Menantu Benalu 2

Menantu Benalu 2
Bab 136 ( Pacaran setelah menikah )


__ADS_3

Ketika Rasya masuk ke dalam kamar, ternyata Alea sudah kembali tertidur, dan Rasya merasa tidak tega untuk membangunkannya.


Rasya mengusap lembut kepala Alea, kemudian Rasya menghujani wajahnya dengan ciuman, karena Rasya merasa gemas ketika melihat wajah cantik Alea.


"Mas, maaf ya Alea ketiduran."


"Mas yang seharusnya minta maaf karena sudah membuat Alea terbangun. Kalau begitu sekarang kita sarapan dulu, Alea pasti sudah lapar kan?" ujar Rasya, kemudian mengambil piring yang berada di sampingnya.


"Mas, kenapa nasinya cuma satu piring?" tanya Alea.


"Kita makannya sepiring berdua saja ya biar romantis," ujar Rasya dengan tersenyum, dan Alea selalu salah tingkah ketika melihat wajah tampan Rasya.


Rasya mulai menyuapi Alea makan, meski pun Alea sudah berkali-kali bilang jika dia bisa makan sendiri.


"Mas, Alea makan sendiri saja. Lagian bukan tangan Alea yang sakit."


"Alea tidak boleh protes, supaya Alea bisa cepat sembuh, karena besok kita akan pergi honey moon ke Bali selama satu minggu."


"Terus bagaimana dengan pekerjaan kita? Semua orang pasti akan curiga kalau kita berdua tidak masuk."


"Ayah sudah mempersiapkan semuanya, dan Ayah memberitahu pihak HRD kalau kita akan melakukan perjalanan bisnis untuk mengecek perusahaan cabang yang berada di sana. Jadi, kita bisa kerja sambil honeymoon," ujar Rasya dengan memeluk tubuh Alea yang sudah membuatnya kecanduan.


"Apa Alea bahagia?" tanya Rasya dengan menghirup dalam dalam aroma tubuh Alea.


"Alea bukan hanya bahagia, tapi sangat sangat bahagia," jawab Alea dengan mencium pipi Rasya.


"Ternyata pacaran setelah menikah lebih enak ya," ujar Rasya, dan Alea tersenyum malu mendengar perkataan Suaminya tersebut.


"Oh iya, tadi Bunda ngasih obat sama salep untuk mengurangi rasa sakit, sekarang Alea minum obatnya, biar Mas yang oleskan salepnya," ujar Rasya dengan tersenyum penuh arti.


"Gak usah Mas, Alea bisa sendiri," ujar Alea dengan menutupi tubuhnya menggunakan selimut.


"Gak usah malu, lagian Mas sudah melihat semuanya," ujar Rasya dengan menarik selimut yang menutupi tubuh Alea. Sampai akhirnya terdengar suara canda dan tawa dari kedua pasangan pengantin baru tersebut.


......................


Setelah Dokter meresepkan obat untuk Raisya, Zain membantu Raisya berjalan ke luar dari dalam ruang periksa.


"Asisten Zain, terimakasih banyak karena sudah membantu saya," ucap Raisya.

__ADS_1


"Sudah seharusnya saya melakukan semua itu. Nona tunggu sebentar ya, saya mau mengantri obat dulu," ujar Zain, kemudian melangkahkan kaki nya menuju apotik setelah sebelumnya membantu Raisya duduk.


Ketika Zain mengantri obat, Lukman yang kebetulan mengantar Viona periksa kandungan, menghampiri Raisya untuk mendekatinya setelah sebelumnya Lukman menyuruh Supir untuk mengantar Viona pulang.


"Raisya, apa kabar?" tanya Lukman dengan duduk di samping Raisya.


"Alhamdulillah kabar saya baik Tuan. Anda sedang apa di sini? Apa mengantar Karyawan untuk memeriksa kandungan lagi?" sindir Raisya yang tidak suka terhadap Lukman.


"Saya sengaja datang ke sini karena tadi saat di depan Klinik, saya melihat kamu. Bagaimana kondisi bayi nya?"


"Alhamdulillah sehat," jawab Raisya singkat.


"Raisya, sebenarnya aku ingin mengenal kamu lebih dekat lagi, karena sejak pertama kali bertemu aku sudah jatuh hati terhadapmu," ujar Lukman dengan menatap lekat wajah cantik Raisya.


Raisya merasa kesal ketika mendengar perkataan Lukman, karena tidak seharusnya Lukman mengatakan hal seperti itu kepada perempuan yang telah berkeluarga.


"Tuan Lukman, apa Anda sadar dengan yang Anda bicarakan? Saya adalah perempuan yang sudah berkeluarga, tidak seharusnya Anda mengatakan hal seperti itu," tegas Raisya.


"Raisya, sampai kapan kamu akan terus menunggu orang yang sudah mati? Kamu harus sadar jika Dimas sudah meninggal, dan dia tidak akan pernah kembali lagi," ujar Lukman sehingga membuat Raisya merasa geram.


"Tutup mulut Anda. Suami saya masih hidup, dan saya yakin suatu saat nanti dia akan kembali," ujar Raisya yang masih tetap dengan pendiriannya.


Ketika Lukman hendak memegang tangan Raisya, tiba-tiba Zain datang dan langsung menepis tangan Lukman.


"Tuan Lukman, tolong jaga batasan Anda," tegas Zain.


"Berani sekali kacung seperti kamu melawanku," ujar Lukman dengan nada tinggi.


"Saya memang kacung, tapi saya sudah diberi tugas untuk menjaga Nona Raisya. Jadi, saya tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya," ujar Zain.


"Apa kamu tau siapa aku? Aku adalah Calon Suami Raisya sekaligus calon Ayah dari bayi yang dia kandung," teriak Lukman.


Raisya yang semakin merasa kesal terhadap Lukman, memutuskan untuk mengajak Zain segera pergi dari Klinik, karena Raisya tidak mau menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di sana.


"Asisten Zain, sebaiknya sekarang kita pergi dari sini, percuma kita bicara dengan seseorang yang tidak mengerti bahasa manusia," sindir Raisya.


"Raisya, apa maksud kamu?"


"Jadi kamu belum mengerti juga? Jangan pernah dekati aku lagi, karena selamanya aku tidak akan pernah menerima kamu menggantikan posisi Kak Dimas."

__ADS_1


"Kita lihat saja nanti, karena kamu pasti akan bertekuk lutut di hadapan ku, dan kamu akan memohon supaya aku mau menikahi kamu," ujar Lukman dengan tersenyum mengejek.


"Jangan pernah bermimpi. Oh iya, kamu juga harus tau, kalau Asisten Zain jauh lebih baik berkali-kali lipat dibandingkan dengan kamu," tegas Raisya, kemudian menarik lembut tangan Zain meninggalkan Lukman yang masih merasa geram mendengar penolakan Raisya.


Lihat saja Raisya, kamu pasti akan menyesal karena sudah menolak ku, batin Lukman dengan mengepalkan kedua tangannya.


......................


Zain dan Raisya saat ini sudah berada di perjalanan menuju kantor, karena Raisya bersikeras ingin pergi ke kantor, padahal Zain sudah menawarkan diri untuk mengantar Raisya pulang.


"Nona, apa Anda yakin ingin masuk kerja?"


"Asisten Zain, kenapa jadi lebih cerewet dari Emak emak? Sepertinya itu adalah pertanyaan Asisten Zain yang ke berapa puluh kali," gerutu Raisya.


"Tapi saya takut terjadi sesuatu yang buruk kepada Nona jika terlalu memaksakan diri."


"Aku tau bagaimana kondisi kesehatan ku, justru aku akan merasa bosan jika terus berada di rumah. Oh iya, kapan Asisten Zain akan menikah?" tanya Raisya.


Zain yang mendengar pertanyaan Raisya sampai tersedak air yang sedang ia minum, dan Raisya reflek menepuk tengkuk leher Zain.


"Terimakasih Nona."


"Asisten Zain, maaf jika pertanyaan saya membuat Asisten Zain tersinggung," ucap Raisya yang merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa Nona, saya hanya terkejut saja, karena saya belum kepikiran untuk berumah tangga."


"Tapi di kantor beredar gosip kalau Asisten Zain_" pertanyaan Raisya terhenti karena Raisya takut jika Asisten Zain merasa tersinggung.


"Apa Nona pikir saya seperti yang mereka gosipkan?" tanya Zain dengan tertawa, karena selama ini beredar gosip tentang dirinya yang menyukai sesama jenis.


"Aku memang tidak percaya dengan gosip yang beredar, tapi kalau Asisten Zain tidak menikah juga, semua orang pasti tidak akan berhenti menggosipkan tentang Asisten Zain."


"Sebenarnya sudah lama saya menyukai seorang perempuan, tapi dia tidak akan pernah bisa saya miliki. Saya sadar diri jika dia tidak mungkin jatuh cinta kepada lelaki seperti saya, karena kami bagai bumi dan langit yang tidak akan pernah bisa bersama."


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2