
Mentari dan Fajar menanyakan tentang rencana Alea dan Rasya untuk ke depannya, karena pasti Alea masih ingin melanjutkan kuliah dan bekerja, sedangkan di perusahaan terdapat peraturan yang tidak memperbolehkan Suami Istri bekerja dalam satu perusahaan, apalagi dalam satu divisi.
"Nak, apa Alea dan Rasya sudah memikirkan rencana ke depannya akan seperti apa? Kalian berdua pasti tau peraturan perusahaan yang tidak memperbolehkan Suami Istri bekerja dalam satu perusahaan apalagi satu divisi, sedangkan Alea baru saja di angkat menjadi Karyawan tetap, bahkan dengan posisi menjadi Sekretaris Rasya," tanya Fajar.
Alea dan Rasya terlihat berpikir, karena keduanya tidak ingin bersikap egois dengan memaksakan kehendak sendiri tanpa memikirkan perasaan pasangan.
"Untuk ke depannya, insyaallah Alea akan menuruti permintaan Suami. Jika memang Tuan Rasya meminta Alea untuk berhenti kuliah dan bekerja, dengan senang hati Alea akan melakukannya," ucap Alea yang ingin berusaha menjadi Istri yang baik untuk Rasya.
Mentari dan Fajar merasa bahagia dengan jawaban Alea, karena Alea sudah memiliki niat untuk menjadi Istri saleha, tapi keluarga Mentari bukan tipe orang yang akan memaksakan kehendaknya terhadap oranglain.
"Alea, sekarang kamu harus mengganti panggilan kamu. Tidak mungkin kan setelah kita menikah kamu terus memanggilku seperti itu," ujar Rasya dengan cemberut.
"I_iya, nanti saya pikir-pikir dulu," ujar Alea dengan tertunduk malu.
"Rasya, lalu apa keputusan kamu Nak?" tanya Fajar.
"Sebagai seorang Suami yang baik, Rasya tidak akan memaksakan kehendak Rasya terhadap Istri. Selama seorang Istri tidak melupakan kewajibannya terhadap Suami, apa pun yang Alea lalukan, selama itu tidak melanggar aturan Agama, Rasya akan selalu mendukungnya," jawab Rasya.
Sejak kecil Rasya memang selalu bersikap bijak dalam mengambil keputusan, dan semua itu membuat Alea merasa kagum.
"Alea, apa kamu masih ingin melanjutkan kuliah dan bekerja?" tanya Rasya, karena Rasya ingin mengetahui apa yang seebnarnya Alea inginkan.
Alea terlihat berpikir ketika mendengar pertanyaan Rasya, karena dari dulu impian Alea ingin lulus kuliah dengan nilai baik, serta memiliki pekerjaan yang bagus.
"Bisa lulus Kuliah dengan nilai yang baik, dan bekerja di Perusahaan yang bagus, memang sudah menjadi impian saya sejak masih kecil, tapi saya tidak mau melawan kodrat saya sebagai seorang Istri yang harus lebih mementingkan Keluarga," jawab Alea.
"Jika memang kuliah dan bekerja adalah impianmu, aku akan menjadi orang pertama yang membantu kamu untuk mewujudkannya," ujar Rasya sehingga membuat Alea merasa terharu.
"Terimakasih Tu_" ucapan Alea terhenti karena Rasya memotongnya.
"Suamiku, seharusnya kamu memanggilku seperti itu," ujar Rasya dengan wajah yang memerah.
"Ha ha ha, ternyata kulkas dua pintu juga bisa merona seperti itu. Kak Rasya bahkan sampai lupa kalau Alea masih belum menjadi Istrinya," ujar Raisya dengan cekikikan.
__ADS_1
Rasya merasa malu karena dirinya tidak menyangka bisa berkata seperti itu.
"Raisya sayang, sudah Nak, jangan godain Kak Rasya terus, kasihan tuh pipi Rasya sudah merah seperti udang rebus," ujar Mentari yang ikut menertawakan sikap Rasya.
"Mana mungkin seperti itu, Bunda sama Raisya sepertinya senang sekali menggoda Rasya," ujar Rasya yang semakin merasa malu.
"Sudah sudah, Alea sama Rasya memang pasangan yang serasi. Ayah harap selamanya kalian akan selalu saling pengertian. Kalian juga harus tau jika dalam rumah tangga yang paling penting adalah saling jujur, saling percaya dan saling pengertian. Alea, jika memang Alea masih ingin melanjutkan bekerja dan kuliah, berarti untuk sementara waktu, kita harus merahasiakan pernikahan Alea dan Rasya dulu. Apa Alea tidak keberatan jika kami belum bisa mengadakan acara resepsi?" tanya Fajar.
"Alea bagaimana Tu_, eh Mas Rasya saja, tapi jika Mas Rasya mengijinkan Alea untuk melanjutkan kuliah dan bekerja, Alea sama sekali tidak keberatan meski pun tidak mengadakan acara resepsi pernikahan. Alea juga sebelumnya menginginkan pernikahan yang sederhana, apalagi Nenek dan Ibu juga sudah tidak ada."
Mentari dan Raisya mendekati Alea, kemudian keduanya memeluk tubuh Alea dengan sayang.
"Alea sayang jangan sedih ya, sekarang Alea sudah memiliki kami sebagai keluarga baru Alea, dan kami akan selalu ada untuk Alea," ujar Mentari.
"Iya Kakak ipar, kalau Kak Rasya nanti menindas Kakak ipar, Kakak ipar cerita saja sama Raisya, pasti Raisya akan membela Kakak ipar."
"Hemm belum apa-apa Bunda sama Raisya sudah berada di pihak Alea," celetuk Rasya dengan mendengus kesal, padahal dalam hatinya Rasya sangat bahagia, karena keluarganya sangat menyayangi Alea.
"Kalau itu sudah menjadi keputusan kalian, kita akan segera mempersiapkan pernikahan Alea dan Rasya secepatnya. Nanti siang Ayah akan membicarakan tentang rencana kita dengan Tuan Wisnu. Semoga saja Tuan Wisnu menyetujui rencana kita, karena beliau harus menyembunyikan pernikahan kalian dari Arumi dan Istrinya," ujar Fajar.
"Terimakasih banyak Yah. Kami serahkan semua urusan dengan Tuan Wisnu sama Ayah," ujar Rasya dengan tersenyum.
"Hmmmm, sepertinya sejak bertemu dengan Alea, Rasya jadi murah senyum," goda Fajar.
"Kenapa Ayah jadi ikut-ikutan godain Rasya juga," gumam Rasya.
Fajar menjelaskan peraturan perusahaan secara mendetail kepada Alea dan Rasya, supaya nanti keduanya bisa mengendalikan diri serta bersikap profesional apabila sedang berada di kantor.
"Apa kalian berdua sudah paham dengan semua yang Ayah jelaskan?" tanya Fajar.
"Insyaallah kami paham Yah," jawab Alea dan Rasya secara bersamaan.
Untuk ke depannya Alea sudah berencana akan benar-benar berhenti bekerja jika memang dirinya dan Rasya sudah bisa saling mengenal dan saling menerima sebagai Suami Istri seutuhnya, karena dalam hati kecil Alea, Alea masih merasa takut jika Rasya ingin menikahinya bukan karena perasaan cinta, melainkan hanya karena rasa kasihan.
__ADS_1
......................
Setelah semuanya selesai sarapan, Fajar dan yang lainnya pamit kepada Mentari.
"Sayang, Ayah berangkat dulu ya," ucap Fajar dengan memeluk serta mencium kening Mentari.
"Dasar bucin. Udah jangan lama-lama ciumnya, kami masih ngantri," ujar Rasya.
"Lihat saja nanti Rasya, kamu juga kalau sudah menikah sama Alea pasti akan bucin juga," ucap Fajar, kemudian dengan berat hati Fajar melepaskan pelukannya kepada Mentari.
Setelah Rasya, Raisya dan Alea bergantian memeluk serta mencium punggung tangan Mentari, mereka mengucapkan salam sebelum berangkat.
"Raisya mau ikut mobil siapa?" tanya Fajar.
"Ikut mobil Ayah aja, nanti Raisya takut jadi obat nyamuk kalau ikut mobil Kak Rasya," ujar Raisya, kemudian masuk ke dalam mobil Fajar.
"Ya sudah, kalau begitu kalian berdua hati-hati, Ayah sama Raisya berangkat duluan," ucap Fajar kepada Rasya dan Alea.
Alea terkejut ketika Rasya membukakan pintu mobil untuknya.
"Tu_ eh Mas, saya bisa sendiri," ucap Alea yang merasa malu.
"Kamu tidak perlu merasa sungkan seperti itu Alea, sebentar lagi kita akan menikah, dan kamu harus terbiasa dengan keberadaan ku," ujar Rasya.
Sepanjang perjalanan menuju perusahaan, Alea hanya diam, karena saat ini Alea masih belum percaya, jika sebentar lagi dirinya akan menikah dengan Rasya.
Semua ini masih seperti mimpi untukku. Sebentar lagi aku akan memiliki keluarga yang menyayangiku. Jika ini semua hanya mimpi, rasanya aku tidak ingin bangun, ucap Alea dalam hati yang lupa jika Rasya bisa mendengar isi hatinya.
*
*
Bersambung
__ADS_1