
Setelah menumpahkan semua tangisannya dalam pelukan Fajar, Mentari beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar untuk memulai menceritakan semuanya kepada Suami tercinta.
"Sebenarnya tadi ada Ibunya Bang Angga datang kemari," ucap Mentari dengan sesenggukan.
"Apa Bu Sandra kembali menyakiti Bunda?" tanya Fajar dengan suara yang lembut.
"Bunda kira Bu Sandra datang ke sini untuk menengok Cucunya, tapi ternyata kedatangan Bu Sandra ke sini demi kesembuhan Ratu. Dia bilang kalau Ratu dinyatakan gagal ginjal dan harus segera mendapatkan donor ginjal secepatnya, dan dia tega meminta supaya Rasya atau Raisya mendonorkan ginjalnya untuk Ratu," ucap Mentari dengan kembali menangis.
Fajar langsung geram mendengarnya, rahangnya kini mengeras menahan emosi.
"Mereka bener-bener keterlaluan, tega-teganya meminta Anakku untuk mendonorkan ginjal demi Putri kesayangan mereka, sedikit pun aku tidak akan rela. Sebaiknya sekarang Ayah temui mereka, Ayah tidak ingin mereka berbuat seenaknya kepada keluarga kita," ucap Fajar yang hendak berdiri untuk pergi menemui Mommy Sandra.
"Istighfar Yah, jangan sampai emosi menguasai hati kita. Tadi Bunda sudah menolaknya mentah-mentah, bahkan Bunda sampai mengusir Bu Sandra karena dia sudah keterlaluan," ujar Mentari.
"Astaghfirullah, Bunda jangan terlalu banyak pikiran ya, Bunda harus ingat kalau Ayah akan selalu ada untuk Bunda. Apa pun yang terjadi, Ayah tidak akan pernah membiarkan oranglain menyakiti Anak-anak kita," ucap Fajar.
"Ya sudah kalau begitu sekarang Ayah ganti baju dulu, nanti kita makan sama-sama," ujar mentari dengan memaksakan diri untuk tersenyum.
Kamu memang istri yang baik sayang, meskipun kamu sedang bersedih, tapi kamu berusaha untuk kuat. Sepertinya aku harus segera membicarakan ini dengan Angga, aku tidak mau kalau sampai Ibunya Angga berani macam-macam lagi terhadap keluargaku, ucap Fajar dalam hati, kemudian melangkahkan kaki menuju kamar.
Setelah selesai makan dan Shalat Maghrib, Fajar mengirim pesan kepada Angga untuk meminta bertemu di sebuah kafe, dan tentu saja sebagai seorang bawahan, Angga menyetujui keinginan Fajar.
Saat ini Fajar sudah bersiap-siap untuk pergi, dan Mentari langsung bertanya, karena selama satu tahun lebih menikah, Fajar tidak pernah keluar selain untuk bekerja.
"Ayah mau berangkat kemana? kok tumben keluar malam-malam?" tanya Mentari.
"Ayah ada urusan pekerjaan dulu sebentar Bunda, soalnya ada berkas yang harus Ayah tandatangani, dan Asisten Rendra tidak dapat mengantarkannya," jawab Fajar.
Maafin Ayah karena harus berbohong, kalau Ayah jujur sama Bunda tentang tujuan kepergian Ayah, Bunda pasti akan mencegah Ayah, ucap Fajar dalam hati.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu Ayah hati-hati ya," ucap Mentari dengan mencium punggung tangan Suaminya.
"Iya sayang, Ayah pasti hati-hati. Bunda juga hati-hati di rumah ya, ingat jangan melamun terus," ucap Fajar dengan mencium kening Mentari, kemudian mengucapkan Salam sebelum berangkat.
................
Pada saat Fajar tiba di kafe, ternyata Angga sudah lebih dulu tiba di sana.
"Selamat malam Pak Angga, maaf kalau Anda sudah menunggu lama," ucap Fajar dengan menjabat tangan Angga.
"Saya juga baru datang Tuan," ucap Angga.
"Pak Angga, apa Anda tau jika Ibu Anda tadi siang datang ke rumah saya?" tanya Fajar.
"Saya tidak tau Tuan, karena sudah beberapa bulan saya tinggal di kontrakan yang tidak jauh dari Kantor. Dan saya juga dengar kalau Ibu dan Adik saya tinggal di Sukabumi, tapi saya tidak tau kalau mereka sudah kembali ke sini," jawab Angga.
"Innalillahi..saya benar-benar baru mengetahuinya sekarang kalau Anak saya tekena penyakit ginjal," jawab Angga.
Sepertinya Angga juga belum tau kalau dia bukan Ayah kandung Ratu, tapi itu bukan urusanku, yang penting aku harus memastikan jika tidak ada keluarga Angga yang mengusik keluargaku, batin Fajar.
"Saya berharap Pak Angga bisa berbicara dengan Bu Sandra karena tadi siang dia meminta kepada Istri saya supaya salah satu Anak kami mendonorkan ginjalnya untuk Ratu," ucap Fajar.
Angga langsung merasa geram mendengar perkataan Fajar, dia begitu emosi kepada Mommy Sandra yang tega melakukan semua itu kepada kedua Anaknya.
"Maaf Tuan, saya benar-benar tidak menyangka jika Mommy tega meminta hal seperti itu kepada Cucunya sendiri. Saya akan pastikan Mommy tidak akan berbuat seperti itu lagi, dan sekarang juga saya akan menemui Ibu saya," ucap Angga kemudian mengeluarkan uang untuk membayar minumannya.
"Biar saya saja yang membayarnya," ucap Fajar kemudian mengeluarkan uang dan menyimpannya di meja.
"Terimakasih Tuan, kalau begitu saya pamit dulu," ucap Angga dengan menjabat tangan Fajar, kemudian pergi menuju rumah Jingga.
__ADS_1
"Semoga Angga bisa menyelesaikan. semuanya, dan Bu Sandra tidak lagi mengganggu keluargaku," gumam Fajar, kemudian melangkahkan kaki untuk pulang.
................
Angga merasa geram kepada Mommy Sandra, sehingga Angga memacu mobil fasilitas dari perusahaan dengan kecepatan tinggi.
"Mommy, Mommy dimana?" teriak Angga ketika sampai di rumah Jingga.
Semua yang mendengar teriakan Angga langsung saja menghampirinya.
"Angga, kenapa kamu datang-datang langsung teriak-teriak, gak ada sopan santunnya sama sekali," tegur Mommy Sandra.
"Apa Mommy bilang, sopan santun? apa Angga masih perlu melakukan semua itu setelah apa yang Mommy perbuat kepada Anak-anak Angga?" tegas Angga.
"Apa maksud kamu? apa si Menantu Benalu mengadu sama kamu tentang kedatangan Mommy tadi siang ke rumahnya?"
"Mommy salah, karena yang datang menemui Angga bukanlah Mentari tapi Fajar," jawab Angga.
"Angga tidak habis pikir dengan jalan pikiran Mommy, kenapa Mommy tega meminta ginjal Anak Angga demi Ratu? padahal mereka juga Cucu Mommy. Apa tidak ada rasa sayang sedikit pun di hati Mommy untuk mereka? Fajar saja yang Ayah sambungnya begitu menyayangi mereka padahal dia tidak mempunyai hubungan darah dengan Rasya dan Raisya, tapi Mommy yang mempunyai hubungan darah dengan mereka tega sekali melakukan semua itu," teriak Angga, sehingga David dan Stella langsung membulatkan matanya.
"Apa benar kalau Mommy meminta kepada Kak Mentari supaya salah satu Anaknya mendonorkan ginjal untuk Ratu?" tanya Stella.
"Iya benar, kedua Anak Mentari itu cacat, jadi mereka tidak ada gunanya, Mommy hanya membantu supaya mereka berguna untuk oranglain," jawab Mommy Sandra dengan entengnya, sehingga Angga semakin geram, lalu meninju tembok untuk melampiaskan amarahnya.
"Apa yang kamu lakukan Angga, kamu sudah menyakiti diri sendiri," ujar Mommy Sandra.
"Luka tangan Angga tidak seberapa jika dibandingkan dengan luka di hati Angga. Memangnya siapa yang Mommy sebut sebagai Anak cacat? itu Anak Angga Mom. Mommy boleh tidak mengakui Rasya dan Raisya sebagai Cucu Mommy, tapi Angga tidak akan rela jika sampai Mommy menyakiti mereka," ucap Angga dengan menjatuhkan diri di atas lantai.
"Mom, Stella pikir Mommy datang ke rumah Kak Mentari untuk menemui Rasya dan Raisya karena Mommy sudah bisa menerima mereka berdua, tapi Stella gak nyangka kalau Mommy sekejam itu terhadap Cucu Mommy sendiri." ucap Stella, sehingga Mommy Sandra diam karena semua orang menyalahkannya.
__ADS_1