
Hari ini Jingga dan Angga akan melangsungkan pernikahan, Stella yang kondisinya sudah mulai membaik akhirnya memutuskan untuk ikut menghadiri acara pernikahan tanpa cinta tersebut, karena baik Angga atau pun Jingga sama-sama tidak saling mencintai.
"Angga, kenapa sih kita tidak mengadakan pesta besar-besaran saja, kamu dan Jingga kan banyak uang," protes Mommy Sandra.
"Mom, uangnya lebih baik Angga tabung untuk masa depan Anak-anak Angga nanti," jawab Angga.
"Kamu hanya mempunyai satu Anak ya, yaitu Anak dari Jingga nanti, karena Mommy tidak mau mempunyai Cucu cacat seperti Anak dari si Menantu Benalu."
"Terserah Mommy, Angga sudah tidak mau berdebat lagi dengan Mommy," ujar Angga yang sudah cape menghadapi kelakuan Ibu nya.
Angga dan Jingga kini sudah memasuki KUA untuk melakukan ijab kabul.
Angga hanya membawa seperangkat alat Shalat saja sebagai mas kawin, karena Jingga berkata kalau dia tidak menginginkan apa pun dari Angga dikarenakan hartanya lebih banyak dari Angga, sehingga Jingga begitu arogan.
"Bagaimana Nak Angga, apa Anda sudah siap untuk melakukan ijab kabul?" tanya Pak Penghulu.
"Insyaallah saya sudah siap Pak," jawab Angga yang terlihat lesu dan tidak bersemangat.
Selamat tinggal Mentari, semoga kamu dan Anak-anak kita selalu bahagia meskipun tanpa Abang, karena pada kenyataannya Abang hanya memberikan luka untuk kalian, ucap Angga dalam hati.
Setelah Angga dan Jingga selesai mengucapkan ijab kabul, mereka memutuskan untuk langsung pulang saja, tanpa ada acara makan-makan.
"Jingga sayang, selamat ya, sekarang kamu sudah resmi menjadi bagian dari keluarga kami," ujar Mommy Sandra dengan memeluk tubuh Jingga.
"Ya sudah kalau begitu sekarang Jingga mau tidur dulu ya Mom, Jingga cape. Oh iya, sebaiknya Jingga tidur di kamar tamu saja, Jingga gak mau tidur di kamar bekas Mentari, apalagi di kasurnya, bisa-bisa Jingga langsung gatal-gatal," ujar Jingga dengan berjalan menuju kamar tamu.
"Angga, kok kalian gak tidur satu kamar sih? malam ini kan malam pertama kalian," ujar Mommy Sandra.
"Pernikahan Angga dan Jingga hanya pernikahan di atas kertas Mom, lagian Jingga sama Angga juga sama-sama tidak saling mencintai. Biarkan Jingga beristirahat, saat ini dia juga sedang hamil," ujar Angga, kemudian masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa sih sekarang semua orang pada nyebelin? apalagi kedua Anakku yang gak tau balas budi," gerutu Mommy Sandra.
__ADS_1
"Siapa Mom yang gak tau balas budi? bukannya selama ini Mommy ya yang selalu jadi Benalu di rumah ini," sindir Stella.
"Jaga mulut kamu Stella !! kamu mau jadi Anak durhaka hemm? Apa sih salah Mommy sama kamu?"
"Mommy pikir aja sendiri, emangnya Stella gak tau kalau Mommy naksir sama Mas David," ujar Stella.
Aku emang bener suka sama David, tapi gak mungkin kan kalau aku ngaku sama Stella, bisa-bisa dia semakin membenciku, ucap Mommy Sandra dalam hati.
"Kamu jangan ngomong sembarangan Stella, masa iya Mommy suka sama Menantu sendiri. Mommy sayang sama David, tapi sebagai seorang Ibu sama Anaknya," jelas Mommy Sandra.
David yang pusing mendengar perdebatan Mommy Sandra dan Stella pun akhirnya angkat bicara.
"Sayang, sudah donk jangan berpikiran seperti itu, Mommy kan sekarang Ibu aku juga, jadi wajar kalau dia perhatian sama aku."
"Tapi perlakuan Mommy sama kamu sudah keterlaluan Mas, Stella gak rela ya kalau Mommy nempel-nempel terus sama Mas David."
"Ya sudah, sebaiknya sekarang kita istirahat saja, kamu juga harus banyak istirahat sayang supaya cepet pulih," ujar David dengan menggandeng Stella untuk masuk ke dalam kamar mereka.
Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 23.00 dan semua orang di kediaman Angga sudah tertidur. Akan tetapi, Jingga yang sudah merebahkan tubuhnya di kamar tamu, sama sekali tidak bisa menutup matanya, karena dia ingin dipeluk oleh David, sampai akhirnya Jingga memutuskan untuk menelpon David.
David yang mendengar suara telpon berbunyi pun langsung terbangun.
Ada apa malam-malam Jingga menelponku? bukannya ini malam pertama dia dengan Kak Angga, batin David.
David memutuskan untuk mengangkat telpon Jingga di dalam kamar mandi supaya Stella tidak terbangun.
📞"Sayang, kok ngangkat telponnya lama banget sih?" tanya Jingga.
📞"Aku takut Stella bangun, makanya aku sembunyi dulu di kamar mandi. Ada apa malem-malem begini kamu nelpon aku honey? bukannya ini malam pertama kamu dengan Kak Angga?" tanya David
📞"Aku dan Angga tidur terpisah, dan saat ini aku tidur di kamar tamu. Sayang, kamu ke sini ya, aku gak bisa tidur kalau gak dipeluk sama kamu," rengek Jingga.
__ADS_1
📞"Tapi aku takut kalau nanti Stella bangun dan mencari keberadaanku," ujar David.
📞"Terus aja Stella yang kamu pikirin, kamu gak sayang ya sama aku dan bayi kita," ujar Jingga.
📞"Ya sudah kalau begitu sekarang aku ke kamar kamu," jawab David, lalu menutup telponnya.
Semoga saja Stella gak bangun kalau aku tinggalin, kalau begitu sekarang aku harus menemui Jingga, aku tidak mau kalau bayi yang berada dalam kandungannya nanti malah ngeces karena ingin bertemu Ayahnya, ucap David dalam hati.
David dengan mengendap-endap kini menuju kamar Jingga, dan Jingga yang sudah menunggu kedatangan David langsung saja memeluk tubuh David ketika David masuk ke dalam kamarnya.
"Aku kangen sekali sama kamu sayang, bayi kita juga kangen sama Ayahnya," ujar Jingga dengan bergelayut manja.
Akhirnya malam pertama yang seharusnya Jingga lewati dengan Angga, kini Jingga lakukan dengan David yang saat ini sudah berstatus menjadi Adik iparnya.
......................
Lain hal nya dengan Angga yang harus menikah tanpa cinta, saat ini Mentari dan Fajar sudah semakin dekat dan mulai tumbuh benih-benih cinta di hati Mentari, apalagi Raisya sering rewel kalau terpisah dari Fajar, jadi setiap malam Fajar selalu menginap di rumah Mentari.
Rasya dan Raisya saat ini sudah berusia 6 bulan, dan Fajar selalu memenuhi kebutuhan mereka walaupun Mentari selalu menolaknya, tapi dengan alasan kalau Rasya dan Raisya adalah Anak Fajar juga, Mentari akhirnya mau menerima pemberian Fajar.
"Mas Fajar, maaf ya karena Raisya selalu rewel, jadi Mas Fajar harus selalu menginap di sini," ujar Mentari yang selalu merasa tidak enak kepada Fajar.
"Kok Bunda bicara seperti itu sih, Raisya sama Rasya kan Anak kesayangan Ayah," ujar Fajar dengan mengajak main Raisya.
Mentari memang belum terbiasa memanggil Fajar dengan sebutan Ayah, karena dia masih merasa malu.
"Oh iya Bunda, besok kan Rasya dan Raisya tepat enam bulan, jadi mereka mulai dikasih makan donk?" tanya Fajar.
"Iya Ayah, besok Rasya dan Raisya sudah mulai makan, tadi Bunda udah sempet beli makanan pendamping Asi buat mereka.
"Jaga kesehatan Bunda juga ya, apalagi sekarang Bunda masih menyusui, jadi jangan terlalu cape, pokoknya Bunda gak usah cape kerja, biar Ayah saja yang kerja buat kalian," ujar Fajar dengan mencium pipi Raisya, karena Fajar merasa gemas dengan pipi chubby Raisya, dan semua perhatian serta perlakuan Fajar terhadap Mentari dan keluarganya selalu membuat hati Mentari merasa tersentuh.
__ADS_1