Mentari, Bu Rima kembali mengingatkan Jingga.
"Jingga, kamu sekarang sudah diberikan cobaan yang berat Nak, kapan kamu akan bertaubat, kenapa kamu masih saja bersikap tidak baik terhadap Adik kamu sendiri? Padahal Mentari selalu baik kepadamu, meskipun berkali-kali kamu menghancurkan hidupnya," ujar Bu Rima.
"Bu, sebaiknya kalau Ibu mau ceramah sana di Mesjid saja, Jingga pusing dengerin Ibu ngomong terus, Jingga juga tidak menyuruh kalian untuk bersikap baik sama Jingga, justru kebaikan kalian yang membuat Jingga merasa muak."
"Astagfirullah Jingga, hatimu itu terbuat dari apa sampai-sampai kamu tidak merasa tersentuh sedikit pun," ujar Bu Rima yang masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran Jingga.
Maafin Jingga Bu, bukannya Jingga tidak tersentuh dengan perbuatan yang kalian lakukan untuk Jingga, tapi Jingga tidak mau jika harus menjadi beban kalian terus, mungkin lebih baik Jingga bersikap seperti ini kepada kalian, supaya ketika Jingga pergi, kalian tidak akan pernah merasakan kehilangan, ucap Jingga dalam hati.
Jingga sebenarnya sudah menyadari semua kesalahannya, tapi dia berusaha untuk tidak menangis di depan semua orang.
"Rani, sebaiknya kamu pulang saja, biar Ibu yang menjaga Jingga di sini. Sepertinya Jingga juga tidak membutuhkan keberadaan kita," ujar Bu Rima, dan Rani hanya menuruti kemauan Bu Rima saja tanpa mau membantah perintah bos nya tersebut.
"Kalau begitu Rani pulang dulu ya Bu. Kak Jingga semoga cepat sembuh, kalau ada apa-apa Ibu bisa hubungi Rani," ujar Rani kemudian mencium punggung tangan Bu Rima dan mengucapkan Salam sebelum ia pulang.
Syukurlah Rani sudah pulang, jadi kalau Ibu sedang tidak ada di sini, aku bisa segera menjalankan rencanaku, batin Jingga.
"Jingga, Ibu juga mau ke Mushala dulu, kalau ada apa-apa kamu bisa meminta bantuan Perawat," ujar Bu Rima, dan Jingga sama sekali tidak menjawab perkataan Bu Rima.
Bu Rima akhirnya melangkahkan kaki menuju Mushala, dan Jingga segera mencoba untuk turun dari ranjang.
"Aku mendengar jika saat ini aku di rawat di lantai delapan, jadi kalau aku menjatuhkan diri lewat jendela, aku pasti bisa segera bertemu dengan David," gumam Jingga, yang mencoba untuk mencari letak jendela di kamarnya.
Jingga terus meraba-raba dinding, sampai akhirnya dia menemukan sebuah kaca.
Jingga mencari kunci jendela, dan setelah menemukannya Jingga berhasil membuka kunci jendela tersebut.
"Selamat tinggal semuanya, maafkan aku selama ini yang selalu berbuat jahat kepada kalian. Bapak, Ibu, maafin Jingga karena selama hidup Jingga hanya menyusahkan kalian saja. Mentari maafin Kakak De, Kakak telah menghancurkan kehidupanmu selama ini. Semoga saja di kehidupan mendatang kita bisa menjadi Adik Kakak yang saling menyayangi," ujar Jingga dengan menangis kemudian loncat dari lantai delapan.
Brugh
__ADS_1
Tubuh Jingga kini terkapar dengan bersimbah darah di depan Rumah Sakit, hingga semua orang berkerumun untuk melihatnya.
"Pak tolong, ada orang jatuh dari lantai atas," teriak salah seorang Bapak yang memanggil Perawat untuk membantu evakuasi Jingga.
"Innalillahi waina ilaihi raji'un, ini bukannya Pasien yang di lantai delapan ya," ujar Perawat tersebut yang kemudian dibantu perawat lainnya untuk membawa Jingga masuk kembali ke dalam Rumah Sakit.
Bu Rima yang baru selesai melaksanakan Shalat begitu terkejut melihat beberapa orang Perawat yang saat ini sudah berada di dalam kamar perawatan Jingga.
"Sus, Putri saya kemana ya? barusan saya tinggal Shalat dulu ke Mushala," ujar Bu Rima.
"Maaf Bu, Bu Jingga sudah meninggal dunia karena lompat dari jendela," jawab Perawat.
"Jingga," teriak Bu Rima, kemudian Bu Rima akhirnya pingsan karena syok mendengar kematian Jingga yang tragis.
Bu Rima akhirnya ditidurkan di atas ranjang pesakitan mendiang Jingga.
"Bagaimana ini, kita harus segera menelpon keluarga korban," ujar salah satu Perawat.
📞"Assalamu'alaikum," ucap Mentari pada saat mengangkat telpon dari nomor tidak dikenal.
📞"Wa'alaikumsalam, apa benar ini dengan nomor Bu Mentari?" tanya Perawat.
📞"Iya saya sendiri. Ada apa ya?"
📞"Maaf Bu, saat ini Ibu Anda pingsan karena Pasien yang bernama Jingga bunuh diri dengan cara melompat lewat jendela," jawab Perawat.
📞"Innalillahi waina ilaihi raji'un, makasih ya Sus infonya, tolong jaga Ibu saya dulu, sekarang juga saya kembali ke Rumah Sakit," ujar Mentari dengan airmata yang sudah berlinang membasahi pipinya.
"Bunda kenapa menangis?" tanya Fajar.
"Yah, Kak Jingga bunuh diri, dan sekarang Ibu pingsan, kita harus segera kembali ke Rumah Sakit," ujar Mentari.
__ADS_1
"Bunda tenang dulu ya, kita titipin dulu Anak-anak sama Stella dan Bapak," ujar Fajar kemudian menggandeng Rasya dan Raisya untuk masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum," ucap Mentari dan Fajar pada saat melihat Rayna dan Ratu yang sedang menonton televisi ditemani oleh Stella.
"Wa'alaikumsalam, Rasya, Raisya, Alhamdulillah kalian berdua sudah sembuh sayang," ujar Stella dengan memeluk Rasya dan Raisya.
"Stella, Bapak kemana?" tanya Mentari yang terlihat panik.
"Bapak sedang ngasih makan ikan di belakang kak," jawab Stella.
Fajar langsung saja menggandeng Mentari menuju belakang rumahnya karena Fajar takut kalau Mentari sampai kenapa-napa.
"Nak, rupanya kalian sudah pulang. Lho, Mentari kenapa menangis Nak Fajar?" tanya Pak Hasan.
"Pak, sebaiknya Bapak duduk dulu, Fajar harap Bapak tidak akan syok mendengar semua ini."
"Bapak sudah siap, Nak Fajar katakan saja apa yang telah terjadi," ujar Pak Hasan.
"Barusan Mentari mendapat telpon kalau Jingga meninggal karena bunuh diri Pak, dan sekarang Ibu pingsan," ujar Fajar.
"Innalilahi waina ilaihi raji'un, kenapa kamu melakukan semua itu Jingga," ujar Pak Hasan dengan menangis.
"Bapak yang tabah ya, ikhlaskan kepergian Jingga. Fajar juga minta tolong titip Rasya dan Raisya, karena Fajar dan Mentari akan kembali ke Rumah Sakit untuk mengurus kepulangan Jenazah Jingga."
"Iya Nak, kalian tidak perlu khawatir, Bapak akan menjaga Rasya dan Raisya, di sini juga ada Stella dan Karyawan yang membantu kami mempersiapkan semuanya."
"Bunda kuat kan kalau jalan?" tanya Fajar yang melihat tubuh Mentari terlihat lemas.
"Iya Yah, Bunda tidak apa-apa," ujar Mentari, kemudian kembali digandeng oleh Fajar menuju mobil, setelah sebelumnya Mentari pamitan kepada Anak-anaknya dan juga menjelaskan semuanya kepada Stella.
Mentari tau kalau Kak Jingga berat menerima semua musibah yang Allah SWT berikan, tapi kenapa Kakak memilih jalan yang salah dengan mengakhiri hidup Kakak. Mentari sayang Kak Jingga, semoga Allah SWT mengampuni semua dosa-dosa Kakak, ucap Mentari dalam hati.
__ADS_1