Menantu Benalu 2

Menantu Benalu 2
Bab 92 ( Penolakan Fajar )


__ADS_3

Mentari hanya tersenyum menanggapi perkataan Dimas, dan Dimas merasa heran dengan tanggapan Mentari.


"Kenapa Tante malah tersenyum, apa Tante tidak marah sama Dimas karena telah menyebabkan Raisya pergi ke Singapura?" tanya Dimas.


"Tante tidak punya hak untuk marah sama Dimas, karena yang namanya cinta tidak bisa dipaksakan."


Dimas tertunduk sedih mendengar perkataan Mentari, karena kebodohannya Dimas harus kehilangan cinta sejatinya.


"Sebenarnya Dimas baru menyadari semuanya setelah Raisya pergi, kalau Dimas ternyata sangat mencintai Raisya."


Mentari dan Fajar merasa terkejut dengan perkataan Dimas, karena mereka pikir yang Dimas cintai adalah Rayna.


"Kenapa kamu baru mengatakan semuanya sekarang Dimas? seandainya dari awal kamu jujur tentang perasaan kamu, mungkin Raisya tidak akan pernah memutuskan untuk kuliah di Singapura, dan Om pasti sudah menikahkan kalian berdua."


"Dimas juga menyesal Om, Dimas kira perasaan Dimas terhadap Rayna adalah cinta pada pandangan pertama, tapi ternyata Dimas salah, karena setelah menikahi Rayna, Dimas malah semakin mencintai Raisya."


Mentari dan Fajar menghela nafas panjang mendengar penuturan Dimas, mereka bingung harus berbuat apa karena saat ini Rayna sudah terlanjur hamil Anak Dimas.


"Tante tidak tau harus berkata apa, karena saat ini Rayna sudah terlanjur hamil Anak kamu, padahal kalian berdua tidak akan pernah bisa menikah karena masih memiliki hubungan darah, Tante kasihan sama Rayna karena harus menanggung semuanya sendirian."


"Dimas bersumpah kalau Dimas hanya melakukannya satu kali, itu juga karena dalam pandangan Dimas kalau Rayna adalah Raisya," ucap Dimas dengan lirih, sehingga Mentari dan Fajar membulatkan matanya.


Fajar rasanya ingin sekali memukul Dimas yang sudah berpikir macam-macam terhadap Raisya.


"Seandainya Om saat ini tidak sakit, Om pasti sudah menghajar kamu Dimas, bisa-bisanya kamu membayangkan Anak kesayangan Om," ujar Fajar yang merasa gemas terhadap sikap Dimas.

__ADS_1


"Sudah Yah, manusia itu tempatnya salah dan dosa, dan setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, mungkin saat itu Dimas sedang khilaf, sehingga menjadikan Rayna sebagai pelarian saja."


"Tapi Dimas sudah kurang ajar Bunda, dan Ayah tidak rela karena Dimas sudah menyakiti Raisya dan Rayna. Om benar-benar kecewa sama kamu Dimas, pokoknya Om gak bakalan biarin Raisya dekat-dekat kamu lagi, dan Om juga gak bakalan pernah menyetujui kamu untuk menikahi Raisya."


"Om, Dimas sangat mencintai Raisya, Dimas mohon jangan pisahkan Dimas dengan Raisya lagi, karena Dimas akan mengejar cintanya."


"Apa kamu pikir Raisya akan menerima cinta kamu setelah kamu menghamili Rayna? meskipun Rayna adalah Adik kamu, dan kalian berdua tidak bisa menikah, tapi kamu harus tetap bertanggungjawab dengan Anak yang yang berada dalam kandungan Rayna, jangan menjadi lelaki brengsek yang setelah habis manis sepah dibuang, karena selama ini Om tidak pernah mengajarkan kamu seperti itu," ujar Fajar, sehingga membuat Dimas tertunduk sedih.


"Dimas, Tante tau kalau kamu dan Raisya saling mencintai, tapi kamu juga harus memikirkan perasaan Rayna, setidaknya kamu jangan membenci Rayna dan anggap dia sebagai Adik kamu, karena Rayna juga adalah salah satu korban kekejaman Kak Jingga, Rayna sama sekali tidak mempunyai kesalahan apa pun, jadi Tante berharap Dimas tidak menghukum Rayna dengan menjauhinya. Dimas tau, kalau dari kecil Rayna tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Ibunya, makanya Rayna dibesarkan oleh orangtua Tante, karena Rayna sudah Kak Jingga buang."


Dimas tertegun mendengar perkataan Mentari, karena lagi-lagi Dimas telah melakukan kesalahan.


"Maaf Tante, Dimas sudah terbawa emosi, Dimas tidak tau tentang semua itu, padahal Dimas tidak seharusnya berbuat seperti itu terhadap Rayna, karena bagaimanapun juga Rayna adalah Adik Dimas."


Mentari tersenyum mendengar perkataan Dimas.


Dimas langsung tersenyum mendengar perkataan Mentari, lain hal nya dengan Fajar yang masih terlihat cemberut.


"Bunda, pokoknya Ayah tidak mau mempunyai Menantu kurang ajar seperti Dimas, dia juga sudah tidak perjaka lagi. Sebaiknya Ayah jodohkan saja Raisya dengan lelaki lain yang lebih segala-galanya dibandingkan dengan Dimas," ujar Fajar, dan seketika senyuman Dimas langsung hilang.


"Om, jangan seperti itu, Dimas tidak akan bisa hidup tanpa Raisya, bagaimanapun juga Dimas adalah Keponakan Om, jadi Om tidak bisa kejam seperti itu terhadap Dimas." rengek Dimas.


"Kamu adalah keponakan durhaka, pokoknya Om tidak mau punya Menantu seperti kamu."


Mentari yang melihat Fajar marah pun kini menghampirinya, dan mencoba untuk menenangkan Fajar.

__ADS_1


"Ayah, apa pun nanti keputusan Raisya kita harus bisa menerimanya. Ayah ingin Raisya bahagia kan? dan Ayah sendiri tau kalau Raisya sangat mencintai Dimas."


"Semoga saja Raisya berubah pikiran dan menemukan lelaki lain di Singapura nanti," celetuk Fajar.


"Dimas, sebaiknya sekarang Dimas cari Rayna, dan perbaiki semuanya, kalau Dimas berada di sini terus, yang ada kamu akan ribut terus sama Om kamu," ujar Mentari.


Dimas akhirnya pamit kepada Fajar dan Mentari, dan Dimas memutuskan untuk mencari Rayna ke rumahnya dulu.


"Sebaiknya aku mencari Rayna ke rumah, karena Rayna tidak akan mungkin pergi tanpa membawa bajunya," gumam Dimas yang saat ini melajukan mobilnya dengan kencang karena Dimas takut kalau terlambat mengejar Rayna, maka Dimas akan kehilangan Raisya juga.


Pada saat sampai di rumah, Dimas langsung saja menerobos masuk rumahnya, dan dia begitu terkejut pada saat melihat semua pakaian Rayna sudah tidak ada di lemari.


"Aku sudah terlambat, Rayna sepertinya sudah pergi, tapi tidak mungkin dia kembali ke rumah Kakek dan Neneknya. Pokoknya aku harus mencarinya, karena kalau aku tidak bertanggungjawab terhadap bayi yang dikandung Rayna, Om Fajar pasti akan semakin marah terhadapku, kamu pergi kemana Rayna?" gumam Dimas dengan terus mengacak rambutnya secara kasar.


Dimas beberapa kali mencoba menelpon handphone Rayna, tapi sayangnya Rayna sudah mengganti nomornya.


......................


Saat ini Rayna tidak tau harus pergi kemana, sampai akhirnya dia naik ke dalam sebuah Bus yang akan membawanya ke Kota Bandung.


"Aku harus pergi kemana? saat ini aku tidak punya tempat tujuan. Nak, maafin Mama karena harus memisahkan kamu dengan Papamu dan mungkin lebih tepatnya Om kamu," gumam Rayna dengan mengelus lembut perutnya juga menitikkan airmata.


Setelah beberapa jam kemudian, Rayna akhirnya sampai di Terminal yang berada di Kota Bandung, dan Rayna memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki.


Rayna saat ini tiba di depan sebuah Panti Asuhan.

__ADS_1


"Apa aku tinggal di sini saja, mungkin aku bisa bantu-bantu di Panti Asuhan ini, yang penting aku bisa mendapatkan makanan untuk bertahan hidup," gumam Rayna.


__ADS_2