Menantu Benalu 2

Menantu Benalu 2
Bab 91 ( Keputusan Rayna )


__ADS_3

Dimas yang mendengar perkataan Mentari langsung saja angkat suara.


"Maaf Tante, sebaiknya sekarang kita jangan membicarakan semua ini dulu, karena Dimas tidak ingin membahasnya, yang penting untuk sekarang keadaan Om Fajar bisa segera pulih."


Mentari tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk membantu Rayna supaya Dimas tidak membencinya, karena saat ini Mentari juga masih mencemaskan kondisi Fajar yang belum benar-benar pulih.


Pada saat Dokter keluar dari ruang IGD, Mentari dan Dimas langsung menghampirinya.


"Dok bagaimana keadaan Suami saya?" tanya Mentari.


"Keadaan Pasien sudah mulai membaik, semoga bisa pulih secepatnya, tapi saya sarankan untuk tidak membicarakan masalah yang berat dulu dengan beliau," jawab Dokter.


"Iya Dok, terimakasih atas semuanya," ucap Mentari.


"Sama-sama Bu. Pasien juga sudah bisa dipindahkan ke kamar perawatan, silahkan Ibu urus saja administrasinya. Kalau begitu saya permisi dulu," ujar Dokter.


Setelah kepergian Dokter, Mentari berniat untuk mengurus administrasi Fajar supaya bisa segera dipindahkan ke kamar perawatan,, tapi Dimas melarangnya karena Dimas sendiri yang akan mengurus semuanya. Sedangkan Rayna memutuskan untuk pamit kepada Mentari, karena dia tidak tahan dengan sikap Dimas yang terlihat terus menghindarinya, serta dari sorot mata Dimas terlihat kebencian yang sangat besar terhadapnya.


"Tante, sebaiknya Rayna pulang saja ya, kalau berada di sini terus kasihan Kak Dimas akan merasa terganggu. Semoga saja Om Fajar bisa segera sembuh," ujar Rayna dengan memeluk tubuh Mentari.


"Iya sayang, Rayna hati-hati ya, maafin Tante karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk Rayna, tapi semoga saja Dimas bisa segera menganggap Rayna sebagai Adiknya," ujar Mentari, dan Rayna hanya tersenyum kecut mendengarnya.


Seorang Adik? iya, Tante Mentari benar, meskipun pada kenyataannya kami pernah menikah secara Agama, tapi Pernikahan kami tidak Sah di mata Agama karena kami masih satu darah, batin Rayna.


"Tidak apa-apa Tante, semoga saja dengan seiring waktu semuanya akan baik-baik saja," ujar Rayna dengan melepaskan pelukannya dari tubuh Mentari, kemudian melangkahkan kaki keluar dari Rumah Sakit setelah sebelumnya mengucapkan Salam.

__ADS_1


Rayna dan Dimas terlihat berpapasan, tapi Dimas seakan tidak mengenalinya, jangankan untuk menyapa Rayna, melihatnya saja Dimas nampak enggan, sehingga Rayna semakin merasa sakit hati.


*Sepertinya Kak Dimas sangat membenciku, tapi wajar saja Kak Dimas bersikap seperti itu, karena dosa Ibuku sangatlah besar terhadap keluarganya. K*amu tidak boleh menangis Rayna, ini semua adalah hukuman yang harus kamu bayar karena kamu adalah Anak seorang Pelakor sekaligus pembunuh, ucap Rayna dalam hati dengan terus meneteskan airmata.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Dimas, Rayna terus saja menangis, karena airmatanya tidak dapat ia bendung lagi. Rayna memutuskan akan pulang ke rumah Dimas dulu untuk mengambil semua bajunya.


"Sebaiknya aku mengambil semua bajuku yang berada di rumah Kak Dimas, dan aku akan pergi jauh meninggalkan semuanya, aku juga tidak mungkin pulang ke rumah Kakek dan Nenek karena takut kalau mereka akan terkejut mendengar semuanya dan menjadi kepikiran. Biarlah aku membesarkan Anakku sendirian daripada aku harus menyusahkan semua orang," gumam Rayna yang sudah merasa yakin dengan keputusan yang dia ambil.


......................


Setelah Dimas selesai membereskan administrasi, Fajar akhirnya dipindahkan ke kamar perawatan dengan didampingi oleh Mentari dan Dimas.


Fajar saat ini meminta Dimas untuk mendekat dan duduk di sampingnya.


"Om, sebaiknya Om istirahat dulu dan jangan terlalu banyak pikiran, Dimas tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk dengan Om, karena saat ini hanya Om orangtua yang Dimas punya."


"Apa kamu juga marah kepada Tante Mentari karena dia adalah Adik dari Jingga?" tanya Fajar, tapi Dimas tampak enggan menjawabnya karena dia tidak mau kalau Fajar sampai merasa tersinggung.


"Kamu harus tau kalau sebenarnya Tante Mentari juga adalah korban dari kekejaman Jingga, karena Jingga sudah menyabotase mobil Suami pertama Tante Mentari sehingga menyebabkan meninggal dunia, dan Jingga juga sudah merebut Ayah Kandung Rasya dan Raisya sampai akhirnya mendiang Angga menceraikan Tante Mentari bahkan tidak mau mengakui Rasya dan Raisya saat lahir," jelas Fajar.


Dimas yang melihat Mentari meneteskan airmata, sangat merasa berdosa karena sebelumnya Dimas sudah berpikir macam-macam terhadap Mentari.


"Tante, maaf kalau sebelumnya Dimas sudah salah paham karena Tante adalah Adik dari Pelakor yang sudah merebut Papa," ucap Dimas yang hendak memeluk Mentari, tapi Fajar yang melihatnya langsung saja berdehem.


"Ekhem, minta maafnya gak usah meluk juga kali," sindir Fajar, sehingga Dimas mengurungkan niatnya, sedangkan Mentari memutar malas matanya.

__ADS_1


"Lagi sakit juga masih saja posesif," sindir Dimas dengan tersenyum.


"Harus dong, jangan sampai Om kecolongan," ujar Fajar dengan terkekeh.


"Oh iya Om, bagaimana kabar Dita dan Kayla?" tanya Dimas.


Fajar yang mendapat pertanyaan tentang Dita, langsung saja menghela nafas panjang.


"Sebenarnya alasan Om tinggal di Singapura selama 2 bulan karena mengurus perceraian Dita," jawab Fajar.


"Jadi Dita dan Reza sudah bercerai? kenapa mereka sampai bercerai?" tanya Dimas yang terlihat kaget, karena pada saat Dimas tinggal di Singapura, Dita tidak pernah mengatakan apa pun tentang masalah rumah tangganya, dan rumah tangganya juga terlihat harmonis.


"Ceritanya panjang Dimas, tapi intinya Reza sudah berselingkuh, dan Dita tidak bisa memaafkan kesalahan fatal yang telah Reza perbuat, sampai akhirnya Dita menggugat cerai Reza."


"Kurang ajar sekali Reza, Dimas kira dia adalah lelaki baik-baik karena pada saat menjadi Karyawan di Angkasa Grup Reza tidak pernah terlihat macam-macam," ujar Dimas yang merasa geram, sehingga Dimas mengepalkan kedua tangannya.


Mentari yang melihat Dimas marah, langsung saja mengajak Dimas untuk duduk, dan sebelum Fajar protes, Mentari menatap tajam kepada Fajar.


"Sekarang Dimas sebaiknya duduk dulu dan jangan sampai amarah menguasai hati Dimas. Dimas harus tau kalau kita tidak bisa menilai sebuah buku dari sampulnya saja, bisa jadi yang terlihat bagus dari luar belum tentu dalamnya bagus juga, tapi yang penting sekarang Dita sudah baik-baik saja, jadi Dimas jangan terlalu banyak pikiran ya, Dimas juga tidak perlu mengkhawatirkan Dita, karena sekarang ada Raisya dan Bu Sandra yang menemaninya."


"Tante, bagaimana kabar Raisya? apa dia baik-baik saja?" tanya Dimas dengan lirih.


"Alhamdulillah, Raisya baik-baik saja, meskipun kemarin pada saat Om dan Tante hendak pulang, Raisya merengek ingin ikut pulang juga," jawab Mentari.


"Tante, maafin Dimas, karena alasan Raisya pergi ke Singapura adalah Dimas."

__ADS_1


__ADS_2