Menantu Benalu 2

Menantu Benalu 2
Bab 90( Mengatakan yang sebenarnya )


__ADS_3

Mentari yang mendengar Fajar terkena serangan jantung langsung saja merasa lemas sehingga menjatuhkan tubuhnya di atas lantai, Dimas dan Rayna yang melihatnya langsung saja membawa Mentari untuk duduk di atas kursi.


"Tante yang sabar ya, Tante harus kuat, Rayna yakin kalau Om Fajar pasti akan sembuh."


"Terimakasih ya sayang, semoga saja Om kamu segera sembuh, mungkin Om Fajar merasa syok karena mendengar pernikahan kalian berdua," ujar Mentari.


"Kenapa Om sampai syok seperti itu Tante? apa karena Om tau kalau Raisya juga mencintai Kak Dimas?" tanya Rayna yang sudah merasa penasaran.


"Om Fajar bukan orang seperti itu, karena kalau mau, bisa saja Om Fajar memintaku supaya menikahi Raisya, tapi itu tidak dilakukannya, dan pasti ada alasan lain kan Tante?" tanya Dimas.


Mentari yang sudah merasa terdesak oleh pertanyaan Dimas dan Rayna terlihat beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sampai akhirnya Mentari angkat suara.


"Maaf kalau kami belum sempat menceritakan semuanya kepada kalian berdua, sampai akhirnya kami terlambat mengatakan semuanya. Kalian berdua memang tidak bisa dan tidak boleh menikah karena Rayna dan Dimas masih saudara satu Ayah," ujar Mentari, sehingga membuat Dimas dan Rayna bagaikan tersambar petir.


"Apa maksud Tante? jadi selama ini mendiang Papa sudah berselingkuh dengan perempuan lain sampai akhirnya Dimas mempunyai Adik satu Ayah? pantas saja dulu Dimas sering melihat Mama menangis. Apa mungkin kalau penyebab Mama meninggal juga sebenarnya bukan karena kecelakaan, tapi karena bunuh diri?" tanya Dimas yang terlihat emosi.


"Dimas tenang dulu ya, Dimas sebaiknya sekarang duduk, Tante pasti akan menceritakan kejadian yang sebenarnya," ujar Mentari.


"Maaf Tante, sepertinya Dimas butuh waktu untuk sendiri," ujar Dimas kemudian melangkahkan kaki keluar dari Rumah Sakit.


Bagaimana ini, Dimas sepertinya terlihat marah setelah mendengar semua kebenaran ini. Yah, Bunda mohon, Ayah cepat sadar, Bunda tidak tau harus berbuat apa, batin Mentari.


Rayna langsung saja menangis, karena sedikit pun dia tidak pernah mengira tentang statusnya dengan Dimas yang ternyata adalah Adik Kakak.

__ADS_1


"Sayang, Tante tau kalau Rayna sedih, tapi Rayna harus kuat ya," ujar Mentari dengan memeluk tubuh Rayna.


"Berarti selama ini pernikahan Rayna dengan Kak Dimas tidak Sah Tante, karena ternyata kami masih mempunyai hubungan darah, dan kami juga sudah melakukan dosa besar dengan berzina, bahkan saat ini ada Anak haram dalam kandungan Rayna."


"Sayang, Rayna tidak boleh berbicara seperti itu, bagaimanapun juga bayi yang saat ini berada dalam kandungan Rayna tidak berdosa, dan dia bukan Anak haram karena Rayna dan Dimas melakukan semua itu karena tidak sengaja, apalagi kalian berdua tidak tau kalau kalian adalah saudara."


"Lalu Rayna harus bagaimana Tante? Rayna tidak mau melahirkan bayi ini tanpa seorang Ayah, karena Kak Dimas tidak bisa menikahi Rayna, mungkin sebaiknya Rayna mengugurkan bayi yang saat ini berada dalam kandungan Rayna saja."


"Istighfar sayang, jangan biarkan setan menguasai hati dan pikiran Rayna, karena nanti kalau Rayna sampai menggugurkannya, maka Rayna yang akan berdosa. Kalau memang Rayna tidak mau membesarkan bayi ini, biar nanti Tante yang akan menjadi orangtuanya."


Rayna terlihat berpikir, semua perkataan Mentari memang ada benarnya juga.


"Maaf Tante, saat ini pikiran Rayna sangat kacau, dan Rayna tidan bisa berpikir dengan jernih. Rayna juga kecewa karena ternyata Rayna adalah Anak seorang Pelakor." Dan Kak Dimas pasti akan membenciku, karena aku adalah Anak dari perempuan yang sudah merebut Papanya, apalagi sampai menyebabkan Mamanya Kak Dimas meninggal dunia, lanjut Rayna dalam hati.


"Semua orang sudah memiliki garis takdir dalam kehidupannya, mungkin saat itu Mama Jingga sedang khilaf, dan Tante harap Rayna akan memaafkan semua kesalahan yang telah mendiang Mama Jingga perbuat. Rayna harus ingat kalau Rayna juga tidak sendirian, Tante dan semuanya akan selalu ada di samping Rayna dan nanti kita akan memikirkan jalan keluarnya bersama," ujar Mentari dengan memeluk tubuh Rayna supaya merasa lebih baik.


"Iya sama-sama sayang."


Sesaat kemudian, Dokter kembali memeriksa kondisi Fajar yang sudah mulai stabil, dan Mentari sudah diperbolehkan masuk untuk melihat kondisi Fajar.


"Sayang, Tante masuk dulu ya, pokoknya Rayna tidak boleh terlalu banyak pikiran," ujar Mentari yang di jawab oleh anggukan kepala Rayna.


Mentari secara perlahan melangkahkan kakinya untuk menghampiri Fajar yang masih terlihat terbaring lemah, rasanya Mentari tidak kuat melihat nya, sehingga airmata terus saja menetes pada pipi Mentari.

__ADS_1


"Yah, bangun sayang, Bunda tidak bisa melihat Ayah seperti ini," ujar Mentari dengan menggenggam erat tangan Fajar.


Baru kali ini Mentari melihat lelaki yang dicintainya terlihat tidak berdaya.


"Yah, Bunda tidak tau harus berbuat apa untuk menghadapi Dimas, Bunda mohon bangun Yah, Ayah sudah berjanji kalau akan selalu ada di samping Bunda," ujar Mentari dengan terus menangis, kemudian memeluk tubuh Fajar.


Tiba-tiba Mentari merasakan tangan Fajar mengelus lembut rambutnya, dan Mentari langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat Fajar yang saat ini sudah membuka matanya.


"Maafin Ayah ya karena sudah membuat Bunda merasa khawatir, Bunda jangan menangis ya, Ayah pasti akan baik-baik saja," ujar Fajar dengan mengusap airmata pada pipi Mentari dan memaksakan diri untuk tersenyum, dan Mentari semakin menangis dalam pelukan Fajar.


Setelah Mentari menumpahkan semua tangisannya, Mentari tersadar dan memanggil Dokter untuk memeriksa kondisi Fajar.


Mentari kini keluar karena Dokter akan memeriksa kondisi Suaminya.


Saat ini Dimas sudah terlihat duduk di depan ruang IGD, tapi Dimas memilih tempat duduk yang jauh dari Rayna.


Kasihan Rayna, saat ini dia pasti sedih karena harus menanggung perbuatan yang telah mendiang Kak Jingga lakukan, aku harus bisa membuat Dimas tidak membenci Rayna, meskipun mereka berdua tidak bisa hidup bersama sebagai pasangan Suami istri, tapi mereka bisa hidup rukun sebagai saudara, meskipun aku tah semua itu akan sangat sulit untuk mereka berdua jalani, ucap Mentari dalam hati.


Dimas yang melihat Mentari keluar dari ruang IGD, kini menghampirinya.


"Tante, bagaimana sekarang keadaan Om Fajar?" tanya Dimas.


"Alhamdulillah sekarang Om sudah sadar, dan saat ini Om sedang diperiksa oleh Dokter," jawab Mentari.

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau begitu, Dimas takut kalau sampai Om Fajar kenapa-napa karena saat ini hanya Om Fajar yang Dimas punya setelah Mama meninggal dunia, dan semua itu karena ulah si pelakor jahat yang bernama Jingga," ujar Dimas, dan perkataan Dimas bagaikan belati yang menusuk jantung Rayna.


"Dimas, Tante tau kalau Dimas merasa marah atas meninggalnya Mama Dewi yang tidak wajar, tapi Dimas harus ingat kalau Rayna tidak bersalah apa pun dalam hal ini."


__ADS_2