Menantu Benalu 2

Menantu Benalu 2
Bab 64 ( Rasya bisa melihat )


__ADS_3

Setelah selesai pemakaman Angga, pada sore harinya Fajar mengadakan acara tahlil di rumahnya. Semua orang yang mengetahui jika Angga adalah mantan Suami dari Mentari, merasa salut dengan kebaikan hati Fajar.


Fajar tidak pernah berkomentar apa pun tentang semua yang telah dia lakukan untuk mendiang Angga, karena Fajar selalu merasa jika sebagai sesama manusia harus selalu berbuat kebaikan pada siapa pun itu, sekalipun orang tersebut pernah berbuat jahat terhadap kita.


Satu minggu kini telah berlalu dari meninggalnya Angga, dan hari ini perban pada mata Rasya akan di buka.


Mentari dan keluarga kini sudah berkumpul untuk melihat Dokter yang akan membuka perban pada mata Rasya.


Ya Allah semoga saja Rasya bisa melihat, do'a Mentari dalam hati, dan semua yang berada di sana memanjatkan do'a yang sama untuk Rasya.


"Rasya, buka matanya secara perlahan ya," ujar Dokter setelah selesai membuka perban pada mata Rasya.


Secara perlahan mata Rasya terbuka, semua yang berada di sana sudah merasa tegang menunggu hasilnya.


"Bunda, Ayah," ucap Rasya dengan tersenyum pada saat melihat wajah Mentari dan Fajar.


"Sayang, apa Rasya sudah bisa melihat Bunda?" tanya Mentari dengan memeluk Rasya.


"Iya Bunda, sekarang Rasya sudah bisa melihat wajah cantik Bunda," jawab Rasya dengan tersenyum, sehingga semuanya menangis bahagia mendengar Rasya yang sudah bisa melihat.


"Alhamdulillah..terimakasih Ya Allah, karena telah memberikan kesembuhan kepada Anak kami," ucap Fajar yang ikut memeluk Rasya.


Hari ini semua orang merasa bergembira atas kesembuhan Rasya dan juga Ratu yang sudah diperbolehkan pulang.


"Stella sebaiknya kamu dan Ratu ikut kami pulang ke rumah ya, kamu pasti kesepian jika hanya tinggal berdua dengan Ratu," ajak Bu Rima.


"Apa tidak merepotkan Bu?" tanya Stella.


"Tentu saja tidak, Ratu adalah Cucu kami juga, dan kamu sudah Ibu anggap sebagai Anak kami sendiri, nanti kalau kamu berangkat kerja ke Restoran, kami bisa membantu kamu menjaga Ratu," ujar Bu Rima.


"Terimakasih banyak ya Bu atas semua kebaikan Ibu dan keluarga," ucap Stella.


Bu Rima beserta Stella, Pak Hasan, Rayna dan juga Ratu akhirnya pamit untuk pulang.


"Nak, kami pulang dulu ya, kasihan Anak-anak kalau lama-lama di sini, Rasya cepet sembuh ya sayang," ujar Bu Rima dengan bergantian memeluk Anak dan Cucunya.

__ADS_1


"Sayang, sebaiknya Bunda ikut pulang sama Bapak dan Ibu saja, kasihan Raisya jika harus menginap di sini, biar Ayah yang jaga Rasya," ujar Fajar.


Mentari sebenarnya ingin menemani Rasya, tapi Mentari juga tidak tega jika harus mengajak Raisya menginap di Rumah Sakit.


"Raisya sebaiknya ikut Nenek pulang saja ya, ada Kak Rayna sama Kak Ratu juga nanti yang akan menginap di rumah Nenek," ujar Bu Rima.


"Emang gak ngerepotin Bu? gimana nanti kalau Raisya rewel," ujar Mentari.


"Enggak Bunda, Raisya sudah besar," ujar Raisya yang sebentar lagi berusia tiga tahun.


"Ya sudah, kalau begitu Raisya ikut Nenek pulang ya, jangan rewel ya Nak. Bunda dan Ayah jagain Kak Rasya dulu," ujar Mentari dengan mencium Raisya.


"Iya Bunda," jawab Raisya dengan mencium punggung tangan Fajar dan Mentari.


Setelah semuanya pulang, kini tinggal Fajar dan Mentari yang berada di dalam kamar perawatan Rasya.


"Yah, sebaiknya Ayah istirahat kasihan udah beberapa hari ini Ayah kurang tidur," ujar Mentari.


"Seharusnya Bunda yang istirahat, mungpung sekarang Rasya lagi tidur, biar Ayah yang jagain."


"Masih mau bandel hem?" tanya Fajar saat melepas ciumannya, sehingga Mentari tersipu malu.


Fajar akhirnya duduk di sofa, kemudian menyuruh Mentari untuk tiduran di pahanya.


"Sini tidur," ucap Fajar dengan menepuk paha nya, dan Mentari hanya bisa menuruti kemauan Fajar.


Fajar mengelus lembut kepala Mentari, sampai akhirnya terdengar dengkuran halus dan Mentari terlelap dengan tidur berbantalkan paha Fajar.


"Selamat tidur sayang, semoga mimpi indah," ucap Fajar dengan mencium kening Mentari.


......................


Di tempat lain tepatnya di Rumah Sakit Jiwa, Jingga terus saja mengamuk dan menyebut nama David, karena Jingga merasa sangat bersalah telah menyebabkan David meninggal dunia.


"David sayang, maafin Aku, aku ingin selalu bersamamu, aku akan menyusul kamu ke Surga," teriak Jingga.

__ADS_1


"Heh Kuntilanak, kamu itu orang jahat, mana bisa orang jahat masuk surga, ha ha ha," ujar teman sekamar Jingga di Rumah Sakit Jiwa.


Jingga yang merasa geram pun langsung menyerang teman sekamar nya, sehingga terjadi perkelahian di antara keduanya.


Petugas Rumah Sakit Jiwa yang mendengar keributan pun akhirnya mencoba untuk memisahkan perkelahian Jingga dan teman sekamarnya.


"Sebaiknya kita kurung Jingga di ruang isolasi, supaya dia tidak mengganggu Pasien lain," ujar Petugas Rumah Sakit Jiwa, kemudian membawa Jingga menuju ruang isolasi.


Pada saat Petugas sedang membuka pintu ruang isolasi, Jingga langsung melarikan diri dari Rumah Sakit Jiwa kemudian bersembunyi di dalam mobil box yang mengirim pasokan makanan ke Rumah Sakit Jiwa.


Petugas kini berpencar mencari keberadaan Jingga, tapi mobil box yang ditumpangi Jingga sudah keluar dari Rumah Sakit jiwa menuju pasar sayuran.


Ketika mobil box berhenti, Jingga langsung saja turun, dan berjalan tanpa arah dan tujuan.


Banyak orang di pasar yang ketakutan melihat Jingga yang berpenampilan acak-acakan, bahkan pada saat Jingga melewati sekelompok Anak-anak yang sedang bermain, Jingga dilempari dengan batu dan diteriaki orang gila.


Sekilas Jingga melihat Bu Rima yang sedang membawa Raisya pergi berbelanja ke Pasar, karena Raisya ingin ikut dengan Bu Rima.


"Itu sepertinya Ibu dan Anak Mentari, sebaiknya aku mengajak Anak Mentari bermain culik-culikan," gumam Jingga dengan tertawa.


Pada saat Bu Rima sedang sibuk memilih sayuran, Bu Rima mendudukkan Raisya di atas meja kosong yang berada di sebelah tukang sayur, Jingga yang melihat Bu Rima lengah langsung saja menggendong Raisya dan membawanya berlari menuju jalan raya.


"Bu, itu Cucunya dibawa sama orang gila," teriak seorang pedagang yang sekilas melihat Jingga menculik Raisya.


Bu Rima yang panik pun langsung berteriak minta tolong, dan berlari mengejar Jingga.


"Tante turunin Raisya," rengek Raisya.


"Jangan nangis ya sayangku, Tante ini Kakak Bunda kamu," ujar Jingga dengan tertawa, sehingga membuat Raisya takut.


"Tante turunin Raisya," ujar Raisya dengan menarik rambut Jingga sehingga Jingga merasa kesakitan.


Jingga yang geram pun hendak memukul Raisya, tapi Raisya terlebih dahulu menggigit tangan Jingga, sehingga Akhirnya Jingga dan Raisya terjatuh pada saat mereka berada di tengah jalan raya.


Bu Rima yang sudah berada di pinggir jalan pun berteriak memanggil Raisya dengan terus menangis, karena Bu Rima melihat truk yang melaju kencang sudah hampir menabrak Raisya dan Jingga.

__ADS_1


__ADS_2